MasukMalam harinya, langit di atas Kota Lembah Kabut gelap gulita dan hanya diterangi oleh bintang-bintang yang redup. Angin berembus pelan, membawa serta debu dari tambang-tambang di kejauhan.Di tengah keheningan malam itu, Xiao Fan berdiri di atap sebuah gedung tua yang menghadap langsung ke kediaman Mo Qian. Ia mengenakan pakaian gelap yang ketat, yang dirancang untuk bergerak tanpa suara. Pedang Bintang Jatuh tersarung di punggungnya.Di sampingnya, Lei duduk dengan telinga menegang. "Tuan, aku sudah mengintai kediaman ini sejak sore tadi. Total ada tiga patroli penjaga yang berputar secara bergantian. Setiap setengah jam mereka berganti jadwal. Dan celah terbesar ada di taman belakang, tepatnya di area dekat air mancur.""Bagus. Kita akan masuk dari sana.""Dan formasi pertahanan mereka cukup kuat, Aku bisa merasakannya dari sini. Tapi..." Lei memiringkan kepalanya. "...ada satu titik di dekat air mancur di mana energinya lebih lemah. Mungkin karena saluran air yang meng
Xuan'er yang sejak tadi duduk di sudut ruangan tidak bisa menahan tawanya. "Setidaknya kali ini bukan angsa yang mengejarmu, Lei.""Aku lebih suka dikejar angsa daripada dibekukan oleh Nona Es ini!" Ucap Lei ketika masih sibuk menggoyang-goyangkan ekornya yang beku. "Setidaknya angsa hanya mengejar. Tapi Nona ini langsung menyerang tanpa peringatan! Lihatlah ekorku yang sangat indah ini! Aku sekarang tidak bisa menggerakkannya!"Wei Lian menatapnya dengan ekspresi datar. "Itu hanya lapisan es tipis. Akan mencair dalam beberapa menit.""Beberapa menit katamu?! Beberapa menit adalah waktu yang sangat lama bagi makhluk surgawi sepertiku, Hmp! Aku bisa mati kedinginan!""Kau itu adalah Qilin Petir. Kau tidak akan bisa mati kedinginan.""Itu... itu memang benar. Tapi tetap saja tidak nyaman! Hmp! Dasar Nona es berhati dingin!"Wei Zheng mengabaikan keributan di belakangnya dan menatap Xiao Fan dengan mata serius. "Aku mendengar dari laporanmu bahwa Mo Qian memiliki mata-m
Pagi harinya, Kota Lembah Kabut diguncang oleh berita lain. Bukan tentang kematian delapan pembunuh bayaran yang menyerang Xiao Fan semalam, meskipun mayat-mayat itu sudah ditemukan oleh para penjaga kota dan menjadi bahan bisikan di seluruh pasar. Melainkan tentang kedatangan seratus pasukan elit kekaisaran yang dipimpin langsung oleh Jenderal Besar Wei Zheng.Xiao Fan sedang duduk di ruang depan penginapan, menyesap teh paginya, ketika suara langkah kaki berseragam terdengar dari jalanan. Ia menoleh ke luar jendela dan melihat barisan pasukan berbaju zirah emas berbaris rapi di depan penginapan sembari memegang bendera Kekaisaran.Kerumunan mulai terbentuk di sekitar penginapan ketika para pedagang, dan para penambang yang lewat menghentikan aktivitas mereka dan berhenti untuk menonton. Bisikan-bisikan mulai menyebar seperti api di rumput kering."Itu... itu kam pasukan kekaisaran?! Lihat benderanya! Itu bendera naga!""Kenapa pasukan kekaisaran ada di sini? Apa terjadi
Malam itu, setelah berita kematian penambang menyebar ke seluruh kota, suasana di penginapan terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Xiao Fan duduk di kursi dekat jendela ketika matanya menatap ke luar ke arah jalanan yang mulai sepi. Xuan'er duduk di ranjang, tangannya memainkan ujung lengan bajunya. Lei berbaring di sudut ruangan, telinganya bergerak-gerak saat menangkap setiap suara."Kakak Xiao Fan, apa kita akan terus bertahan di sini?" tanya Xuan'er. "Setelah apa yang terjadi pada penambang itu... mereka pasti akan mencarimu lagi.""Kau benar tentang itu, mereka pasti akan mengirimkan lagi pembunuh ke sinj," jawab Xiao Fan. "Tapi mereka tidak akan menyerang di siang hari karena terlalu banyak saksi. Jadi pasti mereka akan menyerang malam ini.""Dan kau akan menunggu mereka, begitu?""Tidak." Xiao Fan berdiri dan mengaktifkan Mata Yin-Yang-nya. Seperti yang ia duga. Delapan aura bergerak di kejauhan dan mendekat dengan cepat. Enam di level Inti emas awal. Satu di leve
Xuan'er seketika memeluk dirinya sendiri ketika mendengar ucapan Xiao Fan. Matanya menatap mayat para penyerang dengan ekspresi tegang. "Kalau begitu, kita tidak bisa mempercayai siapa pun di kota ini. Bahkan orang-orang yang kita anggap sekutu.""Itu sebabnya kita akan melakukan ini dengan caraku." Xiao Fan menyarungkan Pedang Bintang Jatuh. "Besok pagi, aku akan menyamar sebagai pedagang pil di pasar. Dengan begitu aku bisa mengumpulkan informasi dari orang-orang yang berlalu lalang.”Lei mengangkat satu telinganya. "Dan apa tugasku, Tuan? Aku tidak bisa hanya duduk diam di penginapan!""Kau akan tetap di sini. Jagalah Xuan'er dan Paman Lao. Setelah serangan tadi malam, aku tidak ingin meninggalkan mereka sendirian.""Tapi Tuan! Aku ingin membantu!""Lei." Xiao Fan menatapnya. "Ini tugas yang sama pentingnya. Jika terjadi sesuatu pada Xuan'er atau Paman Lao, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Jadi aku percayakan padamu untuk menjaga mereka berdua."Lei menutup
Kereta mereka akhirnya tiba di Kota Lembah Kabut saat matahari hampir sepenuhnya terbenam. Begitu melewati gerbang kota, Xiao Fan langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Jalanan itu dipadati oleh para pedagang yang menawarkan peralatan tambang, para penambang dengan wajah kotor dan tubuh lelah, dan para kultivator dari berbagai klan yang saling menatap curiga. Pos-pos penjagaan didirikan oleh Klan Mo dan Klan Wei di setiap sudut kota, masing-masing dengan bendera klan mereka berkibar di atasnya. Harimau hitam Klan Mo di sisi timur. Kura-kura biru Klan Wei di sisi barat. Dua kekuatan yang siap bentrok kapan saja."Suasananya sangat mencekam," bisik Xuan'er ketika matanya mengamati sekeliling dari balik tirai kereta. "Bahkan di pasar saja tidak ada yang tertawa. Semua orang berjalan dengan kepala menunduk.""Mereka semua takut dengan apa yang akan terjadi," jawab Xiao Fan. "Perang antar klan selalu membawa banyak korban. Dan warga biasa selalu yang paling menderita."Lei
"Xiao Ba, turun ke arena sekarang."Suara Kaisar Tianyu menggema ke seluruh tribun ketika perintah itu ia katakan.Xiao Ba berdiri di tribun Klan Xiao. Wajahnya semakin memerah karena menahan luapan emosi. Dan saat ia melangkah turun dari tribun, gerakannya semakin cepat.Langkah kakinya
Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan
Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk
Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang







