Share

8~BC

Penulis: Kanietha
last update Tanggal publikasi: 2025-09-03 19:07:18

Cinta sontak berdiri begitu melihat Alma melangkah masuk ke ruang kerja Bias, disusul pria itu di belakang.

Satu jam sebelumnya, Cinta sudah lebih dulu tiba di Firma Manggala. Tidak lama setelah menunggu di lobi, seorang resepsionis menghampiri dan memintanya naik ke ruangan Bias.

“Pagi, Tan—”

“Duduk.”

Alma langsung memotong sapaan itu, menunjuk ke arah sofa di belakang Cinta. Dengan tenang dan percaya diri, ia mengambil tempat di sofa panjang di samping Cinta.

Sementara itu, Bias tanpa banyak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (8)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
wajar cinta mulai balas, udah lama bgt dia ditindas
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
alma de best, bias yg terlalu bod0h percaya sama manipulasi cia dahal yg menderuta itu cinta nanti pas tau faktanya bakal nyesel kamu bias
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
mama alma keren banget loohh....dia ga bela anaknya yg salah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bias Cinta   BonChap~17

    “Waaah! Dunia ini ternyata beneran sempit.” Dinda memangku wajah dengan satu tangan, sambil mengaduk es cappucino di hadapan dengan sedotan. “Septy, Farhan, Noah. Ckckck!”Setelah mendengar penuturan Cinta, akhirnya Dinda mengerti, mengapa ekspresi Cibi berubah ketika bertemu Septy. “Tapi tau nggak.” Dinda meringis dan tertawa kecil. “Tadinya aku sempat ngira Cibi itu cemburu sama Septy. Biasalah, lagi cinta monyet ke Mas Nononya.”Cinta langsung melepas tawa yang sama. “Ya nggak salah juga. Soalnya umur-umur segitu emang masuk masa puber. Apalagi anak sekarang, dewasanya cepet banget.”“Hm.” Dinda menyeruput minumannya sebentar. “Nggak usah ngomongin Cibi, lihat aja Niel sama Bita. Kemarin-kemarin Niel sudah pesan, pokoknya nanti kalau SMP, sekolahnya mau sama Bita.”Tawa keduanya kembali pecah. Membahas perihal anak-anak, memang tidak akan pernah ada habisnya. “Eh, lanjut ngomongin Noah sama Septy bentar,” ujar Cinta kembali ke topik pembicaraan awal. “Mereka berdua itu, pacaranny

  • Bias Cinta   BonChap~16

    “Nggak usah bicara,” larang Cinta ketika melihat tangan Kiano baru saja terangkat. Ia menduga, pria itu hendak melepas masker oksigen yang terpasang di wajahnya. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, Cinta menyadari banyak perubahan pada Kiano. Rambut yang dulu hitam kini telah memutih. Sementara guratan keriput di wajahnya, menjadi saksi bisu atas waktu yang terenggut oleh dinginnya dinding penjara.“Cukup dengarkan,” lanjut Cinta yang duduk di samping ranjang pasien. “Aku datang ke sini, cuma untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang anak. Bagaimanapun juga, Bapak tetap papa kandungku dan aku nggak bisa hapus kenyataan itu sampai kapan pun.”Cinta menarik napas panjang sebentar. “Selama ini, aku benar-benar belajar untuk ikhlas dan memaafkan,” lanjutnya dengan dada yang mulai terasa sesak. “Tapi, itu bukan berarti aku sudah melupakan semua luka yang pernah terjadi, karena semua masih ada di sini.”Cinta menyentuh dadanya sendiri. Ada jeda panjang yang menyesakkan ketika bayang masa

  • Bias Cinta   BonChap~15

    “Karena pagi ini kita ketambahan Mas Nono, Bu Denok, sama Pak Aspi, jadi kita bagi dua,” ujar Dinda sambil menunjuk sebuah mobil sedan dan MPV yang sudah siap membawa mereka ke Car Free Day.Setelah merayu Cinta dan Alma tadi malam, akhirnya ketiga bocah dari keluarga Manggala diperbolehkan menginap di kediaman Aryan. Rumah yang biasanya hanya diramaikan oleh ocehan Nia dan pertengkaran kecilnya dengan Niel, semalam berubah menjadi lebih riuh. “Bita sama aku,” ujar Niel cepat sambil menarik tangan Bita.“Aku sama Mas Niel!” timpal Nia langsung berdiri di samping sang kakak dan memeluk lengannya. “Ian sama Kak Cibi!” serunya sambil memeluk sang kakak yang sedang menguap. Terlihat jelas jika Cibi masih mengantuk, karena masih terlihat malas. “Bian sama Mami, ya,” ujar Noah langsung berbisik pelan di belakang Dinda, “Bisa sakit kepalaku kalau dengar dia ngoceh sepanjang jalan. Batrenya nggak habis-habis.”Dinda langsung berbalik dan geleng-geleng. “Itung-itung latihan punya anak. Mung

