MasukAdrian kali ini datang ke kantor lebih lambat dari biasanya. Senyuman puas terlukis jelas di wajahnya yang tak bisa disembunyikan.
Di depan lift, Evan, tangan kanannya, sudah menunggu dengan sikap hormat. "Nyonya Evelyn menunggu Anda semalaman," lapor Evan dengan suara rendah. "Biarkan dia menunggu," jawab Adrian singkat sambil menekan tombol lift. "Siapkan hadiah untuknya, perhiasan seperti biasa." Evan mengangguk paham, sudah tak heran lagi dengan trik-trik Adrian yang kerap memakai cara romantis semacam itu untuk merayu Evelyn. Cara yang manis sekaligus membelit, meski semua tahu apa tujuan sebenarnya. Lift naik ke lantai eksekutif dengan sunyi. Begitu pintu terbuka, mereka berpisah, Evan menuju ruangannya dan Adrian berjalan dengan langkah percaya diri menuju ruang direktur utamanya yang megah. Namun, senyum nafsu yang lebih dalam lagi mengembang di bibirnya ketika ia membuka pintu. Di sofa kulit putih mewahnya, duduk seorang wanita dengan gaun mini berwarna merah darah yang nyaris tidak meninggalkan ruang untuk imajinasi. Gaun itu ketat, memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya yang sensual, dengan belahan dada yang dalam dan bagian bawah yang memperlihatkan paha mulusnya hingga ke pangkal paha. Wanita tersebut sudah menunggu dengan pose yang sengaja diatur untuk menggoda. "Ih, Sayang, kok lama banget sih datangnya? Aku sudah menunggu dari tadi," keluhnya dengan suara dibuat-buat manja, matanya berbinar dengan permainan yang dia kuasai dengan baik. Belum lagi Adrian bisa menyentuhnya, wanita tersebut dengan lincah mengangkat kakinya yang mengenakan high heels lancip. Telapak sepatunya menempel di dada Adrian, mendorongnya perlahan mundur. Gerakan itu membuat rok mininya tersingkap lebih jauh, memperlihatkan secuil renda celana dalam hitamnya. Wanita tersebut menggigit ujung jari telunjuknya, pandangannya menggoda dan penuh tantangan. "Nakal ya kamu," gerutu Adrian, nafsunya langsung tersulut. Dia tidak bisa menahan diri lagi. Dengan gerakan cepat, dia menangkap pergelangan kaki wanita tersebut dan menunduk, menangkup bibir merahnya dalam ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Mereka seperti dua binatang yang kelaparan. Ciuman mereka bukanlah ciuman lembut, melainkan pertarungan lidah yang saling menaklukkan, disertai desahan dan erangan kecil. Tangan Adrian tidak tinggal diam. Dengan kasar, dia meremas payudara wanita itu yang montok melalui kain gaunnya yang tipis. Wanita tersebut mendesah pelan, mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih besar bagi Adrian untuk menelusuri lehernya. "Kamar... sekarang," geram Adrian di sela-sela ciuman, nafasnya sudah tersengal-sengal. Tanpa mengucapkan kata lagi, Adrian mengangkat tubuh Clara dengan mudah. Clara melingkarkan tangan dan kakinya di tubuh Adrian, tertawa kecil melihat kegesitan pria itu. Mereka masuk ke dalam kamar pribadi yang melekat pada ruang kerjanya sebuah ruangan yang dilengkapi dengan king-size yang seharusnya menjadi tempat istirahat, tetapi lebih sering menjadi tempatnya memuaskan nafsu gelap. Pintu kamar tertutup, mengurung mereka dalam dunia mereka sendiri. Di balik pintu itu, pakaian berhamburan, desahan dan erangan semakin menjadi-jadi, dan dua manusia yang dikuasai nafsu itu saling memuaskan dengan liar. Adrian sama sekali tidak memikirkan Evelyn, yang dengan setia dan naif masih menunggunya di mansion, berharap suaminya pulang dengan selamat. ~ Di kediaman Montgomery Tuan Deren duduk santai di sofa, menyeruput teh hangat dengan ekspresi dingin yang penuh rencana. Nyonya Sinta muncul dengan membawa nampan perak berisi roti croissant yang masih hangat dan beberapa selai buatan sendiri. "Setelah penantian yang lama, akhirnya tua bangka itu menyusul juga istrinya ke neraka,” kata Nyonya Sinta sambil tertawa puas, suaranya yang khas menyingkap amarah dan kebencian yang membara. Tuan Deren mengangguk pelan, matanya berkilat penuh kebencian sekaligus harapan. "Sekarang tinggal bagaimana kita menyingkirkan Evelyn tanpa membuatnya curiga. Kalau itu berhasil, hidup kita akan benar-benar berjaya." Nyonya Sinta mengibas-ngibas tangannya seolah mempersiapkan rencana licik yang sudah lama terpendam. "Dia