LOGINMaría Valero nació siendo una muda que nadie quería, pero por casualidad se casó con el hijo mayor de una familia rica, los Bonnet. Ella sabía que Robert Bonnet nunca la amaría. Y, cuando la primera novia de él, Nahia Dumas, regresó al país, y Robert, efectivamente, reavivó su amor con ella, María ocultó su embarazo y se dio cuenta de que era el momento de decirle adiós a ese mal llamado amor.
View More"Ruyan, kau harus pergi ke Kekaisaran Tianlong." Itu adalah kalimat yang selalu dinantikan oleh Ruyan selama ini. Ruyan sudah menantikan hari di mana dia bisa terbebas dari istana yang kejam ini.
“Apakah saya boleh tahu apa alasannya, Ayah?” tanya Ruyan pada ayahnya sekaligus raja dari Kerajaan Yunxi.
“Aku akan memberikan dirimu pada Kaisar Tianlong sebagai sandera untuk menghindari konflik dengan mereka,” kata Xi Yuefeng, sang raja.
Ruyan sudah menduga hal ini akan terjadi. Dia sudah tahu bahwa dia pasti akan dibuang oleh ayahnya sendiri suatu hari nanti. Tapi, Ruyan sama sekali tidak merasa sedih akan hal tersebut. Ruyan justru merasa sangat bahagia saat dia tahu bahwa dia akhirnya terbebas dari orang tuanya.
“Sandera? Apakah Anda menjual saya?” tanya Ruyan sambil menyembunyikan senyuman di wajahnya.
“Kau tidak memiliki hak untuk protes. Setidaknya buat dirimu berguna untuk kami. Kerjaanmu hanya mengurung diri di kamar selama ini. Dasar putri tidak berguna. Besok, kau akan mengenakan gaun pengantin dan Kaisar Tianlong akan menjemputmu,” kata Yuefeng.
“Gaun pengantin? Apa saya akan menjadi selir Kaisar?” tanya Ruyan.
“Aku tidak peduli apa yang akan Kaisar itu lakukan padamu. Yang terpenting kau besok harus memakai gaun pengantin saat kau dijemput,” kata Yefeng.
“Baiklah, Ayah,” kata Ruyan.
“Bagus, setidaknya kau menurut kali ini. Jangan sampai kau membuat masalah. Kalau kau membuat masalah, aku akan menyingkirkan pengasuh kesayanganmu itu,” kata Yuefeng.
Ruyan biasanya kesal jika ayahnya mengancamnya dengan pengasuhnya yang sudah pensiun itu. Tapi kali ini dia sama sekali tidak kesal karena dia akhirnya bisa pergi dari tempat ini walaupun dia harus menjadi selir kaisar. Ruyan tidak peduli apakah kaisar itu sudah tua atau belum. Yang ada di pikirannya saat ini adalah terbebas dari jeratan orang tuanya.
“Saya tidak akan membuat masalah, Ayah,” kata Ruyan.
“Tidak biasanya kau menurut seperti ini. Apakah ada sesuatu yang merasukimu?” tanya Yuefeng.
“Saya hanya ingin menjadi anak yang berbakti, Ayah,” kata Ruyan.
“Baguslah kalau kau sudah bertobat. Jangan sampai kau membuat kami malu atau melakukan sesuatu yang dapat membuat Kaisar berubah pikiran,” kata Yuefeng.
“Baiklah, ayah,” kata Ruyan.
“Kalau kau melakukan sesuatu yang bodoh yang bisa merusak perjanjian ini, bukan hanya pengasuhmu yang akan aku habisi tapi kau juga,” ancam Yuefeng lagi.
“Tenang saja, Ayah. Saya tidak akan mengecewakan Anda kali ini,” kata Ruyan.
“Kembalilah ke kamarmu,” kata Yuefeng.
“Semoga Yang Mulia diberkahi ketenangan jiwa,” kata Ruyan sambil membungkuk pada ayahnya.
Ruyan berbalik lalu berjalan kembali ke kamarnya. Sampailah dia di dalam kamarnya, kamar yang sangat sempit dan tua. Di sinilah Ruyan tinggal. Dinding kamar ini sudah lapuk, dan bahkan jendela dan pintunya sudah mulai tidak berfungsi.
Ruyan adalah seorang putri kerajaan. Namun, bagaimana dia bisa berakhir di tempat seperti ini? Tentu saja karena ulah sang ratu.
Dulu, Yuefeng sangat menyayangi Ruyan saat ibu kandungnya masih hidup. Namun, saat ibu Ruyan meninggal akibat ulah salah satu selir ayahnya, ayahnya jadi terpengaruh oleh selir tersebut. Ayahnya kini terus menganggap bahwa Ruyan adalah anak yang tidak berguna.
Bahkan ayahnya juga menutup matanya saat melihat Ruyan ditindas oleh selir itu, yang kini sudah naik takhta menjadi ratu. Terkadang ayahnya juga ikut menindasnya padahal dia sama sekali tidak melakukan suatu kesalahan.
Ruyan menyimpan dendam pada ayahnya dan wanita yang disebut ratu itu. Bagaimana tidak? Wanita itu jelas-jelas menghilangkan nyawa ibu kandungnya dan ayahnya seolah menutup mata akan kematian ibu Ruyan. Ayahnya tidak mengusut tuntas kasus kematian ibunya dan malah langsung mengangkat wanita itu menjadi ratu.
Karena merasa tidak dianggap, Ruyan sangat jarang menampakkan diri pada mereka. Sekalinya Ruyan menampakkan diri pada mereka, mereka pasti tidak segan untuk menampar atau memukul Ruyan walaupun dia tidak melakukan apa-apa.
Ruyan sering kabur dari istana karena dia tidak tahan untuk terus berada di istana. Dia memerlukan suasana yang lebih baik di luar sana. Namun, Ruyan tidak bisa benar-benar pergi dari istana selamanya. Dia harus menunjukkan wajahnya setiap akhir pekan untuk kumpul keluarga. Kalau sampai dia tidak menunjukkan wajahnya, ayahnya pasti akan melakukan sesuatu pada pengasuhnya yang sudah pensiun itu. Ruyan tidak bisa benar-benar bebas karena ayahnya menyandera pengasuhnya.
Ruyan mengganti pakaiannya dan menyamar sebagai gadis biasa untuk keluar dari istana ini. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini selama bertahun-tahun dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Bahkan para pelayan yang selalu mengantarkan makanan padanya juga tidak curiga bahwa dia menghilang dari istana. Yang orang-orang tahu, Ruyan hanya mengurung dirinya di kamar.
Ruyan keluar dari area istana melalui jalan rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri. Dia berjalan ke arah kota untuk pergi menuju ke kedai yang sering dia kunjungi akhir-akhir ini.
“Mao, aku sudah menunggumu dari tadi,” kata Lihan, pemilik kedai ini.
Mao adalah nama samaran Ruyan. Ruyan tidak bisa menggunakan nama aslinya ketika dia sedang menyamar sebagai gadis biasa di luar istana.
Ruyan menatap wajah si pemilik kedai dengan berbinar-binar. Ruyan sudah menyukai pria itu sejak pertemuan pertama mereka. Sayangnya, Ruyan adalah seorang putri yang pastinya akan dijual pada pemimpin negara lain. Jadi, Ruyan hanya bisa memendam perasaannya saja. Namun, Ruyan sama sekali tidak tahu bahwa Lihan sebenarnya adalah kaisar yang akan menjemputnya besok.
Lihan sebenarnya sudah tahu bahwa Mao yang dia kenal adalah Putri Xi Ruyan. Lihan sudah memata-matainya selama beberapa bulan ini jadi dia tahu seluk beluk Ruyan.
“Kau terlihat sangat senang hari ini,” kata Lihan.
“Ya, tentu saja. Akhirnya aku bisa terbebas dari orang tuaku,” kata Ruyan.
“Bagaimana bisa?” tanya Lihan.
“Aku akan dijual,” jawab Ruyan.
“Dijual?”
“Aku akan diberikan pada pria asing,” kata Ruyan.
“Apa maksudmu menjadi budak?” tanya Lihan dengan nada bercanda.
“Tidak. Bukan budak. Aku disuruh untuk memakai gaun pengantin besok lalu pria asing itu akan menjemputku. Lalu akhirnya aku bebas,” kata Ruyan.
“Bilang saja kau akan dinikahkan. Kalau kau bilang kau akan dijual, itu memiliki kesan kau akan dijual sebagai budak,” kata Lihan.
“Sama saja,” kata Ruyan tidak peduli.
“Sepertinya kau sangat senang ya? Bagaimana kalau pria asing yang akan menjemputmu itu ternyata pria tua mesum yang suka menggoda gadis muda?” tanya Lihan.
“Itu bisa dipikir nanti. Yang terpenting aku bisa terbebas dari neraka itu,” kata Ruyan sambil tertawa.
“Astaga, kau ini memang perempuan yang aneh. Biasanya perempuan lain tidak mau dinikahkan seperti itu,” kata Lihan.
“Kalau bisa keluar dari neraka itu, kenapa tidak?” kata Ruyan.
“Ya, kau benar juga,” kata Lihan.
***
Robert no sabía si seguía vivo o ya estaba muerto. De repente, se encontró caminando hacia un lugar completamente blanco, con el cielo y la tierra desapareciendo en ese blanco infinito.Ya no le importaba si iba a sobrevivir, lo único que le preocupaba era María y el niño.Había pasado tantos años sufriendo, y por fin su vida parecía mejorar. ¿Cómo podía ser que Dios tuviera el corazón para arrebatarle la vida justo en ese momento?Siguió caminando y se encontró en un lugar que le resultaba familiar. Estaba afuera del restaurante, empujó a María con fuerza, pero sostuvo a Nahia con mucho cuidado en sus brazos.La cámara mostró el hospital, donde apretó el cuello de María y la obligó a inclinarse ante Nahia. En ese momento, los ojos de Nahia eran tan arrogantes que María parecía aún más miserable.Más tarde, en el baño, Robert parecía un demonio. Forzó a María a sentarse en un rincón, rodeada de agua hirviendo. La amenazó con los gastos médicos de Clara, mientras la observaba arrod
Robert ya llevaba mucho tiempo en este pequeño pueblo, tanto que incluso sus padres lo llamaron tan solo para regañarlo.—¿Vas a arruinar tu vida por una simple muda? ¡En la familia Bonnet no tenemos espacio para un inútil como tú!Robert se quedó en silencio, dejándolos regañar. Cuando terminaron, le dijeron que regresara a casa, y Robert cortó la llamada con una sola palabra:—No.María no sabía nada de esto, y Robert tampoco tenía intención de decírselo.Llegó el día conmemorativo de los padres de María, y Robert se ofreció a acompañarla.Con sus largas piernas, María no podía detenerlo, así que ambos fueron juntos al cementerio.Las tumbas de los padres de María están juntas, y ese fue el primer verdadero encuentro de Robert con los padres de María.Robert, que siempre tuvo una vida privilegiada, no podía imaginar lo difícil que fue para María lidiar con la enfermedad de su hermana.A pesar de ser una persona tan fuerte, fue muy desafortunada al encontrarlo a él y recibir el trato
María llegó primero al hospital y mientras esperaba, Colton la llamó por video para pedir su opinión sobre un nuevo plato.Robert, con una bolsa de ungüento para quemaduras en la mano, salió y vio a María sonriendo mientras usaba lenguaje de señas para comunicarse con Colton.Se quedó parado un momento, sin ganas de acercarse y romper esa escena tan tranquila.Hace mucho tiempo que no veía a María sonreír de manera tan natural y relajada.Antes, ella también era de las que sonreían fácil, pero esas sonrisas se fueron desvaneciendo poco a poco, apagadas por su indiferencia.Robert observó un poco más antes de acercarse.María lo vio y se quedó quieta, como si hubiera olvidado que él estaba ahí.Robert se rio como un idiota.—Ya estoy mejor, vamos, ya nos podemos ir.María asintió, guardó su teléfono y la sonrisa que aún mostraba desapareció de inmediato. Se subió al carro, y sin mostrar ninguna emoción, esperó a que Robert subiera.Durante el trayecto, ninguno de los dos dijo una palabr
Por fin, Robert entendió lo que significaba enfrentarse a las consecuencias de sus actos.Había sido él mismo quien desperdició todo el amor que María tenía por él.—Sé que he hecho muchas cosas que te han herido, fui un bobo, pero ahora lo entiendo. Más que Nahia, en realidad, me importas tú.Sus palabras fueron profundamente apasionadas, pero en los oídos de María sonaron como una broma.María escribió en su celular:—¿Es solo porque estoy embarazada, cierto?Robert observó sus gestos con atención y negó con la cabeza.—Eso no tiene nada que ver con el bebé. No sabía que estabas embarazada cuando vine a buscarte. Vine buscándote a ti.María levantó las cejas y sonrió un poco. Si alguien la hubiera visto, habría pensado que estaba feliz, pero al mirarla bien, era evidente que su sonrisa era distante.Luego hizo otro gesto:—Entonces, probablemente necesitas a alguien que haga todo por ti.Robert se quedó sin palabras. Quiso refutar, pero no sabía qué decir.Cuando recuperó el sentido,
María finalmente decidió regresar a su pueblo natal, un lugar en la costa donde todo había comenzado. Siempre fue una excelente estudiante, pero cuando estaba en la secundaria, la vida le dio un terrible golpe: perdió a sus padres. Para poder cuidar a su hermana, tuvo que dejar la escuela y empezar
Robert regresó a casa después de haber dado su versión en la comisaría, ya era de madrugada.Al entrar, sintió que algo no estaba bien.La casa estaba demasiado vacía.La enorme mansión estaba sumida en la oscuridad, sin rastro de vida, y los sonidos de los insectos y el viento en el jardín empezaba
María sentía todo su cuerpo helado. Había recibido el mensaje una hora antes, cuando aún estaba inconsciente.Sin pensar en lo que podría pasar, se levantó y corrió hacia la puerta, pero antes de que pudiera alcanzarla, la puerta se abrió de golpe.El grupo de matones entró tambaleándose, y entre
En la mansión Bonnet, Robert finalmente ya no pudo seguir. María llevaba un buen rato llorando sin parar, y, entre lágrimas, terminó vomitando, haciendo que todo el interés que él podía tener desapareciera de inmediato.Desde el baño, escuchó el sonido de María al vomitar, y Robert, alzando la voz,












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
reviewsMore