LOGINSebenarnya, selama dua hari terakhir Brielle juga sudah memperhatikan rumah-rumah yang dijual di sekitar sekolah itu. Harus diakui, ucapan Raka memang benar.Hunian di kawasan sekolah itu, terutama vila dan apartemen mewah dengan lingkungan yang nyaman serta sistem keamanan yang baik, memang sangat diminati. Agen properti biasa pun sulit mendapatkan unit-unit terbaik.Ditambah lagi, harganya sering kali melambung jauh di atas harga pasar.Kalau Raka memang memiliki jaringan dan koneksi, semuanya tentu akan jauh lebih mudah.Kali ini, Brielle ingin membeli sebuah vila. Kalau bisa dengan taman yang cukup luas agar Anya dan Gaga bisa bermain bersama."Oke." Brielle mengangguk. "Kalau begitu, tolong bantu carikan vila untukku."Raka tersenyum tipis. "Aku akan langsung minta orang cari unit yang tersedia. Semoga sebelum tanggal 1 September, kalian sudah bisa pindah."Tak lama kemudian, hidangan pun disajikan. Raka menggeser makanan kesukaan Brielle ke hadapannya, lalu mengalihkan pembicaraa
Dari jalannya rapat hari ini, Jared menangkap sesuatu yang cukup menggembirakan. Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti Brielle akan menjadi bos wanita MD. Kalau begitu, membuka seluruh akses paten untuknya bukankah hal yang wajar?Brielle tersenyum kepada Jared. "Terima kasih, Pak Jared.""Jangan berterima kasih kepadaku. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Pak Raka. Toh beliau yang mengambil keputusan untuk memberikan wewenang sebesar ini," kata Jared sambil tersenyum canggung.Dia benar-benar tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu.Brielle sedikit tertegun, lalu kembali menoleh ke arah Raka. "Terima kasih."Tatapan Raka tetap tertuju pada wajah Brielle. Ekspresinya tampak tenang dan penuh kasih. "Penelitianmu pantas mendapatkan sumber daya terbaik."Ucapan itu akhirnya membuat beberapa insinyur menangkap sesuatu. Pandangan mereka bergantian mengamati Brielle dan Raka.Pipi Brielle terasa agak panas. Dia menghindari tatapan Raka yang terlalu lugas, lalu menenangkan diri."Te
Brielle meliriknya sekilas, lalu segera menenangkan ekspresinya sebelum duduk.Hari ini dia mengenakan setelan rok jas berwarna krem gading yang sederhana. Rambut panjangnya disanggul rapi, memperlihatkan lehernya yang indah. Saat duduk di meja rapat yang dipenuhi pria, dia memancarkan pesona elegan dan khas.Ferdian ikut duduk.Seorang insinyur maju untuk mempresentasikan hasil penelitiannya. Brielle menyimak dengan sangat saksama, sementara di sampingnya Ferdian sibuk mencatat poin-poin penting.Raka sendiri hanya duduk diam mendengarkan. Sesekali jemarinya mengetuk permukaan meja dengan pelan, tetapi sebagian besar tatapannya tertuju pada Brielle.Usai presentasi, Jared berharap Brielle dapat memberikan masukan atas penelitian baru mereka.Brielle memang memiliki beberapa pertanyaan dan saran. Dengan penyampaian yang runtut dan jelas, dia menguraikan berbagai tantangan teknis dalam penelitian itu. Seluruh pembawaannya memancarkan kecerdasan sekaligus ketekunan.Di antara sekian bany
Brielle memang mulai kewalahan. Saat Raka membungkuk untuk menggendong putri mereka, samar-samar aroma harum tubuh Brielle menguar ke indra penciumannya.Dia mendongak menatap Brielle. Menyadari tatapan itu, Brielle pun mengangkat kepala dan langsung bertemu dengan sepasang mata Raka yang dalam.Brielle melepaskan tangannya, lalu mundur selangkah. Raka menggendong Anya sambil mengulas senyuman tipis. Kemudian, dia melangkah lebih dulu ke dalam.Brielle mengikuti di belakangnya. Dia membuka pintu dan mempersilakan Raka masuk. Setelah berganti sepatu, Raka langsung menggendong Anya ke lantai atas.Yang satu menggendong, yang satu lagi membantu melepas sepatu putri mereka. Setelah itu, mereka membaringkan Anya di tempat tidur.Pemandangan itu seolah membawa mereka kembali ke masa lalu. Dalam urusan yang menyangkut putri mereka, keduanya selalu memiliki pemahaman yang begitu selaras.Setelah Anya tertidur, Brielle turun lebih dulu. Lastri sudah menyeduhkan teh. Dia berkata kepada Raka yang
Setelah selesai mengobrol dengan Madeline, pikiran Brielle kembali tertuju pada penelitiannya.Pertemuan pertukaran akademik di Negara Madagasa kali ini memberinya banyak inspirasi. Dunia kedokteran memang selalu seperti menyeberangi sungai sambil meraba batu di bawah kaki.Untuk menghemat anggaran penelitian, Brielle juga berusaha semaksimal mungkin menekan tingkat kesalahan hingga serendah mungkin. Lagi pula, kali ini penelitian tersebut didanai oleh anggaran khusus dan juga merupakan arah penelitian yang benar-benar baru.Sore harinya, Brielle mengadakan rapat. Setelah mengumumkan arah penelitian yang baru, dia berkata kepada Ferdian, "Besok ikut aku ke MD untuk menghadiri rapat. Proyek penelitian dan pengembangan terbaru mereka bisa menjadi referensi bagi kita. Sekalian kita juga akan membahas hak penggunaan tiga paten."Zondi tersenyum lalu berkata, "Brielle, urusan seperti ini bukannya cukup menelepon Pak Raka saja?"Brielle tersenyum tipis. "Prosedur tetap harus dijalankan."Uru
"Masih ingat waktu aku menyeleksi anggota proyek dulu, aku nggak pilih kamu?" Madeline tersenyum. "Sebelumnya, Raka sudah lebih dulu menghubungiku. Dia berharap timku benar-benar ketat dalam memilih anggota, karena sejak awal dia sudah berencana menyerahkan proyek penelitian leukemia itu kepadaku. Untungnya kamu memang hebat. Dengan kemampuanmu sendiri, kamu berhasil masuk kembali ke dalam tim proyek."Brielle teringat saat itu dia masih muda dan penuh semangat, sampai berani membuat taruhan seperti itu dengan Madeline. Setelah dipikir-pikir sekarang, ternyata semua itu baru terjadi dua tahun yang lalu."Aku masih ingat.""Waktu itu dia juga belum tahu seberapa hebat kemampuanmu. Belakangan, setelah melihat nilai ujianmu saat mengikuti program percepatan, dia juga sangat terkejut. Bahkan diam-diam dia meneleponku dan memintaku membimbingmu dengan baik." Madeline tersenyum. "Aku bisa melihatnya. Walaupun sifatnya memang agak dingin, dia benar-benar sangat baik sama kamu."Brielle tering
Padahal rekan satu timnya sama sekali tidak tinggal di sana. Niro sengaja menyebut alamat itu, supaya bisa menemani Brielle lebih lama di jalan, sekaligus memastikan dia sampai dekat rumah dengan aman.Niro lalu menghentikan sebuah taksi dan pulang ke rumah.Brielle pulang dengan membawa piala. Begi
"Hmm!" Anya berkata dengan polos, "Bibi Devina bilang lain kali mau ajak aku ke taman bermain."Lampu merah menyala, Brielle menghentikan mobilnya. Kemudian, dia menoleh dan menatap putrinya dengan serius, "Anya, lain kali kalau ada orang kasih kamu hadiah, kamu harus tanya Mama dulu. Ngerti?""Tapi
Brielle menghela napas ringan, lalu menoleh ke arah Syahira."Aku tahu, sekarang kamu hanya fokus pada karier dan putrimu. Tapi kamu begitu hebat, makanya mereka tertarik padamu. Mereka juga dengan sendirinya mau mendekatimu, membantumu. Meski kamu nggak bisa membalas perasaan mereka, mereka tetap r
Menjelang dini hari, studio Devina mengeluarkan sebuah pernyataan. Karena kondisi kesehatannya menurun, dia tidak bisa menyelesaikan syuting iklan kampanye Hari Perempuan Sedunia sehingga resmi mundur dari kegiatan tahun ini.Brielle kebetulan belum tidur. Dia membuka pernyataan dari studio Devina,







