LOGINMalam makin larut, tetapi kehangatan di kamar utama penthouse mereka seolah enggan memudar. Di atas tempat tidur yang luas, Lucia awalnya mengambil alih kendali. Ia duduk bertengger anggun di atas tubuh tegap Arthen, sementara pria itu terbaring santai di bawahnya. Lucia sengaja memilih posisi ini karena tidak ingin Arthen kembali kelelahan sebelum mereka berdua mencapai puncak.Melihat sang istri yang biasanya anggun kini mengambil inisiatif dengan wajah serius namun menggebu, terkembang senyum tipis di bibir Arthen. Manik mata kelamnya menatap Lucia tanpa berkedip."Astaga... imutnya istriku," goda Arthen dengan suara berat yang serak mendalam."Tolong jangan menggoda," cibir Lucia pelan dengan wajah yang sudah merona merah padam sampai ke telinga. Arthen ini sungguh keterlaluan, selalu tahu cara membuat jantungnya berdebar tidak karuan di saat-saat seperti ini.Lucia menghela napas, berusaha memfokuskan diri untuk mengambil posisi, mengarahkan milik Arthen agar perlahan memasuki in
Pagi harinya, sinar matahari menembus tirai tipis kamar VIP Rumah Sakit Medika. Warna wajah Arthen sudah jauh lebih segar dibandingkan kemarin, meski jarum infus masih terpasang di punggung tangannya. Pria itu bersandar di kepala ranjang, memperhatikan Lucia yang sedang sibuk menyeduh teh hangat di sudut ruangan.Pintu kamar terbuka pelan, memperlihatkan Rey yang masuk membawa beberapa lembar dokumen dan sebuah komputer jinjing."Bagaimana keadaan sang Produser Eksekutif pagi ini?" sapa Rey dengan nada menggoda, mencoba mencairkan suasana."Jauh lebih baik. Dokter bilang siang ini aku sudah boleh pulang jika hasil tes darah terakhir bagus," jawab Arthen tenang, suaranya sudah kembali berat dan tegas.Rey melangkah mendekat, lalu mendudukkan diri di kursi samping ranjang. "Baguslah. Karena kita punya satu hal penting yang harus diputuskan sebelum jadwal keberangkatan ke Elysia dimatangkan."Lucia mendekat sambil membawa cangkir teh, berdiri di samping ranjang Arthen. "Soal rekaman BTS
Begitu sutradara meneriakkan kata cut untuk adegan terakhir, Lucia tak sanggup lagi berdiri. Tubuhnya merosot ke lantai set, napasnya tersedak oleh sisa tangis yang masih membakar dada. Para kru dan aktor senior yang memerankan orang tuanya dengan cekatan membantunya berdiri, memberikan pelukan hangat yang penuh rasa empati."Kau luar biasa, Lucia. Sekarang pergilah, kamu penasarankan dengan kondisi aktor Arthen," bisik sang aktris senior lembut sembari mengusap bahu Lucia.Lucia tersenyum membalasnya. Sebenarnya ia agak terkejut senior itu sampai mengatakan itu. Untunglah sepertinya dia hanya beranggapan ia khawatir karena penasaran saja. Di lokasi syuting ini, status penikahannya dengan Arthen memang masih dirahasiakan rapat-rapat dari publik dan seluruh kru. Hanya Hana, Manajer Rey, serta sang sutradara saja yang tahu fakta sebenarnya—itu pun karena Arthen terpaksa memberi tahu sang sutradara secara tertutup agar mereka berdua bisa mendapatkan izin cuti dua hari untuk acara pernik
Tatapan mata Arthen yang memerah dan sayu langsung terkunci pada wajah Lucia. Selama beberapa detik, ia hanya diam mematung dengan napas berat. Namun, sebelum Lucia sempat bersuara, Arthen tiba-tiba bangkit, menjatuhkan naskah di tangannya ke lantai, dan langsung menarik tubuh Lucia ke dalam pelukan yang teramat erat. "Arthen... ada apa? Kenapa kau menangis semalaman di sofa?" bisik Lucia terkejut. Tangannya bergerak mengusap punggung lebar suaminya yang terasa sangat tegang. Arthen tidak segera menjawab. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lucia, menghirup aroma istrinya dalam-dalam. "Naskah itu..." suara Arthen terdengar parau dan serak. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku, Lucia. Bahkan jika itu hanya sebuah peran di depan kamera." Lucia melirik ke arah bundelan naskah yang tergeletak di lantai, terbuka tepat pada halaman adegan konflik pertengahan episode. Rasa haru seketika membuncah di dadanya. "Itu hanya
Suara deru mesin mobil akhirnya mati saat kendaraan mewah itu terparkir sempurna di basement apartemen baru mereka. Keheningan malam yang pekat menyelimuti kabin. Arthen menoleh ke samping, menatap Lucia yang masih terlelap dalam posisi yang sama, kepalanya bersandar lelah pada kaca mobil dengan napas yang teratur dan halus. Gurat-gurat kelelahan yang samar di wajah cantik istrinya memicu rasa bersalah sekaligus luapan kehangatan yang asing di dada Arthen. Pria itu melepas sabuk pengamannya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Ia turun dari mobil, melangkah memutari kap, lalu membuka pintu di sisi penumpang dengan gerakan yang amat hati-hati. Tubuh Lucia yang ringkih dan lelah itu langsung diangkatnya ke dalam dekapan hangatnya. Kepala Lucia terkulai pasrah di dada bidang Arthen, refleks mencari kenyamanan di sana tanpa sekali pun membuka matanya. Arthen membawa Lucia melewati lift privat menuju penthouse baru mereka. Begi
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah tirai kelambu suite pengantin perlahan membangunkan Lucia dari tidur nyenyaknya. Ketika ia mengerjalkan mata, rasa hangat langsung menyergap kulitnya. Sepasang lengan kekar milik Arthen masih melingkar protektif di pinggangnya, mengunci tubuh Lucia erat-erat di bawah selimut tebal yang menyelimuti mereka berdua. Lucia tersenyum tipis, menatap wajah tidur Arthen yang tampak begitu damai tanpa gurat ketegangan yang biasa pria itu tunjukkan saat sedang sibuk bekerja. Perasaannya juga terasa lega melihat pria yang kini sepenuhnya menjadi miliknya secara sah. Meskipun ada perasaan tak menyangka juga jika pria ini dulunya pernah sangat ia benci. Lucia hampir terkekeh memikirkannya. ‘Mengingatnya memalukan sekali.’ Namun ditengah pikirannya. saat Lucia melirik jam digital di atas meja nakas yang menunjukkan pukul lima pagi, helaan napas pasrah pelan-
Udara di area parkir terasa membeku secara mendadak. Lucia masih terpaku di balik mobil boks, jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging menyakitkan. Kalimat Arthen di telepon tadi terus menggema di kepalanya. Wanitaku... meninggalkannya... penguntit...Arthen mem
Di dalam van hitam yang merayap pelan menembus kerumunan, Lucia duduk dengan jemari yang saling bertaut erat. Sesekali ia membuang napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang sejak semalam tidak bisa diajak kompromi. "Jujur saja, Hana... semalaman aku sulit sekali tidur
Arthen berdiri di balkon kamarnya, ponsel menempel di telinga dengan raut wajah yang lebih dingin dari angin laut malam itu."Cari tahu semua hal tentang Martin. Keluarganya, sekolahnya, sasana tinjunya, hingga detail bagaimana dia bertemu Lucia pertama kali," perintah Arthen tanpa basa-
Arthen tidak langsung kembali ke dapur setelah Lucia membawakan hidangan untuk Martin. Pikirannya terus berputar pada getaran halus di tangan Lucia dan raut pucat yang tidak bisa disembunyikan wanita itu. Namun, lebih dari itu, kalimat Martin di meja tadi masih terngiang jelas di telinganya, menghu







