LOGINLors d'un tremblement de terre à l'étranger, ma belle-mère et moi avons été piégées en même temps. L'équipe de secours savait que le jet privé de mon mari se trouvait à proximité. Ils m'ont demandé de le contacter pour obtenir de l'aide, mais j'ai secoué la tête et j'ai refusé. Dans ma vie précédente, je m'étais acharnée à l'appeler pour qu'il vienne. Grâce à cela, ma belle-mère et moi avions été sauvées. Mais sa précieuse 'amie d'enfance' avait pris la mouche et était sortie s'amuser. Elle avait été agressée à mort. Devant sa mère, mon mari avait dit que cette fille frivole n'avait que ce qu'elle méritait. Mais le jour d'anniversaire de sa mort, il m'avait tuée exactement de la même manière. « Je sais que tout ça, c'était ton plan. Tu dois payer pour Chloé ! » Revenant à la vie, mon mari a enfin emmené son amour idéalisé admirer les lumières de la ville depuis son jet privé. Mais quand il a appris ce que nous avions vécu, il est devenu fou.
View MoreBab 1
“Kak, puasin aku dong!”
Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.
Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai. Kini tubuh gadis itu hanya berbalut sepasang underwear berwarna hitam, memperlihatkan dadanya yang lumayan besar meskipun tubuhnya langsing.
“Rara, apa yang kamu lakukan?"
Dani membelalak, tubuhnya mematung di tempat. Bahkan matanya nyaris tak berkedip melihat adik tirinya yang kini sudah setengah telanjang di hadapannya.
"Memangnya kenapa? Apa Kak Dani nggak mau puasin aku? Kak Dani nggak tergoda sama tubuh aku?” Tiba-tiba tangan Rara melepaskan pengait bra yang ada di bagian depan.
Begitu benda berbentuk kacamata itu terbuka, ia lemparkan begitu saja ke lantai. Dengan langkah gemulai dan menggoda, ia berjalan meliuk-liuk menghampiri Dani yang kini sudah panas dingin.
“Jangan malu-malu, Kak Dani. Aku tau kalau Kak Dani juga menginginkannya. Ayo, sentuh ini, Kak,” goda Rara seraya memegang tangan Dani dan mengarahkan ke dadanya yang kini sudah tanpa penutup.
Tangan Dani rasanya gemetar dan berkeringat dingin ketika telapak tangannya menyentuh benda bulat kenyal itu.
Ia tak menyangka, baru beberapa hari tinggal di rumah ayahnya, Dani sudah mendapatkan tantangan kenikmatan seperti ini.
Beberapa hari sebelumnya ....
Dani, pemuda berusia 25 tahun itu baru saja pulang dari kebun belakang rumah ketika tiba-tiba ponsel usangnya berdering. Ada nomor tak dikenal muncul di layar.
“Siapa ini?”
Awalnya dia malas mengangkat, tapi karena panggilannya terus masuk, akhirnya dia terpaksa tekan tombol hijau itu.
"Halo,” sahut Dani malas.
“Halo, Dani. Ini Tante Rina.”
Dani langsung diam. Dia tau nama itu. Ibu tirinya, Tante Rina.
Ia ingat, bahwa Surya, ayahnya pernah memperkenalkan wanita itu ke kampung, tetapi Dani hanya acuh dan meninggalkan mereka waktu itu.
“Ada apa menelfon?" tanya Dani dengan suara datar, nadanya sama sekali tidak ramah.
“Ayah kamu sakit, Dan,” lanjut wanita itu dengan suara pelan. “Kondisinya parah. Kalau bisa, kamu datanglah ke kota. Ini permintaan terakhir dari ayahmu.”
Dani tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Telinganya terasa panas mendengar kata-kata yang baginya adalah perintah itu.
Sudah bertahun-tahun dia hidup tanpa sosok ayah. Setelah menceraikan ibunya, ayahnya seperti melupakan mereka begitu saja. Dani masih ingat bagaimana ibunya sering menangis diam-diam di malam hari, sampai akhirnya mereka memilih pindah ke desa dan tinggal bersama nenek.
Sementara ayahnya membeli rumah baru di kota, yang katanya rumah itu sangat mewah dan besar. Dani sendiri tak pernah tau bagaimana wujud rumah itu.
Tak lama, ia mendengar ayahnya menikah lagi dengan seorang janda anak 2. Ibunya shock dan larut dalam kesedihan sampai akhirnya meninggal dunia.
Setelah ibunya meninggal, hidup Dani semakin terpuruk. Dia hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah sederhana peninggalan kakeknya. Ayahnya sempat datang bersama ibu tirinya itu karena ingin menjemput Dani, tetapi dia menolak keras.
Kini saat mendengar kabar bahwa ayahnya sakit, yang muncul di hati Dani bukan rasa sedih, melainkan rasa kesal dan kebencian.
“Buat apa aku datang? Dia juga tidak pernah peduli sama aku dan ibu,” jawab Dani datar.
“Terserah kamu, Dani. Tante cuma menyampaikan.” Di seberang sana terdengar helaan napas panjang, sepertinya ia kesal.
Telepon itu pun akhirnya terputus. Dani melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja.
“Memangnya dia pikir dia siapa, bisa menyuruh-nyuruh aku seperti itu?"
Malam harinya, Dani duduk di teras rumah sambil melamun. Neneknya yang sedang membersihkan daun singkong pun menoleh pelan. Tak biasanya Dani banyak diam seperti itu.
Ia sering murung setelah kepergian ibunya. Namun, perlahan Dani kembali bangkit dan menjadi pemuda desa yang ceria dan senang bersosialisasi dengan tetangga.
“Kamu kenapa dari tadi diam saja, Dan?”
Dani menoleh pada neneknya. Ia pun akhirnya menceritakan semuanya, tentang telepon dari ibu tirinya yang mengabarkan kalau ayahnya sakit keras.
"Sampai mati pun, aku nggak akan pernah mau pergi kesana, Nek,” sungut Dani kesal.
Namun neneknya justru menghela napas pelan seraya mengusap bahunya dengan lembut.
“Pergilah, Nak."
“Hah?" Dani mengernyit. “Buat apa, Nek?”
“Jangan begitu, Dani. Nanti kamu menyesal kalau ayahmu sampai meninggal sebelum kamu sempat ketemu.”
“Tapi dia sudah meninggalkan aku dan ibu ….”
“Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kamu," potong neneknya lembut.
Dani terdiam. Angin malam berhembus pelan melewati halaman rumah mereka yang sederhana. Suara jangkrik terdengar bersahutan, tapi pikiran Dani justru makin berisik dan kalut.
“Kamu tidak harus memaafkan semuanya sekarang, tapi setidaknya datanglah. Kalau memang ini akhir dari hidup ayahmu, berikan pengabdian terakhir sebagai seorang anak.”
Ucapan itu terus terngiang di kepala Dani semalaman. Ia nyaris tak bisa tidur karena memikirkan kata-kata sang nenek.
Keesokan paginya, Dani akhirnya memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel lusuh miliknya. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke kota.
Neneknya juga membantu menyiapkan bekal seadanya untuk perjalanan ke kota.
“Anggap saja ini pengabdian terakhirku sebagai seorang anak.”
*
Akhirnya Dani tiba di kota dengan menaiki sebuah travel. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar milik ayahnya itu, ia sudah merasa suasananya aneh.
Ibu tirinya menyambut dengan senyum tipis, tapi tatapannya terasa sulit dijelaskan. Begitu juga dengan kedua anak gadis ibu tirinya. Mereka berdiri di dekat tangga sambil memperhatikan Dani tanpa berkedip.
Tatapan mereka membuat Dani tidak nyaman. Apalagi rumah itu terasa asing baginya.
“Ayahmu ada di kamar,” ujar ibu tirinya pelan.
Dani tak menjawab, dan hanya berjalan malas menuju kamar di lantai atas.
Saat pintu dibuka, dia melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang. Tubuh pria itu terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Dani mengingatnya.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi canggung. Tidak ada pelukan haru ataupun air mata. Dani hanya berdiri di dekat ranjang sambil menatap pria yang selama ini terasa seperti orang asing baginya sendiri.
“Dani, akhirnya kamu datang juga. Duduklah dekat ayah!" Surya meminta putranya itu duduk lebih dekat.
Tanpa menjawab, Dani hanya duduk begitu saja. Dengan suara lemah, pria itu mulai bicara pelan mengenai banyak hal, termasuk soal warisan jika suatu saat nanti dirinya meninggal.
“Semua sudah Ayah atur, dan kamu punya hak paling utama," ujar pria tua itu dengan terbata-bata.
Namun Dani tampak cuek mendengarnya. Baginya, uang dan harta bukan alasan dia datang ke kota. Bahkan sebenarnya dia hanya terpaksa datang ke rumah ini.
“Aku tidak memikirkan itu,” jawab Dani singkat.
Ayahnya terlihat diam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Ia sadar, bahwa luka di hati putranya ternyata belum sembuh.
Setelah percakapan itu selesai, Dani keluar dari kamar dengan pikiran yang masih bercampur aduk. Namun baru beberapa langkah di lorong, dia langsung berhenti.
Kedua adik tirinya sudah berdiri di sana seolah sengaja menunggunya.
Mereka mengenakan pakaian rumah yang sangat terbuka dan minim. Salah satu mengenakan lingerie transparan, hingga memperlihatkan bra dan celana dalamnya.
Sedangkan yang satunya mengenakan kaos crop top ketat, yang dipadukan dengan hot pants. Lekuk tubuhnya yang seksi itu terlihat kemana-mana.
Dani refleks memalingkan pandangan sesaat. Tiba-tiba keduanya mendekat hingga Dani terkejut. Ia melangkah mundur, tetapi tubuhnya terantuk dinding.
“Wah, Kak Dani ternyata ganteng juga ya,” goda salah satunya, sambil terus memepet tubuh Dani ke dinding.
“Kalian mau apa, hah? Menjauh dariku!" sentak Dani sambil terus membuang muka, tetapi kedua adik tirinya itu malah semakin menghimpit tubuh Dani.
Mereka menyentuh dada, lengan, dan bahu Dani dengan sentuhan yang sensual.
“Ssstt! Kak Dani jangan galak-galak dong! Apa kak Dani mau lihat sesuatu?" tanya salah satunya, yang tiba-tiba menarik tali lingerie nya di hadapan Dani.
Adrien Delcourt est revenu à l'hôpital, le visage empli d'espoir.En découvrant son assistant à genoux dans la chambre, il s'est montré surpris.« Ce n'est pas pour le divorce que je suis revenu ? Qu'est-ce que vous faites ici ? »Madame Delcourt l'ignorait volontairement. Elle a simplement hoché le menton en direction de l'assistant.« Dis-lui exactement ce qu'il s'est passé. Mot pour mot. »L'assistant n'a pas osé mentir. Il a raconté toute la vérité, chaque détail.À mesure qu'Adrien écoutait, son visage se durcissait.« C'est impossible. Chloé est gentille, simple… Elle ne ferait jamais de mal à personne ! »À peine avait-il terminé que l'homme envoyé par sa mère est revenu.« Nous avons enquêté. Derrière la mise en avant du hashtag sur la déclaration d'amour en hélicoptère… c'est bien Chloé Laurent qui a orchestré le buzz. »Adrien a arraché le dossier d'un geste, l'a lu en entier.Puis il s'est écroulé par terre, vidé de toute force.« Comment… c'est possible ? »Sa mère l'a rega
« Il n'y en a plus maintenant. »« Adrien, tu n'as jamais assumé un seul jour ton rôle de mari. Et encore moins celui de père. »Adrien semblait frappé par un choc violent. Il restait debout, figé, incapable de bouger.À ce moment-là, son assistant est arrivé en courant dans la chambre.« Monsieur Delcourt, c'est une catastrophe. »« Les médias vous accusent d'avoir abandonné votre épouse et de ne pas être intervenu pendant la catastrophe. La situation est incontrôlable. »Le regard d'Adrien s'est immédiatement durci.« Pourquoi tu ne m'as rien dit plus tôt ?! »« Et pour le tremblement de terre, pourquoi personne ne m'a prévenu dès le départ ?! »L'assistant a dégluti, embarrassé.« C'est Mademoiselle Laurent qui avait insisté : elle a dit que quand vous étiez seuls ensemble, même si le ciel tombait, on ne devait pas vous déranger. »« Elle nous a aussi menacés : si quelqu'un osait la contrarier, il serait immédiatement licencié et blacklisté. »Le visage d'Adrien s'est peu à peu ferm
