LOGINKeluarga Aristanto punya aturan. Jika ingin menjadi Nyonya Besar berikutnya, orang itu harus membuktikan diri. Menghasilkan keuntungan kurang lebih lima triliun dalam satu tahun. Semua itu harus dilakukan sendiri, tanpa bantuan keluarga. Aku menghabiskan sepuluh tahun mencoba melakukan semuanya demi Vicky. Aku membangun sepuluh perusahaan dari nol. Namun setiap kali, tepat saat aku hampir mencapai garis akhir, selalu terjadi kesalahan. Dan, semuanya ... runtuh. Tahun ini, akhirnya aku berhasil. Aku berlari ke ruang kerjanya, dengan laporan di tangan, jantungku berdebar kencang. Kupikir aku akhirnya menang. Tapi sebaliknya, aku justru mengetahui bahwa seluruh hidupku adalah kebohongan. Vicky menyerahkan seluruh kerajaan bisnisku kepada Andrea, anak haram ayahku. Semua karena Andrea dianggap pernah menyelamatkan nyawa Vicky satu kali, jadi dia ingin menjadikan wanita itu Nyonya Besar yang sebenarnya. Aku pun menyerah padanya. Pada mimpi keluargaku untuk bangkit bersamanya. Lalu, aku menelepon keluarga dari Kota Sirkola. "Lamaran pernikahan itu ...." kataku. "Aku terima."
View More“Ma... Ma... Bangun, Ma...”
Kurasakan guncangan kecil di pundak kiriku. Aku membuka mata. Sepertinya tadi aku sempat tertidur selama perjalanan. Dengan pandangan mata yang masih mengabur, kupastikan kalau ketiga anakku masih ada di sampingku. Aku merasa lega saat kulihat Nurul, Andra dan Melina baik-baik saja. Mereka tidak ada yang rewel ataupun mabuk kendaraan meski kami sekarang sedang menempuh perjalanan jauh.“Kenapa Rul?”“Apa kita udah sampai Ma?”Aku celingak-celinguk, berusaha melihat keadaan di luar dari dalam mobil. Tapi kanan kiri terlihat gelap. Kulihat ke arah depan, sepertinya mobil yang membawa kami memasuki halaman sebuah rumah. Tak bisa kupastikan keadaan rumahnya secara detail, karena hanya terlihat satu lampu penerangan di bagian teras rumah itu.“Ini di mana Bang? Apa kita udah sampai?” tanyaku memberanikan diri pada sopir mobil travel yang membawa kami.Tidak ada jawaban. Lelaki itu terlihat sibuk memutar-mutar setir mobil, seperti memantapkan tempat parkirnya. Aku pikir ia tak mendengar.Mesin mobil dimatikan. Dan sopirnya turun, membuka pintu dari sebelah tempatku duduk.“Keluar!!”Aneh, kenapa nadanya kasar sekali? Berbeda saat tadi dia datang menjemput kami. Apa dia capek karena perjalanan jauh sehingga menjadi sensitif?Aku membangunkan Melina dan menggendongnya. Ia masih tertidur. Sementara Andra sudah dibangunkan Nurul dan mereka sudah keluar dari pintu sebelah.“Masuk!!”Lagi-lagi nada perintah yang kasar keluar dari mulutnya. Aku terlongong bengong. Rumah ini bukanlah tempat tujuanku. Bahkan aku sama sekali tak tahu ini ada di daerah mana.Lelaki itu berdecak kesal. Tanpa kuduga dia sudah meraih lengan Andra dan menariknya dengan kasar menuju depan rumah.Aku dan Nurul yang tadi tak sempat mengantisipasi gerakannya hanya bisa berteriak sambil mengejar mereka yang kini sudah masuk ke dalam rumah.Rumah ini cukup besar. Terlihat terbengkalai tapi sepertinya ada orang yang menempati. Bisa kulihat puntung rokok dan bungkusan snack yang berserakan di ruang tamu dan ruang tengah saat tadi kulewati.“Apa-apaan kamu? Kenapa memaksa kami untuk masuk ke rumah ini? Jangan sampai aku teriak ya!!” kataku dengan nada mengancam. Berharap dia melepaskan pegangannya dari tangan Andra. Anakku itu terlihat kesakitan.Tadi aku sempat meraih tangan kiri Andra. Tapi dia makin kuat mencengkeram dan membuat Andra menjerit kesakitan. Aku jadi tak tega dan memilih melepaskan tanganku.