เข้าสู่ระบบCaramel hanya ingin melupakan rasa sakit setelah dikhianati kekasihnya. Namun, satu keputusan impulsif membuatnya menghabiskan malam bersama seorang pria asing. Ia mengira kisah mereka telah berakhir saat fajar menyingsing. Sayangnya, takdir memiliki rencana lain. Pria asing itu ternyata Dean Atmaja—presiden direktur sebuah perusahaan besar yang kini terus mengejarnya, meski keluarga Dean telah menyiapkan wanita lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Bisakah cinta mereka bertahan di tengah perbedaan status, rahasia masa lalu, dan restu yang tak kunjung datang?
ดูเพิ่มเติม“WOAHHHH, keraskan lagi musiknyaaaa!!!” teriak seorang pria yang sudah terpengaruh oleh minuman keras. Suara musik yang semakin keras semakin beradu dengan kelap-kelip lampu disko di sebuah tempat ternama di kota tersebut.
Baik pria maupun wanita sudah bercampur menjadi satu di panggung depan tanpa sedikit pun terlihat celah jarak diantara mereka satu sama lain. Semua orang berdansa dengan penuh semangat, bahkan tatapan mata mereka sudah banyak sekali yang terlihat sangat tidak tahan untuk menahan sesuatu lebih lama lagi. Siang itu, seorang wanita sedang membuatkan kopi cappucino untuk salah satu pemesan yang sudah menunggu di meja bartender. Caramel–gadis dengan rambut panjang se-pinggang dan hanya dihiasi oleh jedai kecil sebagai pemanis penampilannya melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ia membuatkan minuman untuk para pemesan dengan sangat terampil, sehingga tak heran ada banyak sekali para pelanggan yang sangat betah datang ke bar itu tak ayal hanya untuk melihat sosok Caramel yang cantik nan manis. “Ini pesanan Anda, Tuan,” ucap Caramel, nada suaranya sangat ramah sekali sehingga siapapun yang mendengarnya akan jatuh hati. “Apakah kau sudah lulus sekolah, Caramel?” tanya seorang pria dengan kisaran usia 32 tahun seraya menerima pesanannya yang sudah dibuatkan oleh bartender cantik di depannya. “Sudah, saya sudah lulus,” jawab Caramel seadanya sambil melihat situasi di sekeliling, takutnya nanti ada pelanggan yang membutuhkan dirinya untuk memesan sesuatu, baik makanan dan juga minuman. “Wah, pas sekali kalau begitu,” ucap pria tersebut yang masih bisa di dengar oleh Caramel sebab suara pria itu lumayan keras dan bisa menyeimbangi suara dentuman musik yang sangat memekakkan telinga Caramel. “Maaf, Tuan. Maksud Anda?” tanya Caramel. Gadis itu mengira jika sosok pria di depannya ini sedang memberikan kritik atas semua takaran minuman kopi yang tadi Caramel buatkan untuk orang tersebut. “Apakah rasa kopinya terlalu berlebihan gula?” tanya Caramel sekali lagi karena ia masih belum mendapatkan jawaban apapun, “jika memang takaran gula yang saya berikan terlalu banyak, saya akan menggantikannya dengan yang lebih baik, Tuan. Maafkan atas keteledoran saya,” ucap Caramel penuh rasa tanggung jawab atas semua yang ia perbuat. Caramel tidak ingin jika ada satu kesalahan yang ia perbuat hari ini akan menjadi sebuah masalah besar di masa depan. “Ya, Nona. Anda memang terlalu manis,” jawab pria itu membuat Caramel memaksakan diri untuk tetap menunjukkan senyum walaupun hatinya saat ini sedang dongkol. Pria di depan Caramel masih tak kunjung pergi sehingga Caramel memutuskan untuk menghampiri rekannya yang sedang bekerja melayani pesanan orang lain. “Ekhm!” Pria itu berdeham mana kala Caramel mulai selangkah menjauhi pelanggan itu. “Nona,” panggil pria itu kembali karena Caramel justru bukannya malah berbalik badan, akan tetapi justru melangkah semakin menjauh. Merasa dirinya yang dipanggil membuat Caramel membalikkan badan dan berjalan kembali ke tempat semula, “Ya, Tuan? Adakah yang Anda butuhkan lagi?” tanya Caramel dengan mempertahankan sikap ramahnya. “Kau sangat teramat manis, Nona.” Pria itu menatap lekat wajah cantik Arruna dibawah penerangan club yang sedang kelap-kelip mengikuti arus suasana di tempat itu, “apakah kau saat ini sudah memiliki kekasih?” Pria itu melanjutkan pertanyaannya yang sempat tertunda akibat menatap wajah Caramel terlalu lama. “Tentu saja saya sudah memilikinya, Tuan,” jawab Caramel sambil tersenyum manis dan membayangkan betapa besar cinta Gesta–pacarnya Caramel–kepada Caramel selama mereka memiliki hubungan. “Apa? Kau sudah memiliki kekasih?” Pria itu melotot, tidak percaya dengan jawaban yang dia dengar barusan, “yah, sayang sekali,” gumamnya dengan nada lesu. Caramel hanya bisa tersenyum simpul. Sebagai seorang wanita yang diberikan kelebihan berupa kecantikan paras wajah dan juga tubuh tak membuat Caramel menjadi gila lelaki. Caramel sudah memiliki prinsip, jika ia sedang menjalankan komitmen dengan seorang pria, maka tidak akan pernah ada pria lainnya yang akan menjadi cadangan ataupun pengganti dari pria yang sudah berhasil membuat hati seorang Caramel takluk. “Ya sudah, terima kasih atas pelayanan Anda yang sangat baik dan profesional, Nona,” ucap pria itu dengan nada lesu dan langsung meninggalkan meja bartender dengan segala kekecewaan yang dia terima. “Hahaha …. Cara, apa yang sudah kau lakukan lagi kepada pelanggan kita?” Seorang pria dengan seragam yang sama seperti Caramel tiba-tiba saja datang dari arah belakang sambil menepuk pundak gadis itu dan tertawa terbahak-bahak. “Diamlah kau, Andi! Jangan meledekku! Kau fokus saja dengan pekerjaanmu dulu,” sahut Caramel dengan suara sinis juga tatapan tajam saat partner kerjanya selalu saja meledek Caramel jika ada pelanggan di club yang berusaha mendekati Caramel, namun dengan segera ditolak mentah-mentah oleh Caramel. “Hey, sepertinya kamu lupa kalau jadwalku hari ini kedapatan shif 2, jadi aku bekerja malam. Aku datang kesini lebih awal karena hanya ingin saja, dan aku mau kamu membuatkan aku kopi supaya malam ini aku nggak ngantuk,” jawab Andi dengan sangat santai. “Cara, apakah kau tidak ingin memanfaatkan para pria yang langsung jatuh hati kepadamu sebelum kau menendang mereka tanpa melihat dulu sejauh mana mereka akan berjuang untukmu?” Andi tiba-tiba memberikan ide gila kepada Caramel. “Apa maksudmu? Jangan ngawur! Otakku masih bisa digunakan untuk berpikir hal baik, tidak seperti dirimu!” ucap Caramel sambil bersedekap dan menatap sinis temannya. “HAHAHA. Ayolah, Cara! Kau ini kenapa bisa sangat setia sekali kepada Gesta? Padahal kalau aku lihat, fisiknya Gesta masih kalah jauh banget sama para pria yang mendekati kamu. Bahkan kekayaannya pun, jauh banget deh dibandingkan dengan cowok-cowok yang naksir kamu,” ucap Andi. Caramel tersenyum mendengar ucapan Andi, “Andi temanku tersayang, tahukah kamu, segala sesuatu di dunia ini tidak akan ada artinya jika tanpa adanya kesetiaan dan juga sifat jujur? Mau kamu punya kekayaan seluas samudra, tapi kalau kamu tidak bisa jujur dan setia kepada pasanganmu, untuk apa gunanya? Aku sih langsung cut off. Bagiku, kesetiaan dan kejujuran di dalam sebuah hubungan adalah hal yang teramat sangat penting. Sudah, itu saja. Masalah kekayaan, dunia ini tuh berputar. Jika saat ini para cowok yang deketin aku punya kekayaan yang tak tahu seberapa banyaknya, kan masa depan nggak ada yang tahu. Bisa jadi dia usahanya dia bangkrut, kan.” Caramel mengambil gelas dan memberikan segelas air putih kepada Andi. “Cepat minum air putih dulu, kau kemarin sudah terlalu banyak melayani pelanggan, makanya otakmu jadi konslet dan memberikan saran yang tidak baik kepadaku! Lagian ngapain ngide segala lebih awal datang ke sini? Sudah tahu kau shift 2, kenapa kau tidak gunakan waktu luangmu untuk tidur saja? Kan jadinya nanti malam nggak terlalu mengantuk,” ucap Caramel. “Tapi mereka semua memiliki kekayaan yang lumayan loh,” ucap Andi, masih menjadi setan untuk merayu Caramel agar tersesat. Andi bahkan tidak mendengarkan ocehan Caramel yang tak habis pikir dengan keputusan yang Andi ambil sehingga pria itu lebih memilih untuk berangkat bekerja lebih awal dari waktu yang sudah di jadwalkan. “Ih, ogah! Aku mah maunya aku yang kaya. Kalau cowoknya aku yang kaya terus akunya biasa aja, bisa-bisa aku ditindas nanti. Masa depan nggak ada yang tahu, Bro! Sekarang bisa aja aku disayang-sayang, tapi kan kita nggak tahu kedepannya bakalan begitu terus atau enggak sikapnya? Bisa jadi cowok kaya raya itu punya banyak cewek di luaran sana. Euwhhh!!! Jijik banget!” celetuk Caramel membuat Andi tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari temannya. Ting! Caramel membuka handphonenya dan membaca pesan masuk dengan suara dering yang berbeda dari dering notifikasi pesan dari orang lain. Suara notifikasi itu yang Caramel tunggu-tunggu sejak tadi pagi, sebab sang kekasih hari ini belum mengabarinya sedikitpun. “Ada apa, Cara? Kenapa wajahmu jadi panik begitu?” tanya Andi ketika melihat perubahan pada raut wajah Caramel. “Gesta barusan memberitahu aku kalau dia saat ini sedang demam, makanya dari tadi saat aku mencoba hubungi dia, dianya nggak aktif,” ucap Caramel sambil menunjukkan kepada Andi isi pesan singkat yang diberikan Gesta kepada Caramel. “Ya sudah, kamu jenguk dulu aja si Gesta, biar aku yang menggantikan jadwalmu dulu untuk hari ini,” ucap Andi membuat kedua mata Caramel langsung berbinar. “Andi, benarkah?!” Caramel masih tidak menyangka jika Andi akan mengorbankan waktu pria itu untuk menggantikan Caramel bekerja di siang hari. “Yowww!” Andi mengedipkan sebelah mata supaya Caramel tidak sungkan kepadanya. “Makasih, Andiii … Kamu baik banget, deh! Ya udah, aku tinggal dulu, ya. Aku mau mampir ke apotek dulu untuk membeli obat, takutnya Gesta sama sekali belum minum obat, bahkan lebih parahnya lagi kalau dia belum makan sama sekali dari pagi,” ucap Caramel sembari melepaskan jedai-nya dan merapikan kembali rambutnya sehingga membuat beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikan Caramel semakin terpesona dengan paras cantik gadis itu. “Bye, makasih, Andi. Aku tinggal dulu, ya. Di lain waktu aku berjanji akan mentraktir kamu minuman disini. Tapi, kalau gajian aku sudah turun,” ucap Caramel sambil melambaikan tangan dan menjauh dari meja bartender. Di kedua tangan Caramel sudah menenteng satu kantong plastik obat penurun panas dan juga buah apel serta nasi Padang yang sengaja Caramel belikan untuk sang kekasih. “Aku yakin, setelah makan nasi Padang, pasti pacarku itu langsung mendingan. Kan sudah menjadi tabiat Gesta jika dia sedang sakit, maka dikasih nasi Padang pun pasti sakitnya langsung mendingan,” gumam Caramel. Kakinya kini sudah membawa Caramel masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan Caramel ke lantai tempat dimana kamar Gesta berada. “Semoga saja kali ini Gesta mau meminum obat, minimal untuk beberapa hari kedepan karena aku pasti tidak akan bisa mengurus Gesta seperti dulu lagi, apalagi jadwal kerjaku sekarang sudah sangat padat semenjak bar tempatku bekerja semakin dikenal oleh kalangan kelas atas,” gumam Caramel. Sebelum menuju kamar apartemen sang pacar, Caramel menyempatkan diri untuk masuk ke toilet hanya sekedar merapihkan kembali penampilannya sebelum bertemu dengan sang pacar. “Lebih baik aku langsung masuk saja ke dalam, tidak perlu menelepon Gesta untuk dibukakan pintu,” gumam Caramel seraya menekan setiap digit angka pin keamanan kamar apartemen Gesta. Ceklek! Pintu apartemen terbuka dan Caramel sudah dapat mencium bau ruangan yang sangat menenangkan karena Caramel sendiri lah yang memilihkan aroma pengharum ruangan untuk apartemen kekasihnya. “Kenapa sepatunya Gesta berantakan sekali?” gumam Caramel kala ia melihat sepatu sang kekasih berada di dekat sofa. Caramel menunduk, ia membereskan sepatu Gesta di rak. Mata Caramel tidak berhenti disitu saja, kedua matanya melihat seluruh ruangan yang terasa berbeda. Entah mengapa perasaan Caramel merasa ada yang berbeda saja pada apartemen sang kekasih. DEGH! Detak jantung Caramel, napasnya, juga kedua matanya dalam beberapa detik langsung berhenti beroperasi saat Caramel tak sengaja melihat ada high heels berwarna coklat susu yang agak sedikit tertutup oleh gorden. “High heels-nya siapa ini?” Caramel menatap baik-baik benda indah itu dan merekam segalanya di otak. Hati kecil Caramel ingin berteriak saat otaknya sudah memikirkan banyak opsi kejadian di apartemen kekasihnya. Dengan kaki gemetar, Caramel berjalan perlahan, menyeret paksa kakinya untuk menuju kamar sang kekasih yang tertutup rapat. CEKLEK! Air mata Caramel langsung luruh begitu saja tanpa memberikan kode ataupun aba-aba. Hati Caramel seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum, kedua matanya semakin panas sehingga air mata itu semakin tak bisa ditampung lebih lama lagi, semuanya langsung keluar begitu saja. “Teruskan, Sayang! Lebih cepat lagiii, aku sedikit lagi mendapatkan kenikmatan ini.” Caramel membeku di tempat. Semua anggota tubuhnya rasanya seperti mati rasa melihat dan mendengar secara langsung pria yang sangat ia cintai sedang merasakan kenikmatan surga dengan seorang wanita di atas tubuh Gesta. Hati kecilnya menyerukan kepada Caramel agar gadis itu pergi dari tempat yang terkutuk itu, namun otaknya menolak. Caramel ingin merekam dengan jelasi di ingatannya seberapa jahat Gesta telah mengkhianati kesetiaan Caramel selama ini. BRAK! Tanpa disengaja kedua taCaramel menjatuhkan semua tentengan kantong plastik yang ada di tangannya sehingga membuat Gesta dan wanita di atas pria itu yang sedang keringetan juga fokus dengan kegiatan mereka langsung ke distreak. “Ca-cara?!”BUGH! KREK! TAK!Perkelahian langsung terjadi selang beberapa detik Caramel disuruh untuk berdiri agak menjauh dari sopirnya Dean supaya tidak terkena pukulan ataupun tendangan ketika perkelahian sedang berlangsung.KRIEKKK!!!“ARGGHHH!!” Salah satu preman sudah tak bisa melawan lagi akibat pergerakannya langsung dikunci oleh sang sopir.“Sialan!” Preman itu mengumpat diselingi ringisan ketika sopir itu semakin menekan tangan salah satu preman yang sudah ia pelintir.“Begini lah seorang lelaki, lawannya ya lelaki jika ingin berkelahi! Jangan malah menjebak perempuan dan membuat mereka tidak berdaya! Dasar pecundang!”Dua preman lainnya yang tidak kena pukulan dan juga kunci pergerakan dari sopirnya Dean berusaha untuk mencari benda yang bisa mereka gunakan untuk menumbangkan musuh mereka sebab semua orang yang bekerja untuk Dean sudah dipastikan memiliki ilmu bela diri yang sudah tinggi sehingga akan bisa melindungi Dean dimanapun dan kapanpun.“Brengs3k, jika begini terus kita akan m
