Share

154. Rantai Besi

Aвтор: MyMelody
last update publish date: 2024-12-15 23:54:52
Pria itu mendekati dan meraih wajahku. Aroma tubuh dan mulutnya membuat aku ingin muntah. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Siapa gerangan pria ini sebenarnya.

"Diam!! bentaknya kasar.

“Kenapa aku harus diam, orang jahat?!” sentakku tak mau kalah.

"Tutup mulutmu, sebelum aku yang menutupnya."

Aku tidak peduli, sekuat tenaga, aku berteriak lagi dengan suara yang lebih keras, dan hasilnya si pria itu menutup mulutku dengan telapak tangannya. Dengan kasar, dia memerintah anak buahnya untuk mengamb
Продолжить чтение
Scan code to download App
Заблокированная глава
Комментарии (5)
goodnovel comment avatar
Asri Widiastuti
kok blm ada lanjutannya? kpn lg di update?
goodnovel comment avatar
fhᥱrrᥲ7
.malangnya Grace hamil besar dan di ikat gitu .Gabriel ayolah bantu Grace
goodnovel comment avatar
Viva Oke
yes, Grace sudah lepas sedikit demi sedikit. moga saat Grace bebas Gabriel juga datang dan bertemu bos yg dimaksud penculik Grace
ПРОСМОТР ВСЕХ КОММЕНТАРИЕВ

Latest chapter

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   183. Suami?

    Sementara di luar sana, di bawah naungan malam yang kian larut, pria bertopeng yang baru saja melompati tembok beton itu berlari menyusuri gang-gang sempit pemukiman elite. Ia melepaskan topengnya yang telah basah oleh darah dari hidungnya yang patah akibat sundulan Gabriel, lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi bersama belati yang tersisa.Sambil menahan sakit yang membakar, jemarinya yang gemetar meraba saku celana hitamnya, menarik sebuah burn-phone—ponsel sekali pakai yang khusus ia gunakan untuk pekerjaan kotor ini.Ia mendial satu-satunya nomor yang tersimpan di memori gawai tersebut. Dan hanya dua kali nada dering bergema, suara seorang wanita yang anggun, dingin, dan tanpa celah menyapa dari seberang sambungan."Bagaimana?""Saya perlu bertemu sekarang," jawab pria itu dengan suara serak, terengah-engah menahan rasa sakit di dadanya. "Di kafe biasa. Di ruang privat bagian belakang."Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara helaan napas yang tidak sabar dan sarat akan tek

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   182. Aku Akan Menjagamu

    Gabriel melompat melewati jendela yang terbuka dan menutupnya dari luar. Apa pun yang terjadi, dia harus mengejar pria yang telah menyerang Grace dan anak-anaknya.Di luar kamar, angin malam menyengat kulit Gabriel yang bertelanjang dada dan bersimbah peluh. Tanpa memedulikan perih di lengan kirinya yang terus mengucurkan darah, Gabriel memburu bayangan hitam yang berlari kencang menembus deretan pohon palem di taman samping."Tolong! Ada penyusup! Tutup semua akses keluar!" teriak Gabriel memecah kesunyian malam, suaranya menggema tegas.Dua orang satpam penjaga rumah yang menyadari keributan itu langsung berlari keluar dari pos dengan sorot lampu senter berdaya tinggi. Cahaya putih membelah kegelapan, menangkap siluet pria serba hitam yang sedang berlari menuju dinding pembatas bagian barat."Pak Gabriel! Lewat kanan, Pak! Kita jebak dia di sudut benteng!" teriak salah satu satpam sambil memotong jalur menuju lorong gazebo."Aku cuma butuh satu orang saja, salah satu dari kalian har

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   181. Jendela

    Sisa kehangatan pasca-gairah yang baru saja mereda masih tertinggal di kulitku, memberikan rasa aman semu yang teramat nyaman. Aku menyandarkan kepala di dada bidang Gabriel, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup teratur di bawah kulitnya yang hangat.Jemari pria itu bergerak lambat, menyusuri helai rambutku dengan kelembutan yang membuatku sempat lupa pada statusku yang hanya seorang wanita yang rahimnya dijadikan mesin pencetak anak. Di bawah temaram lampu tidur yang kuning redup, kamar di rumah pemberian Ibu Ariani ini terasa seperti tempat persembunyian yang aman dari kejamnya dunia luar.Gabriel menunduk, mengecup keningku pelan sebelum tangannya berpindah mengelus perut buncitku. "Kamu lagi mikir apa, Sayang?" bisiknya parau.Aku menghela napas pendek, masih terasa asing bagiku mendengar Gabriel memanggilku dengan sebutan 'Sayang.' Aku lalu menaruh telapak tanganku di atas punggung tangannya."Aku hanya takut. Bagaimana kalau dunia luar akan menghinaku saat rahasia kita di

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   180. Izinkan Aku Memujamu

    "Aku tahu, Grace. Aku tahu aku adalah pria paling berdosa di dunia ini karena menginginkan dua wanita sekaligus di dalam hidupku," sahut Gabriel dengan nada suara yang bergetar rapuh.Aku menghapus air mataku yang tak berhenti mengalir. Kenapa harus sesakit ini Tuhan?Gabriel mencondongkan wajahnya, menyatukan kening kami hingga aku bisa merasakan kehangatan fisiknya yang memabukkan."Tapi saat aku bersamamu ... melihat anak-anak kita tumbuh di dalam tubuhmu ... aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencintaimu."Sebelum aku sempat mencerna arti dari kalimat terakhirnya, Gabriel telah menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang lembut, dalam, dan sarat akan keputusasaan yang teramat sangat.Aku melenguh pelan, meremas kemeja kerjanya dengan erat seiring dengan gelombang gairah terlarang yang kembali mengambil alih kesadaranku sepenuhnya. Hormon dalam tubuhku melonjak naik, meraung haus akan sentuhan pria itu.Di dalam keremangan malam yang mulai merayap, kami kembali saling mem

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   179. Jurang di Antara Kita

    Gabriel menatapku dengan intensitas emosi yang teramat dalam. Binar matanya yang dulu selalu berusaha menyembunyikan perasaannya di balik topeng profesionalisme perjanjian kami, kini hilang total.Ia bangkit dari posisinya yang berlutut, lalu dengan gerakan cepat yang tidak bisa kubantah, duduk di sampingku dan merengkuh bahu ringkihku erat-erat ke dalam pelukannya yang kokoh."Lepaskan aku, Gabriel! Lepaskan!" aku memberontak, memukul dada bidangnya berulang kali dengan sisa kekuatanku. Namun, dekapan Gabriel justru semakin mengunci tubuhku, seolah ia tidak akan membiarkanku pergi sejengkal pun dari hidupnya."Aku tidak akan pernah menganggapmu seperti itu, Grace! Demi Tuhan, hentikan kata-kata kejam itu!" bisik Gabriel parau tepat di telingaku, suaranya bergetar hebat menahan luapan emosi yang akhirnya pecah."Semua ini hanya menyiksaku, Gabriel.""Kamu pikir aku tidak tersiksa? Kamu kira aku bisa dengan mudah melihatmu menanggung ini semua sendirian di bawah bayang-bayang rahasia i

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   178. Ada Apa Denganku?

    Panas terik sisa kemarau panjang masih menyengat Jakarta sore itu saat aki tiba di rumah.“Mau makan malam apa untuk hari ini, Nona Grace?” tanya asisten rumah tangga saat aku hendak mengambil air dingin dari kulkas.“Aku pengen ayam goreng mentega, Bik.”“Baik, Nona. Saya siapkan dulu.Aku hanya mengangguk singkat dan berlalu.Udara terasa begitu kering dan lengket, meninggalkan rasa gerah yang mengimpit dada bahkan di dalam ruangan berpendingin sekalipun. Ayunan kakiku membawaku ke ruang tamu. Cahaya matahari senja yang berwarna oranye menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang setengah terbuka, menciptakan garis-garis bayangan panjang yang menyerupai jeruji besi di atas lantai. Sengaja tak kunyalakan lampu.Aku duduk meringkuk di atas sofa beludru kelabu, memeluk kedua lututku erat-erat. Di balik kain blus tipis yang kupakai, ada detak kehidupan ganda yang bergerak halus. Bayi-bayi kembar yang bertumbuh, kuat dan sehat.“Aku sayang kalian,” bisikku pelan, tanganku membelai

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   85. Kembali Ngotot

    Aku membuka kelopak mataku yang masih terasa berat, rupanya pagi yang mendung membuatku ingin kembali ke dunia mimpi. Suara gemericik hujan di luar terdengar samar dari dalam kamarku yang cukup luas dan rapi. Tanganku menutupi mulutku yang menguap lebar, seakan mencoba mengusir rasa kantuk yang ada.

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   84. Gabriel yang Ngotot

    “Apa-apaan sih kamu?” cicitku kaget begitu menyadari bahwa Gabriel yang menyelinap di kamarku.“Ssst ..., aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu,” bisiknya pelan sama membelai rambutku dengan lembut. Salah satu tangannya mengunci pintu kamar mandi sehingga membuat dadaku terasa sesak, dan aku se

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   82. Pengumuman!

    “Ibu sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga ini, Grace," ucap Ibu Ariani sambil menatapku dalam.Baru saja aku hendak menanggapi perkataan Ibu Ariani, terdengar suara Natalia yang kencang dari lorong pintu masuk.“Sayang! Yuhuuuu, aku pulang!” Kulihat Gabriel berdiri dan menuju ke ruang ta

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   80. Perlakuan yang Lembut

    “Kamu kenapa, sayang?” tanya Ibu Ariani panik melihat wajahku yang tiba-tiba pucat pasi.“Maaf, aku harus ke kamar mandi,” pamitku dan segera berlari kecil menuju kamar mangi. Begitu tiba di sana, kukeluarkan semua isi perutku yang memang tak seberapa. Tubuhku rasanya sangat lemas. Benda-benda yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status