LOGINCarrie Dalton had to marry her boss, Shane Blackwood, the CEO of Blackwood Marketing Incorporated as insisted by his mother; the family matriarch, Eleanor Blackwood. Not knowing she was going to be a pawn in a dangerous corporate war…caught between family loyalties and a love she had to fight for. Yet, despite his hostility, Carrie fell for the man who refused to see her worth. For several months, she endured his indifference until a storm made him realize how much he actually loved her. But a cruel scheme shattered everything a few months later. She was framed…and cast her out. Brokenhearted, Carrie disappeared; pregnant and alone.
View More“Berapa harganya?” tanya seorang pria bertubuh kekar yang kini sedang berada di sebuah rumah sederhana yang terletak di daerah Bandung.
“Dua M,” jawab seorang wanita paruh baya dengan lantang. “Bibi mau jual apa? Bukannya semua tanah dan sawah peninggalan Bapak sudah habis dijual buat biaya kuliah Diana?” tanya seorang gadis berambut panjang yang baru saja keluar dari kamarnya. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu bernama Tamara Mustika. Ia adalah seorang yatim piatu, ibunya meninggal sejak ia duduk di bangku SD, sedangkan ayahnya meninggal ketika ia kelas tiga SMP. Sejak itu juga, Tamara tinggal bersama dengan adik dari ayahnya yang bernama Pratiwi. Namun, sejak tinggal bersama bibinya yang berstatus sebagai janda itu, Tamara malah diperlakukan layaknya seorang pembantu. Semua harta peninggalan kedua orang tuanya sudah habis dijual oleh Pratiwi dengan alasan biaya hidup Tamara. Padahal, semua uang itu ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan ia dan juga putrinya yang bernama Diana. Usia Tamara dan Diana hanya beda satu tahun saja, Tamara lebih tua dari Diana. Akan tetapi, sejak lulus SMA, Tamara tidak melanjutkan pendidikannya. Harta peninggalan kedua orang tuanya yang seharusnya digunakan untuk biaya pendidikan Tamara, malah diambil alih oleh Pratiwi untuk biaya kuliah Diana. Hingga saat ini, semua harta peninggalan orang tua Diana habis, sementara Diana butuh biaya besar untuk melanjutkan kuliah sampai selesai serta ikut kursus modeling. Karena gadis itu bercita-cita ingin menjadi model dan artis. Sehingga Pratiwi harus mengeluarkan uang banyak untuk membiayai putrinya agar bisa menggapai cita-citanya itu. Diana selalu merasa lebih cantik dari Tamara, bahkan gadis itu tak segan-segan menghina Tamara. Terlebih lagi, Diana memiliki kulit yang lebih putih dari Tamara. Padahal, Tamara adalah gadis yang manis, ia memiliki rambut panjang lebat dan sedikit bergelombang, Tamara juga memiliki kulit sawo matang dengan bola mata bulat, alis tebal tertata rapi, bulu mata lebat, serta hidung yang tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu pesek. Tubuhnya tinggi ramping, ia memiliki lesung pipi jika sedang tersenyum. Akan tetapi, Diana selalu meledek Tamara dengan sebutan dekil, ikal, dan juga kerempeng, karena ia sendiri memiliki tubuh yang cukup berisi. Saat ini, Tamara berdiri di depan pintu kamarnya, ia melihat ke arah ruang tamu yang terdapat dua orang pria bertubuh kekar yang sedang berbicara bersama dengan bibinya dan juga Diana. “Ini orangnya?” tanya seorang pria bertubuh kekar sambil menunjuk ke arah Tamara. “Iya, dia adalah gadis yang lugu dan bodoh. Dia akan menurut saja diperlakukan seperti apapun,” jawab Tiwi dengan wajah angkuh. Tamara yang mendengar itu, sontak membulatkan kedua matanya. “Maksud Bibi apa? Bibi mau jual rumah ini?” Tamara masih terlihat bingung. “Diam jangan banyak bicara! Saya akan menjual kamu kepada mereka!” jawab Tiwi dengan lantang. “Apa? Bibi sudah gila?” Tamara benar-benar terlihat syok. “Kamu yang gila! Saya sudah capek mengurus kamu dari dulu sampai sekarang. Ini saatnya saya melepas kamu. Anggap saja, ini adalah bentuk balas Budi kamu kepada saya, karena saya telah mengurus kamu selama ini. Silahkan bawa dia pergi dari rumah ini. Saya jual dia kepada kalian dengan harga dua M!” tutur Tiwi dengan wajah jutek dan nada bicara yang terdengar angkuh. “Dua M terlalu mahal untuk gadis desa seperti ini. Kami akan membayar dengan harga satu koma lima M, bagaimana?” Pria bertubuh kekar itu menawar. “Baiklah, tidak masalah turun lima ratus juta, yang penting dia laku.” Tiwi bersedekap dada. “Baikkah, kami sudah menyiapkan uangnya.” Pria berkepala botak itu memberi isyarat kepada anak buahnya yang berdiri di depan pintu. Tak lama kemudian, pria tersebut masuk ke dalam rumah sambil membawa dua koper uang. “Ini