Share

Bab 1471

Author: Ayesha
Brielle sedikit tertegun. Baru beberapa saat kemudian dia mengulurkan garpunya, mengambil udang itu, lalu memasukkannya ke mulut.

Di seberang meja, kegelisahan dan harapan yang sejak tadi memenuhi mata Raka akhirnya berubah menjadi senyuman tipis. Rasanya seperti pohon yang telah lama kering kembali bertunas.

Brielle mendongak. Melihat Raka terus memperhatikannya makan, dia berkata pelan, "Kamu juga makan."

Raka tersenyum, lalu mengangguk. "Oke."

Brielle berkedip pelan. Dia mengamati rambut Raka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
wah seru nih...bakal syok lg dia liat Raka dan brielle berpasangan
goodnovel comment avatar
Nimah Natsir
bab berikutnya bhas tentang devina. malas aahh
goodnovel comment avatar
Eka Rahayu
nunggu devina dapat karma
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1479

    Tubuh Brielle tiba-tiba terangkat dari tanah. Dia refleks mengeluarkan seruan pelan, sementara kedua tangannya spontan melingkar di bahu Raka."Biar aku gendong sampai sana," ujar Raka dengan suara rendah."Nggak usah." Brielle sedikit meronta, berusaha turun."Jangan bergerak." Raka menunduk menatapnya. Suaranya lembut, tetapi mengandung ketegasan yang tak memberi ruang untuk dibantah."Raka ... turunkan aku." Nada suara Brielle juga menunjukkan keteguhannya.Namun, Raka tidak menghiraukannya. Dia tetap menggendong Brielle dan terus melangkah ke depan.Meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, masih ada beberapa pengunjung di area dek observasi. Brielle merasa dirinya menjadi pusat perhatian. DiIa hanya bisa sedikit menunduk karena merasa sangat canggung.Raka mempererat pelukannya dan melangkah mantap menuju tempat mobilnya diparkir. Dia sama sekali tidak memedulikan tatapan penasaran dari orang-orang di sekitar. Sementara itu, Brielle hanya berharap keberadaannya tidak terlalu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1478

    Saat ini, Raka telah menanggalkan ketegasan yang selalu melekat padanya di dunia bisnis. Cahaya bulan membingkai wajah tampannya, sementara rambut putihnya justru menambah kesan anggun dan berkelas.Tak lama kemudian, terdengar obrolan beberapa gadis dari belakang Brielle. Salah satu di antara mereka berseru cukup keras."Wah! Rambutnya dicat ya? Putih semua! Keren banget.""Bukan artis, 'kan? Kok ganteng banget?"Suasana di sekitar cukup tenang, sementara para gadis itu sama sekali tidak memelankan suara. Ucapan mereka pun terdengar jelas oleh Brielle dan Raka.Brielle menoleh ke arah pria di sampingnya. Sementara itu, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyuman tipis. Jelas sekali, pujian-pujian itu cukup menyenangkan baginya.Rambut yang sedikit terurai menutupi dahinya, justru membuatnya tampak beberapa tahun lebih muda, memberi kesan santai dan tanpa beban.Brielle memperhatikan rambut putihnya. Makin lama dilihat, memang ada pesonanya yang khas.Melihat Brielle terus menatapnya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1477

    Di luar jendela mobil, gemerlap lampu neon menghiasi malam dengan indah. Brielle ingin pulang bukan karena kata-kata Devina memengaruhi suasana hatinya, melainkan karena dia ingin segera beristirahat.Satu minggu penuh menjalani eksperimen yang padat benar-benar membuatnya kelelahan.Saat itulah terdengar suara Raka. "Gavin, menepi."Gavin segera memutar setir dengan tenang dan menghentikan mobil di tepi jalan. Begitu mobil berhenti sempurna, Raka berkata, "Kamu pulang naik taksi saja."Gavin langsung mengerti. "Baik, Pak Raka."Brielle menatap Raka dengan heran. Kenapa pria ini tiba-tiba ingin menyetir?Namun, Raka justru berjalan ke sisi tempat Brielle duduk, membuka pintu, lalu berkata dengan lembut, "Pindah ke kursi depan."Brielle mengernyit sedikit, tetapi tetap turun dan berpindah ke kursi penumpang depan yang telah dibukakan Raka. Dia sudah bisa menebak apa yang ingin dilakukan pria itu.Benar saja. Setelah duduk di balik kemudi, Raka menoleh kepadanya. "Kita jalan-jalan sebent

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1476

    Saat itu, beberapa tamu masuk. Melihat barang-barang yang berserakan di lantai, mereka mengernyit dan bertanya, "Ada apa ini?""Aku nggak sengaja menjatuhkannya," jawab Devina singkat, lalu mengangkat tasnya dan keluar.Brielle kembali ke aula pesta. Raka yang sedang berbincang dengan beberapa tamu, langsung mengalihkan pandangannya kepada Brielle dan seketika menyadari raut wajahnya yang tampak kurang baik."Ada apa? Kamu nggak enak badan?" tanyanya dengan suara rendah penuh perhatian.Brielle menggeleng. "Nggak apa-apa. Kita bisa pulang jam 8 malam?"Raka melirik waktu. Saat ini sudah lewat pukul 7.30 malam. "Oke."Namun tepat saat itu, pandangan Raka menangkap sosok Devina yang baru keluar dari arah toilet. Wajahnya seketika menjadi dingin. Dia langsung mengerti penyebab suasana hati Brielle memburuk."Apa yang dia katakan?" tanya Raka dengan nada tegang.Dari sudut matanya, Brielle melihat Devina kembali memasuki aula. Dengan datar, dia menjawab, "Nggak ada apa-apa."Namun, Raka te

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1475

    "Hidupmu adalah pilihanmu sendiri. Jalan yang kamu tempuh juga kamu yang pilih. Nggak ada yang pernah memaksamu," jawab Brielle dengan tenang."Heh! Jangan pura-pura bermoral di depanku." Devina tiba-tiba berdiri tegak."Brielle, kuberi tahu ya, semua pria itu sama. Terutama pria seperti Raka yang berdiri di puncak. Orang yang paling mereka cintai selalu diri mereka sendiri. Sekarang dia memperlakukanmu dengan baik karena kamu berguna, karena kamu punya nilai.""Tapi suatu hari nanti, kalau dia menemukan wanita yang lebih bernilai darimu, dia juga akan membuangmu seperti sampah. Sama seperti yang dia lakukan padaku."Sorot mata Devina dipenuhi kebencian dan ketidakrelaan. Seolah dia ingin melampiaskan seluruh amarahnya di hadapan Brielle."Lagi pula, perempuan yang lebih muda dan lebih cantik darimu itu banyak. Bukankah pria selalu mengejar hal-hal baru? Kamu nggak takut setelah rujuk sama dia, dia malah berbalik mencari perempuan yang lebih muda?"Devina menatap Brielle lekat-lekat, b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1474

    "Pak Anwar, jangan goda aku begitu dong." Dengan agak manja, Devina mendorong pelan lengan Anwar.Tepat saat itu, Anwar melihat Raka yang berdiri di area tengah aula. Dia mencubit pinggang Devina pelan. "Mau sapa mantan kekasihmu nggak?"Tatapan Devina pun ikut mengarah ke tempat Raka berada. Dengan senyuman yang dipaksakan, dia berkata, "Dia sudah punya pendamping sekarang. Mana mungkin masih ingat sama aku?""Pak Anwar mau kenalan sama Pak Raka? Kalau mau, aku bisa kenalkan." Luigi ingin mengambil hati Anwar sekaligus memperluas jaringan relasinya di kalangan elite ibu kota.Ekspresi Anwar sedikit berubah. Dia menarik kerah dasinya sebelum menggeleng. "Lupakan saja. Tokoh sebesar itu bukan orang yang bisa kita dekati sembarangan."Sambil melambaikan tangan, dia tersenyum canggung. Di matanya tersirat rasa segan sekaligus kesadaran akan posisinya.Meskipun Raka bukan bagian dari kalangan elite Kyoza, Anwar tetap pernah mendengar tentang jaringan dan pengaruhnya di sana.Walaupun dirin

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 914

    Freyna mengangkat sudut bibirnya dan tampak puas. "Tentu saja. Orang yang aku cari mana mungkin mengecewakan?"Devina kembali tenggelam dalam pikirannya. Freyna memperhatikan bahwa sejak Devina pulang ke dalam negeri kali ini, dia terlihat semakin banyak beban pikiran. Beberapa kegiatan komersial ya

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 902

    Di dalam kantor Smith, suasana diliputi keheningan singkat.Mata Raka yang terpejam rapat perlahan terbuka. Di dasar matanya tersimpan emosi yang dalam. Kelelahan, pergulatan batin, hingga akhirnya mengendap menjadi ketenangan.Dia lebih paham daripada siapa pun, rencana yang dimaksud Smith itu apa.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 886

    Thoriq tertegun sejenak. Dia langsung teringat pada Brielle. Dia juga mengikuti perkembangan dunia riset dan nama Brielle kini benar-benar sedang berada di puncak. Konon bahkan pejabat negara pernah memanggilnya secara khusus. Perlakuan seperti itu jelas belum pernah didapatkan Faye."Maaf, aku seha

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 873

    Yang tersisa tadi sudah dimakan oleh Niro. Jelas terlihat bahwa kedua pria itu sama-sama tidak menyukai bihun atau mi. Mereka lebih suka roti kukus putih besar.Brielle mengambil setengah roti kukus yang tadi sudah dia gigit beberapa kali dari kotak makan. Dia merobek bagian yang sudah dia gigit, la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status