تسجيل الدخولDi pinggir kolam renang luas, dengan cahaya lampu yang redup. Air kolam yang jernih memantulkan bayangan sosok Han yang berbadan kekar, dengan rambut basah yang sudah memutih di bagian dan pelipisnya. Mengenakan kemeja coklat tua dengan kancingnya dibiarkan terlepas, memperlihatkan dadanya yang dipenuhi bekas luka jahitan dan sayatan.Han duduk santai menyilangkan kedua kakinya sambil menyesap wine yang berwarna merah darah.Di sampingnya berdiri seorang pemuda yang memakai jas formal berwarna gelap, tidak lain adalah Agra. Ia berdiri menatap lurus tanpa bergerak sedikitpun layaknya sebuah patung. Fokus arah pandangannya tidak bergerak dari pantulan cahaya bulan yang dikelilingi bintang kecil di tengah kegelapan malam. Ia berdiri diam, pikirannya menjadi misteri. Ketika ia mendengar suara serak dari Han yang sudah beralih menghisap rokok.“Tidak biasanya anak itu tidak menghubungiku.” Asap terlihat mengepul di udara, membentuk bulatan sempurna lalu menghilang ditelan udara.“Seperti
Kegelapan mulai menyelimuti semesta, jalan kota yang tidak pernah sepi. Lampu jalanan dengan segala warna yang cerah mulai berkelap-kelip menghiasi jalanan.Di dalam kamar luas bernuansa kelabu, pandangan Satya fokus menatap lurus, menembus cahaya temaram lampu gantung kristal yang menggantung anggun di langit-langit kamarnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir, ia bisa bernapas dan menenangkan pikirannya. Beberapa waktu lalu saat ia tertidur karena kelelahan, sebuah pesan singkat dari Andika telah membangunkanya. Pesan itu mengatakan bahwa operasi Gea berjalan dengan lancar dan ia telah melewati masa kritis, kini tengah dirawat intensif di rumah sakit. Kabar itu membuat Satya sedikit merasa lega.Namun kelegaan itu tak datang sendiri. Bahagia atas masa krisis telah berlalu, rasa bersalah atas situasinya yang telah menyeret Gea dalam bahaya. Serta perasaan lega karena nyawa gadis itu masih tertolong, semuanya membuncah, saling berbenturan dalam dadanya membuat Satya
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu cukup lama, Satya akhirnya sampai di rumah sakit.Tepat di depan lobi mereka disambut oleh beberapa dokter yang siap dengan perannya masing-masing.Setelah mendapatkan pertolongan pertama, Zora langsung dibawa masuk ke ruang IGD. Satya dengan setia menemaninya sampai akhir, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan orang-orang yang diarahkan padanya. Beberapa dokter yang mengenali dirinya merasa heran kenapa seorang Direktur terlihat sangat berantakan, dan ikut berlari bersama mereka mendorong tandu bersama mereka. Namun satu hal yang terlintas dipikiran para dokter, bahwa orang yang akan mereka tangani adalah orang yang sangat penting bagi Satya. Fakta itulah yang membuat semua dokter yang merawat Zora semakin fokus dan penuh dengan kehati-hati selama mereka berlari dan hingga sampai ke ruang IGD.Dengan rambut acak-acakan, kemeja penuh bercak darah Satya menghela napas kasar. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya.“T
'Sial, aku lengah...' batinnya, getir."Ukhhh..." ringisnya Zora, suara nyaris tak terdengar. Darah mengucur deras dari luka di sisi kanan perutnya. Telapak tangannya berusaha aliran darahnya, tapi itu sia-sia cairan merah kental yang hangat itu terus mengalir, menodai kemeja putih polosnya yang tidak lagi bersih. Dengan sisa tenaganya, ia mendongak. Pandangannya buram tapi ia masih bisa melihat Satya sudah mendekat dan berlutut di depannya.“J-jangan.. jangan mendekat. Bodoh, kau bisa ikut tertembak…” tak lagi memiliki tenaga untuk bicara, kata-kata Zora terhenti di ujung lidah, terkubur bersama rasa sakitnya. "G-gea." panggil Satya. Suaranya Satya gemetar, ia menunduk perlahan hingga berlutut di sisi Zora, tangannya ikut menekan luka Zora mencoba membantu untuk menghentikan darah yang mengalir tak terkendali. Saat tangannya bersentuhan dengan tangan gadis yang terkulai lemas dengan wajah pucat di depannya, tangannya tidak berhenti gemetar, rasa dingin dari tubuh gadis itu membua
"Sekarang, apa yang harus kulakukan?" Zora memutar tubuhnya di tengah teriknya matahari menyapa, matanya menyapu area sekitar yang diliputi kesunyian mencekam. Tidak satu pun kendaraan melintas, tak ada tanda keberadaan orang-orang. Tempat ini nyaris seperti lukisan mati tanpa sentuhan kehidupan. Kesunyian yang mengelilingi Zora hingga ia meragukan bahwa dirinya sedang berhalusinasi. Ia menghela napas kasar, rambutnya yang lurus tergerai acak-acakan, pipinya tertoreh luka sayatan yang nyaris kering membuat Zora merasakan pipinya seolah ditarik oleh benang kasar. Rasa sakit tidak membuatnya berhenti berpikir. Sekali lagi Zora mengamati sekelilingnya, iris matanya yang tajam menangkap sosok yang menyerangnya, masih menggeliat dan merintih kesakitan dalam sisa nyawa mereka yang tertinggal. Mereka memegangi luka yang masih mengucurkan darah merah pekat tanpa henti membasahi aspal. Zora sengaja tidak mengakhiri mereka, hidup mereka akan menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Zora dari
Kaca mobil hampir pecah akibat pukulan, memperlihatkan retakan-retakan halus yang siap meledak menjadi serpihan-serpihan tajam. Zora memutar sorot matanya dengan tajam, masih belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan senjata untuk melawan.Rasa penyesalan menghampiri hati Zora, penyesalan terbesar yang menggerogoti dirinya. Ia ceroboh, menjadi terlena dalam kehidupan yang tampak normal dan cerah hanya dalam waktu 1 bulan. Seharusnya ia tidak pernah melupakan bayangan kehidupan gelapnya yang penuh darah.Nafas berat masih bergema di sebelahnya, mengisyaratkan bahwa Satya belum sepenuhnya kehilangan kesadarannya. Namun, kedipan matanya semakin lambat dan terasa berat, rasa sakit di dahinya seakan menusuk dan menjalar diseluruh bagian kepalanya.Darah yang keluar dari luka di dahinya terus mengalir tak terbendung, menyusul saat Zora merobek lengan kemeja putih polos yang ia pakai untuk menutupi luka tersebut. Setelah memberikan pertolongan pertama, ia kembali fokus mencari objek yang b
Seakan tidak terjadi apa-apa, Zora memasuki lift. Masih memegang tangan Johan, dia menekan tombol lantai 1. Mengabaikan Satya yang menatapnya dengan tajam, membuat jantung Zora berdetak tidak karuan. Entah mengapa dia merasa seperti telah tertangkap basah telah mencuri sesuatu. "Lepaskan tanganku."
'Apa aku harus ikut mengantri juga?' batin Satya sambil melirik jam tangannya, mengangkat kepalanya menatap antrian panjang yang membentang di depannya. Dengan alis berkerut, Satya memejamkan matanya dan memantapkan pikirannya yang enggan mengantri. Mau tidak mau dia harus ikut mengantri, tidak mung
Tujuan Satya datang kesini untuk memberikannya obat salep, kemarin malam dia membeli obat itu untuk Zora. Merasa lebamnya tidak akan sembuh hanya dalam waktu semalam, lebih baik memberikannya dari pada dibiarkan seperti itu. Tadi pagi dia lupa memberikan obat itu, karena terburu-buru. Dia datang kes
Zora akhirnya tiba dikantor. Orang-orang berlalu lalang kesana kemari dengan kesibukan mereka masing-masing. Semua orang yang dilewati Zora terlihat bersemangat dan begitu penuh dengan energi, Wajah mereka terlihat cerah walaupun di sambut dengan segudang pekerjaan. Sangat berbanding terbalik dengan







