LOGINSebelum mengangkat panggilan telepon dari Bima, Ririn berdeham pelan, melakukan ancang-ancang agar suaranya terdengar sesempurna mungkin.Setelah bersiap dengan sebaris senyuman cerah yang dipaksakan, ia dengan taktis memencet tombol hijau di layar ponselnya."Halo, Mas Bima? Makan malam? Mau banget, Mas!" ucap Ririn ceria sembari mengangguk-nganggukkan kepalanya dengan antusias.Mabelle yang duduk di sebelah Ririn seketika memasang wajah tak percaya. Ia mengernyit heran melihat perubahan drastis nada suara Ririn yang mendadak menjadi sangat keras, renyah, dan dipenuhi keceriaan yang tidak alami."Iya, Mas. See you," tutup Ririn sebelum akhirnya mematikan sambungan ponselnya.Ririn segera bangkit berdiri dari duduknya, melirik sekilas ke arah Mabelle yang masih memperhatikannya."Tante pergi dulu ya, ada jadwal kencan," pamit Ririn dengan langkah yang sengaja dibuat manja, bergegas meninggalkan kediaman mewah Marcus.Mabelle hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian
Pukul 19.00 malam, atmosfer di dalam ruang kerja apartemen Bima terasa begitu mencekam. Hanya ada pendar cahaya biru dari tiga monitor komputer yang menerangi wajah kaku sang ahli cyber.Setelah menerima flashdisk dari Adrian sore tadi, Bima langsung mengisolasinya ke dalam sistem operasi independen yang terputus dari jaringan internet untuk menghindari hantaman malware.Namun, begitu enkripsi file berhasil ditembus, detak jantung Bima seketika berpacu liar. Sepasang matanya melebar sempurna menatap baris-baris data yang terpampang di layar.Bima menyunggingkan senyum sinisnya. "Bukan hanya Saifanny yang dimata-matai, Manggala Tech ternyata selalu mengawasi semua kliennya," desis Bima dengan rahang mengeras menahan amarah.Di dalam dokumen itu, terpampang daftar lengkap klien Manggala Tech di J-City. Namun, yang membuat Bima merinding adalah lampiran skema teknis bertajuk Sub-Routing Extraction.Mekanismenya luar biasa licik sekaligus rapi. Manggala Tech ternyata tidak memasang alat s
Saifanny mencolokkan kembali kabel daya pelembab ruangan itu ke stopkontak, lalu memperhatikan benda estetis tersebut dengan seksama. "Ini sudah menyala, kan?" tanya Saifanny tanpa menatap ke arah Adrian yang berdiri di dekatnya. Adrian mengangguk pelan, meskipun ia tahu Saifanny tidak sedang melihat pergerakannya. Detik itu juga, sebuah ide nakal nan provokatif mendadak terlintas di benak Saifanny. Dengan gerakan tak terduga, ia melangkah maju dan mendekatkan wajahnya tepat di depan ventilasi pelembab ruangan tersebut. "Ahh..." Saifanny mendesah palsu dengan intonasi sensual, lalu buru-buru menahan tawa yang nyaris pecah menggunakan punggung tangannya. Adrian menyikut pelan lengan Saifanny. Sudut bibirnya mulai menyunggingkan sebuah senyuman geli melihat tingkah sang kekasih. "Apa yang kau lakukan?" bisik Adrian dengan gerakan mulut yang nyaris tidak mengeluarkan suara sama sekali. Saifanny masih sibuk menahan tawa di balik tangannya. "Memberi asupan untuk orang mesum," balas S
Setelah kepergiaan Indra, keheningan yang mencekam kembali menyelimuti area meja makan.Saifanny dan Adrian masih terduduk kaku sambil sesekali meneguk kopi mereka yang mulai mendingin.Sepasang mata mereka tertuju lekat pada benda kecil berbentuk flashdisk hitam yang tergeletak pasrah di atas permukaan kayu meja.Kehadiran benda itu seolah membawa aura misterius yang pekat, meninggalkan sejuta tanda tanya tentang rahasia keluarga Manggala yang baru saja disinggung oleh Indra.Belum sempat keduanya membuka suara untuk memecah kecanggangan, suara ketukan keras dari arah pintu depan mendadak terdengar, disusul seruan ramah seorang pria."Permisi, paket!"Adrian bangkit berdiri dengan langkah tegap, sementara Saifanny mengekor di belakangnya dengan dahi mengernyit heran.Begitu daun pintu dibuka, seorang kurir ekspres sudah berdiri di sana sembari membawa sebuah buket bunga mawar putih yang besar dan sebuah kotak kardus eksklusif berlogo elektronik."Dengan Ibu Saifanny? Ini ada kiriman
Jovian menundukkan kepala sembari menutup mulut menggunakan punggung tangannya.Ia berusaha keras menahan tawa yang nyaris semburat ketika Indra melayangkan pertanyaan sensitif mengenai apakah ia memiliki perasaan suka pada Nabilla.Setelah berhasil menguasai diri, Jovian mengangguk santai."Ya, aku menyukainya. Dia sudah seperti kakak perempuan bagiku," mulai Jovian, meruntuhkan spekulasi kecemburuan Indra."Biar kuberitahu satu cerita padamu. Aku dan Kak Nabilla sudah mengenal sangat lama, mungkin sekitar 10... ah tidak, 12 tahun yang lalu. Jika aku menyukai Kak Nabilla sebagai seorang wanita, aku pasti sudah menyatakan perasaan ini padanya 5 tahun lalu, kan? Tepat saat suaminya sudah tidak ada lagi di dunia ini," terang Jovian logis.Indra seketika terdiam. Kalimat yang dilontarkan Jovian barusan harus ia akui kebenarannya.Namun, sepasang mata elang Jovian mendadak menatap Indra dengan sangat tajam, mengubah atmosfer ruangan kembali menegang."Aku tahu tentang hubungan rahasiamu d
Setelah selesai menikmati sarapan pagi, Indra berinisiatif mengumpulkan dan membersihkan piring kotor yang baru saja mereka gunakan."Biarkan saja, nanti ada asisten rumah tangga yang datang mengurusnya," ucap Jovian memecah kesunyian.Aktor senior itu kemudian melangkah santai, mendudukkan tubuhnya di atas sebuah sofa panjang berbahan beludru berwarna biru tua.Jovian memberikan kode dengan lambaian tangan agar Indra ikut duduk bersamanya di sana."Kau sebelumnya bertanya padaku tentang rahasia keluarga Manggala, kan? Aku akan memberitahumu satu rahasia yang tidak diketahui oleh satu pun orang luar, termasuk Kak Nabilla sekalipun," mulai Jovian dengan nada suara yang perlahan merendah.Indra menggeser langkahnya lalu mengambil posisi duduk dengan telinga yang sudah siap mendengarkan dengan saksama."Salah satu rahasia keluarga Manggala adalah... aku," ucap Jovian sembari menunjuk dirinya sendiri.Indra mengerutkan alisnya dalam-dalam, belum sepenuhnya memahami arah pembicaraan sang s
Adrian melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan beban pikiran yang terasa kian menghimpit. Kesimpulan-kesimpulan yang ia tarik dari reaksi Ibu Sarah semalam masih terasa samar dan berkabut di kepalanya. Ia tahu, ia butuh lebih dari sekadar firasat; ia butuh bukti konkret untuk mengungkap apakah
Suasana parkiran rumah sakit yang remang-remang terasa begitu sunyi saat Saifanny melangkah mendekati mobil mewah milik Adrian.Dari balik kaca transparan, ia bisa melihat siluet pria itu yang tampak begitu lelah, menyandarkan keningnya di atas lingkar kemudi.Tok! Tok!Saifanny mengetuk kaca perla
Malam itu terasa begitu panjang bagi Saifanny. Ia menutup pintu kamarnya dengan bantingan pelan namun bertenaga, merefleksikan badai amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.Napasnya memburu, jemarinya masih gemetar karena sisa adrenalin pasca menampar Indra.Ia tidak habis pikir, bocah yang selama
Matahari baru saja menyentuh puncak-puncak pinus ketika Ranaya tiba di sebuah villa mewah di daerah pegunungan yang asri.Perjalanan dua jam dari hiruk-pikuk kota yang melelahkan membuat badannya terasa pegal dan kaku karena terlalu lama duduk di dalam mobil.Begitu kakinya menyentuh tanah, ia lang







