LOGINMy mother-in-law, Teresa Hawke, said she was trapped inside her burning villa. I called my husband, Asher Jensen, begging him to save her. But he was too busy at some bar, flirting with his childhood sweetheart, Melanie Lanner. It wasn't until I begged him, over and over, that he finally went to save Teresa. But Melanie was snatched from that same bar, tortured, killed, and dumped. He acted like none of it mattered until I got pregnant. Then out of nowhere, he threw it all back on me, saying it was my fault. Asher pulled every string he could to bankrupt my family, driving Mom and Dad to leap to their deaths. Then he rounded up a gang of violent psychopaths and threw me in with them. I begged again and again, but he just watched me with that dead stare. "You'll suffer like Mel did before she died! She left this world in agony. Why should you get to live? That's not fair." 99 stab wounds—that was how many it took before I finally bled out and died. And then, I woke up, right back on the day Teresa screamed for help from inside that burning villa.
View MoreDi kamar yang sunyi dan remang, kehangatan malam terasa menekan, membungkus mereka dalam suasana yang berat dan penuh ketegangan. Aroma parfum lembut bercampur dengan keringat, menciptakan hawa yang hampir menyesakkan. Tirai setengah terbuka membiarkan sinar bulan samar menerobos masuk, menyoroti seprai yang kusut di atas tempat tidur, yang kini menjadi saksi pergulatan fisik dan emosional di antara mereka.
Tubuh Anya bergetar halus di bawah Valdi, mengikuti irama yang telah berlangsung terlalu lama. Matanya terpejam rapat, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya, meskipun bibirnya terkatup rapat. Setiap gerakan Valdi terasa seperti beban yang semakin berat, mendorongnya ke titik di mana ia tak sanggup lagi bertahan. Anya mulai menggelengkan kepalanya perlahan, seolah menolak kenyataan yang tak bisa ia hindari.
"Cukup, Valdi... cukup..." bisiknya, suaranya terdengar serak dan penuh dengan keputusasaan.
Valdi yang berada di ambang puncak kenikmatan, hampir tidak mendengar bisikan Anya di tengah-tengah derasnya sensasi yang meluap dalam dirinya. Namun, gerakan kepala Anya yang menggeleng perlahan menarik perhatiannya. Dia melihat Anya dengan pipi yang sudah basah oleh air mata, kepalanya masih bergerak, seolah memohon agar semuanya berhenti.
Anya menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang tak bisa lagi dia bendung. Kedua tangannya mengangkat sedikit, seolah ingin mendorong Valdi menjauh, namun kekuatan itu dengan cepat memudar dalam kelelahan yang mendalam.
"Tolong... cukup," suaranya kini lebih jelas, namun masih diwarnai isak yang tertahan.
Namun, Valdi terlalu tenggelam dalam hasratnya untuk sepenuhnya menyadari kehancuran yang dia sebabkan. Detik-detik terakhir itu terasa seperti keabadian bagi Anya, yang hanya bisa menunggu, dengan perasaan pasrah, sampai semua ini berakhir.
Setelah dua jam bercinta, Valdi mencapai puncaknya dengan erangan yang menggema di seluruh ruangan. Tubuhnya menggigil dalam kenikmatan yang meluap, sementara di bawahnya, Anya terbaring dengan tubuh yang lelah, bergerak tanpa semangat mengikuti irama yang telah terlalu lama menuntutnya. Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya, membasahi pipinya yang dingin.
Setiap sentuhan Valdi terasa seperti beban yang tak tertanggungkan, dan setiap desahan adalah pengingat akan jarak yang semakin lebar di antara mereka. Anya berusaha memenuhi kewajibannya sebagai istri, namun hatinya menjerit dalam diam, terperangkap dalam lingkaran yang tak kunjung usai. Tangisnya tak bersuara, hanya air mata yang membasahi bantal, menciptakan pola keputusasaan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang merasa terjebak.
Setelahnya, Valdi merebahkan diri di samping Anya, menghela napas panjang saat tubuhnya mulai rileks di atas kasur. Tapi Anya, dengan hati yang berat, segera berguling menjauh, memunggungi Valdi, membiarkan air matanya jatuh tanpa henti.
"Aku nggak bisa lagi, Valdi," suaranya pecah dalam keheningan, menyuarakan beban yang lebih berat daripada sekadar kata-kata.
Valdi menoleh, meski dalam hatinya dia sudah tahu.
"Maksudmu...?" tanyanya dengan suara yang lebih lelah daripada bingung.
Anya menghela napas panjang, suaranya terdengar getir dan penuh kelelahan.
