LOGINTOK.
Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan. Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala: “ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.” Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, jangan buka.” Bujuk Naya penuh kecemasan. Raka tidak langsung menjawab. Kepalanya dipenuhi dengan suara batinnya sendiri. Tentang aturan, loop, kamar 307, dan kalimat itu, “Besok… giliran kamu yang hilang.” Dan kalau dia tidak membuka..., apa itu berarti dia menolak “gilirannya”? Atau bahkan justru mempercepatnya? “Kalau ini bagian dari aturan…” gumam Raka pelan, “berarti gue nggak bisa cuma diam.” “Lo mau buka?” suara Naya naik terdorong rasa panik. Raka menatapnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Naya. Bukan cuma takut, tapi memohon. “Rak, jangan,” kata Naya pelan. “Gue baru inget lo…, gue nggak mau lo hilang.” Kalimat itu menusuk lebih dalam dari ancaman apa pun, membuat Raka menarik napas panjang. Satu... Dua... Tiga... Raka melangkah terus mendekat ke pintu. “Kalau gue nggak buka,” katanya pelan, “kita nggak akan pernah tahu ini apa.” “Kalau lo buka, lo bisa mati!” Naya setengah berteriak. Raka berhenti. Tangannya sudah di gagang pintu. “…gue mungkin udah mati dari dulu,” bisiknya pada diri sendiri. Klik. Pintu terbuka, perlahan. Masih tampak lorong gelap dan kosong diluar, tidak ada siapa siapa, tidak ada sosok, bahkan tidak ada bayangan sedikitpun. Hanya sebuah kartu kunci tergeletak di lantai dengan angka merah menyala, 000. Raka menatapnya selama beberapa detik. “Ini apa…” bisik Naya. Raka membungkuk mengambil kartu itu. Terasa dingin, lebih dingin dari kunci kamar biasa. Dan saat ia menyentuhnya..., ponselnya langsung bergetar, memunculkan notifikasi baru : “MENUJU LOBI DALAM 3 MENIT, TERLAMBAT = DIANGGAP HILANG.” Raka mengangkat kepala. “Lari,” Teriaknya pada Naya. “Ke mana?” “Lobi!” Mereka bergegas berlari keluar kamar dengan sekuat tenaga. Lorong pun kembali terasa berbeda lagi, lebih panjang dan gelap karena lampu mati total. Hanya cahaya merah redup dari kartu di tangan Raka yang menerangi jalan. Mereka bergerak cepat dengan napas terasa berat. “Berapa menit?” tanya Naya. Raka melirik ponsel. “Dua menit…” “Kalau nggak sampai?” Tanya Naya panik. Raka tidak menjawab. Karena mungkin saja mereka sudah tahu jawabannya. Mereka turun melalui tangga dengan cepat hingga hampir terjatuh. Suara langkah mereka menggema keras. Tapi ketika tiba ditengah tangga, Raka mendadak berhenti. “Nay…” Ujarnya pelan penuh ketegangan. “Apa lagi?!” Sahut Naya cemas. Raka menunjuk ke bawah. Tangga itu…, seakan tidak berakhir dan tidak berujung karena seharusnya mereka sudah sampai ke lantai dua, namun tampaknya tidak kunjung sampai juga hingga sekarang. Dan di bawah terlihat gelap pekat seolah tidak ada dasar. “Ini nggak mungkin…” bisik Naya. Raka menatap kartu di tangannya. Cahaya merahnya berkedip seperti layaknya penunjuk arah. Ia menoleh ke samping. Tiba tiba saja tampak sebuah jalan setapak kecil dari sisi tangga menuju ke satu pintu darurat yang tidak mereka lihat sebelumnya. “Lewat sini!” Ujar Raka tanpa berpikir panjang. Setelah dengan sigap meniti jalan setapak, mereka pun masuk ke dalam pintu. Segera tampak dihadapan mereka sebuah lorong sempit, bahkan lebih sempit dari semua lorong yang sudah mereka lalui sebelumnya. Dindingnya basah dengan bau logam semakin kuat, bau darah. Menyadari kondisi yang makin terasa tidak beres, langkah mereka pun semakin dipercepat. Satu menit, dua menit..., waktu terus berjalan. Hingga tiba tiba, di ujung lorong tampak seseorang berdiri membelakangi mereka. Diam. “Nay…” bisik Raka menyenggol Naya yang ikut berdiri terpaku. “Gue lihat…” Sosok itu perlahan berbalik dan