"Ya, Tuan. Saya melihatnya.""Kau turunlah.""Tuan ingin saya mengajak karyawan bar untuk pulang bareng?" Pertanyaan itu langsung membuat sang sopir langsung mendapat tatapan mematikan dari Dean."Kau turun, dan jagalah dia dari jarak jauh!" tegas Dean. Melihat sopirnya masih kebingungan membuat Dean menambahkan kalimatnya, "ada beberapa pria yang sedang mengincar dia dari halte seberang, kau turun dan jagalah dia dari kejauhan sembari dia sedang menunggu jemputannya," lanjut Dean.Tanpa banyak bertanya lagi sopir itu langsung turun dari mobil sesuai dengan perintah majikannya dan Dean memantau keduanya dari dalam mobil."Apakah dia sedang menunggu pacarnya menjemput setelah tadi siang cowoknya itu sudah berani membuat keributan di bar-ku?" Dean masih terus mengawasi gerak-gerik para preman yang sudah mengincar Caramel sejak tadi."Duh, ini mana sih tukang ojeknya? Aku udah nunggu lebih dari 15 menit padahal, tapi sampai sekarang chat yang aku kirimkan saja masih belum dibalas sama di
Dean langsung memalingkan pandangan begitu ia sudah merasa terlalu lama beradu pandang dengan mata karyawannya. “Kau kenapa?” tanya Dirga begitu melihat gelagat Dean tiba-tiba saja menjadi aneh. “Sodamu aman kan, nggak mengandung obat apa-apa?” tanya Rey, pikirannya sudah menduga jika minuman soda yang dikonsumsi oleh Dean ada yang sudah merencanakan dengan dicampur dengan obat perang sang. “Aman. Semuanya aman aja, nggak seperti yang kamu pikirkan,” sahut Dean dan ia langsung memahami isi pikiran sahabatnya. “Jadi, kau mau atau tidak aku carikan seorang wanita untuk menemani salah satu malammu di bulan ini?” tanya Dirga lagi membuat Rey segera menatap tajam temannya itu. “Kan Dean yang berhak memutuskan dia mau melepaskan ke per jaka aannya atau tidak dengan wanita manapun itu, kenapa disini malah kau yang ribut?” celetuk Rey dengan tatapan sinis terhadap Dirga.’ “Its oke, aku hanya ingin membantu teman kita ini saja, siapa tahu dia sedang lelah dan membutuhkan pelepasan bukan?
“Kokoh sudah menyuruh orang-orang Kokoh untuk menyeret dia keluar dari lingkungan club ini. Kau tenang saja, dia sudah Kokoh ancam supaya tidak mengganggumu lagi,” jawab Kokoh membuat Caramel dapat menghela napas lega. “Renungkan baik-baik saran yang sudah diberikan oleh tuan Dean kepadamu, Cara. Masukan yang tadi beliau ucapkan seharusnya bisa membuat kamu menjadi pribadi yang lebih profesional, sebab kamu di club ini di tuntut untuk fokus pada pekerjaanmu dan jangan membawa-bawa masalah pribadi, itu akan membuat pelanggan akan menilai buruk club kita,” ucap Kokoh, melanjutkan dan juga menjabarkan agak lebih rinci pesan yang tadi sudah disampaikan oleh Dean untuk Caramel. “Iya, Koh. Cara akan mengusahakan semuanya akan berjalan lebih baik dari ini,” sahut Caramel. Dua orang itu langsung masuk ke dalam club dan melakukan tugas mereka masing-masing. Naik jabatan membuat Caramel sesekali merasa bosan karena hanya menjawab pertanyaan saja dari para pelanggan dan juga pekerja yang pena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.