itu batu sandungan terbesar selama ini. Setelah dia pergi, tidak ada lagi yang menghalangi jalan kita." Tuan Deren tersenyum miris, tetapi penuh ambisi yang gelap. "Bayangkan saja, kita bisa menguasai bisnis ini, menghapus nama Evelyn dari segalanya, dan meninggalkan warisan yang abadi. Tidak akan ada lagi tangisan, tidak ada lagi penghalang." Ucapannya seperti duri yang menusuk di balik ketenangan rumah besar itu. "Kita sudah lama menunggu saat ini, dan kini saatnya kita bertindak. Evelyn harus melihat neraka yang sesungguhnya," tambahnya dengan tatapan penuh dendam. Nyonya Sinta mengangguk setuju, "Ya, dan aku yakin dengan rencana ini, kita akan jadi penguasa tanpa tanding. Hidup kita akan bersinar lebih daripada apa yang pernah kita impikan." Kebencian dan amarah mereka tidak tersembunyi, seakan memasuki jiwa siapa saja yang mendengar kalimat itu. Mereka seperti monster dalam wujud manusia, memandang segala sesuatunya dengan kehausan akan kekuasaan, tidak peduli siapa yang harus dihancurkan demi merebutnya. Tak ada yang tahu bahwa dari kebencian dan rencana licik itulah awal kehancuran mereka sendiri akan bermula, sebuah nasib yang terpatri dalam jejak gelap Montgomery.Pagi hari di markas Crimson Fang terasa berbeda. Udara yang biasanya dingin dan tegang, kini terasa lebih ringan. Matahari menyelinap melalui celah-celah jendela, menciptakan pola-pola cahaya di lantai marmer ruang Evelyn. Evelyn duduk di kursinya, dikelilingi oleh laporan kemenangan yang menumpuk di atas meja. Di depannya, segelas kopi hitam masih mengepul, menemani kesunyian yang nyaman setelah malam yang panjang.Gio masuk dengan langkah cepat, membawa tablet yang penuh dengan notifikasi. Wajahnya cerah, berbeda dengan ekspresi tegang semalam."Nona, kabar baik dari semua front," ucapnya, suara penuh semangat. "Gambino sudah mengirim utusan untuk bernegosiasi. Volkov juga, mereka mengakui kekalahan mereka dan siap untuk membayar kompensasi. Dan Die Schatten... mereka setuju untuk menjadi sekutu tetap, sesuai dengan permintaan Nona."Evelyn mengangkat alis, sedikit terkejut tapi tetap tenang. "Cepat sekali mereka menyerah."Gio tersenyum. "Setelah melihat apa yang terjadi pada pasuk
Moskow....Satu Jam KemudianDua gudang logistik Crimson Fang di Moskow kini tampak seperti benteng mati. Tidak ada aktivitas, tidak ada penjaga, hanya bangunan kosong yang berdiri sunyi.Klan Volkov bergerak masuk dengan keyakinan penuh. Mereka berjumlah lebih dari lima puluh orang, bersenjata lengkap, dan dipimpin oleh seorang pria bertubuh raksasa bernama Igor operasional kedua klan Volkov."Masuk!" perintah Igor, suaranya menggema di gudang kosong. "Ambil semua amunisi dan perlengkapan! Dalam satu jam, kita sudah kaya!"Pasukan Volkov menyebar dengan cepat. Tapi beberapa detik kemudian...KLIK!Semua pintu gudang tertutup otomatis, baut-baut raksasa mengunci setiap keluar masuk."Apa ini?" teriak Igor, matanya melotot.Dari atas, terdengar suara yang membuat bulu kuduknya berdiri."Selamat datang, Tuan Igor."Semua mata mendongak di atas gudang, sejumlah pasukan Crimson Fang berdiri dengan senjata di tangan, menunjuk ke bawah. Di samping mereka, beberapa tabung gas air mata sudah s
Malam itu, langit di atas markas Crimson Fang terlihat berbeda. Awan hitam bergulung-gulung, menyembunyikan bulan dan bintang-bintang. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah dan ketegangan yang tak terlihat. Di dalam ruang komando, Evelyn duduk di kursi kepemimpinannya dengan tenang, dikelilingi oleh puluhan layar yang memantulkan data intelijen dari seluruh penjuru dunia.Gio berdiri di sampingnya, membawa tablet yang terus berdering dengan notifikasi. Aletta berada di sisi lain, tangannya bergerak cepat di atas keyboard, mencoba menstabilkan jaringan komunikasi yang mulai terganggu."Nona," ucap Gio, suaranya tegang, "kami menerima laporan dari jaringan Eropa. Ketiga klan Gambino, Volkov, dan Die Schatten bergerak bersamaan. Mereka sudah mengirim pasukan ke berbagai posisi kita di Italia, Rusia, dan Jerman."Evelyn tidak bergerak, matanya tetap terpaku pada layar utama yang menampilkan peta Eropa dengan titik-titik merah yang bergerak cepat."Apa yang mereka lakukan?" tany
Pesawat mendarat mulus di bandara internasional Paris. Adrian dan Clara berjalan bergandengan tangan melewati terminal, meninggalkan kekacauan di bandara beberapa jam lalu. Wajah Adrian masih pucat, tapi ia berusaha tersenyum, berusaha melupakan amplop hitam dan foto-foto itu. Clara menggenggam erat tangannya, menyandarkan kepala di bahunya."Kita sudah sampai, Sayang," ucap Clara lembut. "Kevin pasti sudah menunggu."Adrian mengangguk, tapi pikirannya masih melayang pada pesan misterius itu. Siapa pengirimnya? Apa tujuannya? Dan yang paling mengganggu apakah Evelyn tahu?Mobil sport mewah sudah menunggu di luar. Mereka naik, dan dalam waktu sekitar empat puluh menit, mereka tiba di sebuah apartemen mewah di kawasan pinggiran Paris. Apartemen yang disewa Adrian untuk keluarga keduanya, tempat Kevin dan orang tua Clara tinggal.Begitu pintu terbuka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari menyambut. "Papa! Mama!"Adrian tersenyum lebar, melepas semua kekhawatirannya u
Aula yang penuh keangkuhan dan bisik-bisik meremehkan, kini hening bagai liang kubur. Hanya suara napas tertahan dan detak jantung yang berpacu yang terdengar di antara para pemimpin klan yang masih berdiri membeku di tempat masing-masing. Beberapa dari mereka masih menatap genangan darah di lantai marmer yang perlahan menyebar seperti peta kekuasaan baru yang digambar dengan merah.Evelyn duduk dengan anggun di kursi yang telah disediakan. Dress hitamnya yang mengilap kini memiliki semburat merah di ujungnya percikan darah dari pria malang yang masih tergeletak tak jauh darinya. Ia mengangkat gelas wine yang masih penuh, menyesapnya pelan, seolah baru saja menyaksikan pertunjukan teater yang menghibur."Apakah tidak ada yang ingin menyampaikan sesuatu?" tanyanya dengan suara lembut, tapi justru kelembutan itulah yang membuat semua orang merinding. "Atau mungkin... ada yang ingin mempertanyakan kehadiran saya?"Keheningan....Hanya keheningan yang menjawab.Pria di panggung, sang pem
Malam ini, aula megah di kawasan tersembunyi kota berubah menjadi medan pertemuan para penguasa dunia bawah. Puluhan pemimpin klan mafia dari berbagai penjuru negeri bahkan dari luar negeri telah berkumpul. Mereka datang dengan pakaian terbaik, ditemani para pengawal setia, siap untuk malam tahunan yang selalu penuh intrik dan bahaya.Lampu kristal berkilauan di langit-langit tinggi, meja-meja panjang dipenuhi hidangan mewah dan minuman termahal. Tapi di balik kemewahan itu, udara dipenuhi ketegangan. Semua orang saling mengawasi, semua orang saling curiga.Di sudut aula, beberapa pemimpin klan peringkat bawah berkumpul sambil menyesap wiski."Selama bertahun-tahun aku belum pernah bertemu atau melihat langsung pemimpin Crimson Fang," ujar salah satu dari mereka, pria paruh baya dengan bekas luka di pelipis."Seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak akan hadir," sahut yang lain, pria bertubuh tambun dengan cincin emas di setiap jari. "Malam ini kita akan memanfaatkan peluang ini. Per
Matahari mulai merangkak naik di ufuk timur, menerangi Mansion yang megah dengan cahaya keemasan. Namun pagi itu, mansion yang biasanya hangat dan ramai terasa berbeda, sunyi, dingin. Seperti rumah kosong yang kehilangan jiwanya.Adrian melangkah masuk melalui pintu utama setelah semalaman beristir
"Apakah sudah lama menunggu?"Suara itu datang dari belakang. Dingin, tapi penuh kelembutan yang tak terbantahkan. Suara yang familiar, suara yang sudah enam tahun lamanya tak pernah lagi terdengar di telinga Evelyn. Suara yang selama ini hanya ada dalam mimpi dan kenangan masa kecil.Evelyn menole
Waktu berlari tanpa ampun, meninggalkan jejak-jejak perubahan yang tak terlihat oleh mata biasa. Namun di markas Crimson Fang, perubahan itu terasa nyata, membekas di setiap sudut, di setiap tarikan napas para anggotanya.Pagi-pagi buta, saat kota masih bergelung dalam selimut kabut, Evelyn telah t
Malam telah larut....Mansion yang megah itu kini sunyi, hanya ditemani oleh suara jangkrik dari taman belakang dan desiran angin yang menerbangkan dedaunan. Di kamar utama, Evelyn merebahkan tubuhnya di atas kasur baru, tempat tidur king-size dengan ranjang berukir elegan dan seprai sutra hitam yan