wajahnya mulai terlihat. Raka langsung membeku seakan terpana. Itu...dirinya sendiri dengan tatapan mata kosong dan senyuman tipis dibibir. “Telat…” kata sosok itu dengan suara yang sama persis dengannya membuat Raka mundur satu langkah. “Jangan lihat!” teriak Naya. Tapi sudah terlambat. Sosok itu melangkah maju. Cepat..., bahkan terlalu cepat. Raka menarik tangan Naya. “LARI!” Mereka berbalik berlari ke arah lain dan lorong lagi lagi terasa berubah. Kini sebuah pintu misterius mendadak muncul di dinding. Pintu yang tidak ada sebelumnya. Raka lantas membuka pintu itu karena tampaknya itu adalah satu satunya jalan yang ada. Ternyata itu adalah lobi hotel dan mereka seakan terdorong masuk hingga terjatuh dengan napas terengah. Sunyi dan lampu menyala normal seolah tidak terjadi apa-apa. Raka langsung melihat ponselnya. 00:00:03 Tiga detik tersisa. “Berdiri, Nay!” bisiknya ditelinga Naya. Dan tepat saat itu juga angka mencapai nol... Kemudian pintu di belakang mereka tertutup sendiri. BRAK. Tiba tiba suasana lobi berubah seketika. Lampu meredup dan udara menjadi lebih dingin dari semestinya. Pria tua itu kembali, terlihat dibelakang meja seraya menatap mereka berdua. Tapi kali ini, Ia berdiri. “Selamat,” katanya dengan suara lebih dalam dan berat. “Check-out pertama…, berhasil.” Raka menatapnya tajam. “Apa maksudnya ini?” Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke lantai. Pandangan Raka mengikuti arah itu, lalu terdiam. Di tengah lobi ada sesuatu, terlihat seperti tubuh, terbaring tidak bergerak. Raka perlahan melangkah mendekat dengan setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.Dan saat ia melihat wajahnya..., serasa dunia berhenti berputar. Itu..., ternyata adalah dirinya sendiri. Tubuh yang terbaring itu adalah Raka dengan mata terbuka terlihat kosong. Dan lehernya tampak memar seperti bekas cekikan kuat. Naya menutup mulutnya. “Ya Tuhan…” Raka mundur. “Ini… ini bukan gue…,” Sangkalnya. Tapi tubuh itu terlihat terlalu nyata dimata mereka berdua. Terlalu detail. Bahkan bekas luka di lututnya pun sama persis. “Setiap check-out…,” kata pria tua itu pelan, “…selalu meninggalkan sesuatu.” Raka menatapnya. “Ini apa?” Pria itu tersenyum. “Kamu.” Raka merasakan kepalanya berputar. “Lo bilang gue berhasil…” “Benar.” “Terus ini apa?!” Pria itu berjalan keluar dari balik meja. Langkahnya pelan, namun setiap langkahnya menggema seperti sesuatu yang lebih besar dari manusia. “Yang keluar…” katanya, “…bukan yang masuk.” Hening. Kalimat itu jatuh seperti palu godam. Raka menatap tubuh di lantai, lalu ke dirinya sendiri, kemudian kembali ke tubuh itu. “Jadi… gue siapa?” Pria itu berhenti tepat di depannya. Dan untuk pertama kalinya, Mata pria tua itu terlihat jelas. Hitam dan kosong bagaikan tanpa dasar. “Kamu…” katanya pelan, “…yang tersisa.” Naya menarik tangan Raka. “Rak… ini nggak bener… kita harus pergi…” Raka tidak bergerak. Pikirannya kacau, sibuk mencerna kalimat : Kalau yang di lantai itu adalah “yang masuk”… Maka dia..., Apa? Salinan? Bayangan? Atau sesuatu yang lain? Tiba-tiba, tubuh di lantai bergerak sedikit. Jari jarinya berkedut, membuat Naya menjerit kecil. Raka hanya terdiam membeku. “Enggak…” Batinnya terus menyangkal. Tubuh itu perlahan duduk. Lehernya miring aneh seolah tulangnya tidak pada tempatnya. Lalu ia menatap Raka dengan pandangan kosong dan hampa, kemudian tersenyum. “Kamu… ninggalin gue lagi.” Suara itu tak lain adalah suara Raka sendiri, membuat Raka mundur terhuyung. “Ini nggak nyata…” Kemudian tubuh itu berdiri. Pelan dan goyah, namun tetap berdiri. “Lo kabur lagi…” katanya. “Seperti dulu…” Potongan memori muncul lagi dibenak Raka. Kamar, pintu, tangan kecil, tangisan. Raka memegang kepalanya. “Stop!” Jeritnya. Tubuh