Share

Bab 3

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2025-12-31 10:47:30

Noah tidak menjawab, ia terus menatap Elena dengan tajam. Setelah mengunci pintu toilet, ia melangkah mendekati Elena dengan tenang.

“Kenapa kau kunci pintunya?!” pekik Elena dengan suara tertahan.

Noah tersenyum tipis, “Kenapa kau tampak takut seperti itu? Bukankah dulu kau selalu suka berdua denganku?”

Elena menggelengkan kepalanya cepat, langkahnya refleks mundur. “Noah … sekarang aku sudah menjadi ibu tirimu. Ingatlah itu!”

Naas, punggung Elena telah menabrak dinding wastafel.

Sementara itu, Noah telah berdiri dua jengkal dari hadapan Elena.

Tanpa basa-basi, Noah mencengkram pergelangan tangan Elena dan menariknya ke atas dengan satu tarikan cepat. 

Elena terperanjat, matanya terbelalak lebar. Bahkan, ia bisa merasakan darah dari tangan Noah yang masih mengalir, kini juga mengalir di tangannya.

“Jangan bilang, dulu kau sengaja meninggalkanku untuk menikahi ayahku,” bisik Noah tepat di telinga Elena.

Elena memberontak, ingin melepaskan dirinya, tapi tenaga Noah jelas jauh lebih besar darinya.

Lalu…

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

“Elena?” suara Harli terdengar samar dari luar. “Kau masih didalam?”

Elena semakin panik, saat ia hendak melepas diri, Noah justru menciumnya.

Mata Elena melotot tajam. Tubuhnya mendadak kaku. Tenaga yang semula masih cukup besar untuk mendorong tubuh Noah, kini justru mulai hilang.

Namun, ketika Noah ingin memperdalam ciuman mereka, suara ketukan pintu kembali terdengar.

Tok. Tok. Tok.

“Elena,” panggil Harli lagi.

Saat itu, Noah terdiam, membuat Elena akhirnya bisa mendorong tubuh pria itu dari hadapannya.

Elena telah melangkah hingga berdiri tepat di depan pintu. Namun, ketika ia ingin membuka pintu, suara Noah menghentikannya.

“Menurutmu, bagaimana reaksi ayahku jika tahu kita berdua di dalam toilet yang sama?”

Benar. Elena terlalu panik sampai tidak berpikir sejauh itu. Akhirnya, ia terdiam sejenak untuk mengatur detak jantungnya.

“T–Tuan Harli, tunggu sebentar,” kata Elena sedikit berteriak.

Namun, tak lama justru terdengar kalimat lain dari Harli.

“Loh, Michel? Kenapa kamu di sini?”

Lalu, diikuti dengan suara langkah kaki menjauh dari sekitar toilet.

Belum sempat Elena bereaksi lagi, Noah telah lebih dulu berdiri tepat di belakangnya.

“Urusan kita belum selesai,” bisik Noah rendah, tepat di telinga Elena. Setelah itu, ia membuka pintu toilet perlahan, memastikan tak ada orang, kemudian keluar meninggalkan Elena yang masih mematung.

Selain terkejut dengan apa yang Noah lakukan, kepala Elena juga diliputi dengan rasa penasaran akan sosok Michel yang tadi Harli sebut.

Tak ingin membuang waktu, setelah menetralkan detak jantungnya, Elena bergegas keluar toilet. Namun, ketika baru sampai di ambang ruang makan, Elena mendengar obrolan itu.

“Kamu tunggu dulu ya, Noah sepertinya masih bersiap di kamarnya,” kata Harli dengan nada ramah.

“Dia ingin bertemu Noah? Siapa dia?” tanya Elena dalam hatinya.

Selama ini, ia tak pernah mendengar tentang perempuan bernama Michel ini. 

“Ah tidak apa, Om. Aku bisa menunggu,” jawab perempuan itu dengan senyum ramah.

“Kamu pasti belum sarapan, kan? Kita sarapan bersama saja kalau begitu ya,” kata Harli sambil menarik satu kursi di meja makan untuk Michel.

“Terima kasih, Om Harli.” Michel menyambut itu dan duduk di kursi meja makan dengan nyaman.

Sementara Harli pun tampak kembali duduk di kursinya.

“Ayah dan ibu kamu bagaimana? Sehat semua?” tanya Harli melanjutkan dengan basa-basi. 

“Sehat, Om. Mereka masih sibuk bolak-balik Singapur,” jawab Michel sopan.

“Bagus… terus kamu di perusahaan gimana, betah?” lanjut Harli.

“Sejauh ini betah, Om. Aku sekarang dipercaya jadi Ketua Divisi Investasi di Blackwood Capital Partners. Noah juga banyak membantuku secara online,” Michel dengan tenang menceritakan singkat pengalaman dan keterlibatan Noah.

Harli tertawa bangga. “Sebentar lagi dia resmi jadi direktur utama pasti akan lebih banyak membantumu. Setelah lima tahun di luar negeri, sekarang memang waktunya Noah memimpin Blackwood ia harus menunjukkan gelar dan posisinya yang dominan di negara ini.” 

Langkah Elena melambat tanpa sadar. Ia berdiri di balik pilar pembatas ruang makan, cukup jauh untuk tak terlihat, cukup dekat untuk mendengar dengan jelas.

Cara perempuan itu bicara, caranya menjawab Harli, terlalu nyaman untuk sekadar tamu biasa. Dan yang paling mengganggu, nama Noah meluncur dari bibir Michel tanpa ragu, tanpa jarak. Entah kenapa masih ada rasa aneh ketika nama Noah disebut.

Elena menelan ludah. Dadanya terasa mengencang.

Tanpa ia sadari, jemarinya mencengkeram ujung gaun lebih erat.

Harli tersenyum puas. “Noah memang berbeda sejak kembali. Lebih dingin, tapi jauh lebih fokus. Aku tenang menyerahkan semuanya padanya.”

Michel tersenyum kecil. “Dia selalu seperti itu, Om. Hanya saja memang tidak semua orang bisa dekat dengannya.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Elena duga.

Saat itulah Harli tiba-tiba menoleh.

“Elena,” panggil Harli begitu melihatnya membuat Elena kaget sejenak. “Sini, Sayang.”

Elena berusaha bersikap tenang, lalu tersenyum tipis dan melangkah mendekat hingga duduk di sisi Harli.

“Om,” Michel menoleh sambil tersenyum manis. “Ini siapa?” 

“Oh,” Harli tersenyum bangga. “Ini istriku. Elena.”

“Ohhh…” jawab Michel singkat. 

Mata Michel memperhatikan Elena dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas, sudut bibirnya terangkat, menahan tawa kecil. 

Hal itu membuat rasa tidak nyaman menyusup pelan di dada Elena.

Tapi Michel segera mengubah ekspresinya. Ia tersenyum manis. 

“Cantik sekali, Om. Om memang tidak pernah salah pilih pasangan,” katanya ringan. “Serasi sekali.”

Elena membalas dengan senyum seadanya.

Harli terkekeh ringan.

“Tentu saja. Elena itu lembut, perhatian, dan tahu menempatkan diri. Tidak semua perempuan punya kualitas seperti itu,” ujarnya bangga.

Michel mengangguk pelan, seolah setuju. Namun tatapannya kembali meluncur ke Elena, kali ini lebih lama.

“Kelihatan masih muda sekali,” ucap Michel santai, senyum tipis muncul di sudut bibirnya. “Seperti… belum terlalu lama mengenal dunia orang dewasa. Pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri di keluarga sebesar ini.”

Kalimat itu terdengar halus, tapi cukup membuat jemari Elena mengeras di atas pangkuannya.

Ketika Harli ingin bersuara lagi, saat itulah langkah kaki terdengar dari arah pintu samping.

Udara di ruang makan berubah.

Noah masuk dengan kemeja gelap dan ekspresi dingin. Tatapannya langsung menyapu ruangan, lalu berhenti pada Michel.

“Oh, hai, Noah,”  sapa Michel dengan senyum manisnya.

Namun, tanpa basa-basi, Noah menarik tangan Michel hingga membuat perempuan itu berdiri terkejut.

“Ayah, aku ke kantor sekarang,” kata Noah dingin sambil menarik Michel untuk mengikuti langkahnya.

Elena tersentak kecil. Matanya membesar melihat sikap Noah yang begitu tiba-tiba dan tanpa penjelasan. Jantungnya berdegup keras, bukan karena harap, melainkan karena keterkejutan yang bercampur canggung.

Michel sendiri hampir tersandung. Tangannya refleks mencengkram pergelangan Noah, bukan melawan, lebih karena kaget.

“Noah…?” panggilnya lirih, suaranya kehilangan nada percaya diri yang tadi ia tunjukkan di meja makan.

Harli bangkit setengah berdiri. “Noah, tunggu—”

Namun Noah tidak menoleh. Genggamannya tetap kuat, langkahnya mantap seolah keputusan itu sudah final sejak ia melangkah masuk.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   152 (Gagal Wikwik)

    "Ibu...?"Suara kecil itu memecah keheningan kamar seperti petir di tengah malam.Daun pintu yang semula hanya terbuka sedikit kini terdorong perlahan. Cahaya redup dari lorong menyusup masuk, membelah suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi gejolak emosi.Elena membeku, seluruh darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap."Noah..." Bisikannya dipenuhi kepanikan.Tanpa perlu diperintah, Noah langsung melepaskan kedua tangannya dari pinggang Elena dan mundur satu langkah. Wajah pria itu yang tadi dipenuhi kerinduan kini berubah tegang.Elena buru-buru merapikan pakaian tidurnya yang berantakan. Jemarinya gemetar saat menarik kembali bahu bajunya hingga menutupi tubuhnya yang tadi terbuka. Napasnya masih memburu, membuatnya harus memejamkan mata sejenak sebelum memaksakan senyum setenang mungkin.Sedangkan Noah juga merapikan kemeja dan celananya karena barangnya sudah sangat ingin keluar tadinya."Iya, Sayang?" jawab Elena cepat menutupi Noah yang masih merapikan diri dan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   151 (Kenyotan Liar Noah)

    "Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   150 (Lidah Sumber Masalah)

    "Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   149 (Salah Paham)

    Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   148 (Wanita Pecundang)

    Inara langsung tersenyum penuh kemenangan begitu melihat ekspresi Nyonya Garli. Wanita itupun buru-buru melangkah mendekat sambil melipat tangan di dada.“Ituuu nek, yang sudah menggoda Tuan Noah juga.” Ucap Inara di sertai tatapan penuh penghinaan.“Dasar wanita murahan. Baru beberapa hari lalu menggoda Noah sekarang sudah menggoda pria lain juga.” sindirnya sambil melirik Arga sinis. “Memang kelasnya cuma begitu.” Lanjutnya sinis.DEGG.Rahang Arga langsung mengeras, Elena juga tampak menahan emos.Namun sebelum suasana semakin memanas, Nyonya Garli mendadak berjalan mendekat. Gerakannya elegan namun tegas hingga semua orang otomatis diam.Wanita tua modis itu lalu melangkah perlahan mendekati Elena.Tok.Tok.Tok.Suara hak sepatu mahalnya menggema di seluruh café membuat Elena tanpa sadar menelan ludah gugup, tatapan Nyonya Garli sulit dibaca.Sementara Inara langsung tersenyum puas karena mengira nenek Noah itu, akhirnya benar-benar marah.“Nenek memang harus memberi pelajaran pa

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 148 (Godaan Arga)

    “Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 130

    Siang itu… semuanya terjadi jauh lebih cepat dari yang seharusnya.Elena bahkan masih merasa seperti berjalan di dalam kabut saat ia duduk di ruang sidang.Prosesnya… terlalu singkat.Hakim membacakan berkas.Tidak ada perdebatan panjang.Tidak ada mediasi berlarut seperti kebanyakan kasus percerai

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 129

    Ketegangan di antara mereka terasa semakin pekat.Napas Elena mulai tak beraturan, dadanya naik turun seirama dengan kedekatan yang terlalu cepat berubah dari permainan kata menjadi pelukan intim yang meluruhkan kesadaran.Namun di tengah itu semua…Pikirannya tiba-tiba terlintas pada satu hal.Har

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 121

    BRAKK!Pintu kamar Elena terbanting keras hingga menggema ke seluruh lorong mansion.Di ruang kerja, Noah langsung tersentak. Tangannya yang semula bergerak di atas laptop berhenti seketika.Alisnya mengernyit tajam.Ia bangkit cepat, melangkah ke arah jendela besar yang menghadap halaman depan.Da

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 120

    Suasana ballroom itu langsung pecah.“MATIKAN ITU! MATIKAN SEKARANG!!”Harli berteriak histeris, suaranya serak penuh amarah dan rasa malu yang tak terbendung. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang jelas.Para pengawalnya langsung bergerak panik, berusaha menerobos ke arah kontrol layar.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status