MasukTaralle Mariam pernah merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Mempunyai keluarga yang harmonis, pasangan yang setia Dan pekerjaan yang menyenangkan. Namun Hal itu seketika berubah setelah meninggalnya sang ibu. Ayahnya datang dengan membawa seorang wanita yang di akuinya sebagai istri. Tak berhenti disitu dirinya harus mendapati kenyataan bahwa kekasihnya yang ia fikir adalah laki-laki paling setia ternyata malah menjalin hubungan dengan sahabatnya. Kehidupan yang bahagia itu berubah menjadi gelap seketika. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang Rainer Gravilo. "Aku akan membantu membalas semua sakit hatimu. Jika kau mau menjadi milikku." Ucap Rainer dengan wajah datarnya. "Apa yang harus aku lakukan jika aku menjadi milikmu?." Rainer tersenyum tipis, "Menyenangkanku kapanpun aku mau."
Lihat lebih banyak“Hei anak pelacur!”
“Dia sangat mirip sekali dengan pelacur!”“Aku tidak sudi berteman dengan anak pelacur.”Seorang gadis delapan belas tahun membuka matanya lebar-lebar. Bulu matanya yang panjang dan lentik menciptakan bayangan indah di bawah pipi. Dia mengerjap-ngejarp dan mengucek matanya yang bulat. Gadis itu mengangkat kepalanya—melihat suasana kelas yang masih sama dengan tiga puluh menit yang lalu. Dia tertidur karena lelah mendengar guru bahasa Indonesia nya mengoceh panjang lebar. “Lusie!”Gadis dengan rambut panjang yang diikat kuda itu menatap seorang gadis dengan rambut seperti dora dihiasi kacamata besar yang membantunya melihat jelas. “Ada apa Falery?”Lusie bertanya malas pada Falery Matthew. Anak pemegang saham di sekolah itu membuka bukunya di hadapan Lusie.“Kau sudah tidur selama tiga puluh menit dan tidak tahu jika sekarang ada sosialisasi sekolah penerbangan di aula! Lihat, aku sudah mendapat tanda tangan Kapten Hero!”Lusie mengerjap-ngerjap. Dia menangkup pipi Falery yang sangat tirus. Sungguh wajahnya kalah jauh ketimbang Dora the explorer yang tambun itu.“Kapter Hero?! Pilot tampan itu ke sekolah kita?!”“Astaga Lusie, jika kau ingin tahu bergegaslah!”Sebelum Falery menyelesaikan omongannya, Lusie sudah lebih dulu mendorong kursi dan berlari menuju aula. Mimpi buruknya harus diakhiri. Harapan kebahagian dan matahari Lusie sedang menunggu di depan sana.“Kapten Hero!!!”Lusie berteriak lantang setibanya di aula. Kapten Hero yang sedang memberikan sosialisasi berhenti berpidato. Perhatian seluruh audiens mengarah pada Lusie.“Kau ingin menjadi kekasihku?!” Lusie Agatha, siswi akhir di sekolah yang terkenal dengan sikap berandalnya itu membuat onar satu gedung. Gurunya memijiat pelipis dan meminta agar Lusie keluar dengan isyarat pelototan. Tentu saja itu tidak berlaku untuk Lusie.“Maaf, sepertinya ada kesalahan disini.”Murie Albert—guru kesenian Lusie yang selalu menjadi jendral sekolah karena menerapkan hukuman bak kemiliteran membawa Lusie keluar. Murie memberikan tatapan tajam. Lusie mendengus dan berusaha membersihkan tangan. Seakan-akan yang baru saja memeganganya adalah tangan kotor yang berlumpur. Murie menahan kekesalan. Ia sudah berselisih dengan Lusie sejak awal karena sikap Lusie yang sangat kontra dengan peraturannya.“Kau gila?!"“Aku ingin bertemu kapten Hero. Jika itu definisi gila, maka kalian semua yang ada disana adalah orang-orang yang lebih gila karena mendahuluiku.”“Dengarkan ini, Lusie. Kapten Hero datang bukan karena ingin bertemu dengan siswi nakal yang mengharapkan dia untuk menikahinya. Kembali ke kelas atau kau akan mendapatkan hukuman dariku.”Lusie melepaskan kuncirnya. Dia menggelengkan kepala dan membuat rambutnya terurai indah. Beberapa satpam yang melihat terpesona akan kecantikan dari wajah mungil yang bernyali besar itu.“Ibu Murie, aku takkan diam ketika terakhir kali kau memfitnahku karena mencoret lukisanmu. Padahal kau hanya iri aku bisa lebih hebat darimu, kan?”Murie mengepalkan tangan.“Beberapa hari yang lalu kau juga menghukumku dengan cara yang paling ekstrim. Kau menyuruhku membersihkan kandang Dogi-dogi si anjing setengah gila hanya karena aku masuk ke ruanganmu dan melihat foto-foto teman-temanku dengan keadaan telanjang?”Plak! Murie menampar Lusie. “Kau memang sama saja seperti ibumu. Suka mengancam, murahan dan memalukan! Enyahlah, gadis jalang!”Lusie membersihkan ujung bibirnya yang berdarah. Ia tersenyum licik dan menatap Murie penuh kebencian.“Tau apa Anda tentang ibu saya?”Lusie semakin berteriak keras. “Jawab!”Murie ciut dan meninggalkan Lusie sendirian. Murie kembali ke aula. Lusie tak mau tinggal diam. Ia mengikuti Murie dari belakang, lalu melemparkan sepatunya hingga membuat Murie jatuh tersungkur.Suara dalam aula teredam oleh pemandangan itu. Murie bangkit berdiri meskipun kepalanya masih terasa pening. Bug! Ia kembali tersungkur setelah dilempar sepatu lagi.“Lusie!”Falery menarik tangan Lusie dan membawanya pergi dari aula sebelum ia ditangkap oleh satpam. Falery membawa Lusie menuju gedung apoteker. “Jika kau bodoh, setidaknya kau bisa menggunakan hatimu jika sulit menggunakan otakmu.”Falery mengobati darah yang ada di sudut bibir Lusie. Seorang anak lelaki berusia sembilan belas tahun dengan iris mata berwarna hijau keluar dari ruangan apotek.“Dia berbuat ulah lagi?” “Ya, hari ini dia melempar kepala Ibu Murie Albert dengan dua sepatunya.”Lusie bersikap masa bodoh. Dia menghentikan Falery yang sedang mengobatinya. Lusie menatap anak lelaki dengan postur tinggi dan sedikit kurus itu.“Hei tuan muda Hilbert. Berhenti bertanya dan antarkan aku pulang sekarang. Aku mungkin akan mati konyol jika diintograsi hari ini.”Falery tertawa. “Tentu saja. Dia tidak akan mau dijelek-jelekan di depan Kapten Hero.”“Sialan, aku ketahuan.”Setelah berdiskusi panjang, Lusie akhirnya diantar oleh Farel Hilbert menggunakan layanan taksi online. Farel merupakan salah satu siswa yang aktif di bidang kesehatan. Ia sudah gigih dan merencanakan masa depan sebagai seorang dokter umum.Farel mengeluarkan sapu tangan. Ia membersihkan darah di ujung bibir Lusie. Mata Lusie berputar malas dan menurunkan tangan Farel.“Biarkan saja. Aku tidak mau menutupi apapun lagi dari ayah.”“Tapi ayahmu akan marah.”“Itu lebih baik daripada dia terus-terusan sibuk duduk di depan laptop.”Mobil berhenti di perumahan elit kawasan Marciv Swiss. Lusie turun dari mobil dan melambaikan tangan kepada Farel.“Terimakasih! Hati-hati di jalan, ya!”Farel mengangguk. Lusie bersenandung sepanjang jalan. Ia berhenti tatkala melihat renovasi rumah di depannya. Lusie melihat seorang anak berusia empat tahun sedang duduk di atas ayunan sembari memakai kacamata besar. Ia terlihat seperti sedang berjemur.“Hei.”Anak kecil dengan rambut pirang menurunkan kacamatanya. Lusie dapat melihat warna mata coklat yang sangat terang.“Kau siapa?”“Lusie. Kau sendiri, siapa dan kenapa bisa ada di rumah ini?”“Kata ayah, ini rumah baru kita.”“Namamu?”“Anea.”Lusie menyubit pipi gembul Anea. Rambutnya sangat keriting, tapi itu menggemaskan dan membuat Lusie ikut duduk di ayunan sebelah. Sebuah mobil berwarna putih berhenti di depan gerbang. Anea bergegas berlari dan berteriak memanggil nama ‘ayah’.“Ayah!”Lusie tersenyum mungil. Sudah hampir sebulan rumah ini kosong. Akhirnya bisa terjual oleh keluarga yang nampaknya sangat hangat. Lima menit setelahnya, Lusie dibuat terkejut.Seorang lelaki dengan kemeja putih yang dilapisi jas coklat turun dari mobil. Matanya yang biru bak batu safir yang mewah. Dia menggendong Anea ke dalam pelukannya. Lusie berdiri—memastikan matanya dan otaknya masih sinkron.Lelaki itu menoleh ke depan. Ia sama terkejutnya ketika melihat Lusie.“Kapten Hero?”Hero. “…”Lusie berlari dan hendak memeluk Hero.“Kapten!!!”
