LOGINAfter being sent back in time to relive my life, I stopped standing up for the popular girl who got caught stealing. When she returned to college for classes, I dropped out. When she came to my house looking for me, I moved. I did everything I could to cut off all contact with her. Before I died in my last life, I knew she married me only for my family’s money, yet I still handed her my heart like a fool. The jewelry I gave her was “tacky.” Trying to get close to her was “annoying.” I held on to a cold, empty marriage, thinking that as long as I waited, she would eventually turn back to me. However, for more than twenty years, all I got was her indifference. I didn’t even dare touch the doorknob to her room. Then came the fire, and I risked my life to push her out the window to safety. Right before I died, I saw my wife, completely unharmed, run straight into the arms of our college valedictorian. Crying, she said she was finally free from the marriage that had made her miserable for decades. If life could start over, she said, she hoped to walk hand in hand with the person she truly loved. In that moment, my heart went dead. I let the fire swallow whatever remained of my life. When I opened my eyes again, I was back at the bar where the popular girl was working part-time and stealing money from a customer. This time, I chose to call the police.
View More"Kak Dion berbaring aja, biar aku yang main di atas," ucap wanita itu dengan senyum nakal menggoda. Napasnya memburu saat dia duduk di pangkuanku.
Payudaranya nyaris menyentuh wajahku, dan aku pun mencondongkan wajahku, mencium, menggigit ringan. Dia mendesah, pinggulnya bergerak perlahan. Nikmat. Terlalu nikmat. "Ahhh... Terus, Kak..." Tubuhnya naik turun. Gerakannya belum cepat, tapi tiap gesekan membuatku nyaris kehabisan kendali. Aku mencengkeram pinggulnya, menahan hasrat untuk membalikkan badan dan mengambil alih. "Lebih cepat, Sayang," pintaku, yang langsung diturutinya dengan mempercepat gerakan, membuatku tidak kuat menahan aliran darah yang makin memuncak. “Sedikit lagi ….” "Ahhh... Iya, Kak.. kita keluarkan bareng-bareng..." Suaranya terdengar lembut dan menggoda membuat aku makin bernafsu, dan wangi tubuhnya benar-benar menambah gairah dalam diri ini. Dia terlihat begitu cantik, wajah memerah, rambut berantakan, dan ekspresi yang seakan memintaku untuk segera melepaskan sesuatu yang kini rasanya seperti sudah di ujung. Tidak berselang lama desahannya semakin keras dibarengi dengan gerakannya yang makin cepat. Di saat itu juga, aku tak tahan lagi. “Arghh...!” Segalanya meledak. Tubuhku bergetar, napas tersendat, dan... BRUK! “Aduh!” Aku menabrak meja nakas sebelah ranjang dan sangat jelas telah jatuh dari kasur dengan selimut melorot dan celana pendek basah yang lengket di bawah. Masih ngos-ngosan, aku melihat sekeliling. Kamar kos sempit. Kipas berdengung. Tidak ada perempuan. Tidak ada kolam. Tidak ada suara manja yang memanggil "Kak Dion." “Gila … gua cuma mimpi …?” Aku bangkit setengah sadar, menarik napas dalam-dalam, lalu melirik ke jam dinding yang menunjukkan pukul 07.45. Seketika, aku terbelalak. “Sial! Gua telat!” Tanpa pikir panjang, aku langsung bangkit, meraih handuk di gantungan, dan menyeka cepat keringat dingin yang membasahi tubuh. Kaus tipis dan celana training kuganti secepat kilat, hampir tersandung saat menarik celana ke atas. Kamar kosku sempit, cuma muat satu kasur single, meja kayu usang, dan lemari kecil yang mulai reot di salah satu pintunya. Bau kopi sisa semalam masih tercium samar dari cangkir di meja, bercampur aroma lembap khas kamar tak ber-AC. Aku mencomot roti tawar sisa kemarin yang terbungkus setengah di meja, menyelipkannya di antara bibir sambil menyambar tas selempang. Sandal kucalungi tanpa benar-benar melihat kanan kiri. Begitu pintu terbuka, udara pagi langsung menyergap. “Waduh, Dion, telat lagi?” sapa Pak Sardi, tetangga kos yang duduk santai di kursi plastik sambil menyeruput kopi. Aku hanya tersenyum singkat, roti masih di mulut. “Iya, Pak… pergi dulu ya,” jawabku, suaraku agak teredam tapi tetap datar dan mantap. Beberapa puluh menit kemudian, aku sampai di klub dalam kondisi setengah basah karena keringat. Tapi belum juga bisa bernapas stabil, seorang staf menyuruhku langsung ke ruang Bu Rani, manager kelab tempatku bekerja. ‘Fix, ini pasti kena omel,’ batinku meronta. Bagaimana tidak? Baru seminggu aku kerja di sini. Setelah dua bulan menganggur akibat memutuskan berhenti di kelab renang lama karena perselisihan internal, seorang teman memperkenalkanku posisi pelatih di kelab elite ini. Sebuah tempat mewah yang punya member dari kalangan sosialita, pengusaha, sampai artis. Katanya, pekerjaannya akan santai karena kebanyakan klien di sini tidak benar-benar niat belajar. Namun, kenyataannya, tekanan kerja di sini sangat gila. Semua serba profesional, aturan ketat, dan persaingan antar pelatih terasa seperti arena perang diam-diam. Aku tahu, satu kesalahan kecil saja bisa bikin aku dikeluarkan. Dan sekarang, baru seminggu kerja, aku sudah telat dan berakhir dipanggil manajer pagi-pagi begini. Dan benar saja, sesuai dugaan begitu masuk … aku sudah disuguhi wajah masam Bu Rani. "Pagi, Bu...." Aku berusaha menyapa seperti biasanya. "Duduk!" bentaknya yang langsung membuatku menangis dalam hati. Aku pun duduk di hadapannya selagi berusaha untuk tetap tenang, tapi jujur saja, jantung ini berdetak cepat menunggu vonis. "Kenapa kamu telat?" tanya Bu Rani tajam. Mataku melirik jam di dinding, 08:25, masih ada lima menit lagi sebelum jam kerja, tapi aku dinyatakan telat? Tidak ingin berdebat, aku pun menjawab, "Maaf, Bu. Saya lupa menyalakan alarm." "Kamu sadar tidak kalau kamu itu sedang kerja di sini? Bukan main-main! Baru juga kerja semingguan, tapi sudah berani telat. Kamu kira kelab ini punya kamu?!” Aku hanya bisa diam. Walau memang masih ada lima menit lagi menuju jam kerja, tapi melawan tegurannya yang notabenenya adalah bos di kelab ini sama dengan bunuh diri. “Maaf, Bu ….” Bu Rani menghela napas kasar, lalu memijit pelipisnya, seakan benar-benar pusing menghadapiku. "Bukan cuma telat, tapi sudah satu minggu pun kamu masih belum mampu menarik klien menjadi murid tetapmu.” Detik itu, aku mengangkat pandangan. ‘Ah, jadi ini masalah utamanya ….’ “Dengar ya, Dion. Di kelab ini, yang dilihat dari seorang pelatih bukan cuma soal kemampuan mengajarkan teknik saja, tapi kamu harus punya daya tarik juga! Kalau kamu tidak punya daya tarik, sampai kapan pun kamu tidak akan mendapatkan murid tetap! Paham?!" “Paham, Bu …" jawabku singkat, dusta. “Bagus. Kalau begitu, saya tegaskan sekali lagi sama kamu. Kelab kita ini tidak menggaji pelatih secara cuma-cuma. Kalau memang dalam satu bulan kamu tidak bisa mendapatkan murid tetap, kamu akan saya keluarkan!” Usai memberikan ultimatum itu, Bu Rani langsung menunjuk pintu keluar. “Sekarang, cepat lakukan pekerjaanmu!” Keluar dari ruangan Bu Rani, aku langsung pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju. Setelah siap, aku pun kembali ke area kolam dan duduk sambil menunggu panggilan. Mengingat kalimat manager kelabku itu, aku menghela napas panjang, kembali merasa tertekan selagi menatap sejumlah pelatih yang sedang melayani murid mereka masing-masing. Omongan Bu Rani sebenarnya sangat masuk akal. Sebagai pelatih renang di kelab privat, memang tugas seorang pelatih bukan hanya mengajar murid, tapi juga membuatnya nyaman dan tertarik untuk terus belajar. Akan tetapi, member-member kelab ini seperti apa? Mereka adalah para sosialita yang sama sekali tidak niat belajar dan kentara hanya ingin memamerkan bikini mereka selagi bersenang-senang. Sedangkan aku? Aku hanyalah pelatih renang biasa yang cuma tahu caranya mengajarkan teknik renang! Gimana caranya aku mempertahankan murid-murid seperti mereka!? "Bengang bengong aja lo. Niat kerja nggak sih?” Dengan cepat aku menoleh karena sedikit kaget. Ternyata itu Arief. Salah satu pelatih senior yang sikapnya cenderung angkuh. Anehnya, banyak murid yang nempel padanya. "Maaf, Bang. Gua cuma lagi bingung aja," jawabku. "Bingung?" Dia mengernyitkan dahinya. “Bingung kenapa?” Akhirnya, aku pun menceritakan semua percakapanku dengan Bu Rani. Namun, bukannya prihatin, pria itu malah tertawa seakan meledek. "Hahaha, haduh, konyol banget!” ucapnya. “Jangankan satu bulan, kalo lo nggak ganti cara main, sampai tahun depan juga belom tentu lo dapet murid tetap, Yon! Bodoh banget sih!” Aku hanya diam mendengar perkataannya yang benar-benar meremehkanku. Melihatku terdiam dan tidak bereaksi, sepertinya Arief merasa sedikit canggung. Akhirnya, dia berdeham dan berkata, "Gini, gua kasih tau ya sama elo! Kalo lo mau bertahan di sini, jangan cuma jual teknik.” Dia menoleh ke kanan-kiri sesaat, lalu berbisik, “tapi lo harus jual diri." Sontak, mataku membesar. Aku menatapnya kaget dan berseru, “Hah?!” Ya, namaku Dion Pratama, seorang pelatih renang di sebuah kelab elite. Dan ini... adalah kisah tentang bagaimana aku belajar ‘melayani’ para sosialita yang haus hiburan dan sentuhan penuh sensasi. *****I frowned, giving her a suspicious look.“What did I do to make you think that?” I asked.“My mom’s told me. You told the police you weren’t going to make me pay back that money. If that’s not love, then what is? I really do recognize that I was wrong, and for that, I’m truly sorry. Let’s move forward. You go to college, and I’ll stay home and take care of you… as your devoted partner. How about that?”I shot her a disdainful look.“Maya, I’m not going after that money because I feel sorry for your mom and Wayne’s dad. They’re both good parents, and they shouldn’t have to carry such a heavy burden because of your mistakes. But make no mistake, I will still hold you legally accountable.“Another reason I’m letting this go is that I don’t want to be tied to you in any way. Even if I force you to repay me, you can’t afford it, and then I’ll have to stay involved. I’d rather just walk away.“Maya, the only one you can blame is yourself. Accept the consequences and stop fantasizing. N
“You two really are a perfect match, aren’t you?”Just thinking about how, in my previous life, all the money I gave Maya for more than twenty years ended up in Wayne’s pockets… made my blood boil. I wanted to tear him apart right then and there. However, I held myself back because what I was about to show them hurt even more.With one tap of my finger, the screen lit up with the video where they were selling my dog.“You think I went to that remote place without preparing anything? I had a hidden camera on me the whole time.”The moment the students below the stage saw the part, chaos broke out. A lot of the girls burst into tears on the spot.“What did the dog ever do wrong? Why would you hurt a dog? Wayne, you’re disgusting!”This time, every cup of coffee and water bottle was thrown straight at him.In the middle of the chaos, a middle‑aged man suddenly rushed onto the stage. He grabbed Wayne by the collar and began punching him over and over.“You useless bastard! How did
“I… I didn’t think that the two of them would really go that far.”I took over, continuing firmly, “That’s why you, Wayne, deliberately got close to me and constantly whispered in my ear about how hard things were for Maya. You even created opportunities for us to spend more time together.“But that’s not all. You went and studied psychology on your own, constantly hinting in my ear that I was in love with Maya—that I loved her so much I couldn’t help myself… and I fell right into your trap! Even though Maya kept teasing me, playing hot and cold, never once saying she liked me, I still willingly gave everything for her! You two are horrible!”The crowd erupted into murmurs of shock.Maya’s face went an even darker shade of green.“No! Don’t listen to him! That list is fake. I never took his things!”Just then, a broken, choked voice came from the audience. “I can prove it… That list is real because I wrote every single entry!”With tears streaming down her face, Maya’s mother st
This time, though, I finally caught a clue. I suddenly remembered that when Maya went on her “business trip,” I’d seen a photo Wayne posted on social media, and he happened to be in the same city as her.When I connected that with everything else that had happened, the truth became obvious. If she’d gone to a proper hospital for an abortion, there was no way she would’ve ended up with surgical tools that weren’t sterilized properly. So it must’ve been at some cheap clinic or even an illegal one.She was twenty-one then—a junior in college. In my previous life, it was around this same time that Maya was sick for several days, and when I tried to visit her, she refused to let me come over.In fact, right before she fell sick, she’d even asked to borrow money from me. Back then, I was fighting with my parents, and they had frozen my card, so I didn’t lend her anything. Hence, chances were, Wayne didn’t have money either, which meant he took her to the cheapest back-alley clinic he coul












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.