INICIAR SESIÓNMungkin karena tidur di tempat baru, aku bangun lebih awal. Masih ada satu jam sebelum alarm di gawai berbunyi. Suasana kamar ini begitu asing.
Ada baiknya aku mempersiapkan diri. Sambil bersenandung lagu Until I Think of You.Sang penyanyi, Tori Kelly, adalah salah satu penyanyi favorit. Terkadang aku berandai-andai memiliki suara seindah itu.
Mungkin saat ini aku sudah menjadi penyanyi.Tapi mari kita abaikan pikiran itu, karena ketukan terdengar.Ardy Peat terlihat segar di hadapanku.
“Selamat pagi Nona Alina.”Aku tersenyum meski pun pria ini tidak menampilkan ekspresi berarti.
“Anda sudah siap, Nona?”Aku mengangguk bersemangat.
“Sudah Pak Ardy. Saya siap diajak berkeliling.” Ia lalu berjalan terlebih dulu.
"Baik Nona. Pertama mari ikuti saya.”Langkahnya cepat, sedikit sulit bagiku untuk mengikuti ritme pria ini.Ckckckck. Kenapa kakimu pendek sih, Alina?
Kami memasuki sebuah ruangan. Ada Kakek Damian yang duduk sambil menikmati sarapan pagi.Dilihat dari meja yang lebar, dan kursi yang diatur mengelilingi meja itu, ku yakini ini adalah ruang makan.
Tapi kenapa hanya ada Kakek Damian di sini?
“Ahh, Alina. Mari bergabung denganku.”Aku menatap Pak Ardy, meminta persetujuannya. Entah mengapa, aku menjadi sedikit gugup.
Namun Ardy Peat hanya menatap ku datar. Aku sedikit kesal namun tetap menarik kursi dan duduk di sebelah kiri Kake Damian.
“Berkaitan dengan pekerjaan yang akan kamu lakukan, Alina.Sebelum Ardy menjelaskan-nya, aku ingin kamu melihat surat kontrak kerja ini.”
Kakek Damian lalu menyerahkan amplop coklat, aku membukanya perlahan dan mengeluarkan lembaran kertas.
Aku membaca cepat, ini seperti surat kontrak kerja pada umumnya. Namun perhatian ku fokus pada beberapa poin inti.
Satu, penerima kerja tidak jatuh cinta pada pihak ketiga.
Dua, penerima kerja tidak membocorkan hal apa pun yang terjadi di rumah ini.
Sangsinya lima kali lipat dari gaji yang aku terima?
Hah, yang benar aja loe, jatuh cinta dengan si iblis? Rugi dong!
Aku menahan napas.
“Tapi kalau misalkan pihak ketiga yang jatuh cinta, gimana, Kek?”
Mungkin pertanyaan ku terlalu tiba-tiba hingga Kakek Damian tersedak. Ia terbatuk, aku yang terkejut segera menyodorkan segelas air kepadanya.
Ampir mati ni kakek.
Aku berdehem,lalu melontarkan pertanyaan, “gimana, kek?”
Sungguh, aku penasaran pada keadaannya sekarang dan juga pada jawaban dari pria tua ini. Matanya menyipit.Ia membersihkan mulut dengan kain yang tersedia di samping piring.
“Kamu memang penuh dengan kejutan, Alina.”Kakek Damian berdiri. Ia melangkah ke jendela. Pandangannya pada taman.
“Jika Archer suatu hari nanti menyukai bahkan mencintaimu, tidak banyak yang bisa aku lakukan.”Ia terdiam. Aku juga. Sepintas wajahnya terlihat berkerut.
“Namun aku tidak yakin hal itu akan terjadi, Alina. Mengingat betapa sombong nya pria itu.” Ia terkekeh.
“Jadi, apakah kamu setuju?”Kakek menatap ku lekat, aku sedikit ragu karena belum mendapatkan jawaban.Tapi, sepertinya semua akan baik-baik saja.
Ya, ku harap memang seperti itu.Aku menorehkan tanda tangan pada surat kontrak itu, diatas meterai. Di saksikan oleh Pengurus Rumah Swift, dan ada sosok lain yang bergabung beberapa menit sebelumnya.
Namanya, Lucas Copperfield.Pria berkacamata yang ternyata adalah pengacara Keluarga Swift.
Uuuuhhhh, dia tampan.
*
“Nona Alina, mari saya antarkan nona berkeliling.”Suara Pak Ardy membuyarkan perhatian ku dari sosok pengacara itu. Aku mengangguk lalu berpamitan pada Kakek Damian dan Lucas.
“Saya akan memperkenalkan Nona Alina pada chef dan juga pekerja di dapur. Tugas Nona Alina yang paling pertama adalah memastikan Tuan Archer menghabiskan sarapan, mengantar makan siang juga menyediakan makan malam.” Aku menelan ludah kasar mendengar nama si Iblis.
Kami sampai di dapur. Hawanya sedikit panas mungkin karena aktivitas memasak. Mereka berkeringat dan begitu fokus dengan hidangan yang sedang di olah. Pak Ardy berdehem dan mengambil fokus beberapa pekerja diruangan itu, kecuali seorang Chef yang sedang menata makanan di atas piring. Perkenalan berlangsung singkat.Aroma lezat yang menguar membuat ku lapar, pagi ini aku bahkan belum menyentuh sarapan. Walaupun sebenarnya aku memang tidak biasa makan pagi.
Kalau aja ada yang mau masakin aku sarapan.
Kami melanjutkan perjalanan, menjelajahi berbagai ruangan.Ada ruang musik, ruangan pertemuan, ruang santai,dan bahkan ada ruang olahraga.
Aku ternganga pada setiap ruangan yang di tunjukkan. Dan yang paling membuat terpesona adalah perpustakaan. Ruangan besar dengan aroma kertas yang beruraian di udara.
Ahh, I love this.
*
“Nona Alina, di harapkan agar nona mengingat semua ruangan yang sudah di tunjukkan.”Aku mengangguk, Pak Ardy kembali melanjutkan penjelasanya.
“Dan ini adalah kamar Tuan Muda Archer.” Mendengar embel-embel ‘tuan muda’membuatku tersedak ludahku sendiri.
Aku menahan diri untuk tidak sangsi.
Dia bukan tuan muda tapi iblis.
Ardy Peat berhenti tepat di depan pintu kayu mahoni, ada ukiran yang tidak ku mengerti. Telihat elegan dan estetik.
Ia mengetuk beberapa kali, diam sejenak lalu kembali mengetuk. Namun tidak ada jawaban. Aku menunggu dengan sabar.
“Nona Alina, ini adalah hal yang harus dilakukan. Jika sudah mengetuk lebih dari sekali, nona bisa langsung masuk kamar tuan muda dengan kunci ini.” Pak Ardy lalu menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan nama Archer Swift.
Aku tidak menyangka bahwa akan di berikan akses penuh pada kamar iblis Archer.
“Baik Pak Ardy.”Aku langsung mengantongi kunci itu.
“Tuan Muda punya kebiasaan tidur larut sehingga sulit bangun pagi.Untuk itu, Nona Alina harus segera menyiapkan pakaian kerja untuk tuan muda, lalu menyiapkan sarapan.”Aku melihat setiap pergerakan Pak Ardy yang begitu cekatan dan lihai.
Ia mengambil dasi, kaos kaki dari rak meja. Saat ini kami sedang berada dalam ruangan pakaian. Ada berbagai deretan barang-barang yang menyilaukan.
Aku menelan ludah melihat barang-barang mewah yang berjejer.
“Untuk jam tangan, Tuan Muda akan memutuskan sendiri.”Aku melihat Pak Ardy yang saat ini sedang memilih kemeja dari gantungan.
Aku mengangguk dan melihat semua detail yang di tunjukkan.
“Untuk dasi, Nona Alina harus membantu memakaikannya pada tuan muda.”
Hah?
Aku menatap Pak Ardy kebingungan. Namun Pak Ardy hanya menatap ku datar.
“Kalau begitu, Nona Alina harus mulai belajar mengikat dasi.”Aku menelan ludah.
“Baik Pak.”Meskipun aku memperhatikan Pak Ardy memilah kaos kaki namun pikiranku melayang pada mengikat dasi.
Dulu, saat masih SMA aku bisa mengikat dasi sendiri. Kala SMA aku adalah bagian dari Penggerek Bendera. Sudah pasti aku bisa harus rapi, mengenakan topi dan dasi.
Namun itu sudah bertahun berlalu. Aku bahkan tidak pernah menyentuh dasi setelah lulus SMA.
“Ekhem!!”Aku tersadar, Pak Ardy menatapku tajam. Ia seolah tahu bahwa pikiranku melayang.
“Ini sudah saatnya, Nona Alina membangunkan tuan muda.”
Pagi berikutnya, mansion terasa lebih tenang dari biasanya, seolah semua orang di dalamnya masih memulihkan diri dari ketegangan semalam. Aku bangun lebih awal, memutuskan untuk menyelesaikan tugas yang tertunda kemarin, mencari buku resep Prancis yang sempat disebutkan Archer di perpustakaan sebelum momen di rak buku itu terpotong oleh telepon mendadak. Suasana pagi yang sunyi terasa seperti kesempatan langka untuk menenangkan pikiran sebelum hari yang sibuk dimulai.Perpustakaan masih sepi ketika aku tiba, cahaya pagi menerobos lembut lewat tirai tipis, menciptakan garis-garis emas di atas lantai kayu. Aku menaiki tangga kecil yang masih tersandar di tempat yang sama seperti kemarin, kali ini dengan lebih hati-hati, mengingat kejadian yang hampir terjadi di sana.Buku itu akhirnya kutemukan, terselip di antara jilid-jilid tebal lainnya, sampulnya berwarna krem pudar dengan tulisan emas yang sudah mulai memudar. Aku menariknya perlahan, namun ketika aku menurunkannya, sesuatu terseli
"Ricardo ingin aku membujukmu untuk menjual sahammu sekarang," Vivienne memulai, suaranya lebih stabil dari yang kuduga, meski tangannya masih sedikit gemetar di atas pangkuannya. Cahaya lilin di meja makan berkedip pelan, membuat bayangan wajahnya bergerak-gerak seolah ikut gelisah dengan apa yang akan diucapkannya. "Bisnisnya sedang di ambang kebangkrutan, Archer. Ia butuh dana segar, dan menurutnya, cara tercepat adalah dengan mencairkan saham warisan orang tua kita."Archer diam sejenak, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun, topeng dingin yang sudah sangat kukenal kembali terpasang sempurna. "Dan kau setuju dengannya?""Aku tidak tahu," jawab Vivienne jujur, matanya menatap lurus ke arah Archer tanpa berkedip. "Ricardo adalah saudaraku, dan aku ingin membantunya. Tapi aku juga tahu, kalau saham itu dijual sekarang, dengan harga pasar yang sedang jatuh, kita berdua akan kehilangan lebih dari separuh nilai sebenarnya.""Jadi kau datang ke sini bukan hanya untuk urusan warisan,
Dapur masih ramai ketika aku tiba, namun begitu Chef Marco melihat wajahku, ia langsung menghentikan pekerjaannya sejenak, matanya menyipit penuh selidik. Beberapa asisten dapur melirik sekilas sebelum kembali sibuk dengan tugas masing-masing, seolah sudah terbiasa dengan drama-drama kecil yang sesekali muncul di antara jajaran pelayan mansion ini."Kau kelihatan seperti baru saja mendengar seluruh riwayat hidup seseorang," komentarnya sambil mengambil nampan dari tanganku."Kurang lebih begitu," gumamku, tidak berniat menjelaskan lebih jauh. Beberapa rahasia memang lebih baik disimpan sendiri, terutama yang menyangkut luka orang lain yang tidak seharusnya kuketahui.Chef Marco tidak mendesak, hanya mengangguk paham, seolah sudah terbiasa dengan penghuni mansion ini yang selalu menyimpan lebih banyak dari yang mereka tunjukkan. Aku membantu sebentar di dapur, mencuci beberapa peralatan, mencoba menyibukkan tangan agar pikiranku berhenti berputar pada kata-kata Vivienne yang masih meng
But you never know unless you walked on my shoes. Setiap keputusan tentunya memiliki resiko. Aku sudah berpikir terlalu panjang dan terlalu jauh hingga akhirnya lelah dan tersadar bahwa aku tertidur di sofa. Pantas saja badanku terasa sakit. Pagi ini, bahkan aku bangun terlalu awal. Matahari ba
Semesta tolong telan aku. Rasanya aku ingin mati saja. Aku merasa ternoda. Aku meringis. Merutuki nasib sendiri dalam hati. Bagaimana bisa aku sesial ini. Mau tau yang lebih parah? Ternyata kejadian ini di perhatikan oleh seorang kakek. Suara deheman membuatku terduduk. Aku masih harus mengumpulk
Aku selalu merasa bahwa hidupku tenteram. Namun sekarang tidak lagi. Ketika kata 'pecat dia' menghantuiku hingga aku tidak tidur sama sekali sepanjang malam. Jadi, dengan kantung mata tebal ini, aku menatap cupcake yang masih panas, baru saja mengeluarkan kue ini dari oven. Setelah dipanggang, aku
Aku menarik napas dalam. Sekarang aku mengerti kenapa tubuhku tidak bisa bohay seperti Delima yang bertugas sebagai Customer Service. Perusahaan tempatku bekerja ini memiliki lantai gedung yang terlalu banyak. 48 lantai. Maksudku, untuk apa lantai sebanyak ini? Yah, yang pastinya juga untuk mengha