Rainer terbangun tanpa Ale disampingnya. Ia menyikap selimut dan beranjak turun dari ranjang namun sebelum ia beranjak bangun terlihat seorang wanita yang ia cari keluar dari dalam walk in closet dalam balutan dress hitam dengan tampilan yang begitu mempesona. "Buenos días." Sapa Ale dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. "Buenos dias tambien querida." Jawabnya sembari menarik Ale kedalam pelukannya dan melabuhkan kecupan lembut di bibir merah wanita itu. "Kau terlihat bahagia pagi ini?." Ale menyunggingkan senyumnya lagi, tak menutupi suasana hatinya yang memang sangat bahagia. "Tentu saja." Jawabnya sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Rainer, " Karena hari ini hari yang sangat menyenangkan untukku, dan aku tidak akan mengizinkan kau merusak hariku yang bahagia ini." Rainer menyipitkan matanya, menatap wajah cantik yang kini duduk di pangkuannya. Wajah yang di sudah di hias dengan make up tipis dan bibir merah
Mahkamah Agung Spanyol telah resmi membuka penyelidikan tentang dugaan keterlibatan pengusaha muda Davino Carlos dalam kontrak proyek pembangunan gedung olahraga terbesar di Real Madrid. Diduga ia telah memberikan suap kepada anggota pemerintahan untuk mendapatkan proyek tersebut. Kini, pihak Mahkamah Agung sudah mengamankan beberapa saksi untuk melancarkan pemeriksaan. Ale bersenandung pelan sembari mendengarkan berita tentang Davin dari airpodnya. Tangannya yang tengah asyik membolak-balik daging yang sedang ia pangang untuk makan malamnya dan Rainer. Ia melirik jam sekilas yang sudah menunjukan pukul 7.15 tetapi laki-laki yang ia tunggu masih belum menampakan batang hidungnya. Tak jauh dari sana ternyata Rainer sudah bersandar pada dinding sembari memperhatikan tubuh indah Ale yang berdiri memunggunginya, bokong indahnya yang bergerak menggoda dengan senandung riang yang tak henti dari mulutnya. Dengan langk
Ale menatap gedung tinggi didepannya. Pandangannya menyapu lalu lalang manusia disana, terlihat sekali kemegahan dan kejayaan Gravillo Group. Ia melangkah masuk menghampiri resepsionis, terlihat wanita berambung pirang dengan lipstik merah menyala menatapnya dengan tatapan yang sangat ia ketahui sebagai tatapan merendahkan. "Aku ingin bertemu dengan Rainer Gravillo." Ucap Ale dingin yang penuh akan aura intimindasi. "Apakah anda sudah membuat janji, Nona?." "Dilantai berapa ruangannya?." "Sekali lagi maaf Nona. Tuan Rainer bukan tipe orang yang suka di ganggu saat sedang bekerja." "Aku bertanya dimana ruangannya?." Ale bertnya kembali dengan sorot mata tajamnya. Resepsionis itu berdeham pelan, mencoba menghilangkan kegugupan akan tatapan yang Ale layangkan untuknya. Hingga di detik selanjutnya wanita itu melakukan panggilan dan memberitahukan bahwa ada wanita yang ingin menemui atasannya. "Na
Ale duduk dengan tenang sembari menatap seorang laki-laki dan perempuan yang sedang berdebat didepannya. Tangan yang menyilang didepan dada dengan kaca mata yang bertengger indah di wajah cantinknya membuat ia terlihat sangat angkuh sekaligus mempesona disaat yang bersamaan. "Tuan Demetrio, aku ingin tempat ini di kosongkan dalam waktu 1 minggu." Ale berucap tenang, Menyela perdebatan diantara mereka sejenak. Lak-laki bernama Demetrio tersebut menatap Ale sejenak lalu setelahnya kembali menatap wanita didepannya. "Kau dengar Nona Fidel, pemilik baru tempat ini ingin kau mengosongkan tempat ini dalam waktu 1 minggu." Lanjutnya berucap dengan tegas. Ana menatap tak percaya laki-laki didepannya tersebut, bagaimana bisa laki-laki itu melakukan hal mengerikan seperti ini pada dirinya. Memutuskan kontrak sewa sesuka hati dan hanya memberikan waktu 1 minggu untuk mengosongkan tempat dimana butiknya berada. Bukankah hal ini terlalu kejam untuknya.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.