LOGINKetika para pengawal istana bergerak menyerang, Jendral Huang segera mencabut pedangnya."Sreeeng!"Beberapa pengawal langsung menyerbu dari berbagai arah.Jendral Huang dengan tenang menangkis setiap serangan yang datang.Trang! Trang! Trang!Suara benturan pedang bergema memenuhi aula istana.Pertempuran sengit pun tak terhindarkan.Meski para pengawal merupakan prajurit pilihan kerajaan yang memiliki ilmu bela diri tinggi, Jendral Huang tetap mampu mengimbangi mereka.Namun...Jumlah lawannya terlalu banyak.Sedikit demi sedikit Jendral Huang mulai terdesak.Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Tiba-tiba...Matanya tertuju kepada Kaisar Zhang Ziyi yang masih berdiri memperhatikan jalannya pertarungan.Senyum licik pun muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu...""Jangan salahkan aku!"Dengan gerakan yang sangat cepat, Jendral Huang
Wajah Kaisar Zhang Ziyi seketika memucat. Kini ia semakin yakin bahwa Jendral Huang benar-benar telah merencanakan kudeta terhadapnya. Tanpa membuang waktu, ia segera memerintahkan para pengawal istana. "Segera panggil seluruh pasukan kerajaan yang masih setia kepadaku!" "Perketat penjagaan di setiap pintu istana!" "Baik, Yang Mulia!" jawab para pengawal serempak sebelum berlari melaksanakan perintah. Setelah itu, Zhang Ziyi bergegas menemui Zhuang Ling di halaman istana. Meski berusaha tetap tenang, sorot matanya tak mampu menyembunyikan kegelisahan. "Nyonya Zhuang Ling..." "Keadaan semakin genting." "Jendral Huang telah membawa pasukannya menuju istana." Mendengar kabar itu, wajah Zhuang Ling langsung berubah pucat. "B... bagaimana dengan suamiku, Yang Mulia?" tanyanya dengan suara bergetar. Zhang Ziyi menarik napas panjang. "Jangan khawatir." "Hari ini juga aku akan mengirimkan pengawal untuk mengantarmu menemui Kaisar Zhang Xin." "Kau harus segera m
Setelah menerima surat dari Zhuang Ling, Zhang Xin akhirnya memutuskan memasuki Kota Nangking bersama utusan Kaisar Zhang Ziyi. Berbeda dengan yang ia bayangkan, penjagaan di gerbang kota tidak terlalu ketat. Para prajurit yang berjaga segera membuka jalan setelah melihat utusan kerajaan membawa surat perintah dari Kaisar Zhang Ziyi. Rombongan mereka pun perlahan memasuki Kota Nangking. Tak jauh dari gerbang utama, Zhang Xin melihat seorang pria telah menunggu di pinggir jalan. Tubuhnya tinggi dan tegap. Pakaiannya sederhana, sama sekali tidak menunjukkan kemewahan seorang kaisar. Namun begitu rombongan berhenti, pria itu melangkah maju dan membungkukkan badan dengan sopan. "Salam hormat, Kaisar Zhang Xin. Aku adalah Zhang Ziyi." Zhang Xin turun dari kudanya lalu membalas penghormatan itu. "Kaisar Zhang Ziyi." Keduanya saling menatap beberapa saat. Dari sorot mata Zhang Xin, ia dapat melihat wajah Zhang Ziyi tampak pucat. Senyum yang menghiasi bibirnya pun seolah menye
Di halaman kediaman Jendral Huang, kedua pasukan kini saling berhadapan. Tidak ada satu pun yang bersedia mengalah. Pedang-pedang telah terhunus, tombak diarahkan ke depan, dan setiap prajurit bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Suasana begitu mencekam. Hanya suara angin yang berembus pelan di antara dua barisan pasukan yang saling menatap dengan tajam. Pasukan kerajaan yang datang atas perintah Kaisar Zhang Ziyi menganggap Jendral Huang telah terang-terangan membangkang terhadap titah Kaisar. Di sisi lain, Jendral Huang merasa Kaisar Zhang Ziyi tidak lagi layak memimpin Kerajaan Nangking. Baginya, semua keputusan Kaisar hanya menghalangi ambisinya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Tiba-tiba, kepala pasukan kerajaan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Pasukan!" "Mundur!" Perintah itu menggema di seluruh halaman. Para prajurit kerajaan perlahan menurunkan senjata mereka, lalu mundur beberapa langkah dengan tetap menjaga kewaspadaan. Sebelum pergi, kepala
Mata-mata yang mengawasi kediaman Jendral Huang semakin penasaran. Ia memutuskan untuk tidak terburu-buru kembali ke perbatasan. Selama beberapa hari berikutnya, mereka diam-diam terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang terjadi di rumah sang Jendral. Setelah merasa tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka sepakat untuk kembali ke perbatasan Kota Nangking dan melaporkan semua hasil pengamatan mereka kepada Kaisar Zhang Xin. Sementara itu, di kediaman Jendral Huang, suasana tampak berjalan seperti biasa. Di paviliunnya, Lie Ming sedang merawat Shao Yang dengan ditemani beberapa pelayan. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa ketenangan itu akan segera berubah. Tiba-tiba, puluhan prajurit kerajaan yang setia kepada Kaisar Zhang Ziyi berhenti di depan gerbang kediaman Jendral Huang. Tanpa membuang waktu, mereka segera memasuki halaman rumah dengan langkah tergesa-gesa. Wajah mereka tampak tegang, seolah sedang menjalankan perintah yang sangat penting. Para pelaya
Jendral Huang perlahan mengangkat kepalanya. Ia kemudian berdiri dan membungkukkan badan memberi hormat kepada Kaisar Zhang Ziyi. "Yang Mulia, hamba memang membawa Zhuang Ling ke Kota Nangking. Namun semua itu bukan tanpa alasan." Kaisar Zhang Ziyi tetap menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melihat Kaisar masih memberi kesempatan berbicara, Jendral Huang kembali melanjutkan penjelasannya. "Beberapa waktu lalu, pembantu Zhuang Ling yang bernama Ming Sien datang ke kediaman hamba. Ia menculik putra hamba. Ketika hamba berhasil mengejarnya, Zhuang Ling justru berada di tempat yang sama. Karena itulah hamba menduga mereka bekerja sama." Nada suara Jendral Huang terdengar penuh keyakinan, seolah-olah dirinya benar-benar menjadi korban. "Hamba membawa Zhuang Ling ke Nangking hanya untuk mencari kebenaran. Hamba sama sekali tidak berniat memulai permusuhan dengan Kota Yunan." Kaisar Zhang Ziyi melipat kedua tangannya di depan dada. Sorot matanya semakin tajam mengamat
Zhuang Ling membuka pintu kamar. Wajahnya menegang, dadanya berdegup kencang. Tangannya mengepal kuat. Brak!Zhuang Ling terdiam membisu. Pemandangan di depannya membuatnya menyesal menjadi istri Jenderal Huang. Jenderal Huang tidak terkejut dengan kedatangan istrinya itu. Dengan santai ia me
Di kediaman Jenderal Huang, tepatnya di paviliun bunga…Di dalam kamar megah yang diterangi cahaya lilin, seorang jenderal dan seorang pelayan sedang larut dalam keintiman yang seharusnya tidak terjadi.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai sutra, namun tak satupun dari mereka terganggu.
Pintu benar-benar terbuka. Cahaya dari luar menyelinap masuk, memotong kegelapan kamar seperti bilah tipis. Zhang Xin tidak menurunkan pedangnya. Tangannya tetap siaga, matanya tajam mengunci setiap gerakan di ambang pintu. Liu berdiri diam di sisi lain. Napasnya pelan, tapi seluruh tubuhny
“Hei! Bangun!” Teriakan prajurit menggema di dalam sel. Air dingin disiramkan ke wajah Zhuang Ling. Seketika tubuhnya tersentak, wajahnya basah kuyup. Zhuang Ling membuka mata perlahan. Tubuhnya terasa nyeri di setiap bagian, akibat siksaan semalam. Pandangan matanya masih kabur. Samar-