"Ini bukan pertama kalinya kita bicara soal ini. Aku sudah coba, Valdi. Aku benar-benar sudah berusaha. Tapi aku nggak bisa lagi. Setiap malam rasanya seperti siksaan, bukan cinta."
Dia menoleh, menatap Valdi dengan mata yang sembap dan penuh luka.
"Aku udah capek. Bukan cuma tubuhku yang nggak sanggup lagi, tapi juga hatiku. Aku mau cerai."
Valdi terdiam, kata-kata Anya menembus sisa-sisa pertahanannya yang sudah lemah. Dia tahu keinginannya yang tinggi sering kali tak bisa dikendalikan, dan Anya selalu mengeluh tak mampu mengimbanginya. Tapi dia tak pernah membayangkan bahwa itu akan menghancurkan pernikahan mereka.
"Maaf, Anya. Aku tahu ini berat... Aku tahu aku minta terlalu banyak..."
Anya menutup matanya, menahan lebih banyak air mata yang ingin tumpah.
"Aku butuh keluar dari ini, Valdi. Aku nggak bisa terus merasa seperti ini, terjebak dalam sesuatu yang nggak lagi membuatku bahagia. Ini harus berakhir."
Valdi terdiam, rasa sakit mengiris hatinya saat menyadari bahwa ia mungkin akan kehilangan wanita yang pernah menjadi cinta sejatinya. Di tengah keheningan yang mencekam, Valdi menyadari bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.
****
Valdi duduk di kursi tunggu rumah sakit, tangannya memijit pelipis yang berdenyut. Pikiran dan perasaannya masih berkecamuk, dibayangi proses perceraian yang baru saja berakhir. Valdi tidak menyangka di usianya yang baru menginjak 32 tahun dirinya sudah menjadi seorang duda.
Sejak Anya meninggalkannya, rumah terasa kosong, dan kenangan yang pernah manis kini menjadi pahit. Namun, hari ini, pikirannya harus terfokus pada Ibu Retno—pembantu yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari dua puluh tahun.
Ibu Retno, yang selalu setia melayani keluarga Valdi, kini terbaring di rumah sakit, kondisinya semakin memburuk akibat COVID-19. Valdi merasa ada beban tambahan di hatinya, seolah-olah kehilangan orang yang setia mendampinginya hampir sepanjang hidup. Pikirannya masih terpecah antara rasa bersalah dan kesepian yang menggerogoti sejak perceraian, ketika sosok yang tak terduga menarik perhatiannya.
Langkah-langkah ringan mendekat, dan Valdi menoleh, melihat seorang wanita paruh baya yang tampaknya kerabat Ibu Retno, diikuti oleh seorang gadis muda. Saat pandangannya bertemu dengan gadis itu, jantung Valdi seolah berhenti sejenak. Gadis itu adalah Mayang, anak Ibu Retno, yang sekarang sudah berusia 18 tahun.
Valdi teringat saat pertama kali bertemu Mayang, seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang pemalu dan pendiam. Tapi kini, di depannya berdiri seorang wanita muda yang telah tumbuh menjadi sangat menawan. Wajah Mayang cantik, dengan mata besar yang berkilauan, dan tubuhnya telah berkembang menjadi bentuk yang menggoda. Namun, yang paling mencolok adalah kesan lugunya yang luar biasa. Meski penampilannya telah matang, kepolosan itu masih terpancar jelas dari cara dia menunduk malu-malu dan senyum tipis yang muncul di bibirnya.
"Selamat sore, Om Valdi," sapanya dengan suara lembut, nyaris berbisik. Senyum yang dulu terkesan kekanak-kanakan kini lebih halus, namun tetap menyimpan kehangatan dan kepolosan yang sama.
Valdi menatap Mayang, senyum manis dan polosnya seolah-olah tak menyadari badai yang sedang berkecamuk dalam diri Valdi. Dalam pikirannya, Valdi merasakan pergulatan yang semakin intens—dorongan liar yang tak bisa dia redam, hasrat yang semakin sulit untuk dikendalikan.
Dia begitu dekat... begitu polos... pikir Valdi, merasakan adrenalin memacu lebih cepat dalam nadinya. Aku tahu ini salah, tapi kenapa aku tidak bisa berhenti membayangkannya?
Valdi menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari sosok Mayang. Setiap gerakan gadis itu, setiap senyum kecil yang dia berikan, seolah-olah menarik Valdi lebih dalam ke dalam jurang keinginan yang tidak seharusnya.
Dia adalah milikku, dia harus menjadi milikku... pikirnya, hampir tak percaya dengan dorongan yang kini mendominasi pikirannya.
Bagaimana caranya? benaknya terus berputar, mencari cara,
Bagaimana aku bisa mendapatkan dia tanpa dia menyadari niatku?
After the divorce, I took Mom and Dad to unwind on a private island overseas.When word got around that Asher's wedding back home was coming up, Mom started getting uneasy. She thought my marriage to Asher had ruined my future.But I didn't care. I just told Mom and Dad to relax and watch how things played out.And sure enough, within days, new rumors started swirling. Asher was calling off the wedding, and Melanie had confronted him by the shore, demanding he marry her.Asher had finally learned the truth.Inside the file I'd handed him was the investigation report on the fire's cause. The storage room curtains had caught fire, setting the clutter inside ablaze and sparking the whole blaze.And the attic, which almost no one ever visited all year, had its window shattered by a rock someone threw. It was clear beyond question that this was arson.The police combed through the surveillance footage and tracked down the man who'd smashed the glass. After being questioned, he confes
Eric pushed himself up slowly, then staggered over to Teresa's portrait and sank to his knees, his apologies spilling out in a flood."Teresa, I failed you. I shouldn't have been drinking that night. I shouldn't have fallen for Ash's bullshit about you just faking it. You died in agony because of me! It's all my fault. If I'd gone to save you, would you still be alive?"His eyes were bloodshot from crying as he suddenly jabbed a finger at Melanie, his voice raw with fury as he launched into a fierce tirade."It's all because of her! Ash, Teresa never wanted you two together. I said from the start that forcing a relationship with her would only bring trouble. And now look at what's happened."If Teresa had agreed to your relationship, she'd have died even worse than this. She hasn't even been gone a full day, and Melanie's already sniffing around her estate? She's not even human!"Melanie recoiled behind Asher, biting her lip as tears welled up in her eyes."Ash, how can Eric say
Asher tapped the divorce agreement on the table, then looked up with a scoff."Valerie, my mom's gone. No one's here to shield you now. You asked for this, so don't come crawling back when you regret it. Once it's done, there's no undoing it."Mom and Dad sat in the crowd, stunned into silence the moment they heard I was going through with the divorce.They used to say that since we'd have to keep crossing paths, a divorce would only fuel the gossip, so I should just hold on and endure it.But this time, they showed up at the funeral and saw Asher flaunting Melanie right out in the open and the whispers getting worse.That was when Dad slammed his hand on the table."Fine. Get the divorce! We never cared about being in-laws with their family anyway. And don't act like you're doing us a favor! You really think Val doesn't have other options?"In my past life, Asher stopped at nothing to destroy my family, waging war on us both in the open and behind the scenes, all to avenge Mela
When I arrived home, I noticed the lights were still on. One look at the garage told me Asher was back early, and I could hear voices coming from inside.The moment I opened the door, a blast of strong perfume hit me. Then I looked down. A pair of high heels sat neatly on the doormat.Melanie was sprawled out on the couch in the living room, wearing my silk nightgown. The moment she heard the door open, she straightened up slightly, a flash of surprise crossing her face.I gave her a slow once-over, my tone cold. "Do you really have to take everything that's mine? Even my nightgown?"Her face crumpled. She glanced at Asher, who'd just stepped out of the kitchen, her teeth sinking into her lip, eyes glassy with unshed tears.Asher could never resist that look. He walked straight toward me, positioning himself between us like he was her shield."Valerie, Mel's drunk, so I brought her home. If you've got a problem with that, take it up with me. Yeah, I ignored your calls today, but
Asher muttered under his breath, shooting me a venomous glare."This is all fake, isn't it? You hired someone to fake this! A body burned this badly could be anyone! My mom's still out there. I know she is!"I looked at him with quiet pity, then reached over and pulled the white sheet back over Te
Oliver finally got through to Asher, only to hear Melanie's voice instead."Oliver, what's taking you so long to stop Valerie? Don't tell me you got lost," she teased, her syrupy laugh curling through the line. "Everyone's waiting, you know.""Put Asher on, Melanie. Something might've happened wit
I arched a brow, a smirk tugging at my lips."Oliver, I've spelled it out for you. If you're really doing this for Asher, I hope you're prepared to clean up the fallout."He didn't call my bluff. After a beat, he sank into the back seat with a heavy thud."Fine, Valerie, you win. I never thought
The pain crashed into me like a tidal wave. I felt hollow, like the wounds had torn right through me, leaving nothing but air.Instinctively, I clutched my stomach, and somehow, everything around me sharpened. A low buzzing filled my ears.It was my phone, rattling violently against the table. Ter












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews