MasukDua minggu sebelum pernikahan, Felix Darmaji tiba-tiba menunda upacara pernikahan kami. Dia berkata, "Shifa bilang kalau hari itu adalah pameran lukisan pertamanya. Dia sendirian saat acara pembukaan nanti. Aku khawatir dia merasa ketakutan kalau nggak sanggup menghadapi situasi itu, jadi aku harus pergi untuk membantunya." "Kita berdua juga nggak memerlukan acara penuh formalitas seperti ini. Apa bedanya kalau kita menikah lebih cepat atau lebih lambat sehari?" lanjut Felix. Namun, ini adalah ketiga kalinya pria ini menunda tanggal pernikahan kami demi Shifa Adnan. Saat pertama kali, Felix mengatakan bahwa Shifa baru saja menjalani operasi. Wanita itu merindukan makanan dari kampung halamannya, jadi Felix tanpa ragu pergi ke luar negeri untuk merawatnya selama dua bulan. Saat kedua kalinya, Felix mengatakan bahwa Shifa ingin pergi ke pegunungan terpencil untuk melukis serta mencari inspirasi. Felix khawatir akan keselamatannya, jadi dia ikut bersama wanita itu. Ini adalah ketiga kalinya. Aku menutup telepon, menatap teman masa kecilku, Callen Harlan, yang sedang duduk di seberang dengan sikap santai. Dia sedang mengetuk lantai marmer dengan tongkat berhias zamrud di tangannya, membentuk irama yang teratur. "Apakah kamu masih mencari seorang istri?" tanyaku. Pada hari pernikahanku, Shifa yang tersenyum manis sedang mengangkat gelasnya, menunggu Felix untuk bersulang bersamanya. Namun, pria itu justru menatap siaran langsung pernikahan putra kesayangan Grup Harlan, pengembang properti terbesar di negara ini, dengan mata memerah.
Lihat lebih banyakAku adalah kekasih serius Andrea yang kedua. Semasa sekolah menengah dan kuliah dulu ia jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang gadis dari kalangan berada yang keluarganya menganggap Andrea tidak layak menjadi pasangan putri mereka, bukan hanya karena berbeda status, melainkan juga beda agama.
Bertahun-tahun mereka memperjuangkan cinta namun akhirnya sang gadis menyerah dan mengucap selamat tinggal setahun sebelum lulus kuliah dan melanjutkan pendidikannya di Inggris. Andrea menjadi seorang pria yang dingin terhadap wanita dan memilih bekerja sebagai peneliti yang hanya berurusan dengan komputer dan benda2 mati lainnya.
Aku bertemu pertama kali dengannya saat kami bertubrukan di bandara karena aku kebingungan mencari pasporku yang terjatuh dari tas dan ia sedang melamun membaca jadwal penerbangan. Ia akan berangkat ke Singapura untuk wawancara pekerjaan di sebuah perusahaan IT internasional dan aku baru kembali dari Hong Kong untuk mencari inspirasi menulis, sekaligus menghadiri pembukaan hotel terbaru ayahku.
Ia membalikkan badannya tepat saat aku berjalan di belakangnya dengan pandangan kalut melihat ke lantai siapa tahu paspor sialan itu ada di sana. Tabrakan itu cukup hebat karena tubuhnya tinggi besar sementara tinggiku tak sampai sebahunya, dan aku jatuh terbanting cukup keras.
"Maaf, saya nggak sengaja". katanya seraya membantuku berdiri. "Sini saya bantu..."
Aku sangat marah (sebenarnya aku marah kepada diriku sendiri karena kehilangan paspor, handphone, tas, dan barang-barang kecil lainnya sudah untuk kesekian ratus kalinya) dan mengibaskan tangannya.
"Nggak usaaah, gue bisa sendiri."
Ia mengernyitkan kening melihatku dan mengangkat bahu lalu berlalu. Aku berusaha bangkit berdiri tapi kakiku tak mau bekerja sama. Ternyata hak stilletoku copot sebelah dan baru kusadari dampak jatuh tadi kaki kananku terkilir.
"Eh, kamu! Sini! Tanggung jawab, kamu. Gue ga bisa jalan, tauk!" seruku. Beberapa orang mencoba membantuku tapi aku mengebaskan tangan-tangan yang terulur. Dulu aku memang putri manja yang terbiasa mendapat semua keinginanku. Andrea menyipitkan matanya dengan pandangan tidak percaya atas kelakuanku tapi ia berjalan kembali ke arahku dan membantuku berdiri.