Il s'est avancé d'un pas rapide, m'a saisi brutalement le poignet et m'a tirée hors du lit d'hôpital. Ses yeux fixaient les miens avec rage.« Claire Morel, qu'est-ce que ça veut dire ? »« Tu crois qu'en battant en retraite tu vas m'attendrir ? »« Je veux que tu prennes la parole publiquement, que tu t'excuses auprès de Chloé ! Tu diras que vous jouiez, que tu es tombée accidentellement. Tu m'as bien comprise ?! »Contrairement à sa colère furieuse, je le regardais calmement, sans rien dire, et j'ai secoué la tête.« Ce n'était pas un jeu. En effet, elle voulait me tuer. »Les larmes de Chloé sont tombées aussitôt. Elle s'est précipitée dans les bras d'Adrien.« Adrien chéri… on plaisantait, c'est tout… Comment peut-elle m'en vouloir à ce point ? »« Ce n'est pas grave. Qu'ils m'insultent en ligne, qu'on me blâme, je prends tout. C'est ma faute, d'accord ? Allons-nous-en, s'il te plaît, avant que Claire ne s'énerve à nouveau… et n'essaie de tout exposer. »Ses paroles semblaient faib
Quand j'ai rouvert les yeux, tout autour de moi n'était que blanc.Ma belle-mère était assise à côté du lit, la tête appuyée sur une main, en train de somnoler. Des cernes violacées marquaient son visage fatigué.J'ai essayé de me redresser. En entendant du mouvement, elle a immédiatement ouvert les yeux. Quand elle m'a vue réveillée, ses yeux se sont aussitôt remplis de larmes.« Claire… ma pauvre enfant… Pourquoi tu ne m'as pas dit que tu étais enceinte ? »En entendant sa voix tremblante, ma gorge s'est nouée à mon tour.« Maman… Adrien ne me laissera jamais garder cet enfant. »À la mention de ce nom, son visage s'est assombri aussitôt.« Je suis au courant de tout ce qu'il a fait. Claire, ne t'inquiète pas. Quoi que tu décides cette fois, je serai de ton côté. »Je savais qu'elle parlait de divorce.Depuis la toute première fois qu'Adrien m'avait laissée au bord de la route pour rejoindre Chloé Laurent, j'avais déjà vaguement pensé à cette option.Mais ma belle-mère m'aimait sincè
Je me suis écrasée de tout mon poids sur le béton. Mon dos avait percuté violemment le sol, et chaque os, chaque articulation de mon corps me faisait atrocement mal.Au-dessus de moi, l'hélicoptère d'Adrien Delcourt a tournoyé un instant, comme pour parader, avant de disparaître rapidement à l'horiz
Tout ce que je voyais à l'écran, je ne l'avais jamais vécu.Depuis que j'étais mariée à Adrien Delcourt, je n'avais reçu de lui que du rejet, de la froideur, des reproches et des moqueries.À ses yeux, ma vie ne valait même pas un seul cheveu de Chloé Laurent.Alors, non… il ne viendrait pas.Les to
Elle n'avait pas fini sa phrase que j'avais déjà pris ma décision.« Ma belle-mère n'est pas en très bonne santé. Emmenez-la. »C'est à ce moment-là que ma belle-mère, jusque-là inconsciente, a poussé un gémissement et a repris connaissance.Elle m'a soudain agrippée par le coin de ma veste, refusan
...« Claire Morel, c'est bien vous ? Avant que la vague sismique n'arrive, faites venir votre mari avec son jet privé pour vous évacuer ! »En entendant cet appel pressant, j'ai ouvert les yeux, stupéfaite.Autour de moi, les touristes affolés couraient dans tous les sens. Ma belle-mère, terrifiée,






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.