itu melangkah mendekat. Setiap langkah meninggalkan jejak gelap di lantai. “Lo bilang lo bakal balik…” “STOP!” Raka berteriak sembari menutup kedua telinganya. Naya menariknya. “Rak! Kita harus keluar sekarang!” Raka menatapnya untuk beberapa detik dengan perasaan bercampur aduk tak karuan. Semuanya terasa tidak nyata. Tiba-tiba, Ponselnya bergetar lagi. Notifikasi baru: “CHECK-OUT SELESAI.” “KORBAN: 1” “BERIKUTNYA: NAYA” Raka langsung menatap Naya. Naya hanya membeku. “Rak…” Tubuh di belakang mereka tertawa pelan dengan suara serak dan terdengar patah. “Sekarang… giliran dia.” Lampu lobi mati. Gelap total. Naya menjerit. Raka langsung bergerak hendak meraih tangannya. Tapi, tangan Raka hanya meraih udara kosong belaka. “NAY?!” Tidak ada jawaban. Hanya napas Raka sendiri yang terdengar. Dan dari dalam kegelapan, terdengar suara langkah, seperti berasal dari banyak orang, mengelilinginya. Lalu ada satu bisikan tepat di telinganya. “Kamu tidak bisa menyelamatkan siapa pun.” Lampu pun menyala kembali dalam sekejap. Dan Naya sudah tidak ada. Hanya Raka berdiri sendirian di tengah lobi, dengan satu kenyataan yang tidak bisa ia tolak lagi, yaitu check-out ternyata bukan jalan keluar, melainkan cara hotel itu memilih…, siapa yang akan dihapus berikutnya.Ternyata lorong itu jauh lebih sempit daripada yang mereka bayangkan seakan tidak dibangun untuk dilalui oleh banyak orang. Lorong itu lebih menyerupai jalur perawatan yang hanya digunakan teknisi ketika bangunan ini masih beroperasi.Kemudian tanpa komando apapun, Bima mengambil inisiatif untuk berjalan paling depan memimpin mereka semua. Sesekali ia menyentuh dinding beton dengan ujung jarinya, seperti seseorang yang sedang membaca peta yang tidak terlihat dengan meraba tekstur permukaannya."Aku masih ingat tekstur dindingnya," katanya lirih seolah sedang memutar kenangan masa lalu dalam benak pikirannya. "Setiap sambungan beton memiliki kode berbeda. Dulu kami sengaja membuatnya begitu agar teknisi bisa mengenali lokasi meski listrik padam." Lanjutnya lagi memberi penjelasan untuk menambah wawasan dari kelompok Raka.Sementara itu, Raka baru menyadari bahwa di beberapa titik memang terdapat guratan-guratan kecil yang tampak acak dan itu bukanlah retakan, melainkan kode yang memang
"Itu adalah aku." Suara pria berkacamata nyaris tidak terdengar dari balik konsol monitor dengan jemarinya yang tampak mulai gemetar karena takut dan gelisah.Sementara itu di luar, sosok lain yang memiliki wajah, postur, bahkan cara berjalan yang sama melangkah memasuki ruang kontrol dengan tenang dan pasti. Sama sekali tidak ada ekspresi marah ataupun rona murka di wajahnya. Dengan perlahan, ia memeriksa ruangan seperti seorang kepala divisi yang sedang melakukan inspeksi rutin. "Ruang kontrol bersih." Suara itu seungguh terdengar identik dengan milik pria berkacamata, bahkan hingga ke intonasinya sekalipun.Kemudian Raka menatap pria berkacamata di sampingnya dengan pandangan cemas, lalu menatap sosok di luar yang mirip dengan pria berkacamata itu. Raka menduga jika salah satunya pasti sudah berbohong atau keduanya mengatakan sebagian kebenaran yang sebenarnya dapat saling melengkapi satu sama lainnya.Lalu Tim Sanitasi menyebar ke seluruh ruangan, namun mereka tidak mengobrak-abr