uangnya!” ucap pria itu seraya membuka dua koper yang berisi uang tunai. Seketika kedua mata Pratiwi dan Diana terbuka lebar, bahkan bola mata kedua orang itu hampir keluar dari tempatnya saat mereka melihat tumpukan uang itu. “Banyak banget uangnya, Bu,” ucap Diana dengan kedua mata yang hampir tak berkedip. “Iya, Sayang. Kamu bisa langsung jadi artis terkenal dengan uang ini,” balas Pratiwi dengan bangga. “Sudah deal ya! Gadis ini akan segera kami bawa.” Dua orang pria bertubuh kekar mendekat ke arah Tamara yang masih mematung di depan pintu kamarnya. “Iya, silahkan bawa dia!” Pratiwi mempersilahkan dengan senang hati. “Nggak! Aku nggak mau dijual. Bibi … Bibi sedang bercanda kan? Bibi nggak mungkin menjual aku.” Tamara berusaha melakukan penolakan. “Kalian, cepat bawa dia ke dalam mobil! Jangan lupa, ringkus kaki dan tangannya. Matanya juga ditutup!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Mereka terus mendekat ke arah Tamara yang akan melarikan diri lewat pintu belakang. Namun, kedua orang bertubuh kekar itu segera menahannya dan meringkus kaki serta tangan Tamara sampai membuat gadis itu tidak bisa bergerak. “Tolong … tolong jangan bawa aku! Bibi … tolong aku Bibi … Bibi boleh mempekerjakan aku seperti apapun, tapi tolong jangan jual aku ke mereka, aku takut Bi …” teriak Tamara sambil menangis kencang. Ia benar-benar merasa takut. Namun, Pratiwi dan Dania hanya menatapnya dengan wajah angkuh. Kedua orang itu masih duduk santai di atas sofa sambil menghadapi tumpukan kertas berwarna merah yang membuat ibu dan anak itu lupa segalanya. Tamara diseret paksa dan dimasukkan ke dalam sebuah zeep berwarna hitam. “Tolong … Bibi … Diana … tolong aku …” teriak Tamara yang kini sudah berada di dalam mobil. Air mata langsung mengalir deras, ia menatap nanar ke arah rumah yang ditempati oleh Pratiwi dan Diana. Sebenarnya itu adalah rumah Tamara, rumah peninggalan ayahnya dan juga rumah masa kecilnya bersama dengan kedua orang tuanya. “Bapak … Ibu …” teriak Tamara dengan suara yang mulai terdengar serak, karena ia telah beberapa kali berteriak. “Tutup mata dan mulut gadis itu!” titah seorang pria yang langsung dilaksanakan oleh anak buahnya. Kedua mata Tamara ditutup dengan sebuah kain tebal, begitupun dengan mulutnya. Gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa meringkuk di kursi belakang. Dalam hatinya, Tamara meminta kepada sang kuasa agar tetap melindunginya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, tetapi dalam benaknya ia berpikir anggota tubuhnya akan diambil. Begitu yang ada di dalam pikiran Tamara, sesuai apa yang sering ia dengan tentang jual beli manusia. Tamara hanya bisa pasrah dan berdoa. Kedua matanya tak bisa melihat, entah kemana arah mobil yang kini sedang ditumpanginya itu melaju. Tamara menangis dalam diam, air matanya yang keluar langsung diserap oleh kain hitam yang menutupi kedua mata indahnya itu. Tamara tak bisa melihat apapun, semuanya benar-benar gelap. Ia merasa perjalanan itu cukup jauh, bahkan kedua tangan dan kakinya yang diikat kuat, semakin terasa sakit. ‘Ya Tuhan, mungkinkah ini akhir dari hidupku?’ batin Tamara sendiri. Jika memang ini sudah waktunya ia meninggalkan dunia, Tamara akan jauh lebih tenang daripada ia harus melewati siksaan dari manusia kejam itu. Karena selama ini, di dalam hidupnya tidak ada yang spesial, ia hanya dijadikan babu oleh bibinya sendiri. Babu tanpa upah, begitu sebutannya bagi Tamara. Sudah sangat lama ia diperlakukan seperti itu, hal yang membuat Tamara untuk tetap semangat melanjutkan hidup, yaitu ia yakin suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seseorang yang menjadikannya spesial. Namun, Tamara sendiri tidak tahu siapa orang itu, yang jelas ia pernah beberapa kali bermimpi didatangi oleh sosok pria tampan.CARRIE Two weeks after Leo’s birthday, life had gradually slipped back into its gentle rhythm; work, home, laughter-filled evenings with my big and little boys, and the quiet comfort of routine. So when Anders called that Saturday afternoon, I didn’t think much of it. His voice was warm, steady, the same familiar tone he always used.“Carrie,” he said, “please be ready by seven. I’m taking you out tonight.”I smiled to myself. It wasn’t unusual for Anders to suggest a spontaneous dinner, especially after a long work week. He, Emmett, and Kwame had been attending a workshop all day, and I assumed he simply wanted a quiet evening with me. So I dressed the way I always did when he took me somewhere special, slipping into a soft champagne-colored dress that made me feel elegant without trying too hard. When he came for me he looked effortlessly handsome in a navy blazer and crisp shirt. His smile warmed me instantly.“You look breathtaking,” he whispered, his eyes twinkling.I flushed,
SHANEThe world came back in pieces. The slick heat of her skin under mine. The heavy scent of sex in the air. The ache in my muscles. But the silence inside my head was already breaking, shattered by the echo of Anders' low chuckle, the phantom brush of his hand on Carrie’s back. I pulled out of Shelby slowly, my softening cock dragging against her swollen flesh. She made a small, satiated sound, but I was already moving, already consumed.My arms hooked under her knees and behind her shoulders before she could even catch her breath. I lifted her off the sofa. She gasped, her arms looping instinctively around my neck, her body pliant and limp from her climax. “Shane?” Her voice was a husky whisper against my throat. I didn’t answer. I just carried her the few feet to the open space of carpet in front of the cold fireplace and set her down on all fours.The position was stark, vulnerable. Her back arched, the pale, perfect curves of her ass on full display for me. The sight should hav
SHANE My mind was so much coiling in tension by the time I finished up in my office later that day at the Blackwood Marketing headquarters. It was a physical ache, a hot coal lodged just under my sternum. I knew right then that I had to do something about it. And the only person who could douse the tension was Shelby. I called her and told her I was coming.I didn’t ring the bell at Shelby’s townhouse. I just pushed the door open. The familiar scent of her apartment hit me, soft and welcoming. It made me furious. I needed something harsher. Something real.Shelby appeared from the kitchen, a smile already forming on her pretty, practiced face. “Shane, you’re early. I was just…” She stopped, the smile faltering as she took me in. I knew what she saw: tie loose, collar undone, a wildness in my eyes that wasn’t usually there. “Shane?” she asked, her voice softer, cautious.I didn’t answer with words. I crossed the living room in three long strides to where she was standing, I wasn't g
SHANE Board meetings were supposed to energize me.At least, they used to.The room was full by the time I walked in; sleek suits, crisp papers, polished laptops, and the subtle hum of controlled excitement. This was my company, different entirely from Blackwood Marketing. It was the baby Liam and I had built from scratch, from late nights to boardrooms, from nothing to global influence. An investment/private Equity firm; Aurion Capital. Normally, the numbers alone would have put a fire in my veins.Not today.“Good morning, gentlemen,” I said as I took my seat at the head of the long glass table.“Morning, Shane,” a few of them echoed, nodding respectfully.Liam, who worked as the CEO of Aurion slid into the seat next to mine, whispering, “We’re about to blow their minds with these numbers. Smile a little.”I tried. I really did. But the muscles refused to cooperate.The CFO stood first, tapping his tablet. “We’ll begin with the quarterly financials. It has been… exceptional.”Char
ANDERS By the time the hotel shuttle cab pulled up in front of Carrie's house later that day, the sun had gone done, it was late afternoon. Carrie and I had agreed that I would come over to have a quiet time with Leo in the evening. I stepped out, tipped the driver, and went around to pull out th
CARRIE I woke up on Saturday feeling like I hadn’t slept at all, not because I was tired, but because excitement pulsed through me before my eyes were even fully open. Leo’s first birthday. His first real celebration. The first time all the people who mattered were going to gather around him.I qu
CARRIE Saturday mornings always felt softer to me like the world took a step back and allowed life to breathe at its own pace. Sunlight slipped gently through my kitchen blinds, painting gold stripes across the countertop as Sandy and I moved around each other with the easy rhythm of friends who d
CARRIE Wednesday mornings always had a certain weight to them, but this one was heavier; brighter with possibility, sharper with responsibility. It was the first day of a new quarter, and for a station like ours, a new quarter didn’t just mean flipping to a new page on the calendar. It meant recal






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore