تسجيل الدخولKeesokan Harinya.
Dunia terlihat lebih cerah saat kau tidak lagi berpikir dirimu gila.
Aku bangun pukul sepuluh pagi dengan tubuh segar. Luka di tanganku masih perih, tapi dokter di klinik tadi pagi bilang itu hanya luka gores yang terinfeksi ringan. "Mungkin terkena benda tajam saat tidur," katanya. Penjelasan medis. Masuk akal. Aku menyukainya.
Sore harinya, aku memutuskan keluar. Aku harus ke kantor penerbit untuk menemui Sarah. Aku ingin menyerahkan draf Cinta di Musim Gugur yang tersisa di kepalaku, mencoba menyelamatkan karirku.
Aku memesan taksi online.
"Ke daerah Senayan ya, Pak?" tanya sopir taksi itu, pria tua yang ramah.
"Ya, Pak. Lewat jalan biasa saja."
Kami membelah jalanan Jakarta. Aku duduk di kursi belakang, menikmati pemandangan gedung-gedung tinggi yang memantulkan cahaya matahari sore. Aku merasa seperti orang yang baru sembuh dari sakit panjang. Aku bahkan bersenandung kecil mengikuti lagu pop di radio.
Mobil melambat saat kami mendekati perempatan besar dekat apartemenku. Macet. Tentu saja.
"Wah, padat sekali, Mas," keluh sopir taksi itu. Dia mengetuk-ngetuk setir.
Aku melirik ke luar jendela. Kami berhenti tepat di garis depan lampu merah. Di atasku, apartemenku menjulang tinggi. Aku bisa melihat jendela tempatku duduk kemarin sore menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.
Betapa konyolnya aku kemarin.
"Sekarang jam berapa, Pak?" tanyaku santai, hanya ingin basa-basi.
Sopir itu melirik jam di dashboard mobilnya.
"Jam lima pas, Mas. Teng!" jawabnya terkekeh. 17.00.
Senyumku masih mengembang di bibir. Jam lima sore. Waktu minum teh. Waktu pulang kantor.
Lalu, mataku menangkap gerakan di trotoar sebelah kiri.
Seorang badut. Kostumnya lusuh, warnanya pudar. Dia sedang berjalan gontai, tampak kelelahan setelah seharian menghibur orang-orang yang tidak peduli. Di tangannya, ada seikat balon gas.
Sesuatu di perutku bergejolak. Rasa mual yang familiar.
Tidak. Jangan.
Badut itu tersandung sedikit di trotoar yang tidak rata. Pegangannya goyah.
Satu balon terlepas dari ikatan.
Warnanya merah. Merah darah.
Aku menegakkan punggung, mataku terpaku pada benda bulat itu. Waktu seolah melambat. Suara radio dan klakson memudar, digantikan oleh detak jantungku yang memukul gendang telinga.
Balon itu naik, terbawa angin sore yang berputar di antara gedung. Ia tidak terbang tinggi ke langit. Ia terbang rendah, melayang miring ke arah tengah jalan.
Ke arah lampu lalu lintas.
"Tidak mungkin..." bisikku. Suaraku tercekat.
Balon itu terus naik, talinya yang panjang melambai-lambai seperti ular. Dan kemudian, dengan keakurasian yang mengerikan, tali itu membelit tiang besi lampu lalu lintas.
Tepat di kap lampu sebelah kiri.
Balon merah itu tersentak, tertahan, lalu terombang-ambing di sana. Mengejekku. Menertawakanku.
Sama persis. Akurat seratus persen.
Hanya... terlambat 24 jam.
Darahku serasa menjadi es. Aku teringat apa yang kutulis di laptop.
> ...Balon merah itu tersangkut tepat di kap lampu lalu lintas sebelah kiri... tepat pukul 17.00.
Aku menulis pukul 17.00. Tapi aku lupa satu hal fatal. Aku tidak menulis hari apa.
Aku tidak menulis tanggalnya.
"Putar balik, Pak! Sekarang!" teriakku.
Sopir taksi itu terlonjak kaget, hampir membanting setir ke kanan. "Hah? Tapi ini macet, Mas. Kita nggak bisa "
"Aku bilang putar balik!" Aku mencengkeram sandaran jok depannya dengan tangan kananku yang terluka. Nyeri menyengat, tapi itu membuatku tetap sadar. "Aku bayar tiga kali lipat. Bawa aku kembali ke apartemen. Cepat!"
Sopir itu menggerutu, tapi uang bicara. Dia memaksa mobil memutar di u-turn berikutnya, disambut klakson panjang dari kendaraan lain.
Aku tidak peduli. Mataku nanar menatap lampu lalu lintas yang perlahan menjauh di kaca belakang. Balon merah itu masih di sana. Menari. Melambai. Tanda peringatan.
Aku harus pulang. Aku harus membuka laptop itu.
Apa yang kutulis setelah balon merah?
Ingatanku kabur. Saat itu aku menulis dalam keadaan trance, setengah sadar, didorong oleh euforia gila. Aku ingat aku menulis tentang kekacauan. Tentang api? Atau tentang darah?
Aku merogoh saku, mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi Notes. Aku selalu menyinkronkan drafku ke cloud.
Sinyal berputar. Loading. Lambat sekali!
"Ayo, ayo..." desisku.
Dokumen terbuka. PROJECT AGNIA.docx
Aku menggulir layar dengan jari gemetar. Melewati bagian taman, bagian kaca pecah, bagian balon merah...
Mataku membelalak membaca paragraf selanjutnya.
Lampu lalu lintas itu hanyalah permulaan. Agnia bosan melihat keteraturan. Dia berjalan masuk ke lobi apartemennya sendiri. Dia tidak naik ke unitnya. Dia turun.
Ke Basement 2.
Di pojok ruangan, di dekat ruang genset yang berdebu, ada tumpukan kardus bekas pindahan yang belum dibuang. Kering. Mudah terbakar.
Agnia menyalakan pemantik api perak miliknya. 'Zippo' tua dengan ukiran naga. Dia suka bunyinya. 'Klik'. Api menyambar. Dia tidak membakar gedung itu untuk membunuh orang. Dia hanya ingin melihat apakah sistem pemadam kebakaran otomatisnya bekerja.
Dia melempar pemantik yang menyala itu ke tumpukan kardus.
Darahku surut dari wajah.
Apartemenku. Basement 2. Ruang Genset.
Aku tinggal di gedung yang sama dengan seting novel ini. Jika Agnia membakarnya... aku membakar rumahku sendiri. Dan ratusan orang lain di dalamnya.
"Pak, ngebut!"
Tiga bulan berlalu.Taman di bagian belakang Rumah Sakit Jiwa Dharmawangsa bukanlah tempat yang dirancang untuk keindahan. Hanya hamparan rumput yang sedikit menghijau, dipagari besi tinggi berkarat, dan beberapa pohon trembesi yang rindang namun luput dari perawatan. Daun-daun kering berserakan di tanah, tak pernah tersapu.Di balik kaca jendela ruang rawat yang tebal, Sarah Wijaya berdiri mematung.Pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di bangku kayu di bawah naungan trembesi.Tubuhnya kurus, nyaris tenggelam dalam seragam rumah sakit: kemeja lengan panjang putih yang telah kusam dan celana longgar yang jelas kebesaran. Rambutnya memanjang, kusut, dan kusam, tak peduli betapa rajinnya perawat merapikannya setiap pagi.Pria itu sedang berbicara.Sendirian.Tak ada siapa pun di bangku itu. Tak ada pasien lain, tak ada perawat yang mengawasi. Namun ia bicara dengan intens, tangan bergerak-gerak seolah sedang menyusun argumen, sesekali terkekeh, lalu menggeleng.Kemudian ia t
esadaranku datang dan pergi, terombang-ambing seperti napas yang tersengal.Satu detik aku merasa terbaring di lantai kamar kost yang dingin. Detik berikutnya, tubuhku terangkat, dipindahkan ke permukaan yang keras dan sempit. Ada tangan-tangan yang menyentuhku: ada yang kasar, ada yang lembut, ada yang membalut luka, ada yang mengencangkan tali di pergelanganku.Suara-suara bergema di sekelilingku. Samar. Terpotong. Seperti siaran radio yang kehilangan frekuensi.Namun perlahan, suara-suara itu mulai menemukan bentuknya.Dan aku sadar: aku tidak bisa bergerak.Kubuka mata. Yang kulihat hanyalah langit-langit putih yang bergeser bukan, langit-langit itu tidak bergerak. Akulah yang bergerak. Aku terbaring di atas brankar, dan brankar itu terus didorong. Lampu-lampu lorong kost yang redup melintas di atas kepalaku, satu demi satu.Aku mencoba mengangkat tangan. Kaku.Pergelangan tanganku terikat pada rel brankar oleh sabuk kain tebal. Kaki juga. Dada juga. Bukan straightjacket, sekadar pr
“Ivan. Bangun, Ivan!”Suara itu.Samar. Menggema dari kejauhan, seolah merambat melalui lorong panjang yang lembap dan gelap.“Ivan!”Aku mengerjap. Kelopak mataku terasa berat, seolah direkatkan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Cahaya terlalu tajam menyelinap melalui celahnya, menyengat pupilku hingga perih.Bukan cahaya bohlam kuning yang biasa menerangi kamarku.Ini putih. Terang. Nyaris menyakitkan.“Dia sadar! Dokter, dia sadar!”Suara itu lagi.Suara yang tak asing.Suara yang pernah kudengar ribuan kali: di ruang rapat, di kendaraan yang berkedap, di peluncuran buku, di telepon tengah malam saat ia menagih naskah yang tak kunjung selesai.Sarah.Kubuka mata.Wajah Sarah tepat di depanku. Hanya beberapa sentimeter. Matanya merah dan bengkak, sisa air mata masih membasahi pipi tirusnya. Rambutnya kusut, jauh dari sanggul rapi yang biasa ia kenakan. Ia tampak lelah. Sungguhan lelah. Layak orang yang tak tidur berhari-hari.“Ivan,” bisiknya. Tangannya menggenggam jariku. Hangat. Nya
Satu minggu telah berlalu. Atau mungkin delapan hari. Atau sembilan. Aku sudah berhenti menghitung.Waktu di kost ini mengalir seperti air yang terjebak di parit lambat, tanpa arah, dan meninggalkan jejak anyir yang kian pekat seiring hari. Aku bangun, bekerja, makan, tidur, lalu bangun lagi. Tidak ada yang berubah.Kecuali hari ini.Aku menyadari ada yang tidak beres sejak pagi.Bukan dari suara. Bukan dari bau. Melainkan dari getaran di udara yang berbeda. Seperti hening yang mendahului gempa, atau napas yang tertahan sebelum pintu terbuka.Aku duduk di kamar, buku bekas yang usang terbuka di pangkuan, tetapi aku tidak menulis. Aku hanya duduk, menatap dinding, mendengarkan.Dan di luar sana, Ibu Kost mondar-mandir.Klek... klek... klek...Sandal jepitnya yang telah aus menimbulkan bunyi setiap kali tumitnya menyentuh lantai semen di lorong. Dari kamarku di ujung kiri, aku mendengarnya bolak-balik dari dapur ke pintu gerbang, dari pintu gerbang kembali ke dapur, berulang seperti band
Aku terbangun dengan punggung yang kaku.Matahari sudah cukup tinggi mungkin jam sembilan, mungkin sepuluh. Kamarku tidak pernah menerima cahaya pagi; jendelanya menghadap ke barat, dan pagi hari, kamar ini gelap seperti gua. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terbiasa dengan itu.Kepalaku berat. Mulutku terasa pahit.Tanganku meraba lantai di samping kasur mencari apa, aku tidak tahu. Ponsel Nokia. Buku tulis bunga mawar. Koran. Lalu jariku menyentuh sesuatu yang berbeda: kertas lebih kasar, lebih tebal, dengan tekstur yang hanya bisa didapat dari buku yang sudah lama tidak dibuka.Aku mengangkatnya ke cahaya bohlam yang masih menyala redup.Sebuah buku. Bukan buku tulis buku betulan, dengan sampul yang sudah hampir lepas dan warna yang telah pudar menjadi cokelat kusam. Tulisan di sampulnya luntur, hanya tersisa serpihan huruf: ...ANG... ...AN...Lalu aku ingat. Kemarin sore, di TPS, ada tumpukan buku bekas yang dibuang seorang mahasiswa masih ada kartu tanda mahasiswanya t
"Mas! Mas Ipan!"Suara itu memanggilku dari pinggir jalan, dekat perempatan lampu merah yang biasanya macet. Seorang pria tua duduk di bangku kayu panjang. Di depannya terhampar karung plastik biru berisi tumpukan koran dan majalah bekas. Rambutnya sudah putih semua, kumisnya tebal dan kusut, dan matanya menyipit di balik kacamata minus yang tebalnya seperti dasar botol.Mang Udin. Penjual koran bekas langganan para pemulung dan tukang loak.Aku sering membeli koran darinya. Bukan karena aku suka membaca berita. Tapi karena kadang aku butuh sesuatu untuk membungkus sampah organik yang terlalu basah. Atau kadang aku butuh sesuatu untuk diremas-remas saat tanganku gatal ingin menulis tetapi tidak punya kertas."Pagi, Mang," sapaku datar, mendekati lapak daruratnya."Iya, iya, sudah lama tidak kelihatan. Kemarin ke mana saja? Sepertinya kurusan, Le." Mang Udin tertawa kecil, memperlihatkan sisa-sisa giginya yang hitam oleh tembakau. "Mau koran? Yang ini bagus. Masih lumayan baru. Hanya se
Tiga minggu.Tiga minggu sejak aku merobek poster orang hilang dari tiang telepon. Tiga minggu sejak aku mematahkan hidung preman mabuk dengan sekop besi. Tiga minggu sejak aku memutuskan bahwa Ivan Sandlers sudah mati, dan yang hidup hanyalah Ipan: tukang sampah bau busuk tanpa masa lalu.Tiga ming
"Tiga hari."Kata-kata Sarah berdengung di kepalaku seperti lalat yang terperangkap dalam toples kaca.Aku berdiri di tengah ruang tamu apartemenku, menatap kalender digital di dinding. Hari Kamis. Tanggalnya merah menyala, mengejekku. Ingatan terakhirku yang utuh adalah Senin malam. Selasa dan Rabu
Suara mesin kopi itu terdengar seperti bor jalanan. Wussshhh. Grrrttt.Aku memijat pelipisku. Kafe "Senja Kopi" ini biasanya tempat favoritku untuk menulis karena suasananya tenang. Tapi hari ini, entah kenapa, setiap denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik terdengar sepuluh kali lebih ker
Mimpi itu tidak memiliki bentuk, hanya warna. Merah. Pekat dan berdenyut.Aku tersentak bangun dengan napas tertahan di tenggorokan. Jantungku memukul-mukul rusuk, seolah ingin mendobrak keluar. Kamarku gelap gulita. Tirai jendela tertutup rapat, menghalangi sisa cahaya matahari sore atau mungkin pa







