LOGINDi sisi lain, Sisi masih mencerna apa yang terjadi. Tugasnya bukan main-main: menjaga Mrs. Hanum seorang diri. Namun, yang dia tangkap tentang lokasi keberadaan Hanum, itu adalah hal yang membuat dia semangat. Jakarta. Kota di mana dia dulu sering berbagi cerita dengan teman temannya dan tempat di mana markas utama berada.
"Glen, ini tidak mudah," gumam Sisi. "Bagaimana kalau mereka menemukan kita?""Kita sudah menyiapkan semuanya," jawab Glen mantap. "Identitas bTery ngakak, “Daripada lo dikasih nama Gendhis Sugiyo, udah syukurin aja. Lagian nama doang, yang penting wajah lo udah cakep. Sekarang kalau selfie udah nggak perlu aplikasi 360 lagi.”Aisy menghela napas panjang, lalu menatap pemandangan dari jendela hotel.“Gue pengin pergi ke tempat yang nggak banyak orang tahu. Yang tenang, ada pantainya, tapi sinyalnya tetap ada. Gue mau nulis, ngedit, sambil healing. Ya, gue mau jadi penulis aja lah. Biar nggak perlu mikir keras dan bisa jebolin aplikasi menulis buat bikin genre yang dramatis dan romantis.”“Tumben banget lo ngomong kayak penulis konten inspiratif. Ada apa, Momo?”“Panggil gue Sisi udah deh, kayak dulu aja,” potong Aisy cepat.Tery kembali cekikikan. “Sisi udah mati. Yang sekarang itu Momosy Edigowa, warga dunia maya dengan wajah baru dan identitas yang udah dipoles dari kepala sampai dagu. Kalau lo ke kantor kelurahan, disuruh fingerprint, lo bisa ditangkep karena nggak match.”
Aisy menerimanya dengan pelan, rasa terharu pun menyeruak. Dia dikelilingi orang baik, bahkan Dokter yang mendampinginya pun begitu baik dengan memberikan cermin kecil berhiaskan batu permata yang jelas bukan murah harganya.“Wah, Dokter baik sekali. Apa hanya Aisy saja yang diberi? Saya tidak? Wah, ini tak adil,” ledek Tery.“Tenang saja, untuk sahabat terbaik pasien saya ini, saya persiapkan gantungan kunci. Ini sama bagusnya kok, ada lambang bulan dan bintang di s iini dan kamu bisa menyimpannya sebagai kenang kenangan.”Tery menerima gantungan kunci berbentuk bulan dan bintang yang sama mewahnya. Meski belum tentu apa itu lapis batu permata atau bukan seperti milik Aisy, tapi Tery senang mendapatkan kebaikan itu juga.“Makasih banyak, Dokter Lie. ANda baik sekali, semoga Tuhan memberkati…”“Sama sama, kalian adalah contoh sahabat selamanya dan semoga keberuntungan selalu menyertai kita.”“Ter
Tiga hari yang melelahkan. Operasi plastik yang dilakukan hampir 100 persen selesai. Wajah Aisy yang baru akan tercipta. Meski DNA tak mungkin akan berubah, tapi jelas kecantikan Aisy yang biasa biasa saja akan berubah memancar setelah ini.Tery dengan siap menunggu di rumah sakit itu. Pasca operasi, dia yang mengurus semuanya. Dari cara makan Aisy yang kesulitan, pergi ke WC sampai semua yang Aisy butuhkan, Tery yang membantunya. Hari ini, pelepasan perban di wajah Aisy. Tery menggenggam tangan Aisy erat-erat. Tangannya hangat, tapi ada sedikit getar di sana. Mungkin karena gugup, mungkin karena khawatir akan reaksi Aisy setelah melihat wajah barunya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak lambat, seperti sengaja memberi efek dramatis.“Deg degan ya? Artinya lo masih hidup, Sy,” jawab Tery membuat Aisy tersenyum dalam hatinya. Dia belum bisa berbicara dan makan dengan baik karena bibirnya ditutup perban dan tak
Dokter Lie tersenyum, “ minggu ini. Nanti persiapkan untuk semua kondisinya karena pemeriksaan dalam tiga hari ini mempengaruhi operasi plastik yang akan kamu jalani. Kamu siap kembali merasakan sakit?” tanya Dokter Lie.“Sakit macam apa yang belum ia alami, Dok? Sakit migren, sakit jiwa, sakit cacar, sakit parah sampai sakit hati dia juga sudah biasa, DOk. Gak akan mempan sakit lama lama di tubuhnya,” sahut Tery.“Biasa aja ngomongnya, semangat amat dukung orang sakit biar nambah sakit,” gerutu Aisy.“Ya, usahakan tetap fit dan jangan ada beban pikiran. Proses pemulihan setelah operasi wajah itu bukan cuma fisik, tapi mental juga harus kuat,” ujar Dokter Lie sambil mencatat sesuatu di tablet medisnya.Aisy mengangguk pelan, lalu menatap Tery. “Berarti, minggu ini ya. Kalau gagal, gue jadi muka dua dong? Separuh wajah lama, separuh wajah baru. Serem juga…”“Kalau gitu, lo bisa jadi bintang film horor. Judulnya: Se
Aisy merasa jika waktu berlalu begitu lama. LUka di kaki dan tangan sudah kering, hanya masa penyembuhan yang katanya butuh satu minggu menjadi lebih lama karena Aisy tak mau diam. Ke WC atau jalan ke balkon ruangan, dia tak mau ditemani. Alhasil, lebih lama ada di rumah sakit itu.Tery kembali dari luar, dia melihat Aisy yang sedang menikmati pemandangan di luar.“Kek gersang banget di luar sana, Te,” ucap AIsy saat melihat di luar,“Cuaca di sini sedang panas panasnya, di Jepang malah ada banyak orang meninggal gara gara suhu panas yang tinggi. Makanya lo harus banyak minum dan jangan suka turun dari ranjang sendiri begini. Mau sembuh gak sih?”“Kapan jadwal operasi, Te? Gue udah nggak sabar balik Indo, kangen sama suasana di sana.”“Mulai deh mulai!” sungut Tery meletakan barang yang dia beli.“Habisnya gimana, sekacau kacaunya INdo … mau liburan ke gunung tinggal naik bis aja nyampe. Di sini, mau
“Mulai deh. Udah lah, gak usah mikir itu lagi. Takut gue sama lo,” ucap Tery. Dia pun mengambil ponsel dan mengirim pesan pada seseorang yang jauh di sana.“Penjahat itu sempat menyebut nama kedua orang tua gue saat hendak menghabisi gue dan bahkan, nama Ayah Edi pun disebutnya. Apa mungkin, dia dalang dari kematian kedua orang tua gue ya?” tanya Aisy dalam dalam dan penuh kebingungan..Tery menoleh, menyimpan ponselnya. “Maksud lo?”“Ada sesuatu yang aneh. Gue ngerasa, penyerangan itu bukan sekadar serangan. Kayak… kayak ada pesan yang mau dikasih tahu sama gue.”Tery menyipit. “Lo mulai mikir konspirasi?”“Gue gak yakin. Tapi insting gue bilang, ini ada hubungannya sama masa lalu gue. Entah siapa yang masih simpan dendam, atau… siapa yang sengaja kasih peringatan.”Tery menunduk sebentar, lalu menatap Aisy. “Lo mau nyari tahu?”Aisy mengangguk pelan. “Gue gak bisa hidup tenang ka
Daffi menelan ludah lagi sebelum perlahan mengulurkan tangannya. Ia menarik resleting dengan hati-hati, hampir tidak menyentuh kulit Sisi. Namun, tetap saja ada kehangatan samar yang terasa di ujung jarinya. Kulit putih mulus bak su su itu membuatnya harus menahan napas cukup lama.Begitu resleting
Sisi mengusap wajahnya yang mulai dipenuhi keringat dingin. "Benarkah? Apa perlu aku pindah posisi? Aku sudah selesai bukan dalam misi ini?”“Kamu tengah dalam puncak misi, selesaikan sampai kamu benar benar yakin semua aman.”“Aku tahu, aku tahu... tapi sekarang semuanya sudah terjadi. Akhirya aku
“Maaf,” ucap Daffi.Beberapa menit sebelum akad, Daffi menemui Sisi. Meski tak boleh karena khawatir ini akan jadi jalan untuk Daffi kabur dari masalah, Daffi tak peduli.Sisi menengok pada pria pemalu itu, lalu menendang tong sampah kecil di depannya.“Aku gak tahu maksud kamu minta aku jadi istri
Sisi langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan tanpa basa basi. Meninggalkan lelaki yang memilihnya, juga lelaki yang mendesaknya menjadi pasangan hidup. Dia melihat ke arah Edah yang memeluknya begitu dia keluar dari kamar. Edah menangis sesegukan, mengusap punggung Sisi perlahan. Hangat itu m







