Teilen

Bab 1174

Ayesha
Devina menggigit bibir merahnya, matanya berkaca-kaca, menampakkan air mata karena terharu dan bersyukur. Dia mengangkat kepala, menatap Ignas. "Nggak perlu nunggu sampai jam 7 malam, sekarang juga aku bisa jawab .... Aku bersedia."

Ignas tersenyum puas. "Bagus, kamu memang cocok jadi wanitaku."

Setelah berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah kartu kamar dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. "Malam ini jam 10, di suite presiden hotel ini, kita bertemu lagi."

Devina menatap kartu kamar i
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
raka g pernah merasa memiliki devina ignas..plgi memiliki perasaan ke devina itu g ad smaskli ignas..raka cm butuh darah devina n smua yg raka lakukan u dev sbts imbalan n manipulatif dev yg serakah
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1509

    Keesokan pagi, Raka meluangkan waktu untuk menemani putri dan keluarganya, karena malam itu adalah perayaan ulang tahun Emily.Sementara itu, Brielle masih harus bekerja, sehingga pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke laboratorium.Ferdian datang lebih awal untuk melakukan berbagai persiapan di laboratorium. Zondi juga merupakan asisten yang sangat bertanggung jawab."Brielle, siang nanti kita harus pergi ke laboratorium Profesor Derrick." Zondi mengingatkannya.Brielle teringat bahwa dia memang sudah membuat janji dengan Derrick untuk membahas analisis data. Dalam penelitian kali ini, laboratorium Derrick juga bersedia memberikan dukungan.Pukul 10 pagi, Brielle dan Zondi tiba di bekas Laboratorium Kasih, yang kini telah menjadi Laboratorium Rine milik Derrick.Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Brielle memasuki ruang rapat Derrick. "Brielle, kamu sudah datang. Ayo duduk."Derrick berdiri menyambutnya dengan senyuman hangat.Di samping mereka, Ferdian tampak begitu bersemangat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1508

    Lastri segera membawakan sepiring buah yang sudah dipotong, meletakkannya di atas meja, lalu kembali ke kamarnya.Kini, hanya mereka berdua yang tersisa di ruang tamu.Raka mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulut, lalu bertanya kepada Brielle, "Besok Nenek ingin merayakan ulang tahunnya sedikit lebih meriah. Kamu sudah punya gaun yang cocok belum? Apa akan ada tamu lain juga?"Brielle mengangkat kepala dan bertanya. Dia mengira mungkin kerabat jauh Keluarga Pramudita juga akan diundang.Raka menggeleng. "Tahun ini Nenek nggak berniat mengundang orang luar. Cuma keluarga kita saja."Setelah itu, dia menambahkan, "Soal gaunmu, biar aku yang atur."Brielle menggeleng. "Nggak perlu. Aku akan urus sendiri."Karena hanya makan bersama keluarga, dia cukup berdandan sedikit lebih rapi, tidak perlu terlalu berlebihan.Brielle mengambil sebutir anggur dan mulai mengupas kulitnya."Tadi sudah pamitan dengan Niro?" tanya Raka tiba-tiba."Sudah," jawab Brielle dengan tenang.Raka tidak m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1507

    Setelah Brielle duduk di dalam mobil, Niro berkata dengan suara pelan tetapi tegas, "Brielle, ke depannya mungkin kita nggak akan mudah saling menghubungi. Tapi kamu harus tahu, aku akan selalu menjadi temanmu, juga seseorang yang selalu bisa kamu andalkan."Kata-katanya singkat, tetapi terasa begitu berbobot. Tidak ada sedikit pun nuansa ambigu. Tidak ada pula penyesalan. Yang ada hanyalah kepedulian yang tulus dan doa terbaik untuknya.Perasaan yang dulu sempat tumbuh di antara mereka kini benar-benar telah dia ubah menjadi persahabatan yang kokoh, serta perlindungan yang dia berikan secara sepihak.Mata Brielle sedikit memanas. Dia mengangguk kuat. "Niro, kamu juga harus selalu jaga diri dan keselamatanmu.""Oke, aku janji." Niro tersenyum. Di bawah cahaya lampu yang redup kekuningan, senyumannya tetap tampan dan bersih, sama seperti dirinya.Tak lama kemudian, pandangan Niro beralih ke sebuah mobil SUV hitam yang terparkir belasan meter dari sana. Matanya sedikit menyipit."Mobil i