Tanpa banyak bicara dia menggendongku ke bangku terdekat dan membawakan tasku. Ia menanyakan aku mau berangkat kemana supaya dia bisa membawaku ke gerbang boarding. Kujawab dengan ketus bahwa aku baru tiba dan sedang mencari pasporku yang terjatuh entah di mana agar aku bisa melewati imigrasi untuk keluar bandara. Ia melihat jam tangannya dan mendesah.
"Ayo kuantar ke imigrasi. Harusnya bisa diurusin kalo memang paspornya hilang."
Kubiarkan saja dia mengurusiku berjam-jam. Menghubungi pihak keamanan bandara untuk membuat laporan bahwa aku kehilangan paspor, kemudian mengantarku ke pihak imigrasi agar aku boleh keluar bandara, lalu mengambilkan koperku dari karusel. Aku bisa saja sih menelepon ayahku yang kemudian menelepon kepala bandara atau kepala kantor imigrasi biar aku diberi keringanan, tapi aku ingin memberi orang ini pelajaran.
Aku ingin tahu sampai mana kesabarannya.
Ternyata... oh, ia sabar sekali, seolah tidak ada batasnya, sampai-sampai akhirnya putri manja bernama Ludwina ini merasa tidak enak telah merepotkannya sedemikian rupa. Bisa ditebak Andrea ketinggalan pesawatnya dan berakhir dengan mengantarku pulang menggunakan taksi.
Di perjalanan aku mulai merasa malu atas tindakanku yang sudah merepotkan pria tak dikenal ini sampai ia ketinggalan pesawat. Waktu ia akan meninggalkan rumahku, aku memaksanya meninggalkan nomor telepon supaya aku bisa menghubunginya untuk menagih biaya rumah sakit seandainya cederaku parah.
Aku tahu, kalian pasti bilang aku norak. Tapi di saat itu aku langsung tahu bahwa pria ini istimewa dan aku harus memilikinya. Aku belum pernah merasa sedemikian tertarik pada laki-laki. Biasanya merekalah yang berlomba merebut perhatianku.
Sejak itu aku mencari alasan untuk menghubunginya. Dimulai dari minta diantar ke rumah sakit untuk periksa kakiku, hingga menungguiku "terapi fisioterapi" seminggu sekali yang disarankan oleh dokter (yang merupakan teman sekelas kakakku di universitas). Ia tidak pernah menolak walaupun aku sempat melihat pandangan curiganya pada kakiku yang sebenarnya tidak apa-apa.
Sebulan kemudian aku sudah kehabisan akal untuk bertemu dengannya dan aku menangis seharian karena tidak bisa memikirkan dalih apa lagi yang dapat kugunakan untuk bertemu dengannya.
Kakakku, Johann, menyuruhku untuk menghentikan kekonyolanku dan bersikap dewasa. Itu berarti berhenti berbohong untuk mencari alasan bertemu Andrea. Ia menyuruhku untuk mengajak Andrea bertemu dengan cara yang benar. Aku berkeras bahwa aku tidak pernah mengejar laki-laki, bagaimana pun Andrealah yang harus menghubungiku.
Aku menunggunya menghubungi dengan hati nelangsa, tapi tetap keras kepala. Seminggu... dua minggu... tiga minggu... Akhirnya sebulan kemudian aku memberanikan diri meneleponnya. Ternyata Andrea sudah pindah ke Singapura. Wawancara pekerjaannya dulu gagal karenaku dan ia kehilangan peluang bekerja di negara tersebut, tetapi kemudian ada perusahaan lain yang lebih besar menghubunginya untuk bekerja bagi mereka dan setelah wawancara yang sangat mengesankan mereka segera mengurus visa kerjanya.
Ia baru saja berangkat ke Singapura sehari sebelum aku telepon. Saat menutup telepon aku baru sadar bahwa aku baru saja membuat dia membayar biaya roaming yang begitu mahal. Aneh, dia nggak membahas tentang roaming sama sekali.
Tiba-tiba saja aku merasa demikian sedih. Aku belum pernah menangisi kegagalan, tetapi hari itu aku menangis sedih sekali.
Entah bagaimana enam bulan kemudian kami bertemu kembali di bandara. Ia baru tiba di Jakarta dan aku sedang bersiap terbang ke Inggris. Kukatakan padanya mengenai rencana perjalananku yang lebih banyak melibatkan duduk merenung di kedai kopi di Skotlandia dan berharap mendapatkan ilham yang sama seperti J.K. Rowling saat menuliskan Harry Potter.
Ia menatapku dengan pandangan kasihan. "Kamu nggak bakat jadi penulis. Kamu terlalu bahagia."
Pernyataannya yang blak-blakan membuatku merasa tertampar. Belum pernah ada seorang pun yang menyatakannya secara terbuka.
Selama ini aku memang tidak pernah menyelesaikan novel-novelku dan paling hebat baru beberapa artikel perjalanan wisata yang kutulis berhasil dimuat di Kompas. Orangtuaku bangga sekali, tapi jauh di dalam hati aku tahu bahwa aku sebenarnya bukan siapa-siapa dalam dunia penulisan.
"Kenapa kamu bisa ngomong gitu?" tanyaku pelan.
"Kamu ga bisa nulis dengan kreatif karena kamu ga pernah susah. Semua seniman besar menghasilkan karya-karya terbaiknya saat mereka miskin atau kesusahan atau depresi. Lihat aja musisi Sting contohnya, sekarang dia bahagia dan ga pernah menghasilkan mahakarya apa pun lagi," Ia mengambil brosur tentang Skotlandia yang ada di tanganku.
"Kemana pun kamu pergi, yang kamu cari nggak akan ketemu. Inspirasi itu adanya di sini." Ia menaruh tanganku di dadanya.
Hatiku tergetar dan sampai aku mendarat di Heathrow, aku masih merasakan tanganku ada di dadanya. Akhirnya aku tak tahan lagi dan selama di Inggris aku mencari-cari Andrea di Facebook berharap bisa mencari tahu tentang dirinya lebih banyak, dan mencari alasan untuk menjalin kontak.
Sialan, ternyata ia tidak menggunakan situs jejaring sosial apa pun. Aku bahkan tidak tahu nama lengkap dan kantornya.
Aku merana di Edinburgh padahal seharusnya aku bersenang-senang liburan dan menikmati waktu teduh untuk memperoleh inspirasi menulis.
Akhirnya aku pulang dan menyerah.
Callen sangat muak dengan pesan singkat itu, hingga dia menggertakkan gigi karena marah. Dia mengancam akan mengirim keluarga Felix ke ujung dunia, agar mereka benar-benar menghilang dari hadapanku.Jarang sekali Callen menunjukkan sifat kekanak-kanakan seperti ini. Aku pun tertawa cukup lama melihat ini."Bukankah berdebat dengan orang seperti itu justru akan merendahkan martabat diri sendiri?" ujarku.Meskipun begitu, aku memang benar-benar merasa kesal. Callen langsung menyuruhku pindah ke rumah baru yang sudah selesai direnovasi. Kami berencana mengundang beberapa teman dekat untuk datang ke acara pindah rumah.Pada hari pesta di vila, Shifa ternyata benar-benar datang.Dia jauh lebih pendiam dibandingkan sebelumnya. Hanya saja, matanya terus menatapku tanpa henti, seperti ingin mengajakku berbicara.Sahabatku langsung maju ke depan untuk menghadangnya sambil berujar, "Bagaimana kamu bisa masuk? Cepat pergi, kamu nggak diterima di sini."Para pengawal juga berjaga di sampingku. Ket
Suasana langsung menjadi riuh. Kata-kataku seperti tamparan keras di wajah Shifa. Orang-orang di sekitar mulai menunjuk ke arahnya, sementara dia sendiri hampir tidak bisa berdiri, tampak terhuyung.Terdengar bisikan-bisikan di sekitar, "Pantas saja. Aku sudah menduganya. Wanita macam apa yang akan menempel terus dengan pria yang sudah memiliki tunangan?""Lihat saja kemampuan aktingnya. Meski aku bangun pagi setiap hari untuk berlatih, aku nggak akan bisa mengalahkan bakat seperti ini.""Aku kira dia sangat baik, tapi ternyata dia sangat nggak tahu malu. Sepertinya dia juga nggak begitu menyukai Felix. Kalau nggak, kenapa dia terus menggantung Felix?""Dia memakai baju tidur orang lain, tidur di rumah baru milik orang lain bersama dengan tunangan orang lain. Aku muak mendengarnya. Sungguh pembawa sial."Ketika Felix melihat situasi ini, dia langsung berdiri di depan Shifa, lalu berujar, "Kalian jangan mengatakan apa-apa lagi tentang Shifa, dia nggak bersalah. Kalau ingin menyalahkan s
Aku pun melanjutkan, "Pertama kali saat tanggal pernikahan ditetapkan, kamu mengatakan baru saja selesai operasi, hingga nggak bisa makan dan tidur dengan baik karena sendirian di luar negeri. Kamu meminta Felix datang menemanimu. Waktu itu undangan pernikahan sudah dikirim semua, tapi dia terbang ke sana untuk menemuimu.""Saat tanggal pernikahan sudah ditetapkan kedua kalinya, kamu mengatakan ingin pergi ke daerah pegunungan terpencil untuk mencari inspirasi melukis. Lalu, kamu mengatakan kalau di sana sinyalnya buruk, mungkin nggak akan bisa menghubungi siapa pun. Intinya, tempat itu nggak cukup aman, bisa membuatmu kehilangan kontak kapan saja. Felix yang merasa khawatir padamu, langsung ikut pergi ke sana.""Ketiga kalinya, kamu menjadwalkan pameran lukisanmu tepat di hari pernikahan kami. Apa sebenarnya niatmu? Bahkan orang buta sekali pun bisa mengetahui niatmu. Sekarang kamu bertanya kenapa aku mengecewakan Felix? Kenapa kamu nggak bertanya pada dirimu sendiri? Kalau kamu berpi
Felix langsung mengambil remote, menyalakan TV di ruang VIP. Tepat pada saat ini adalah acara puncak di upacara pernikahan.Callen menerima cincin berlian dari tangan pembawa bunga. Cincin besar itu berkilau dengan cahaya yang memukau.Hanya saja, cahaya apa pun tidak bisa menandingi tatapan pengantin pria saat menatap pengantin wanitanya.Callen berkata, "Terima kasih karena kamu sudah menatapku. Aku bersumpah akan mencintai dan melindungimu seumur hidupku.""Bersediakah kamu menikah denganku?""Aku bersedia," jawabku.Saat mendengar jawabanku yang pasti, Callen perlahan-lahan memasukkan cincin berlian sebesar telur merpati itu ke jari manisku.Berat di tanganku terasa begitu nyata, membuat hatiku juga terasa penuh.Callen menyibakkan kerudungku, memberikan ciuman yang hati-hati, tetapi juga penuh dengan cinta di bibirku.Gelas anggur yang dipegang Felix hancur di tangannya, sementara darah menetes dari jarinya ke lantai."Ini semua hanya sandiwara! Bohong! Frany nggak akan menikah de
Aku menatap kedua orang ini dengan tatapan bosan, tetapi mulutku juga tidak diam saja."Maaf, aku nggak bermaksud apa-apa. Kalian jangan terlalu sensitif, oke?""Lagi pula, perhiasan itu baru akan terlihat bagus kalau dipakai dalam satu set. Gelang yang kamu berikan ini dibuat dari sisa bahan rubi i
Felix bahkan tidak melirikku. Dia berkata dengan acuh tak acuh, "Apa yang kalian bicarakan? Shifa akan menjadi pelukis hebat."Felix sama sekali tidak meluruskan kata-kata teman-temannya, yang jelas-jelas menjodoh-jodohkan mereka berdua. Padahal, akulah yang akan segera menikah dengan Felix.Betapa
Aku sedang membaca dengan penuh minat ketika telepon Callen tiba-tiba masuk.Suaranya yang dalam dan memikat pun terdengar, "Tim hubungan masyarakatku bertanya apakah kita ingin menghapus berita ini?"Aku tersenyum penuh pengertian. "Nggak perlu. Daripada membuang uang untuk itu, lebih baik kamu men
Suara ketukan tongkat tiba-tiba berhenti. Callen mengangkat matanya untuk menatapku dengan pandangan yang dalam. "Apa kamu sudah memutuskan?""Bukannya aku nggak pernah memberinya kesempatan." Aku mengangkat bahu, lalu melanjutkan, "Pepatah mengatakan, sesuatu nggak boleh terjadi lebih dari tiga kal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan