LOGINThree years ago, Rowan Stewart was gifted to the infamous Alpha of Red Moon as one of his pleasure servants—a brutal tradition cloaked in civility, where beauty is bartered for peace. The Alpha, powerful and feared, accepted her without question, despite already having two wives. For Rowan, life in the Red Moon Pack was tolerable,lavish, but hollow. She kept her head down, grateful that her obedience spared her family’s lives, even if her own freedom was quietly buried. But everything changes the day she discovers she’s pregnant,with the Alpha’s child. The news detonates through the pack like wildfire. This isn’t just a scandal,it’s a miracle. Or a lie. Because Alpha Kael was cursed by a witch a to never bear an heir. Infertile. Doomed. Now Rowan stands at the center of a storm,accused of deception, targeted by the Alpha’s jealous wives, and caught in a web of ancient curses, pack politics, and dangerous truths. Some believe she carries hope. Others believe she’s a threat. And Kael himself? No one knows if he’ll claim the child... or kill them both. What began as survival has become something far more treacherous. Because if the curse is broken… Then Rowan Stewart may be carrying more than just a child— She may be carrying the future of the Red Moon Pack.
View MoreBab 1
Cahaya matahari perlahan redup menerangi bumi. Angin berembus menderu menghempas-hempaskan dahan-dahan di sekitarku. Deburan ombak terasa basah oleh uap air yang terbawa angin menerpa wajahku. Aku tersadar dari lamunanku. Sudah seharian aku duduk di tepi pantai merenung untuk mengambil keputusan yang menyangkut masa depanku. Ini adalah keputusan terberat yang akan aku ambil untuk masa depanku, keluargaku dan adik-adikku. Aku mendesah dalam hati. “Andai semua ini tidak pernah terjadi dan hanya mimpi. Aku menangis tergugu menangkupkan kedua tanganku, tubuhku bergetar menahan tangisan.“sanggupkah aku menghadapi semua ini,” rintihku.Terlintas kejadian semalam, bapaku terbaring lemah tak berdaya. Sakit livernya kambuh karena beban berat yang ditanggungnya.Aku mendengar bapak dan ibu berdebat ribut membahas masalah rumah yang digadaikan oleh pamanku yang akan disita oleh sang rentenir, yang sudah lewat jatuh tempo.“Bagaimana ini, Bu? masmu Karjo tidak datang-datang menepati janjinya yang mau membayar hutang dan menebus sertifikat rumah.“Aku juga tidak tahu, Pak? sudah aku cari ke mana-mana tidak ketemu,” jawab Ibuku.“Dia kok tega banget melakukan ini Bu, anak-anak kita nasibnya bagaimana kalau rumah sampai disita? ”kata Bapak.“Mau tinggal di mana kita? ”tanya Bapak.Ibu semakin tergugu dalam tangisnya.“Keadaanku juga seperti ini tidak bisa apa-apa, tega sekali mas Karjo itu pinjam-pinjam tidak tanggung jawab,” jerit bapak.Flas backEnam bulan yang lalu pamanku datang ke rumah menemui bapak dan ibu. Dia bercerita katanya dapat tender proyek dan butuh dana untuk melancarkan proyek itu, Dia mau pinjam uang ke bapak tapi tidak punya.“Dek Rafi, aku mau minta tolong pinjami uangmu, kalau ada lima ratus juta untuk kelancaran proyekku? Kata paman.“Aduh, mas, tidak punya kalau sebanyak itu,” jawab Bapakku.“Tolonglah, Dek, ini proyek yang bagus, kalau berhasil ini bisa melancarkan proyek-proyekku yang lain.“Tapi benar, mas, aku benar-benar tidak ada.Pamanku masih tidak menyerah dia malah punya ide untuk menggadaikan sertifikat bapak dan terus membujuk bapak dan ibu.“Kalau boleh, saya mau pinjam sertifikatmu dulu bagaimana?” kata paman.DegBapak kaget pandangannya menatap ibu seperti meminta penjelasan serta jawaban dari ibu namun malah terdiam.“Waduh, bagaimana nanti kalau sampai tidak kebayar? Kami mau tinggal di mana?” jawab Bapak.“Pasti aku bayar, dek! masak sama saudara sendiri tidak percaya dan hitung-hitung menolong saudaramu ini.“Tapi mas?“Sudahlah, aku pinjam juga tidak lama hanya waktu enam bulan.“Nanti kalau danaku cair tidak sampai enam bulan aku tebus sertifikat rumahmu.Bapak dan ibu minta waktu untuk berunding, setelah berpikir untuk niat menolong dan merasa tidak enak dengan saudara serta paman terus mendesak akhirnya bapak mengizinkan.“Begini mas, sertifikat boleh dipinjam tapi harus tepat waktu bagaimana?” tanya Bapak.Aku lihat paman tersenyum lega“Baik kuusahakan tepat waktu dan tidak mengecewakanmu.Paman menjelaskan kepada bapak kalau sertifikat akan digadaikan pada temanya.“Sertifikat ini akan aku gadaikan ke temanku, yang siap meminjamiku kapan saja,” jelas Paman.“Iya kamu harus tepati janji,” jawab Bapak.Bapak tidak tahu kalau sertifikat digadaikan paman kepada seorang rentenir yang berbunga tinggi.Tiba waktunya pamanku tidak bisa membayar malah pergi entah ke mana menghilang, bersembunyi dari bapak dan ibu yang panik dan kebingungan.Sang rentenir terus datang menagih ke rumah bapak terus meneror karena pinjaman atas nama bapak. Membuatnya semakin drop dan penyakitnya semakin parah.“Saya minta, secepatnya uangku dikembalikan, bersama bunganya karena ini sudah melebihi jatuh tempo.“Kalau tidak, Pak Rafi harus segera angkat kaki dari rumah ini!Bapak memohon kepada sang rentenir agar diberikan waktu lagi.“kasih kami waktu lagi! Aku sedang berusaha, selain itu yang pinjam bukan aku tapi saudaraku.“Saya tidak mau tahu! “jawab sang rentenir dengan kasar.Setelah kepergian sang rentenir, bapak kedatangan tamu teman bisnis dulu.Pak Badrun namanya dia teman bisnis bapak dari lain kota.Karena panik dan bingung bapak bercerita kepada pak Badrun tentang semua masalahnya, serta meminta bantuan kepadanya.Mendengar cerita bapak, pak Badrun terdiam seperti berpikir Tidak disangka-sangka pak Badrun malah menawarkan bantuan bisa menolong bapak tapi ada syaratnya yaitu aku harus mau menjadi istrinya.“Aku akan membayarkan hutang dan menebus sertifikat rumah asal anakmu, Arini mau menikah denganku!DegBapak kaget dengan permintaan yang diajukan oleh pak Badrun karena umurnya hampir sama dengan bapak .Mana pantas dengan Arini yang berumur dua puluh tahun.“Tapi Arini masih muda umurnya dua puluh tahun sedangkan kamu lebih pantas jadi ayahnya, ”jawab Bapak.“Itu syaratku, kalau mau aku akan langsung bereskan semua masalahmu kalau tidak aku tidak bisa membantu,” jelas Pak Badrun.“Baiklah, aku tanyakan dulu pada Arini.“karena sudah tidak ada yang di bahas, Aku mohon pamit dulu.Setelah kepergian pak Badrun, bapak duduk terdiam diruang tamu menghembuskan napas yang berat.“Huuu...fLalu memanggilku dan menjelaskan semuanya.Jauh di relung hatiku sumpah serapah aku tunjukan pada paman. Aku membencinya pamanku yang berbuat dan menikmati sekarang aku yang menanggung semuanya.Melihat kesehatan bapak yang semakin memburuk, Akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengan pak Badrun.“Bagaimana Arini? mau kamu menerima tawaran yang di ajukan, Pak Badrun? ”tanya Bapak.Aku diam menahan tangisku agar bapak tidak semakin tertekan, untuk menjawabnya aku harus kuat.“Iya aku menerimanya,” jawabku.Aku sangat menyayangi bapak, ibu dan adik-adiku.Aku tidak boleh egois, akan aku korbankan jiwa dan ragaku untuk kebahagiaan bapak.Aku ikhlas mengambil keputusan ini tanpa paksaan, demi baktiku kepada kedua orang tua.Setelah mendengar jawabanku bapak mengabari pak Badrun kalau aku setuju.“Hallo pak Badrun,” ini Arini anakku menyetujuinya.“Alhamdulillah, besok aku akan ke sana, seperti janjiku aku akan menyelesaikan utang piutang dengan rentenir itu.Bapak lalu menelepon sang rentenir kalau besok disuruh datang untuk pelunasan.“Hallo besok datang aku akan membayar dan serahkan sertifikatku,” kata Bapak.“Baik aku akan datang,” jawabnya.Ternyata tidak mudah untuk lepas dari jerat sang rentenir, dia mengatakan kalau mau menebus harus membayar bunganya yang telah lewat jatuh tempo.Bapak semakin terperanjat karena jumlah hutang pamanku semakin membengkak.Dan seperti janjinya pak Badrun membayar hutang beserta bunganya dan meminta sertifikat rumah lalu diserahkan ke bapak.Bapak mengucapkan terima kasih kepada pak Badrun atas bantuannya yang telah menyelamatkannya dari jerat rentenir akibat ulah pamanku yang tidak tanggung jawab."Terima kasih, kalau tidak ada bantuanmu bagaimana nasib kami,” kata Bapak."Ini atas kehendak Tuhan, aku tidak punya daya apa pun tanpa kuasa Tuhan.Akhirnya pak Badrun mohon diri setelah urusannya selesai.Kael’s POVI made a decision.After that night, everything changed,and I made a decision I knew would anger people. But I don’t care. It's the right choice, and I won’t entertain opinions on the matter. Not from the elders. Not from my wives.Not from anyone.A soft knock breaks the silence in my office.Chelsea."Come in," I call, my voice low and rough. Sleep has become a stranger since the attack.Chelsea steps inside, her features tight with worry. She didn’t expect my summons,especially not this early."Is everything okay?" she asks, taking the seat across from me.I nod. Briefly. I’m not in the mood for pleasantries or drawn-out explanations."Kael—" she starts, but a second knock cuts her off. Sharper. Louder.Vivienne.She doesn’t wait for my permission to enter,she never does. The door swings open and she strolls in like she owns the place, radiating disinterest."I had a massage appointment," she says flatly, dropping into the seat beside Chelsea.I ignore her.“Rowan was at
RowanThe candlelight flickered softly across my bedroom walls, casting dancing shadows that usually brought me comfort.Not tonight.I rubbed the lavender balm between my palms and pressed it to my temples, breathing in. My nightly ritual was meant to ground me,a small moment of peace after days of chaos. But today hands trembled slightly. My heart beat too loud.I tried to shake it off.Just nerves, I try to assure myself as I told rinsed my face in the bathroom. The cool water helped… until it didn’t.I paused as Ireached for the towel.Something was wrong.The air had shifted.I stood at the sink, dripping, staring at the mirror. My breath fogged the glass, but I could feel something just beyond my vision,a presence. My skin prickled. My pulse climbed.When I stepped back into my bedroom, the air was wrong. Thick. Charged.Like lightning before the strike.I tightened the towel around me and called out, voice steady despite the dread curling in my chest. “If someone’s here,” I
KaelI’d been in a foul mood ever since that damned confrontation with Rowan.Chelsea had tried to soothe me, all soft eyes and gentle words. It only made me more irritable.Vivienne hadn’t even bothered. She’d been keeping her distance, probably sensing the storm brewing under my skin.Carlos, unfortunately, didn’t have the luxury of avoiding me. Being my Beta meant he was stuck with me, bad mood and all.“You haven’t heard a damn word I’ve said,” he muttered, leaning back from the map spread between us.He was right.“Sorry,” I said with a sigh, rubbing the back of my neck. “My mind’s… elsewhere.”Carlos arched a brow. “Let me guess. This about what happened in your office the other day?”I gave him a curt nod, jaw tightening.He exhaled and rolled up the map, clearing the table with a sweep of his arm. “And here I thought we were going to get through this meeting without dancing around the obvious.”“Have the elders said anything?” he asked after a moment, his tone more serious now
Rowan’s POVThe stew smells like rosemary and something warm I can’t quite name.Thessaly sets the bowl in front of me like I’m made of glass, like I might break if she moves too quickly. Her eyes flicker to my hands, still slightly trembling from the earlier storm I unleashed in the Alpha’s office.I don’t say thank you. I just nod. She doesn’t expect more, not when she can feel the anger still radiating off of me. We sit at the small table in silence, spoons clinking gently against ceramic. The cottage is warm, firelight throwing shadows along the walls. I’m grateful for it. Not just the warmth,but the silence. The stillness.“You didn’t have to scream at him,” Thessaly says eventually, her voice quiet, hesitant.“I know,” I reply, setting my spoon down. “I wanted to.”She chuckles, but there’s no real humor in it. Just tired affection. “You shook the whole damn house. I thought the windows might crack.”I let a breath out. “Good.”We sit again in the hush.Then, like she’s choosin
Rowan's povI wasn’t expecting to enjoy Whitefang’s early mornings.The air was crisp, clean, and smelled faintly of pine and something sweeter,maybe cinnamon rolls from the kitchens. The courtyard was alive with movement, young warriors running drills, their laughter and grunts of effort echoing t
Kael’s povThe scent of rain lingered in the air even though the skies hadn’t opened yet. I stood at the war table, eyes scanning the map sprawled across its surface. My fingers traced the path we’d be taking,three days through open terrain, two if we pushed hard.Carlos stood to my right, silent,
Rowan's pov The hush that fell over the crowd was deafening.I stood just behind Alpha Kael, mu hands clasped tightly in front of me to stop them from trembling. The early evening air was crisp, the faint scent of pine and bonfire smoke brushing against her skin as the pack assembled in the clea
Rowan’s POVMy fists are clenched the entire walk to the Alpha’s house.Thessaly trails behind me, nearly jogging to keep up.“Rowan, just slow down. Please think for one second—”“No.” My voice is hard. “She touched me, Thess. She touched my face and told me my child isn’t mine. Told me they’d tak






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews