Chasing Their Unloved Luna

Chasing Their Unloved Luna

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-18
Oleh:  Caelen F FaeOngoing
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
9.3
6 Peringkat. 6 Ulasan-ulasan
249Bab
43.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Kaiya is an orphan found on the doorstep of the packhouse of The Red Shadow Pack, she was brought in as an Omega and made to clean up after the often cold and almost always arrogant Twin Alpha Heirs, Ace and Dylan. I have decided to break this story into parts…there are four connecting stories with an overarching story that threads them together.  We start with Chasing Their Unloved Luna Part 1: Finding The True Alpha Next is Chasing Their Unloved Luna Part 2: Guarding The Faithful Beta. After that will be Chasing Their Unloved Luna Part 3: Seducing The Noble Priestess This book will conclude with Chasing Their Unloved Luna Part 4: Hunting The Storm Bringer We have seen lots of twists and turns and tons of unexpected happenings, and there are lots of loose ends at the close of Part One so please stick with us as we continue our Journey. In Part 2, the focus shifts. We will see Kaiya and the boys in the background and may even get a surprise POV when something big happens involving them, but  now we will see Amina’s and her sisters stories and how they meet their mates. Not all chapters I post have a trigger warning, but many contain violence, sexual violence and other devious acts. If it is particularly triggering I try to include a warning. Your mental health is important, so if you read the warning and can't handle what happens, skip to the following chapter, or only read the start of the next chapter then skip to the next Thank you and please comment and reach out if you have comments/questions.

Lihat lebih banyak

Bab 1

I

"Idiot."

Cahaya mengira kalau ia terbiasa mendengarnya rasa sakitnya akan semakin berkurang. Sejak kecil julukan 'bodoh, idiot, tolol' sudah menjadi makanan sehari-harinya. Kekurangannya menjadi bahan ejekan menyenangkan buat orang lain, tapi ternyata ia tetap merasakan tusukan kecil di sudut jantungnya.

"Jangan menyebutku, Idiot, Merlin, aku bukan idiot." Cahaya mulai membersihkan meja dan mengangkut gelas-gelas kotor. Jam kerjanya sebentar lagi habis, itu berarti ia bisa pulang secepatnya.

Dan menjauh dari manager kafe bermulut pedas ini.

Perempuan berambut sebahu dengan mata sebesar kelereng itu tersenyum mengejek. "Kalau bukan idiot kau mau disebut apa? bodoh? atau mungkin si Cacat?"

Cahaya memejamkan mata, berusaha menekan amarah yang tiba-tiba menguasainya. Ia harus bisa bertahan, tidak banyak kafe yang mau mempekerjakan seseorang seperti dirinya. Cahaya mengangkut gelas dan membawanya ke belakang, memutuskan untuk mengabaikan Merlin, tapi ternyata wanita itu belum selesai dengan Cahaya.

"Kenapa seseorang sepertimu bisa bekerja di sini? Kau bahkan tidak bisa membaca petunjuk dengan benar. Kau tahu yang mana lorong sebelah kiri, Cahaya?" ejek Merlin sembari bersedekap dengan sikap menantang.

Cahaya meletakkan gelas yang ia bawa, menatap Merlin dengan tatapan lelahnya. Sekejap, pandangannya menatap telapak tangannya di mana sebuah tato dengan ukuran sangat kecil terlukis di sana.

"Apa sebenarnya masalahmu? Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu seharusnya layak menghinaku?"

Mereka mulai menjadi tontonan beberapa karyawan. Cahaya sudah terbiasa menghadapi orang-orang yang kesulitan menerima kekurangannya. Ia bisa menerimanya, tapi ia tidak pernah bisa mengerti kenapa kekurangannya selalu dijadikan alasan untuk membuatnya terlihat tidak kompeten?

Demi Tuhan! Ia bekerja keras di sini.

"Sebaiknya kau pergi. Hari ini banyak pengunjung kecuali kau mau menggantikanku di sini?"

Merlin melotot. "Kau tahu apa yang paling membuatku jengkel?" bibir tipisnya memutir membentuk cibiran. "Selain fakta bahwa kau sering membuat masalah, kau menggunakan wajahmu untuk membuat orang-orang mengasihanimu."

"Aku tidak melakukan apa pun yang membuatku layak mendapat belas kasihan siapapun! Itu masalahmu bukan masalahku."

Telunjuk Merlin terangkat dan berhenti tepat di depan wajah Cahaya.

"Jangan harap lain kali kau lolos. Sekali lagi ada keluhan mengenai dirimu, aku akan memastikan kau dipecat! Tidak peduli jika pemilik kafe ini tergila-gila padamu."

Merlin melangkah keluar, meninggalkan Cahaya dengan desahan panjangnya. Matanya mengabur, tapi Cahaya dengan cepat menepisnya. Tidak boleh ada air mata, sudah terlalu banyak air mata yang keluar akhir-akhir ini.

"Pesanan nomor 17!" barista yang sedang sibuk menyiapkan minuman berseru dan Cahaya menyambar kesempatan itu untuk menjauh dari Merlin. Ia meraih dan membawanya dengan cepat. Namun, baru beberapa langkah Cahaya tersandung, mengakibatkan ia terjatuh dan berakhir mencium lantai yang keras yang sekarang berwarna hitam pekat.

Terdengar suara tawa dan Cahaya mendongak.

"Upss, kau baik-baik saja?"

Merlin yang berdiri menjulang di depan Cahaya tersenyum mengejek.

"Lihat akibat perbuatanmu! Kau membuat pelanggan marah, Cahaya."

Cahaya mengabaikannya. Ia justru berdiri dan cepat-cepat membungkuk pada pengunjung yang pakaiannya sekarang bernoda karena ketumpahan minuman yang dibawanya.

"Maafkan saya, Mbak, saya akan mengganti minuman Anda.." Suaranya bergetar karena emosi yang mengancam meruntuhkan pertahanannya. Beberapa pengunjung menatap Cahaya dengan sorot mata kasihan.

"Dan sekarang lihat itu? ouh, maaf, kau tidak bisa membaca, kasihan sekali. Mau kubacakan apa yang tertulis di sana?"

Kedua tangan Cahaya terkepal erat di sisinya. Ia bukannya tidak bisa membaca, ia kesulitan membaca. Kenapa orang-orang kesulitan memahami perbedaan itu? Cahaya memang pusing dan selalu mual membaca huruf-huruf yang berbaris panjang berjejer memenuhi halaman kertas, tapi bukan berarti ia tidak bisa membaca. Jika ia benar-benar berusaha amat sangat keras Cahaya bisa membaca apa pun.

"Kenyamanan pengunjung adalah misi kami, membuat mereka nyaman adalah dedikasi kami," Merlin mulai membaca kata-kata yang tertulis di dinding kafe yang selalu dibacakan sebelum kafe dibuka. Cahaya sudah menghapalnya karena selalu mendengar kalimat itu kapanpun ia mendapat giliran pagi.

"Mau kulanjutkan untukmu?" Merlin sepertinya belum puas menyudutkan Cahaya yang sudah pucat pasi.

Cahaya mengabaikan Merlin, sebagai gantinya ia kembali memandang pengunjung yang ketumpahan minuman yang dibawanya. Cahaya membungkuk 90 derajat untuk menunjukkan penyesalannya. Air matanya nyaris tumpah, tapi Cahaya berusaha menekannya sekuat tenaga. Rasanya melelahkan selalu ditatap dengan pandangan kasihan dari orang-orang.

Seolah ia tidak normal.

Seorang ia makhluk asing.

Cahaya berlari ke belakang sebelum pertahanannya runtuh dan ia menangis. Sayangnya begitu ia sendirian air matanya menganak sungai mengaburkan pandangan.

"Merlin membuat ulah lagi?"

Cahaya buru-buru menghapus air matanya. Ia menarik-narik otot wajahnya yang kaku dan memasang senyumnya.

"Hai Flo, tidak, Merlin tidak melakukan yang lebih parah hari ini jadi mestinya semua baik-baik saja," ucapnya menenangkan.

"Dia keterlaluan, kenapa kau tidak mengadukannya saja? Atasan kita pasti tertarik mendengarnya."

Cahaya menggeleng. Ia pernah melakukannya dan justru berakhir buruk. Kali ini ia akan menghadapinya. Siapa yang tahu Merlin akhirnya lelah sendiri dan menyerah mengusiknya?

"Aku baik-baik saja. Kurasa sebaiknya aku pulang karena kau sudah datang."

Flo mengangguk. "Ini."

Cahaya menerima kunci rumah yang diulurkan Flo. Mereka memang tinggal satu rumah dan Flo juga yang mengenalkannya pada pekerjaan ini, membantunya pulih dari duka yang masih menyelimutinya.

"Aku pergi dulu." Cahaya melambaikan tangan setelah mengganti seragamnya dengan pakaian sehari-harinya.

Udara sore membelai wajah Cahaya begitu kakinya menginjak tanah. Senyumnya mengembang saat melihat sinar matahari masih membumbung di langit yang berwarna kemerahan.

Sejenak Cahaya memejamkan matanya.

Tanpa Cahaya sadari seseorang tengah mengamati gerak-geriknya dari dalam mobil hitam tidak jauh dari bar tempatnya bekerja.

"Itu orangnya?" si pria yang duduk di kursi belakang bertanya pada pria yang duduk di kursi kemudi.

"Ya, Tuan."

"Sial! Dia masih sangat muda! Apa yang dipikirkan Kakek tua itu sebenarnya?"

Si pria yang duduk di kursi kemudi diam karena sebenarnya dia juga tidak diharapkan untuk memberikan tanggapan. Ucapan itu hanya bentuk kekesalan.

"Kita kembali sekarang. Aku harus membuat perhitungan dengan kakek tua itu atau aku terpaksa membuat gadis itu menderita."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasanLebih banyak

chad black
chad black
I really like this book. It gets strange at times but i kept reading. I really enjoy it. I have made it to part 3 and can’t wait to see more. Left it kinda at a cliffhanger. Hopefully this book is still being updated. I really want to know how it ends.
2025-05-09 05:14:03
0
1
Christine Topley Whitaker
Christine Topley Whitaker
Books are great
2025-04-03 12:34:38
1
0
Ruby A Sinclair
Ruby A Sinclair
This is an entire ongoing series. I love both the stories I've read so far and can't wait for more.
2025-04-01 06:21:07
1
0
Anne
Anne
Love how this is a story of a couple who face life together and stay together. This is exactly what I was looking for. Looking forward to the next chapters!
2025-01-17 10:20:35
3
0
Yuki Hellsing
Yuki Hellsing
Keep up the great work and awesome books! I luv the book Chasing their unloved Luna!
2025-01-10 13:58:38
1
0
249 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status