“Silakan teriak! Nggak akan ada yang bisa dengar teriakan kalian,” katanya tersenyum jahat. Sungguh terlihat sangat mengerikan.Ya Allah, aku jadi benar-benar menyesal karena telah kabur dari rumah malam ini. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku dan anak-anakku, aku akan menyalahkan diriku seumur hidup.Ia kembali menyeret Andra. Tubuh kecil anak lelakiku yang baru berumur 8 tahun itu tak bisa menahan hentakan kasar tangan pria dewasa yang menariknya. Lelaki berambut agak panjang itu tak peduli meski aku dan Nurul sejak tadi memukulnya dengan pukulan tangan kosong. Entah tenaga kami sebagai perempuan yang lemah atau memang dia yang kuat. Sepertinya pukulan kami tak berarti apa-apa baginya.Dia membuka pintu kamar di bagian paling ujung rumah. Dengan kasar melepaskan tangan Andra dan mendorongnya sehingga anakku itu terjatuh dengan punggung menghantam dinding.Aku dan Nurul menjerit. Nurul membantu adiknya berdiri. Sementara aku hanya bisa melihat, karena sedang menggendong Melina yang kini sudah terbangun karena keributan tadi.Kami semua sudah berada dalam ruangan yang kosong melompong. Tidak ada apa pun di dalam sini. Tidak ada tempat tidur ataupun lemari.Ia menutup pintu dan memandang kami dengan tatapan menakutkan.“Apa mau kamu? Tolong lepaskan kami!” pintaku memohon.“Aku cuma mau menyelesaikan pekerjaanku. Jangan terlalu ribut. Tugasku untuk malam ini sudah selesai, jadi aku mau istirahat. Dan maaf, aku nggak bisa melepaskan kalian sebelum aku mendapatkan bayaran.” Katanya dengan seringai menakutkan.“Biarkan kami pergi! Aku akan membayarmu asal kau lepaskan kami,” pintaku.“Kau nggak akan bisa membayarku. Lebih baik sekarang kalian tidur.”“Bagaimana kami bisa tidur dalam keadaan seperti ini? Kami tak punya salah padamu. Tolong lepaskan kami!”“Nanti kulepaskan, kalau udah jadi mayat! Ha..ha..ha..”Aku semakin bertambah takut mendengar kalimatnya. Nurul dan Andra bahkan sudah menangis.Laki-laki itu berbalik hendak keluar. Cepat kuserahkan Melina pada Nurul. Kutarik bajunya dan berteriak pada Nurul,” Rul, cepat bawa adik-adikmu keluar dari sini!”Sekuat tenaga aku berusaha menahan tubuh sopir sewaan yang tak kukenal ini. Tapi tenaganya jelas jauh lebih kuat. Aku tak sanggup menahannya terlalu lama. Ia lepas dari cengkeraman tanganku.Belum sempat Nurul meraih gagang pintu, ia sudah lebih dulu menarik rambut Nurul. Nurul menjerit. Aku memukul kepalanya dengan tas selempang yang kubawa. Tapi lagi-lagi tak ada pengaruhnya sama sekali.PLAKK!!Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiriku. Pedih dan panas sekali rasanya. Aku sampai jatuh terduduk saking kerasnya tamparan itu.“Mama!!!”Nurul mengejar memburuku. Tangisnya dan Andra semakin kuat. Kali ini Melina pun ikut menangis.“Jangan coba melawanku. Kalian nggak akan sanggup. Kalian bukan lawanku!”“Tolong lepaskan kami, aku akan memberikan uang yang aku punya asalkan kau biarkan kami pergi,” tangisku mengiba.Tapi lelaki itu seolah tak peduli dengan kami semua yang kini menangis. Dengan angkuhnya dia berjalan menuju pintu. Saat akan menutup pintu, tiba-tiba ia urung menutupnya. Ia kembali masuk ke kamar. Berjalan ke arah kami, dan dengan sedikit berjongkok ia mengambil HP milikku yang tadi terjatuh.Aku baru hendak berdiri merebutnya. Tapi dengan cepat tangan lelaki itu sudah mendorong tubuhku dengan kasar. Membuat aku kembali terjatuh.“Ini aku sita,” katanya, “ biar kalian betah lama-lama di sini,” lanjutnya dengan nada mengejek.Oh tidak!!! Bagaimana aku bisa mencari pertolongan kalau HP pun dia ambil?***“Maafkan Mama ya Nak...”Aku terisak. Benar-benar takut tidak bisa keluar dari sini. Kalau aku sendiri tidak apa. Tapi aku mengkhawatirkan anak-anakku. Terutama Melina. Dia masih terlalu kecil.“Udahlah Ma, jangan nangis lagi. Jangan sedih. Kami nggak nyalahin Mama. Bukan Mama yang jahat, tapi Om itu.” Nurul berusaha menghiburku.“Tapi Mama yang membuat ini semua terjadi. Mama yang mengajak kalian untuk lari dari rumah tanpa bertanya atau berpikir panjang. Mama yang salah, maafkan Mama.”Tangisku semakin menjadi. Aku menyesali keputusanku untuk kabur dari rumah. Semua ini karena pertengkaran antara aku dan suamiku, yang terjadi seminggu yang lalu. Mas Edar ketahuan selingkuh setelah seseorang tak dikenal mengirimkan foto mesra suamiku itu dengan wanita lain.Aku tak tahu siapa pengirimnya, yang jelas foto-foto itu sukses membuatku marah besar. Pertengkaran kami berakhir dengan Mas Edar yang pergi dari rumah selama beberapa hari. Aku yang tak bisa menguasai diri akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah dengan membawa ketiga anakku. Tujuanku adalah kota tempat di mana orang tuaku tinggal.Seorang teman membantuku untuk mencari mobil travel yang bisa mengantarkan aku pulang ke rumah orang tuaku. Perjalanan jauh yang memakan waktu hingga belasan jam membuat aku memutuskan untuk pergi di malam hari. Tujuanku agar sampai di sana saat hari sudah siang. Selain itu, berangkat di malam hari kulakukan untuk menghindari pertanyaan dari para tetangga. Aku tak mau ada siapa pun yang tahu aku lari dari rumah.Namun kini, aku dan anak-anakku disekap dan dikurung sejak semalam. Sopir yang membawa kami ternyata adalah orang yang punya niat jahat.Helikopter itu terbang di atas laut berwarna biru kehijauan yang jernih.Di bawah kami, tampak sebuah pulau pribadi yang belum pernah kulihat sebelumnya."Kita di mana?" tanyaku pada Jeremy.Dia duduk di sampingku, tangannya yang besar menggenggam tanganku, suaranya terdengar lembut."Rumah kita."Aku menatap sosoknya, ada seribu pertanyaan berputar-putar di benakku."Jeremy, kenapa sekarang?" Aku menoleh padanya. "Kenapa kau baru muncul sekarang?"Dia terdiam cukup lama, lalu mulai berbicara."Irene, aku harus menceritakan sebuah kisah padamu." Sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. "Sebuah kisah tentang menunggu."Helikopter mendarat di halaman rumput yang luas. Kelopak mawar melayang-layang di udara."Apa kau masih ingat malam ketika kau diculik?" katanya sambil kami berjalan. "Terperangkap di gudang terbengkalai itu."Pikiranku kembali ke malam yang mengerikan itu.Ibuku baru saja meninggal. Ayahku sibuk dengan selingkuhannya, dan sama sekali tidak memperhatikanku.Sebuah
Jeremy memberi isyarat.Sebuah proyektor besar digulirkan dan diarahkan ke dinding luar katedral.Sebuah gambar berkedip-kedip di batu putih itu.Itu adalah rekaman kamera pengawas dari kolam renang, tiga belas tahun yang lalu.Di layar, Vicky yang berusia lima belas tahun sedang berjuang di kolam dalam.Andrea yang berusia dua belas tahun berdiri di tepian dengan mengenakan gaun merah, memegang pelampung.Tapi, dia tidak melemparkannya.Sebaliknya, saat Vicky mengulurkan tangan putus asa ke arahnya, dia justru mundur dengan panik. Karena takut mendapat masalah, dia bahkan menendang pelampung itu lebih jauh dari tepi.Vicky tenggelam, perjuangannya semakin lemah.Tepat saat itu, ada sosok kecil bergegas masuk dari sisi kanan layar.Itu adalah aku yang berusia dua belas tahun.Aku terjun ke kolam tanpa ragu sedetik pun, menggunakan seluruh kekuatanku untuk menarik tubuh Vicky yang jauh lebih berat dariku.Namun, aku terlalu kecil. Saat berhasil mendorongnya sampai ke tepi, aku kehabisan
Dunia seolah menjadi sunyi, gema tembakan itu masih menggantung di udara.Vicky mencengkeram tangannya yang mati rasa, menatap tak percaya pada serpihan senjatanya di tanah."Siapa itu?!" teriaknya sambil melihat sekeliling dengan panik. "Siapa yang menembak?!"Satu-satunya jawaban adalah suara langkah kaki serempak.Ratusan pria berjas hitam keluar dari mobil-mobil lapis baja.Mereka bersenjata lengkap, membawa senjata dengan standar militer, wajah mereka tersembunyi di balik topeng, hanya memperlihatkan mata yang dingin dan keras.Di tengah kekuatan yang mengerikan seperti itu, sebuah mobil mewah Royal Sein meluncur pelan dan berhenti.Pintu pun terbuka.Seorang pria melangkah keluar.Dia tinggi dan kurus, mengenakan jas hitam edisi khusus. Dia bergerak dengan keanggunan mematikan yang memancarkan otoritas mutlak. Kacamata hitam menutupi bagian atas wajahnya, tetapi bibir tipis dan garis rahangnya yang kuat memancarkan kekuatan yang mencekik.Saat Vicky melihatnya, wajahnya langsung
Pintu katedral yang berat itu tak mau bergerak.Lalu, sebuah suara memecah keheningan di belakangku."Irene."Aku menoleh. Matahari pagi menyinari berlian di gaunku, membuatnya tampak seperti ribuan matahari kecil yang berkilauan.Saat Vicky melihatku, dia membeku, rahangnya ternganga.Matanya menatapku lekat-lekat, menelusuri garis gaunku hingga ke berlian yang menyilaukan itu."Ya Tuhan," gumamnya. "Irene ... kau terlihat ....""Kami mencarimu ke mana-mana, Irene." Suara Andrea yang manis namun mengandung kepalsuan, menusuk telinga. "Kami sudah mengirimkan ultimatum. Kau bukannya membalas, justru tiba-tiba muncul di sini dengan gaun pengantin? Apa kau mencoba memaksa Vicky untuk menikahimu?"Aku menatapnya dengan wajah sedingin es. "Kau terlalu banyak berpikir, Andrea. Aku memang akan menikah. Hanya saja bukan dengannya."Vicky akhirnya tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, tatapan arogan itu kembali ke wajahnya."Karena kita semua sudah di sini, ini menghemat waktu. Pulanglah, Ir
Aku kembali ke apartemenku. Hal pertama yang kulakukan adalah berjalan menuju meja rias.Sebuah cincin berlian biru dua belas karat tergeletak di sana.Itu cincin pertunangan dari Vicky sepuluh tahun yang lalu.Aku mengambilnya dan ... tanpa ragu, melemparkannya ke perapian.Api menjilati lingkaran
Rasa muak di sorot mata Vicky terasa lebih menyakitkan daripada senjata apa pun.Tepat saat itu, Andrea yang sedari tadi "gemetar" dalam pelukan Vicky, menatapku dengan matanya yang basah oleh air mata."Irene, kakakku, kumohon berhenti .…" katanya dengan suara lemah dan mulai terisak. "Aku tahu kau
Terkena peluru?Jantungku seakan berhenti berdetak."Kapan?" Aku bergegas menghampiri Vicky. "Kau terluka?"Tanganku menyentuh bajunya, mencoba memeriksa lukanya.Vicky tersentak, mencoba mendorongku menjauh, tetapi gerakannya kaku. Dia jelas mengalami cedera."Tiga hari yang lalu," kata Vicky sambi
Vicky tampak lebih rileks.Dia duduk kembali di kursinya, kembali memasang sikap meremehkan.Seolah-olah bukan dia yang panik semenit yang lalu. Seolah-olah, itu semua hanya bayanganku saja."Irene, kau mengecewakanku."Aku berkedip. Apa?"Tradisi tetaplah tradisi," katanya, nadanya berubah serius.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews