LOGIN"Eryx!" Jeritan Braelyn melengking, mengoyak sunyi yang mendadak mencekam di antara jalinan debu kosmik.
Suaranya tersendat di tenggorokan saat melihat tubuh Eryx tersentak hebat di udara. Rantai besi hitam berkarat yang keluar dari pusaran kegelapan itu melilit pergelangan kaki Eryx dengan begitu kencang hingga mengeluarkan bunyi gemeretak dari balik sepatu botnya. Sentakan itu begitu beringas, memutus momentum lompatan mereka dan menarik Eryx kembali ke arah jurang ketiadaan waktu de
"Jangan berani-berani sentuh dia, Ibu!"Suara Braelyn pecah saat dia menghantam katup besi ventilasi hingga jebor. Tubuhnya meluncur mulus ke lantai gerbong yang panas, mengabaikan jelaga yang langsung mengotori sisa-sisa kain satin gaun pengantinnya. Tangannya yang gemetar langsung mengepal, merasakan pendaran merah di pembuluh darahnya meronta-ronta, ikut panas melihat kondisi Eryx.Eryx mendongak dengan susah payah. Setengah wajahnya yang mulai terkikis piksel abu-abu itu tampak meringis, memaksakan seulas senyum tipis di antara darah yang menetes dari sudut bibirnya. "Braelyn... bodoh... kenapa malah ke sini?" bisiknya parau, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin generator di belakangnya.Proyeksi holografik Eleanor berbalik lambat, menatap putrinya dengan pandangan dingin yang sama sekali tidak berubah sejak di laboratorium bawah tanah dulu. "Kamu selalu datang di waktu yang salah, Braelyn. Kloning atau asli, insting merusakmu itu benar-benar cacat algo
"Braelyn, tangkap tangan gue!!!"Suara cempreng yang sangat familier memotong deru angin lokomotif. Bukannya hantaman besi yang menghancurkan tubuhnya menjadi serpihan kode, Braelyn justru merasakan sebuah cengkeraman kasar dan super erat menarik kerah belakang gaunnya yang koyak. Tubuhnya terayun kasar, terlempar ke dalam sebuah celah sempit di balik dinding peron yang berlumut sebelum moncong kereta milik Lucien menghantam tempatnya berdiri satu milidetik lalu.Brak!Braelyn jatuh tersungkur di atas lantai semen yang dipenuhi tumpukan kabel siber yang berantakan. Ia terengah-engah, paru-parunya seperti terbakar oleh sisa-sisa hawa panas mesin uap. Di sampingnya, Kael sedang telentang sambil memegangi dadanya, napasnya naik turun tidak beraturan dengan wajah yang dipenuhi peluh dan noda oli hitam."K-Kael?!" Braelyn terbelalak, buru-buru bangkit dan mencengkeram pundak peretas itu. "Lu hidup? Bukannya tadi di saku dimensi tubuh lu...""Lu
Ting... tong...Suara lonceng stasiun bergaung nyaring, memantul di dinding-dinding keramik putih yang berlumut dan retak. Bunyi itu terasa begitu nyata, beritme konstan, seolah sengaja mengejek detak jantung Braelyn yang mendadak berpacu gila-gilaan. Aroma karat besi, oli dingin, dan sisa pembakaran mesin uap menyengat indra penciumannya, mengusir paksa sisa-sisa aroma lavender bumi asli yang baru saja ia dekap erat beberapa detik lalu.Batin-nya menjerit histeris hingga kepalanya terasa mau pecah. Stasiun? Lucien?! Tidak... tidak mungkin! Kami sudah memformat harddisk induk di saku dimensi! Eryx dan aku sudah menghancurkan Penghapus Paradoks dengan asimilasi ganda! Kenapa bajingan ini bisa ada di sini?!"Kamu terlihat terkejut, Nona Wilson," suara Lucien Ardent mengalun tenang menyeberangi rel kereta yang gelap dan mati di antara mereka. Pria itu melangkah maju hingga ujung sepatu pantofelnya yang mengilat berada tepat di batas garis aman kun
"Ayaaaah!!!"Jeritan Braelyn memecah keheningan saku dimensi, menyatu dengan bunyi retakan ubin kaca di bawah kakinya. Menyaksikan tubuh Adrian Wilson menegang lalu ambruk ke depan dengan darah yang memancar dari punggungnya adalah dejavu paling mengerikan yang menghancurkan seluruh kewarasannya. Belum sempat tubuh tua itu menyentuh lantai, entitas di dalam tubuh Kael sudah menarik kembali tangannya yang berlumuran darah hitam, menyeringai gila dengan sepasang mata legam yang bergetar hebat memantulkan distorsi ruang.Perasaan Braelyn menjerit kaku di balik dada yang terasa mau pecah. Tidak... tidak boleh ada lagi yang mati! Kael, Ayah... mereka semua terseret ke neraka ini karena aku! Sisa energi merah di darahku ini... kalau memang ini yang dia inginkan, aku akan berikan semuanya sampai hancur!"Braelyn, jangan maju!" Eryx meraung, dengan sisa kekuatan di kaki dan tangan kirinya yang terluka, ia melompat ke depan, memblokir jalur gerakan tubuh Kael ya
Wussss!Sensasi hantaman yang seharusnya menghancurkan tulang mereka menjadi serpihan tidak pernah terdengar. Kegelapan di dasar poros lift itu ternyata bukan lantai beton, melainkan sebuah ruang vakum transisi yang terasa kenyal saat tubuh Braelyn dan Eryx menerobos permukaannya. Kecepatan jatuh mereka diredam paksa oleh densitas udara yang mendadak menebal, seperti melompat ke dalam kolam gelatin tak kasatmata yang dingin."Uhuk!" Braelyn terbatuk, dadanya terasa sesak saat punggungnya akhirnya mendarat di atas permukaan yang keras namun halus bukan lantai lobi Gedung Wilson, melainkan hamparan ubin kaca patri yang retak-retak.Aroma lili yang pekat bercampur bau bensin langsung lenyap, berganti dengan bau debu kertas tua dan sisa pembakaran sirkuit elektronik. Cahaya putih murni yang tadi ditembakkan dari atas perlahan memudar, menyisakan pencahayaan temaram dari sisa-sisa piksel merah yang mengambang di udara bagai kunang-kunang digital yang sekarat
"Braelyn!!!"Raungan Eryx mengguncang dinding-dinding lobi yang runtuh. Tanpa berpikir, pria itu melompat maju, menjatuhkan dirinya ke bibir poros lift yang menganga. Tangan kirinya yang bersimbah darah mencengkeram besi siku penyangga pintu dengan sangat keras hingga buku-buku jarinya memutih, sementara tangan kanannya terjulur bebas ke dalam kegelapan yang pekat, mencoba menyambar apapun yang bisa diraih.Sret!Ujung jemari Eryx sempat bergesekan dengan kain gaun pengantin satin milik Braelyn, namun momentum jatuh yang terlalu besar akibat tarikan paksa Adrian membuat kain itu lolos begitu saja.Pikiran Braelyn membeku di tengah sensasi hampa udara yang merenggut napasnya. Ini akhir dari labirinnya. Aku tidak jatuh ke lantai bawah tanah Wilson Group... aku jatuh kembali ke dalam ketakutan terdalamku yang telah bermutasi menjadi monster.Hembusan angin dingin yang berbau besi berkarat dan belerang menghantam wajah Braelyn saat tu
“Jadi ini yang kamu maksud dengan permainan yang sebenarnya?”Suara Braelyn terdengar tenang, tapi sorot matanya tajam saat menatap dua pria di hadapannya. Ia berdiri di ambang pintu, tidak melangkah lebih jauh, seolah ingin memastikan bahwa ia masih punya pilihan untuk mundur
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at







