LOGINBertahun-tahun menghabiskan waktu di rumah hina, membuatnya enggan untuk meninggalkan posisi nyaman meraup uang bermodalkan pamor dan juga kecantikannya. Sampai tiba-tiba wanita yang akrab disapa Monica, dipinang oleh Nathan saat hendak melayaninya di kamar 310. Sedikit tergugah karena dijanjikan kebebasan yang dulu sempat terkubur sirna, akhirnya Monica menerima tawaran Nathan menjadi istri keduanya. Siapa sangka kedatangannya di keluarga itu malah membuat satu persatu misteri terpecahkan, ada banyak rahasia di keluarga Nathan, dan tentang siapa istri pertama Nathan yang memiliki wajah serupa dengannya, apa mereka memang memiliki keterikatan satu sama lain?
View More"Can you please tell me why your master wants to marry me? I don't even know him?" Kate looked at him with her fearful and confused gaze.
She was feeling very nervous.
"Miss, if you want to save Mr. Waston's company, marry our master. This is the only condition our master has for you," he told her.
Kate thought, "How could I marry a man whom I have never met in my life, but he knew she didn't have any other options to save her adopted father's company?"
"I need some time to think about it," Kate felt confused. She was just a college student. Alex stood from the chair and looked at her.
"Miss, you only have one day to think about this deal," Alex handed a card to Kate. "If you change your mind and agree to marry our master, then please call this number." Kate took that card from Alex:
"Thank you."
Alex turned around and left that coffee shop; Kate sat there in a daze; she felt like the entire world was crushing her hard.
Alex came out of the coffee shop and quickly went inside a car. After closing the car door, he turned to the car's backseat.
A handsome man was sitting there. That man lifted his black eyes from his laptop and looked at Alex. His eyes were icy cold; his one look was enough to give someone a severe heart attack.
Alex felt his sharp gaze; he felt very nervous. "Master, Miss said she needs some time to think about it."
The handsome man gave him a wintry smile. "Make all the preparations for tomorrow. She will say yes." he looked at the girl who was standing in front of the coffee shop.
Even if she wanted to refuse, she could not.
He was a legendary man of the S country. Everyone had always regarded him as a male god in this city, In S country. Everyone knows how heartless he could be if anyone dared to challenge him.
If he wanted to own something, nothing could stop him. So now he wants to marry her. How could she escape from him? He was the master who could make anyone fall into his trap, and she was just a little girl who had no idea what he desired from her.
"Okay, master" Alex understood his master's order.
"Go," he said to Alex. So Alex started the car and drove off on the road.
He looked at his master from the front mirror; he knew what his master was thinking. He has been following his master for nearly ten years now. He sighed softly; he knew his master's life would take a new turn from tomorrow.
Kate returned to her hostel room at noon, her thoughts running into the conversation in the coffee shop. When her phone rang, she looked at her phone and noticed a call from her mother, Rachel Weston. She answered it.
"mom"
"Kate, did you meet Mr. Wood?"
"Yeah, Mom, I already met him."
"Kate, what did he say to you?" Is he going to help us?"
"Mom, I'm not sure about it yet, but…."
Rachel Waston cut off her words before she could finish her words.
"Kate, although you're our adopted daughter, we gave you everything that we gave our daughter Sherry all those years. Now we're in deep trouble. Can you please help us?"
These words hurt Kate's heart; even though she knew they never truly cared about her, they owned her life.
Rachel Weston would sell her biological daughter for the money, so why would she be kind enough to spare Kate?
She was a greedy woman. For her, money was everything in her world.
Now their company is in a deep crisis. How could Rachel do nothing to save herself and her so-called image?
"I don't know what you will do, but you have to persuade Mr. Wood to tell his master to help our company, do you understand?
"Okay, Mom, I understand; I will do as you say. Rachel Waston hung up the phone call.
Kate was going to have lunch, but now she has lost her appetite. She lowered her head and got lost in her thoughts; Kate did not realize even when someone opened the door,
"Where were you all morning? Amy inquired Kate. Kate came back to her senses and crooked around,
"Oh, Amy, when did you come back?" Kate asked with a smile.
Kate and Amy became friends when they entered college, but they became best friends with time.
"What happened? You looked pale," Amy worriedly asked.
"Nothing, I’m just tired. Kate couldn't tell her the truth.
"Tell me truthfully, did that Walton family say anything to you?" Amy looked at her suspiciously.
Amy knows how that bitchy Waston family has treated Kate over the past few years.
"Amy, don't overthink; they didn't tell me anything. I have a headache; that’s nothing to worry about."
"If you say so, okay, have some rest now; I have classes after lunch." Amy took her bag and left the room.
Kate felt relief that Amy didn't force her to say anything else.
She lay down on her bed and thought about her life.
She could marry a man she never met, but it's not like she has any other options. Kate knew she had to return the debt she owed them.
Kate sighed; she had to sacrifice her freedom and future for her debts.
In a luxurious VIP private room, there were three people inside the room.
These three men looked super handsome. However, these three men have different characteristics.
A man looked playful and easy-going on the right side of the sofa. His name is Adam Richard. S country playboy, even though he never played with women, he was a little flirty.
On the opposite side, a man looked calm, severe, and courteous. His name is Liam Jones.
In the middle, there was the most handsome man. In a black suit, he was the king of the S country's business world, David Xiver.
One look from him was enough to make any woman crazy for him. S Country's people know he is a heartless psycho if anyone tries to challenge him.
He taught them harsh lessons that they wished they were never born. He never cared for anyone other than his friends and hers.
"Di mana Adam?" William baru saja masuk rumah, padahal ia sudah sengaja pulang saat malam semakin larut, tapi ternyata Arini belum juga tertidur. Matanya sembao seperti baru habis menangis. "Dia pasti sibuk dengan urusannya, Sayang." William mencoba berkelit seperti tak tahu apa pun. "Katakan di mana Adam! Apa dia masih berani menunjukkan muka setelah apa yang ia lakukan?" William terdiam. Ia yakin cepat atau lambat kabar ini akan tersebar. Arini terduduk di sofa dengan tatapan kosong. Ibu mana yang tak sakit hati ketika tahu, bahwa putranya melakukan kejahatan. "Aku sudah membesarkan pembunuh," lirihnya sedih. Air mata yang sejak tadi kering perlahan turun dan membasahi pipi. "Monica begitu menjaga dan melindungi aku dari bahaya, tapi aku malah melahirkan pembunuh untuk mencelakai putranya. Ibu macam apa aku ini?" William mendekat dan mendekap Arini penuh sayang. "Padahal sebentar lagi Allea akan menikah, tapi ketika mendengar kabar Adam menjadi pembunuh yang hampir membuat
William yang saat itu berada di laboratorium, mengecek sidik jari yang mereka temukan, tidak menyangka jika ternyata sidik jari itu milik Adam. Akhirnya tanpa membuang waktu, ia segera menghubungi Nathan dan Edgard, menceritakan semuanya tanpa mengabari Arini, istrinya pasti akan sangat khawatir dan ia tentu saja tak ingin hal itu terjadi. "Ayah kecewa padamu," lirih William yang seperti kehilangan semangatnya. Adam menatap William yang menunjukkan raut kecewanya yang jelas. "Ayah dan Ibu tak pernah mengajarimu menjadi pemberontak dan pembunuh, kau ditempatkan di posisi paling aman karena ibumu sangat menyayangimu. Sejak kecil, kau dan Allea adalah hidupnya." "Ayah, aku melakukan ini karena iri pada Edward, mengapa ia bisa dipilih menjadi orang paling berpengaruh sementara aku tidak?" William membuang napas berat. "Itu hak kakekmu, dia yang pebih tahu siapa yang paling kuat dan tangguh, tapi bukan berarti dirimu tidak mampu. Aku, ayahmu pernah mengajukan dirimu sebagai cucu pal
"Apa maksud semua ini, hah? Jujur, paman pasti kecewa ketika tahu siapa dalang di balik semua ini." Pria yang ternyata adalah Adam itu tertawa jahat, ia bersusah payah berdiri, menatap Edward yang sepertinya syok, tapi Adam tak peduli. Ia jujur sangat membenci Edward. "Bibi dan paman adalah orang baik, mereka tak pernah gagal dalam mendidik dirimu. Kenapa harus berjalan menjadi musuh? Jika kau memang tertarik dengan dunia misi, harusnya mengajukan diri menjadi satu kelompok yang utuh, bukan malah menjadi musuh. Aku tak ingin ada pertumpahan darah di keluarga kita, Adam." "Diam kau munafik! Apa kau tak sadar jika semua ini bermula dari dirimu?" Edward semakin kebingungan, ia heran mengapa bisa Adam berpikir seperti itu, padahal selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Adam si sibuk kerja menjadi arsitek muda, sampai jarang memiliki waktu bersama keluarganya. Tiba-tiba jadi seperti ini. "Kau yang berhasil menjadi pusat perhatian, keamananmu sangat dijaga, bahkan ayahku sangat meli
"Sial! Edward sok pintar itu selalu bisa menemukan celah. Tidak! Dia pikir akan mudah menangkapku?" Pria dengan topeng perak itu duduk di kursi, sebuah ruangan temaram dengan banyak layar monitor di sekitar menjadi tempat paling nyaman, tempat di mana tak satu pun orang yang berhasil mendeteksi keberadaannya. Tapi telepon milik salah satu anak buahnya tidak sengaja menunjukkan poisis terakhirnya saat ini. Pria yang dikenal sebagai Max itu sudah mempersiapkan ini sejak awal, ia memiliki banyak tempat pelarian, dan ia yakin sepintar apa pun Edward, tidak akan bisa menemukan dirinya dengan mudah. Pundi-pundi rupiah dan emas batangan menumpuk di mana-mana, hampir semua titik menjadi tempat persembunyian uang hasil penjualan organ manusia, dan itu ia lakukan dengan rapi sekali. Sayangnya beberapa kacungnya ceroboh, hingga mampu terendus oleh hidung tajam Edward. "Aku memang memiliki banyak kesempatan untuk membunuhmu, tapi aku tidak melakukan itu sekarang." Kedua tangannya mengepal k
Malam semakin larut, suasana juga hening. Mereka menempati tendanya masing-masing, tadi memang ada yang berjaga. Dean yang mulai merasa kantuk membangunkan Yudi untuk berganti, sementara ia akan istirahat sebentar. Sebenarnya jika hanya mereka berdua, keduanya tidak akan berjaga seperti ini, dan
[Evelyn, mungkin setelah membaca surat ini, aku sudah tidak ada di rumah. Maaf, aku banyak merahasiakan semuanya padamu, aku juga tidak bermaksud untuk menjadi orang yang tertutup. Aku tahu kau sahabat terbaikku sejak kecil, tapi aku yang terlalu kesulitan untuk membuka diri lebih dalam denganmu.S
"Sudah siap?" Evelyn mengangguk singkat. Harusnya ia senang karena tinggal bersama kakaknya, tapi karena tak ada kabar apa pun dari dua orang yang sedang kasmaran di luar negeri, membuat semangatnya sedikit memudar, padahal ia sangat merindukan Monica. Evelyn meraih tasnya, kemudian mengekori l
"Aku tahu harus apa sekarang," ujarnya dengan seringai licik. Jonathan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, sekali pun ia menuntut istri dan anaknya berhemat, ia tetap memiliki pekerjaan tetap, usahanya bukan hanya di kampus tempat anaknya berkuliah. Ia juga seorang pemilik perusahaan kecil, yan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews