LOGINDear Rose,
Aku mencintaimu..
Kamu adalah sinar cerah di dalam kegelapan hidupku, aku mencintaimu.
Aku akan tetap mencintaimu, aku tidak akan menyalahkan dirimu.
Aku akan menunggu hingga kamu siap menjadi pendamping hidupku, aku akan menunggu hingga kamu siap menjadi seorang ibu.
Aku mencintaimu, Rose.
Steven membawa surat yang berada di tangannya menuju ruang kerja, menyamakan tulisan tangan yang berada di atas kertas dengan tulisan tangan di lembaran kertas milik Mattiash.
"ELLA.." teriaknya.
Wanita yang bertugas mengurus mansion itu segera datang dengan wajah heran saat mendengar teriakan dari Steven.
"Siapa Rose?"
Pertanyaan dari Steven membuat mata Ella membulat, dia sama sekali tidak menduga jika Steven akan menanyakan kekasih Mattiash.
"Jawab aku! Siapa Rose?"
Ella tersentak. "Dia gadis yang diselamatkan Mattiash dan juga kekasih Mattiash."
"Apa lagi yang kamu ketahui?"
Steven mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari pengurus mansion Pinehill dengan seksama. Dia mendengarkannya dengan baik, sesuai dugaannya kematian Mattiash bukan hal yang sederhana.
Mattiash yang tegas dan terkesan dingin, tidak akan mudah mengakhiri nyawanya begitu saja.
Kematian ibunya, tentu saja tidak akan membuat Mattiash dengan mudah mengakhiri nyawanya, pasti ada hal lain.
Pekerjaan Mattiash tidak juga buruk, ditambah kakaknya tersebut mendapatkan sejumlah warisan yang dapat menopang hidupnya tanpa harus repot-repot bekerja keras.
Rose Steele, hanya nama itu yang dia dapatkan dari Ella. Kalung dengan liontin huruf R berukiran bunga mawar adalah milik gadis itu.
"Max, aku perlu bantuanmu."
Foto kalung dengan liontin tersebut segera dia kirimkan kepada sahabatnya.
Dia harus tahu siapa pemilik kalung dan liontin tersebut, karena pemilik kalung dan liontin itu adalah pembunuh Mattiash.
***
Max Lewis bekerja dengan sangat cepat, Steven tahu jika sahabatnya memang dapat diandalkan.
Sesuai dengan dugaannya, kalung dan liontin yang berada di dalam genggamannya dibuat khusus dan semua merujuk pada Charles Steele.
"Finn Jewellery hanya memproduksi dua jenis kalung dan liontin yang sama sesuai permintaan spesial dari Charles Steele, aku dengar kalung dan liontin itu dia berikan untuk kedua cucu perempuannya."
"Dua cucu perempuan?"
Max tertawa miring saat mendengar nada penasaran dari Steven.
"Rosalia dan Rosemary, nama yang sama, tetapi mereka bukan anak kembar, mereka sepupu dan mungkin salah satu dari mereka adalah orang yang kamu cari."
"Apa kamu bisa membantuku dengan mencari catatan medis keduanya?"
Permintaan yang membuat Max mengerutkan keningnya. "Akan aku usahakan."
Keduanya terdiam sesaat sambil menikmati minuman mereka, hingga suara pecahan kaca membuat mereka menengok ke arah meja.
Tampak dua orang gadis berpakaian hitam-hitam sedang berdiri, salah satunya memegang leher botol yang sudah pecah dan mengarahkan sisi tajam botol pada pria yang tampak terlihat panik.
"Suasana hatiku sedang buruk, jadi pergilah dan jangan ganggu kami."
Suara serak yang berteriak dengan nada kesal terdengar hingga meja Steven dan Max.
Semua mata yang berada di dalam Bar tentu saja menoleh ke arah tempat terjadinya keributan hingga dua petugas keamanan datang, ditemani manajer Bar yang terlihat meminta maaf pada kedua gadis tersebut.
"Steve!" tegur Max yang dapat melihat tatapan kagum di mata sahabatnya. "Dia bukan mangsa yang mudah."
Steven menyeringai nakal. "Bukankah akan jadi lebih menarik."
Max hanya bisa menggelengkan kepalanya dan ikut bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mengikuti Steven yang sedang mengejar mangsanya hingga ke pelataran parkir.
Mereka terlambat karena kedua gadis itu telah menghilang dari pandangan mereka bersamaan dengan perginya sebuah sedan mewah.
"Sepertinya mereka anak-anak orang kaya." Max menepuk bahu Steven.
"Bukankah semakin menarik. Kita tanya pada manajer Bar, siapa mereka."
Pencarian yang tidak membuahkan hasil, mereka berdua gagal mendapatkan keterangan tentang kedua gadis yang baru saja keluar dari Bar.
"Sudahlah, kita minum lagi." ajak Max sambil menepuk bahu Steven. "Masih banyak gadis lain yang bisa memanaskan malam ini."
Steven tertawa geli mendengar ucapan sahabatnya, mereka akan bersenang-senang malam ini.
Kaca jendela menampakkan kabut yang begitu tebal, sudah dua bulan lamanya Rosalia terkurung di dalam rumah yang pernah menjadi kenangannya bersama Mattiash.Rasa bosan mulai melanda, dia bahkan tidak pernah menginjakkan kakinya di halaman mansion. Dulu, Mattiash akan mengajak dirinya untuk berjalan-jalan di taman bahkan berkuda.Mattiash tidak pernah mengurungnya, ttetapi dirinya yang berusaha menutupi hubungan mereka dan Matiash juga menyetujuinya atau lebih tepatnya pria itu menghomati keputusan dan keinginannya.Ada rasa sesal di dalam diri Rosalia, hanya saja setiap kali dia mengingat sikap kasar Matttiash terhadap dirinya rasa sesal itu kembali lenyap."Rosa, apa kamu bosan?"Suara Bertrand menyadarkan dirinya,dirinya tidak sendirian lagi bersama para pelayan yang juga jarang menemaninya."Iya, aku ingin pulang ke Waterbay." jawabnya sambil tersenyum pahit."Baiklah, akhir pekan nanti kita akan pulang. Hujan baru saja turun di sana."Rosalia kembali tersenyum pahit. Dia tahu dan
Kabut yang melintasi jendela kembali membawa Rosalia pada kenangannya bersama Mattiash. Entah dia harus merasa senang karena pada akhirnya dia tidak merasa kegerahan, atau dia merasa pilu karena di dalam mansion ini dia selalu merasa kedinginan.Bertrand memang selalu memberinya perhatian, tetapi pria itu juga selalu memiliki alasan untuk tidak bersama dengannya. Pinehill yang dulu dipenuhi gairah membara, sekarang bagaikan penjara dingin yang menahannya untuk melihat dunia luar.Sepanjang hari Rosalia berjalan-jalan mengelilingi mansion, dia bahkan tidak boleh keluar dan berjalan-jalan di taman.Seluruh pelayan yang menemaninya selalu mengatakan jika Bertrand sangat mencintainya dan menjaganya, tetapi dia tahu Bertrand sedang memperalat dirinya untuk mendapatkan keuntungannya. Tentu saja tidak akan semudah itu, keluarga Reeves memang terkenal licik, tetapi kakek dan ayahnya juga bukan orang yang bodoh dalam berkerja sama."Aku bosan." keluh Rosalia sambil memasukkan sebutir anggur ke
Rosalia meneguk ludahnya, dia sama sekali tidak menyangka jika dia akan kembali ke Pinehill. Bukan hanya Pinehill, tetapi juga rumah yang sama, rumah milik Mattiash yang kemudian menjadi milik Steven dan sekarang rumah ini menjadi milik Bertrand.Udara dingin segera menyambutnya saat dia keluar dari mobil, Waterbay memang sedang panas-panasnya dan hal itu sama sekali tidak akan terjadi di Pinehill yang tetap dingin dan berkabut."Kita ada di mana?" tanyanya dengan nada bingung.Bertrand Reeves bisa saja mengetahui jika dirinya pernah menjalin hubungan dengan Steven Hill, tetapi dia tetap akan merahasiakan masa lalunya bersama Mattiash. Dia akan merahasiakan dirinya yang mengetahui setiap sudut dari rumah megah yang pernah menjadi perjalanan hidupnya."Pinehill, apa kamu tidak tahu?"Rosalia menggeleng pelan, dia harus memainkan perannya. "Aku pernah mengunjungi Pinehill, tetapi aku tidak tahu jika kamu akan membawaku ke Pinehill." Rosalia menegaskan kalimatnya.Bertrand mengerutkan ke
"Hamil?"Mata Rosemary membulat sempurna saat dia mendapatkan kabar jika Rosalia sedang mengandung. Hal yang membuat pikirannya semakin liar.Rosalia menikah terburu-buru dengan Bertrand Reeves dan tiba-tiba hamil. Kali ini dia sedang bersantai di belakang vila, menikmati hembusan angin laut di sore hari sementara Damian dan Adam sedang bekerja sama mengurus Christian Reeves, bayi tampan yang baru berusia dua bulan.Kehidupannya bersama Damian begitu tenang, tidak ada lagi drama yang harus dia hadapi dari pria yang telah salah sangka terhadap dirinya dan tidak ada gangguan dari Rosalia yang telah menikah dengan Bertrand Reeves.Dia melahirkan putra tampan di damping suami tercintanya, kakaknya, orang tuanya dan orang tua Damian. Semua orang yang menyayanginya menemaninya, bahkan kakeknya juga menghubunginya melalui panggilan video.Tidak seperti Rosemary yang merasakan ketenangan, Damian justru sedang merasakan gejolak di dalam dirinya meskipun dia selalu terlihat sangat tenang demi R
"Bukankah dia sahabatnya Rosa?" Rosemary mengelus perutnya yang semakin membesar, gerakan janin di dalam perutnya begitu aktif setiap kali mendengar suara Damian. "Tewas kecelakaan dan Bertrand yang menabraknya? Kemudian Bertrand akan menikah dengan Rosalia?"Damian tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari istrinya yang tampak mengelus kembali perutnya dan dia tahu jika calon buah hati mereka sedang aktif di dalam sana ketika Rosemary menghembuskan nafasnya perlahan."Bersikap baiklah, kasihan mama." Damian berlutut di hadapan Rosemary, mengelus dan mencium perut Rosemary."Damian!" tegur Rosemary saat pria itu menyingkap gaun sutera yang dia kenakan, mengecupi kulit perutnya dan kecupan yang diberikan Damian semakin menjalar ke area sensitifnya."Apa kamu lupa apa kata dokter? Kita sudah boleh sering melakukannya."Wajah Rosemary memerah malu mendengarnya. Damian masih menggodanya, masih memuja dirinya dan mengutamakan dirinya. Rasa takutnya sirna begitu saja, dia percaya jika Da
"Kamu sudah bangun."Rosalia mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa pusing dan sekarang dia terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan jarum infus yang menusuk pembuluh darahnya.Sejenak dia merasa bingung, memastikan siapa pria yang duduk di sampingnya dan menunggunya selama tidak sadarkan diri."Siapa?" tanyanya dengan tatapan bingung."Bertrand Reeves, apa kamu lupa?"Rosalia menganggukkan kepala. "Maaf, kita sudah lama tidak bertemu."Bertrand menganggukkan kepalanya, dia mengerti mengapa Rosalia tidak mengingat dirinya karena mereka memang telah lama tidak bertemu. "Perempuan itu, apa dia temanmu?"Anggukkan yang diberikan Rosalia membuat Bertrand mendesah resah."Dia sempat menghilang dan siapa sangka dia-" air mata kembali mengalir di pipi Rosalia. "Bagaimana dia meninggal?"Bertrand meneguk ludahnya. "Mobilku melindasnya, aku dalam perjalanan pulang dari Pinehill dan dia terbaring di jalanan, kabut membua
"Ada apa Rosy?" tanya Damian sambil mengusap lembut punggung tangan Rosemary saat dia melihat perubahan wajah yang bersemu merah muda menjadi tegang.Dia memang sedang mengobrol dengan Adam, tentang masa remaja mereka hingga tentang bisnis yang sedang mereka jalankan bersama. Meskipun de
"Apa ada yang salah?" tanya Damian saat melihat rona merah muda pada pipi Rosemary yang membuat wanitanya itu terlihat semakin menggemaskan."Tidak." jawab Rosemary lembut, kemudian mengulum senyumannya.Pembicaraannya dengan Laura dan Beth pagi ini membuat dirinya merasa sangat
"Sepertinya aku salah waktu." ucap Adam yang duduk santai di sofa abu-abu pada penthouse tempat di mana Damian dan Rosemary tinggal.Matanya melirik ke arah pelayan yang terlihat membawa gaun berwarna merah, tentu saja dia tahu apa yang telah terjadi di penthouse ini semalam atau tadi p
Sensasi dingin segera menjalar pada tubuh Rosemary, berlanjut sensasi hangat saat lidah Damian menyapu dinginnya es krim."Damn- Ah!" desahnya saat Damian kembali mengoleskan ice cream pada pangkal pahanya, sensasi dingin yang dari sendok yang terus bergerak menuju area sensitifnya.







