Masuk🔞 Novel dewasa 21+ Mengandung hubungan dewasa, kekerasan, rahasia gelap, dan konflik rumah tangga penuh obsesi Bagaimana jadinya jika seorang pria miskin bernama Kael Donovan mati dalam eksperimen vaksin virus mematikan… lalu bangkit kembali sebagai vampir dengan darah yang tidak lagi manusia? Saat hidupnya yang hancur membuatnya menerima peran sebagai “pengganti” dalam pernikahan orang lain, ia justru terjebak dalam rumah tangga yang seharusnya bukan miliknya—hingga batas antara kewajiban dan keinginan perlahan runtuh ketika ia jatuh pada sang nyonya dingin yang tak pernah boleh ia sentuh, sementara darah barunya mulai menuntut hal yang lebih berbahaya dari sekadar cinta: kelaparan yang tak bisa lagi ia kendalikan.
Lihat lebih banyak"Hei, cepat bantu aku mendorong ranjang ini! Jasad di kantong nomor 07 harus segera dibawa ke ruang krematorium sebelum subuh!" seru seorang petugas medis bertubuh tambun, suaranya menggema cemas di koridor kamar mayat yang sunyi dan sedingin es.
"Sabar! Kenapa terburu-buru sekali? Semua relawan eksperimen Crimson Fever malam ini kan memang sudah dinyatakan tewas total," balas rekannya yang kurus sembari mengunyah permen karet, melangkah malas memasuki ruangan penuh aroma formalin itu.
"Kau tidak tahu saja, Tuan Adrian Voss sendiri yang meminta agar semua jejak eksperimen ini dimusnahkan secepatnya. Jika ada satu saja jasad yang tersisa, kepala kita berdua yang akan dipenggal oleh pasukannya!" bisik petugas tambun itu seraya merenggut kasar ritsleting kantong mayat berwarna hitam di atas meja besi.
Sreet!
Ritsleting itu terbuka, menampakkan sesosok pemuda bertubuh tegap bernama Kael Donovan yang terbujur kaku tanpa busana. Kulitnya pucat pasi, dan di bagian dadanya terdapat bekas tusukan jarum tebal yang menghitam akibat hantaman serum Crimson-X. Kael terpaksa menjual nyawanya sebagai kelinci percobaan demi mendapatkan uang tunai instan untuk membiayai pengobatan ibunya yang kini terbaring kritis di ICU rumah sakit. Namun, eksperimen tersebut gagal total dan merenggut seluruh nyawa peserta tanpa ampun.
Tepat ketika jemari dingin petugas medis itu menyentuh pergelangan tangan Kael, sebersit cairan hitam kemerahan dari sisa serum di dalam pembuluh darah Kael mendadak bereaksi hebat. Jantungnya yang semula sudah flat selama dua jam, tiba-tiba berdenyut kencang bagai dihantam gada besi. Gelombang energi purba yang sangat liar, panas, dan pekat merobek seluruh jaringan sel manusianya, menyusun ulang struktur biologis Kael menjadi entitas baru yang jauh lebih mengerikan.
Hasp!
Kael Donovan mendadak membuka sepasang matanya lebar-lebar, membuat kedua petugas medis itu terperanjat mundur hingga menjerit histeris. Napas Kael tersedak hebat, dadanya yang bidang naik turun secara brutal seiring dengan urat-urat hitam yang menonjol tegang di sekujur leher dan lengannya.
"B-Bangsat! Mayat ini hidup kembali! Bagaimana mungkin?!" teriak petugas kurus dengan wajah yang seketika memucat seputih kertas.
"Cepat suntik mati dia lagi! Jangan biarkan dia keluar dari ruangan ini!" jerit petugas tambun itu panik, tangannya meraba-raba laci meja untuk mencari sebilah pisau bedah tajam.
Kael tidak mendengar makian mereka sebagai suara manusia, melainkan sebagai gema bising yang mengganggu pendengaran super barunya. Sepasang matanya kini telah berubah sepenuhnya menjadi manik pupil vertikal berwarna merah murni yang menyala di dalam remang-remang kamar mayat. Lebih dari itu, indra penciuman super Kael mendadak menangkap aroma pekat yang luar biasa manis dan menggoda dari balik kulit leher kedua petugas tersebut—aroma darah segar yang mengalir hangat.
Sensasi lapar yang sangat ekstrem, liar, dan tidak manusiawi seketika membakar rahim lambung Kael, merenggut seluruh sisa akal sehat manusianya dalam sekejap. Gusi atasnya berdenyut sangat ngilu hingga sepasang taring murni yang tajam mencuat keluar, merobek bibir bawahnya sendiri.
"Darah... aku butuh... darah!" geram Kael dengan getaran suara rendah yang sarat akan dominasi predator murni.
Brak!
Sebelum petugas tambun itu sempat mengayunkan pisau bedahnya, Kael sudah melompat dari meja stainless steel dengan kecepatan yang melampaui batas nalar manusia biasa. Tubuh kekar Kael yang telanjang bulat menerkam petugas tambun itu hingga terhempas keras ke lantai beton, menghancurkan tulang rusuknya dalam satu hantaman tangan kosong.
Tanpa belas kasihan, Kael mencengkeram rahang pria itu, menarik kepalanya ke samping, dan langsung membenamkan sepasang taring tajamnya ke dalam urat nadi leher korban.
Sruuup! Sruup!
"Arghhh... mmmph..." Petugas tambun itu hanya bisa melotot gila dengan tubuh yang kejang-kejang saat Kael menghisap cairan merah pekat dari lehernya dengan sangat rakus.
Melihat rekannya dibantai dalam hitungan detik, petugas kurus mencoba berlari menuju pintu keluar sembari berteriak histeris, "Tolong! Ada monster! Tolong—"
Sreet!
Kael melempar jasad petugas pertama yang kini telah mengering dan pucat, lalu melesat bagai bayangan hitam mengejar mangsa keduanya. Tangan kekar Kael mencengkeram bagian belakang kepala petugas kurus itu dari belakang, lalu membenturkannya ke dinding tembok dengan kekuatan brutal hingga tengkoraknya pecah.
Kael kembali menyesap darah dari tubuh kedua yang tumbang ke lantai, membiarkan cairan merah pekat itu melumuri dagu, dada bidang, hingga kejantanannya yang masif yang mulai terbangkitkan akibat sensasi histeris dari pembunuhan pertamanya. Rasa haus ekstrem yang semula membakar jiwanya kini perlahan mereda, digantikan oleh kekuatan fisik yang berlipat ganda dan aura dingin yang mencekam di dalam ruangan penuh darah tersebut.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepuk tangan yang ritmis dan tenang mendadak terdengar dari arah sudut ruangan yang gelap, memecah kesunyian pasca-pembantaian berdarah itu.
"Sangat indah. Sebuah insting predator yang mutlak dan tanpa cela," ucap sebuah suara pria yang terdengar sangat familiar di telinga Kael.
Kael membalikkan tubuhnya dengan cepat, sepasang mata merah murninya berkilat tajam menembus kegelapan, bersiap untuk menerkam siapapun yang berani mengusik wilayah berburunya. Siluet seorang pria tegap berpakaian setelan jas mewah bernilai miliaran dolar perlahan melangkah keluar dari balik bayangan lampu koridor.
Pria itu adalah Adrian Voss, miliarder nomor satu penguasa kota Arvendale sekaligus sahabat lama Kael semasa mereka masih hidup menembus kemiskinan di jalanan bawah tanah. Wajah Adrian tampak pucat namun memancarkan kewibawaan yang licik, sepasang matanya menatap datar ke arah dua mayat yang mengenaskan di bawah kaki Kael.
"Adrian? Kau... apa yang kau lakukan di tempat terkutuk ini?" tanya Kael, rahang tegasnya mengetat dengan sisa napas yang memburu, sementara kepalan tangannya memutih menahan gejolak liarnya.
"Aku yang mendanai seluruh eksperimen ini, Kael. Dan akulah yang memastikan namamu berada di urutan teratas daftar relawan serum Crimson-X," jawab Adrian Voss seraya menyalakan sebuah cerutu mahal, membiarkan asap pekatnya memenuhi ruangan yang berbau anyir darah.
"Kau sengaja menjadikanku kelinci percobaan?!" desis Kael, taringnya kembali berdenyut ngilu di balik gusi seiring amarah yang mulai membakar dadanya.
"Jangan salah paham, Sahabatku. Genetikmu adalah satu-satunya yang murni dan mampu menerima transformasi ini tanpa menjadi monster tanpa akal," balas Adrian dengan senyuman miring yang penuh dengan kalkulasi bisnis. "Kau pikir bagaimana rumah sakit bisa terus mempertahankan nyawa ibumu yang sekarat itu jika bukan karena aliran dana rahasia dariku setiap bulannya?"
"Apa maumu, Adrian? Katakan sebelum aku merobek lehermu juga!" ancam Kael, melangkah maju satu demi satu dengan aura mengancam yang membuat suhu ruangan semakin merosot drastis.
Adrian tidak mundur selangkah pun; ia justru mengeluarkan sebuah ponsel pintar berlogo emas dari balik saku jasnya, lalu menggeser layarnya untuk menampilkan sebuah data medis rahasia.
"Tubuhmu kini sudah berubah menjadi entitas vampir murni yang membutuhkan pasokan darah khusus agar tidak gila, Kael. Dan hanya ilmuwanku, dr. Selena Morvain, yang memegang formula penawar rasa hausmu itu," ujar Adrian dengan nada menekan yang sarat akan dominasi. "Aku menawarkan sebuah kesepakatan terlarang. Aku akan menjamin pengobatan ibumu sampai sembuh total, dan aku akan memberikan pasokan darah murni untuk kelangsungan hidup monstermu."
"Dan apa imbalannya?" tanya Kael, sepasang pupil merahnya menyipit tajam menatap wajah licik sahabatnya.
Adrian menghela napas panjang, kilatan frustrasi dan keputusasaan yang mendalam mendadak terpancar dari wajahnya yang menyimpan rahasia gelap dinasti Voss.
"Aku mandul, Kael. Dinasti bisnis keluarga Voss membutuhkan seorang ahli waris berdarah murni untuk mencairkan seluruh aset warisan kuno sebelum aku mati akibat penyakit ini," ungkap Adrian, suaranya merendah namun sarat akan kelicikan yang kotor. "Namun rahim istriku tidak boleh diisi oleh sembarang pria kelas rendah. Aku membutuhkan benih murni darimu untuk menanamkan anak di dalam tubuhnya."
"Kau gila! Kau ingin aku meniduri istrimu sendiri?!" Kael tertegun, dampak dari permintaan tidak masuk akal ini membuat otaknya berputar keras memikirkan sebab akibat yang akan terjadi jika ia menerima kontrak terlarang ini.
Adrian menyeringai sinis, sama sekali tidak peduli dengan moralitas manusia yang baru saja dibuang oleh Kael bersamaan dengan kebangkitannya dari kematian. Adrian membalikkan layar ponselnya, memperlihatkan sebuah foto sesosok wanita anggun berpakaian beludru hitam tertutup yang memiliki wajah pualam sangat cantik, elegan, sekaligus menyimpan luka batin yang mendalam di matanya. Wanita itu adalah Elena Voss, sang heroine yang kecantikannya tersohor di seluruh penjuru Arvendale.
Melihat foto Elena, darah di dalam tubuh monster Kael mendadak bergejolak aneh; insting reproduksi predatormu langsung menandai wanita anggun itu sebagai buruan yang sangat ranum untuk diklaim. Kejantanan masif Kael kembali berdenyut tegang di balik kain penutup, merespons aura erotis yang terpancar bahkan hanya dari sebuah gambar visual.
Adrian Voss melangkah maju, menepuk bahu bidang Kael yang masih berlumuran darah segar petugas medis tadi, lalu berbisik tepat di samping telinga Kael dengan nada penuh intimidasi yang mematikan, "Kontrak ini mutlak, Kael. Aturannya sederhana: masuklah ke dalam kamar utama mansionku yang gelap gulita malam ini, gunakan penutup mata pada tubuhnya, tahan insting monstermu agar dia tidak menyadari bahwa yang menghujam rahimnya bukanlah suaminya, karena malam ini... kau akan tidur dengan istriku dan menanamkan benih iblismu di sana."
Pagi berikutnya setelah malam pembantaian yang mencekam itu, dr. Selena Morvain langsung mengunci diri di dalam laboratorium bawah tanah yang kedap suara. Ilmuwan wanita bertubuh sintal itu seolah kehilangan kontak dengan peradaban luar, mengabaikan segala bentuk panggilan darurat demi memecahkan misteri besar.Selama dua hari penuh, Selena benar-benar mengisolasi dirinya sendiri tanpa pernah menampakkan batang hidungnya di koridor markas utama pelabuhan. Ia hampir tidak tidur sama sekali, membiarkan lingkaran hitam pekat terbentuk dengan sangat jelas di bawah kelopak matanya yang indah.Bukan hanya menolak untuk memejamkan mata, Selena juga tercatat tidak menyentuh makanan atau minuman sedikit pun yang dikirimkan oleh para penjaga. Ia bahkan tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk keluar dari ruangan yang kini dipenuhi oleh bau menyengat zat kimia tersebut.Claire Arden yang mondar-mandir di depan pintu laboratorium besi tebal itu mulai merasa kesal dan jengkel melihat keras kepala s
Jeritan Elena Voss masih terngiang dengan sangat jelas di telinga super Kael Donovan. Suara lengkingan penuh rasa sakit itu merobek kesadarannya, bergema layaknya lonceng kematian yang memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah biasa di dalam dadanya.Darah murni yang mengalir deras dari bahu mulus wanita yang sangat dicintainya itu menjadi pemicu utama bangkitnya insting kegelapan. Sesuatu yang teramat purba, dingin, dan bahkan tidak mampu dikendalikan oleh kesadaran manusia Kael sendiri kini mengambil alih seluruh sel tubuhnya.BANGGG!Pintu kamar kayu tebal itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil begitu hantaman tekanan udara dari tubuh Kael menerjang maju. Wanita pemburu berambut perak yang tadinya berdiri tegak, seketika terpental hebat menghantam dinding beton di ujung ruangan hingga retak berantakan.Seluruh ruangan kamar persembunyian itu bergetar hebat layaknya diguncang gempa tektonik berskala besar. Sepasang mata Kael menyala merah terang benderang d
Keesokan paginya setelah badai gairah yang menyatukan Kael Donovan dan Elena Voss mereda, atmosfer di dalam markas utama kembali dilingkupi ketegangan yang pekat. Ketukan langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan koridor beton sebelum pintu ruang rapat utama dihentak terbuka secara paksa.Aria berlari masuk ke ruang rapat dengan napas yang memburu tidak teratur. Wajah cantiknya tampak pucat pasi, sementara jemarinya yang biasa kokoh memegang pisau kini bergetar hebat.Claire yang sedang menyesap kopi paginya langsung berdiri dari kursi kulitnya, matanya menyipit tajam melihat kepanikan sang gadis jaringan bawah tanah. "Ada apa, Aria? Kenapa wajahmu sampai sekacau itu?"Aria tidak langsung menjawab, ia melempar sebuah tablet digital ke atas meja kayu dengan kasar hingga benda itu bergeser ke tengah. "Lihat ini sendiri. Adrian Voss benar-benar sudah menggunakan seluruh sisa kekayaan dinasti miliknya untuk menghancurkan kita."Kael, Claire, dan dr. Selena Morvain yang baru saja na
Beberapa minggu setelah Arvendale terbelah menjadi wilayah kekuasaan Kael Donovan dan wilayah Crimson Circle milik Adrian Voss, keseimbangan kota mulai berubah secara drastis. Dunia bawah yang dulu berjalan tanpa aturan kini perlahan-lahan mulai tunduk pada satu nama yang menggetarkan seluruh distrik hitam.Kael Donovan.Sang Raja Malam yang baru.Di markas utama mereka yang dulunya merupakan gudang pelabuhan tua berlapisan baja, Kael berdiri tegak di depan jendela kaca besar. Sepasang matanya yang tajam memandang lurus ke arah hamparan gemerlap lampu-lampu kota yang seolah menantang eksistensinya. Kabut tipis menyelimuti dermaga, menciptakan atmosfer yang dingin dan mencekam.Aria melangkah masuk ke dalam ruangan rapat darurat tersebut seraya membawa setumpuk tebal laporan operasional lapangan. Sepatu bot kulitnya menimbulkan suara ketukan yang konstan di atas lantai semen yang dingin, memecah keheningan malam."Pelabuhan Timur sudah sepenuhnya berada di bawah kendali kita," ujar Aria
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak