LOGINSeminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.
Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai SaifSore itu, setelah rapat dadakan yang cukup menguras energi antara Andien dan Jovian selesai, Andien segera berpamitan.Langkah kakinya gontai menuju kamar yang sudah dipersiapkan oleh Indra untuk beristirahat karena kelelahan pasca-penerbangan panjang.Kini, tinggal Jovian dan Indra yang duduk bersebelahan di sofa ruang tamu. Keheningan sempat merayap sebelum akhirnya Indra menoleh dengan sebaris senyuman penuh arti."Siapa ya yang beberapa hari lalu berkata kalau hubungan antar manusia itu merepotkan? Sepertinya, orang itu sedang menelan ludahnya sendiri sekarang," sindir Indra tajam, nadanya sarat akan cemoohan yang disengaja.Indra menyadari betul perubahan drastis pada sikap Jovian. Pria itu jelas-jelas menyukai Andien.Buktinya sangat nyata; sepasang mata Jovian sama sekali tidak pernah lepas dari sosok Andien sepanjang mereka membicarakan proyek gedung apartemen dan musik metal tadi.Jovian berdeham pelan, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya meski sudut bibirnya berkedut.
Siang itu, jarum jam tepat menunjuk pukul 12.00. Di sudut area kedatangan bandara yang cukup sepi, Indra berdiri bersandar pada pilar dengan pose yang tampak keren.Wajahnya tertutup rapat oleh masker hitam dan sepasang kacamata hitam besar demi menghindari sorotan publik.Beberapa menit berlalu sebelum pintu pembatas akhirnya terbuka. Indra menurunkan sedikit bingkai kacamatanya, mengintip ke arah kerumunan penumpang yang keluar.Ia memeriksa ponsel; pesan yang dikirimnya belum menunjukkan tanda-tanda terbaca. Andien tampaknya masih belum mengaktifkan ponselnya.Tap!Sebuah tepukan tiba-tiba mendarat di bahunya. Manik mata biru Indra seketika melotot kaget.Jantungnya berpacu cepat, mengira seorang penggemar fanatik berhasil mengenali identitasnya di tempat sepi ini.Namun, saat membalikkan tubuh secara perlahan, ketegangannya mencair. Andien sudah berdiri di sana, menyunggingkan senyum cerah yang familier.Tanpa aba-aba, Andien merengkuh tubuh adiknya dalam pelukan erat."Syukurlah
Pagi hari di kediaman Jovian. Indra membuka ponselnya dan melirik penunjuk waktu digital yang telah menunjukkan pukul 08.00 pagi.Itu artinya, waktu sudah bergulir ke pukul 11.00 siang di Melbourne, Australia, tempat di mana Andien menetap dan bekerja sebagai seorang desainer interior profesional.Indra segera mencari kontak Andien, lalu memencet tanda panggilan. Ia menempelkan ponsel ke telinga, mendengarkan nada dering yang bergaung.Ada jeda yang cukup lama sampai beberapa detik kemudian terdengar bunyi klik, dan panggilan pun diangkat."Halo... Ada apa, Adik?" jawab Andien di seberang sana."Kamu sedang sibuk? Kalau iya, aku akan menelepon lagi nanti," ucap Indra pelan, merasa agak sungkan."Tidak terlalu. Katakan saja, ada apa?" balas Andien lagi.Indra terdiam sejenak. Sejujurnya, ia belum pernah membujuk siapa pun dalam hidupnya, sehingga lidahnya mendadak terasa kaku."Bagaimana kabarmu? Maaf aku tidak sering menghubungimu karena jadwalku yang agak padat," cecar Indra memulai
Sore itu, di salah satu sudut kediaman mewahnya yang megah, Jovian menyaksikan Indra sedang duduk di atas sofa sembari menatap layar ponsel di depan wajahnya.Pria muda itu tengah melakukan panggilan video dengan seseorang yang sangat penting baginya."Tumben Noona meneleponku jam segini. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" tanya Indra dengan raut wajah yang dipenuhi rasa penasaran.Di seberang sana, Nabilla mengembuskan napas panjang."Aku hanya merindukanmu. Selain itu, pekerjaanku di sini membuatku pusing," ucap Nabilla dengan raut wajah lelah sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya.Sepasang mata Nabilla tiba-tiba menyipit, memperhatikan latar belakang tempat Indra duduk yang terasa sangat asing."Indra... Kamu sedang di mana?" tanya Nabilla menyelidik.Indra seketika menyunggingkan senyuman canggung. "Aku di rumah Kak Jovian, hehe," ucapnya dibarengi tawa kecil yang kaku.Nabilla memiringkan kepalanya, sedikit terkejut. "Kenapa kau di rumah Jovian? Tunggu... Kau su
Dentingan sendok perak yang beradu dengan cangkir porselen menjadi melodi penutup makan malam mereka.Ririn melirik ke arah seorang pelayan, lalu memberikan anggukan kecil yang tersamar kepada pria itu.Tiba-tiba, pelayan tersebut mendatangi meja mereka dan meletakkan dua cangkir teh herbal hangat di atas permukaan kayu.Ririn menyunggingkan senyuman manisnya, mencoba bersikap sewajar mungkin.Bima mengerutkan keningnya, menatap pelayan itu dengan pandangan menyelidik. "Kami tidak memesan ini," ucap Bima datar.Pelayan itu segera menyunggingkan senyum ramah. "Ini teh herbal spesial Signature Blend dari hotel ini. Hanya disajikan khusus untuk pengunjung malam ini saja. Teh ini memakai ekstrak bunga camomile dan lavender langka. Bagus untuk relaksasi, Pak," terang pelayan itu dengan sopan, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.Bima menatap uap tipis yang mengepul dari cangkir porselen tersebut. Aroma lavendernya sangat pekat, menenangkan, sekaligus terasa asing di
Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul 19.30 di sebuah restoran hotel bintang lima. Tempat ini mengusung gaya glasshouse sanctuary yang memadukan keanggunan arsitektur kolonial klasik dengan kesegaran alam terbuka.Langit-langitnya berupa kubah kaca raksasa yang disangga oleh balok-balok besi putih kokoh, membiarkan keindahan langit malam J-City ikut menjadi latar belakang ruang makan.Fokus utama dekorasi ruangan ini terletak pada instalasi tanaman hijau rimbun yang menyejukkan mata.Puluhan pot tanaman pakis dan dedaunan tropis digantung rapi, menjuntai ke bawah membentuk kanopi alami yang asri di atas area perjamuan, seketika mengingatkan Bima pada hotel bintang lima tempat ia menginap bersama Andien terakhir kali.Bima mengembuskan napas pasrah dengan sepasang mata yang meredup penuh kerinduan sekaligus kesedihan.Sebenarnya, Adrian-lah yang memesan meja di restoran mewah ini. Semua ini murni bagian dari skenario taktis untuk mendekati Ririn demi melumpuhkan spionase Marcus.Bima
Setelah berjam-jam menguras energi dalam latihan vokal dan sesi rekaman yang intens, Indra akhirnya mengizinkan tubuhnya beristirahat.Ia terduduk di kursi ruang latihan, meneguk air mineral untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah dipaksa mencapai nada-nada tinggi.Namun, ketenang
Langkah kaki Indra bergema berat di koridor gedung Holy Entertainment. Pria itu kembali masuk ke dalam ruang latihan dengan suasana hati yang berada di titik terendah. Kejadian di parkiran tadi—konfrontasi menjijikkan dengan Ranaya—telah meninggalkan residu amarah yang pekat di dadanya. Andien,
Siang itu, di dalam kediamannya yang sunyi, Saifanny sedang menempelkan ponsel di telinga, terlibat dalam obrolan serius bersama Bima mengenai langkah taktis mereka selanjutnya."Itulah yang kemarin kami bicarakan. Aku tidak menyangka Arkana pada akhirnya akan tetap melindungi Adnan. Aku terlalu na
Pagi itu, cahaya mentari yang hangat perlahan membangunkan Nabilla. Ia meregangkan tubuh dan menguap lebar, sebuah telapak tangan hangat tiba-tiba mendarat lembut menutupi mulutnya. Indra berbaring menyamping, menatapnya dengan pandangan kasih sayang. Menyaksikan pemandangan seindah itu di awal ha