Layar monitor kembali dipenuhi dengan garis-garis hitam, menggantikan sosok perempuan bermantel cokelat yang telah sirna menghilang begitu saja tanpa penjelasan lanjutan. Namun secarik kertas bertuliskan JANGAN PERCAYA AUDITOR masih tergeletak di meja tepat di bawah monitor, menawarkan sebuah bantuan bila itu benar, atau malah menjadi sebuah jebakan jika itu salah dan menyesatkan.Kemudian dengan segera Raka memungutnya sebelum tulisan itu juga menghilang. Ternyata memang kertas itu bukan merupakan hasil cetakan, melainkan secarik sobekan dari sebuah notulen rapat yang di bagian bawahnya terdapat cap yang sama dengan dokumen Proyek Kamar Nol.RAHASIA – HANYA UNTUK DIREKSI"Dia sengaja meninggalkan ini," gumam Naya dengan nada penuh kecurigaan.Mira yang tak mau ketinggalan, kini ikut membolak balik dan memeriksa lembaran tersebut. Di sisi belakang terdapat denah sederhana sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat meja besar dengan delapan buah kursi.Tujuh kursi ter
Gagang telepon masih berada di tangan Dito yang mulai tampak gemetar karena perasaan yang bercampur aduk tak karuan, sedangkan nada sambungnya telah menghilang beberapa saat yang lalu. Namun sespertinya tidak seorang pun berani bergerak untuk meletakkannya kembali, sehingga membuat suasana ruangan kontrol berubah sunyi. Yang terdengar hanya dengungan listrik dari monitor-monitor tua yang masih menyala redup.Kemudian Raka berinisiatif untuk memecah keheningan sekaligus mencoba menenangkan perasaan yang kacau campur aduk, "Apa dia menyebut namanya? Atau apapun yang bisa kita jadikan petunjuk?"Seperti yang bisa diduga, Dito hanya menggelengkan kepala dengan pasrah tanpa semangat. "Tidak, dia cuma bilang kalau dialah yang membatalkan Booking Terakhir, itu saja."Pria berkacamata langsung menarik kursi dan duduk perlahan dengan ekspresi wajah seperti kehilangan warna karena pucat. "Kalau itu benar, berarti masih ada anggota inti proyek yang hidup."Sera menyilangkan tangan. "Atau seseora
Rel tua itu memanjang ke dalam kegelapan. Tidak ada kabut penghalang sama sekali dan juga tanpa bisikan apapun. Yang terdengar hanyalah bunyi logam yang sesekali memuai, seolah terowongan itu masih hidup dan beroperasi meski telah puluhan tahun ditinggalkan.Dengan rasa penasaran, Raka mengangkat senter proyek menyoroti pemandangan di hadapannya. Cahayanya menyapu dinding beton yang dipenuhi nomor-nomor besar.JALUR 1JALUR 2JALUR 5Namun setelah angka lima, penomoran langsung meloncat jauh.JALUR 9"Empat jalur hilang," gumam Mira seraya menoleh ke segala arah seperti mencari jalur lainnya."Atau jalur yang hilang itu memang sengaja dihapus," sahut Sera mengutarakan pendapatnya.Sedangkan sang Pria berkacamata malah tampak diam dan tidak ikut berbicara. Ia hanya berdiri memandangi dinding sebelah kiri dengan wajah semakin pucat. "Kayaknya aku pernah ke sini."Semua kontan menoleh kearahnya."Kapan?""Aku..., nggak ingat." Pria berkacamata menekan pelipisnya berusaha untuk mengingat,
Bercak darah di lantai terasa masih hangat, namun sosok fisik Auditor telah menghilang begitu saja tanpa jejak karena tidak ada mayat ataupun bekas tubuh yang terseret di lantai. Bahkan kursi tempat ia duduk tetap berada pada posisi semula, seolah seseorang baru saja menghapus satu adegan dari kenyataan. Raka bergegas segera berlari ke dinding untuk memeriksa lebih detail. Tiga lubang kecil yang tadi terlihat ternyata bukan seperti bekas peluru. Lalu ia menyentuh salah satunya. Tepinya halus, nyaris seperti lubang yang dibuat oleh mesin presisi karena terlalu rapi."Ini bukan tembakan," gumamnya mengambil kesimpulan.Pria berkacamata ikut memeriksa dan wajahnya langsung berubah serius. "Dokumen." Katanya singkat menggumam."Maksudmu?” Raka menoleh padanya dengan penasaran."Ini alat pelubang arsip."Kini semua menoleh pada pria berkacamata."Alat pelubang?" Ulang Naya seakan kurang jelas mendengar.Pria berkacamata mengangguk dengan pasti. "Dulu dipakai untuk merusak berkas yang suda
“Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penje
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J
Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.