  • Bias Cinta   BonChap~14

    “Kata Dokter, Pak Kiano kena serangan jantung,” ujar Cinta memberi tahu Altaf apa yang telah disampaikan dokter padanya. Altaf menggeleng tak percaya, “Papa nggak punya riwayat penyakit jantung.” Setelah mendapat kabar bahwa Kiano dilarikan ke rumah sakit, di tengah perjalanan Cinta segera menghubungi Altaf. Ia meminta kakaknya itu menyusul ke rumah sakit dan menemaninya menemui sang papa.Namun, ada satu hal yang secara tegas Cinta ungkapkan. Untuk sementara, Altaf diminta tidak memberi tahu Briana, Ciara, maupun Farhan. Setidaknya, sampai mereka mengetahui bagaimana kondisi Kiano yang sebenarnya.Sementara itu, Cibi, Bita, dan Bian tetap Cinta titipkan di kediaman Aryan bersama Dinda. Ia tidak terlalu mengkhawatirkan ketiga anaknya itu, karena Dinda sudah berjanji akan mengantar mereka pulang ke kediaman Manggala setelah semuanya selesai bermain. Bahkan, Dinda awalnya menawarkan agar ketiga anak Cinta menginap di kediaman Aryan saja. Akan tetapi, ia tidak ingin merepotkan karena

  • Bias Cinta   BonChap~13

    “Mas Nono!” seru Bian begitu melihat pria itu menuruni tangga. Ia langsung melambai riang, memanggil pria itu agar mendekat.“Mas!” Nia pun ikut memanggil, tetapi dengan nada kesal. “Bian resek! Aku, kan, mau ikut Niel sama Bita, tapi nggak dibolehin sama Bian.”“Mas Niel, sama Kak Bita,” ucap Noah meralat sambil menunjuk Nia, memperingatkan adiknya agar bersikap sopan. “Yang bener manggilnya.” Sambil terus berjalan menuruni tangga, telunjuk Noah beralih pada Bian. Bocah ceriwis yang “baterainya” hampir tidak pernah ada habisnya. “Kenapa kamu nggak bolehin Kak Nia pergi?”“Dak ada.” Bian menggeleng cepat. “Ian bilang Kak Nia di sini aja. Bukan dak boleh pelgi.”Noah menarik napas dalam-dalam. Kalau tahu para bocah dari keluarga Manggala akan berkunjung ke rumah hari ini, ia pasti sudah kabur sejak siang dan baru muncul lagi menjelang malam. Setidaknya, dengan begitu Noah bisa terhindar dari keramaian, pertanyaan-pertanyaan aneh, dan tingkah mereka yang tidak pernah kehabisan energi.

  • Bias Cinta   BonChap~12

    “C … a, n … Ca … n.” Bian menoleh cepat pada Cibi, karena belum lancar membaca nama yang berada di sampul buku tulis sang kakak. “Apa bacana, Kak? Ca … n?”“Can!” jawab Cibi sambil mempersiapkan buku-buku untuk pelajaran esok hari.“Ooo.” Bian mengangguk-angguk, lalu kembali mencoba membaca suku kata berikutnya. “T …i, k … a. T sama i itu, ti. K sama a, itu Ka.” Bian kembali menoleh cepat pada Cibi. “Kok … Can … ti, ka?”Bian menggaruk kepala. Kembali menatap nama panjang yang berada di sampul buku tulis kakaknya. Mencoba membaca kata setelah itu. “Z … a, h. Bacana Za … h, apa, Kak?”“Zah,” jawab Cibi lagi. “Habis itu, r sama a, ra. Jadi dibaca Zahra. Cantika Zahra terus habis itu Manggala,” ujarnya tidak sabaran.“Ini buku sapa?” tanya Bian mulai sedikit bingung. Ada nama Manggala yang sama seperti namanya, tetapi sisa nama yang lainnya terasa asing.“Bukuku,” jawab Cibi mengambil buku tulisnya dari tangan Bian, lalu meletakkan di rak buku. “Tapi napa namana Cantik … Cantik apa tadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status