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1506

    Meskipun mengenakan pakaian kasual, aura tegas dan tegap seorang prajurit tetap terpancar kuat darinya.Hanya saja, dibandingkan dulu, ada sesuatu yang lebih matang dalam sorot matanya. Kejernihan yang lahir setelah berkali-kali berada di ambang hidup dan mati, serta tekad yang tak tergoyahkan terhadap tugasnya.Niro memandang Brielle sambil tersenyum. "Kamu datang.""Maaf, tadi macet karena jam pulang kerja." Brielle tersenyum sambil menarik kursi. "Kamu sudah lama nunggu?""Aku juga baru sampai." Niro tersenyum tipis. "Lihat dulu, mau makan apa?"Brielle menerima buku menu. Tanpa sadar, pandangannya kembali tertuju kepada Niro.Potongan rambut cepak itu makin menonjolkan fitur wajahnya yang tegas dan garis rahangnya yang rapi, memberikan kesan tampan dan gagah.Niro tanpa sadar mengusap rambutnya sendiri. Kemudian, dia memperlihatkan bagian kepala tempat cip itu dulu ditanamkan. "Gimana pemulihannya?"Brielle mengamatinya dengan saksama. "Sudah pulih dengan sangat baik."Di mata Brie

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1505

    Brielle berkata kepada pria di sampingnya, "Aku angkat telepon dulu."Bahkan sebelum Brielle sempat melangkah pergi, Raka sudah lebih dulu berjalan ke hamparan rumput di samping. Tatapannya tertuju pada langit senja di kejauhan, tetapi dari sudut matanya, dia tetap memperhatikan Brielle.Brielle mengangkat telepon. "Halo, Niro."Dari seberang terdengar suara Niro yang tetap jernih dan hangat seperti biasanya."Brielle, aku lagi di Kota Amadeus. Besok aku kembali ke Kyoza, lusa berangkat ke markas. Sebelum berangkat, aku ingin traktir kalian makan.""Kalian" yang dimaksud tentu adalah Brielle dan Raka.Brielle tertegun sesaat. "Kamu secepat ini kembali ke markas?""Ya, sudah waktunya kembali. Jangan khawatir, aku sudah pulih sepenuhnya," jawab Niro dari seberang."Baiklah. Kalau begitu, malam ini kita makan bersama saja." Brielle juga ingin bertemu dengannya. Begitu Niro kembali ke markas, mungkin mereka baru bisa bertemu lagi setahun atau bahkan lebih lama."Oke. Nanti aku kirim alamat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1504

    Dalam kegelapan, seluruh indranya terasa makin peka. Namun, yang terus berulang di benaknya bukanlah pekerjaan rumit di Negara Norwa, melainkan sosok Brielle.Di tengah malam seperti ini, kebersamaan mereka yang hanya sebentar saat dia mengantarkan obat tadi, justru dengan mudah membangkitkan kembali gejolak yang telah lama terpendam jauh di dalam dirinya.Saat ini, Raka merasa yang dia butuhkan bukanlah obat tidur, melainkan mandi air dingin. Dia harus menenangkan diri.Dia berjalan masuk ke kamar mandi dan membuka keran air dingin. Meski sebelumnya sudah mandi, tubuhnya masih membutuhkan guyuran air dingin sekali lagi. Dia tahu malam ini dirinya sedikit kehilangan kendali.Sebab setiap kali berhadapan dengan Brielle, pengendalian dirinya seolah-olah selalu runtuh dengan mudah.Butiran air dingin mengalir mengikuti lekuk otot tubuhnya yang kekar. Raka memejamkan mata.Dua puluh menit kemudian, efek obat akhirnya datang terlambat. Rasa lelah perlahan menyerbu tubuhnya, hingga akhirnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 364

    Tidak jauh dari sana, Raka sedang berbincang dengan beberapa tamu. Setelan jas hitamnya tampak rapi sempurna. Setiap gerak-gerik dan senyumannya menunjukkan wibawa seorang pemimpin sejati.Entah karena firasat atau naluri, dia tiba-tiba mengangkat pandangan ke arah pintu. Pandangannya langsung tertu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 315

    Setelah menutup telepon, Niro tersenyum. "Nenek sudah lama menanti kedatanganmu di rumah. Sepertinya dia sudah menyiapkan banyak makanan enak untuk menyambutmu."Kemudian, mereka memasuki kompleks perumahan bergaya villa. Niro mengajak Brielle masuk ke rumah dua lantai dengan halaman kecil di depann

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 312

    Padahal rekan satu timnya sama sekali tidak tinggal di sana. Niro sengaja menyebut alamat itu, supaya bisa menemani Brielle lebih lama di jalan, sekaligus memastikan dia sampai dekat rumah dengan aman.Niro lalu menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumah.Brielle pulang dengan membawa piala. Begi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 329

    "Hmm!" Anya berkata dengan polos, "Bibi Devina bilang lain kali mau ajak aku ke taman bermain."Lampu merah menyala, Brielle menghentikan mobilnya. Kemudian, dia menoleh dan menatap putrinya dengan serius, "Anya, lain kali kalau ada orang kasih kamu hadiah, kamu harus tanya Mama dulu. Ngerti?""Tapi

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status