ANMELDENUne seconde avant que la morsure fatale d'Alpha Daniel ne s'imprime dans ma peau, une voix stridente a fendu l'air de la cérémonie d'union. « Arrêtez ! » Jessica, son premier amour, s'est avancée en titubant, le ventre hautement arrondi. « Vous allez vraiment laisser cette femme malveillante devenir notre Luna ? » a-t-elle sangloté, son doigt tremblant pointé vers moi, « Elle me harcèle depuis des mois ! Elle a mis du poison dans mon thé, déposé des couteaux devant ma porte, et a tenté de me forcer à avorter de l'enfant de notre Alpha ! » Face à ces accusations soudaines, mon esprit est devenu vide. « Quoi ? Je n'ai jamais... » Avant que je ne puisse terminer, Jessica s'est ruée sur moi. J'ai levé les bras par instinct, mais elle s'est effondrée lourdement au sol. « Mon bébé ! » a-t-elle hurlé, « Daniel, regarde ! Elle cherche encore à nous faire du mal ! Appelle les gardes, vite ! » Une seconde plus tard, Daniel s'est précipité et a enlacé Jessica sans la moindre hésitation. Son regard était glacé et déçu lorsqu'il m'a fixée : « Rosie, pourquoi ne peux-tu pas simplement rester à ta place ? Cet enfant est l'héritier de notre meute ! » Les anciens ont échangé des regards sombres et pleins de sous-entendus, prononçant silencieusement mon verdict. Incapable de prouver mon innocence, j'étais alors condamnée à trois années de prison dans le cauchemardesque Prison d'Argent. Les fouets, la faim et les violences incessantes… J'ai compris enfin ce que Daniel entendait par « rester à sa place ». Alors pourquoi, au final, était-ce lui qui regrettait ?
Mehr anzeigen"Papa ingin kamu mengikhlaskan Raga untuk menikahi Anggia. Adikmu sakit, Yuna. Bahagiakan-lah adikmu di sisa usianya."
Ayuna tercengang. Pun dengan sang Mama yang duduk di sebelahnya. Keduanya tidak pernah menduga jika maksud kedatangan Bramantyo beserta istri keduanya ke rumah mereka adalah untuk meminta hal yang mustahil bisa Ayuna kabulkan."Maksud Papa apa? Aku harus ngasih calon suamiku untuk anak kesayangan Papa yang sakit-sakitan itu? Aku harus ngalah lagi? Tidak cukupkah kasih sayang Papa yang dia ambil, dan sekarang dia menginginkan Mas Raga?" cecar Ayuna tak terima. Gadis berusia dua puluh empat tahun tersebut tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang Papa."Jaga ucapanmu, Ayuna. Jangan meninggikan suara di depan orang tua!" Prita, istri kedua Bramantyo angkat bicara. Wanita berpakaian glamour tersebut tidak terima putri kesayangannya dihina sebagai anak penyakitan, meski pada faktanya memang seperti itu."Kamu yang harusnya menjaga ucapan! Jangan membentak putriku!" sergah Salma. Ia yang awalnya ingin bersikap tenang menghadapi istri kedua suaminya, justru terpancing amarah ketika mendengar sang madu membentak putrinya."Sudah-sudah! Jangan berdebat!" Bramantyo melerai kedua istrinya yang mulai tersulut emosi. "Dengar, Yuna. Kamu tahu sendiri kalau Anggia itu sakit. Dia sering kali murung dan tidak punya gairah hidup setelah tahu penyakitnya. Tapi semenjak dia dekat dengan Raga, semangat hidupnya kembali muncul. Anggia bisa tersenyum dan sangat antusias untuk sembuh."Bramantyo menjeda ucapan. Sebenarnya ia tidak tega harus mematahkan hati putri pertamanya demi putrinya yang lain. Namun, Bram tidak punya pilihan. Anggia lebih membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk dari Raga, calon suami Ayuna sekaligus Dokter yang menangani penyakit Anggia."Jadi Papa mohon. Ikhlaskan Raga untuk adikmu. Papa yakin kamu masih bisa mencari pria lain yang lebih dari Raga," imbuhnya.Ayuna tertawa getir. Begitu mudah bagi sang Papa memintanya menyerahkan calon suaminya untuk sang adik, tanpa memikirkan perasaannya sebagai seorang putri yang sudah lama merasa tersisihkan.Bukan hanya satu atau dua kali Ayuna mengalah demi Anggia. Sudah tak terhitung berapa puluh kali ia membiarkan sang Papa memanjakan adiknya tersebut hingga mengabaikan dirinya yang juga membutuhkan kasih sayang.Ayuna sudah terlalu sering bersabar dan mengalah, tetapi kali ini tidak akan. Raga adalah pria yang ia cintai. Ayuna tidak akan mengorbankan masa depannya dengan Raga hanya demi manusia penyakitan seperti Anggia."Maaf, Pa. Aku tidak bisa mengabulkan permintaan Papa. Aku dan Mas Raga sudah bertunangan dan sebentar lagi kami akan menikah. Mengapa Papa begitu tega mematahkan impianku demi putri kesayangan Papa itu? Tidakkah Papa menyayangiku seperti Papa menyayangi Anggi?" ujar Ayuna dengan mengurai tawa getir."Selama ini aku dan Mama sudah terlalu sering mengalah demi istri dan putri Papa yang lain. Kami tidak pernah protes saat waktu Papa lebih banyak untuk mereka. Bahkan aku dan Mama tidak pernah marah saat Papa mengajak mereka berlibur ke luar negeri sedangkan kami tidak. Setelah semua perlakuan Papa yang tidak adil terhadap kami, haruskah aku mengalah lagi dengan menyerahkan pria yang kucintai untuk Anggia?" cecar Ayuna. Ia luapkan isi hati yang selama ini ia tahan hanya karena ingin terlihat tegar di hadapan sang Mama, tetapi ternyata Ayuna tidak kuat lagi menahan setelah sang Papa kembali berlaku tidak adil padanya."Tapi Raga sudah setuju untuk menikah dengan Anggia. Raga sendiri yang mengatakan itu di hadapan kami," ungkap Prita."A-apa?" Ayuna tercengang. "Tante jangan mengarang cerita! Mas Raga tidak mungkin mau menikahi Anggia sementara beberapa bulan lagi kami akan menikah!""Saya tidak mengarang cerita. Kalau kamu tidak percaya, silakan tanyakan sendiri pada Raga. Lagipula, siapa yang bisa menolak pesona putri saya? Anggia itu cantik. Meski dia sedang sakit, kecantikannya tidak pernah memudar dan Raga sendiri mengakui hal itu."Lagi, Ayuna dibuat terkejut. Meski ia akui Anggia memang sangatlah cantik, tetapi mustahil jika Raga sampai terpesona dan mulai menyukai adiknya tersebut."Tidak mungkin. Tante jangan ngada-ada!" Ayuna tak terima."Saya tidak mengada-ada!""Sudah!" Salma memekik. "Mas Bram, tolong bawa istri Mas ini pergi sebelum kesabaranku habis. Untuk kali ini saja, tolong hargai perasaan kami. Dan untuk kali ini saja, berlakulah adil terhadap kedua putrimu kalau Mas Bram tidak ingin Ayuna sampai membenci ayahnya!"Bramantyo tidak bisa berkata-kata. Luka itu jelas ia lihat di mata sang istri pertama. Belum kering luka yang dulu ia torehkan di hati perempuan anggun tersebut dengan memberinya seorang madu, kini ia kembali menabur garam di atasnya dengan mengutamakan putri dari istri keduanya.Bram terpaksa melakukannya demi kesehatan Anggia. Andai saja putri keduanya tersebut tidak sedang sakit parah, tentu ia tidak akan meminta hal yang mustahil kepada putri pertamanya."Maafkan, Mas, Salma," lirih Bram.******Ayuna yakin bahwa Raga tidak mungkin sampai menyukai Anggia. Kedekatan mereka selama ini hanya sebatas Dokter dan pasien, tidak lebih dari itu.Raga sangat mencintainya. Ayuna percaya calon suaminya tersebut tidak akan pernah tega mengkhianati hubungan mereka.Namun meski begitu, Ayuna ingin memastikan bahwa apa yang diucapkan Mama tirinya tidaklah benar. Siang ini Ayuna sengaja membawakan makan siang untuk sang kekasih yang sudah beberapa hari tidak menjumpainya karena sibuk.Senyum gadis berlesung pipi itu mengembang kala ruangan Raga sudah semakin dekat. Tak sabar rasanya ingin memberi kejutan yang pasti akan disukai Raga."Mas Raga yakin akan melepas Mbak Ayuna hanya demi aku? Bukankah kalian saling mencintai dan sebentar lagi akan menikah?"Langkah Ayuna terhenti tepat di depan pintu. Suara sang adik yang terdengar dari dalam ruangan kekasihnya memaksa Ayuna untuk menahan diri agar tidak bergegas masuk."Entahlah. Mas hanya ingin mengikuti kata hati. Saat ini rasa Mas pada Ayuna terasa hambar. Sedangkan padamu, rasa ini mulai tumbuh. Akan lebih baik menyudahi hubungan kami dari sekarang daripada nanti terlanjur menikah," jawab Raga.Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Ayuna bisa melihat dengan jelas kekasihnya mengecup kening Anggia."Mas mencintaimu, Anggi. Entah sejak kapan rasa ini tumbuh, tetapi yang pasti, Mas tidak bisa berjauhan denganmu."Ayunan tersenyum getir. Apa yang ia lihat dan dengar hari ini telah membuktikan bahwa ternyata ucapan Mama tirinya adalah benar. Ayuna terlalu percaya diri dengan mengganggap Raga tidak akan jatuh dalam pesona sang adik.Ayuna kalah lagi. Untuk ke sekian kalinya, Anggia telah merebut apa yang ia miliki.**Bersambung.Par un après-midi ensoleillé, Daniel m'a installée dans un fauteuil roulant et m'a conduite jusqu'à la Prison d'Argent.Dès l'entrée, l'odeur familière de sang et de pourriture m'a frappée de plein fouet. Mon corps s'est mis à trembler de façon incontrôlable, une peur glaciale remontant de la plante de mes pieds jusqu'à mon crâne.Daniel a perçu ma terreur. Il a tapoté doucement ma main, sa voix plus douce que jamais : « Tout va bien, Rosie. Je suis là. »Je n'ai pas répondu.Mon corps se souvenait de la peur, mais mon âme était déjà engourdie.Il m'a poussée à l'intérieur, où nous étions immédiatement « accueillis » par Jessica, ligotée et suspendue au plafond. Les cicatrices de fouet et les plaies vives qui zébraient sa peau témoignaient assez des jours d'enfer qu'elle avait vécus.En apercevant Daniel, ses yeux se sont illuminés d'un espoir frénétique. « Daniel ! Ordonne-leur de me détacher… Je n'en peux plus… »Mais la réponse qui a suivi était une condamnation à mort : « Ce n'est
Face à mes accusations, Daniel secouait la tête, la voix brisée par l'affolement :« Je… Je ne leur ai jamais ordonné de te faire ça. Rosie, tu dois me croire ! »Ses justifications sonnaient creux.Les gardes avaient tout avoué. Jessica avait donné les ordres. Mais cela changeait-il quoi que ce soit ?Sans son consentement implicite, auraient-ils osé aller aussi loin ?Je l'ai regardé avec calme, la voix froide et ferme : « Daniel, je suis en train de mourir. Je t'en prie… Durant le peu de temps qu'il me reste, ne me dérange plus. Je ne veux plus te voir. »En cet instant, je n'avais plus qu'un seul vœu : quitter ce monde en paix, sans être hantée par lui jusqu'à la fin.« Rosie, je suis désolé ! » a-t-il lâché, saisissant ma main avec une urgence désespérée, « Il y a trois ans, je n'aurais jamais dû t'envoyer à la Prison d'Argent ! »C'était la première fois que je l'entendais dire ces mots, mais mon cœur est resté de glace.J'ai retiré doucement ma main et ai posé sur lui un regard
Devant mon silence, l'expression de Jessica s'est figée instantanément en une moue blessée. Elle s'est tournée vers Daniel qui descendait l'escalier, la voix tremblante :« Daniel, je voulais juste parler à Rosie, la convaincre de ne plus disparaître comme ça. Je ne pensais pas à mal. Est-ce qu'elle m'en veut toujours ? »Les sourcils de Daniel se sont froncés aussitôt. Il s'est adressé à moi sur un ton cinglant : « Ça suffit, Rosie ! Cesse tes caprices ! »Mon corps était déjà trop épuisé pour que je songe à me battre avec l'un ou l'autre.Daniel semblait sur le point d'ajouter quelque chose, mais son téléphone a sonné. Détournant son attention de moi, il s'est éloigné d'un pas vif vers son bureau tout en répondant.À peine était-il parti que Jessica a laissé tomber son masque d'innocence, son regard se chargeant d'une malveillance pure.Elle a levé la main pour me gifler, une fureur dans les yeux qui semblait vouloir m'anéantir sur place.Mais cette fois, je n'étais plus la proie sou
À travers le chaos environnant, j'ai distingué la silhouette familière qui se frayait un chemin dans la foule.Ce visage toujours si impassible arborait pour la première fois de la panique. Ses lèvres remuaient, criant mon nom.« Rosie ! Rosie ! »Ce devait être une hallucination.Après tout, comment pourrait-il se soucier de ma santé ?Alors que ma conscience s'éloignait, j'ai sombré dans un rêve long et infini.Je redevenais le louveteau qui suivait Daniel comme une ombre, implorant d'une petite voix : « Daniel, attends-moi ! »Il s'arrêtait sous le soleil, se retournait avec un air faussement agacé, glissait en cachette un bonbon dans ma paume et grognait : « Tiens. Maintenant, arrête de me suivre. »Mais je persistais à le poursuivre, et lui, jamais vraiment, ne me repoussait.Puis j'ai revu cette nuit pluvieuse, trois ans plus tôt. Daniel, devenu adulte, me serrait contre lui. Il déposait un baiser brûlant sur mon front en murmurant : « Rosie, veux-tu devenir ma compagne ? »J'ava
Le lendemain matin, Daniel est apparu avec une robe de soirée d'un blanc éclatant. « Il y a une réception ce soir. Tu m'accompagnes. »Une réception ?Du vivant de mon père Bêta, j'avais fréquenté d'innombrables événements de ce genre. Mais désormais, je ne savais plus comment affronter la foule. Un
À peine Daniel m'avait-il ramenée à la maison qu'une silhouette s'est empressée de nous accueillir.C'était Jessica. Vêtue d'une somptueuse chemise de nuit en champagne, elle s'est déplacée avec une grâce étudiée jusqu'à moi.« Rosie, te voilà enfin de retour ? » Chacun de ses mots était comme du po
« Rosie, ta peine est purgée. Quelqu'un est venu te chercher. »La porte de la Prison d'Argent a grincé en s'ouvrant, le son strident crispant mes nerfs.Un gardien, sans même un regard pour moi, a jeté une robe à mes pieds. « Retire ton uniforme de détenue. »Mes doigts tremblants enfilaient rapide












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.