Share

Bab 61

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-05-26 18:50:51

Sepanjang perjalanan, pikiran Kai sulit sekali dikendalikan. Ada perasaan sesak yang menyeruak dalam hati. Terlebih saat Arsen berduaan dengan Emma di ruang kesehatan.

Senyuman yang ditunjukan lelaki itu pada Emma,membuat dada Kai bergemuruh hebat. Apa mungkin ini yang dinamakan cinta?

“Cinta? Bullshit rasanya kalau Arsen jatuh cinta pada seorang cewek,” gumam Kai sembari terkekeh garing.

“Playboy kampus itu punya seribu satu cara untuk menjerat cewek mana saja. Dan aku nggak rela kalau Emma j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 112

    Pintu kamar mandi terbuka dengan suara pelan. Kai keluar sambil menggosok rambutnya dengan handuk. Bahunya masih basah, kulitnya dingin oleh uap air. Dia berhenti seketika. Langkahnya terkunci di ambang pintu saat melihat Emma duduk di kursi mejanya. Gadis itu tampak pucat, kaku, dengan tatapan kosong yang belum pernah Kai lihat seumur hidupnya. Tatapan yang biasanya sarat akan binar ceria, kini mati. “Emma, lo .. ngapain di sini?” Kai mengerutkan kening, mencoba mencairkan keheningan yang janggal. “Tante nyuruh lo manggil gue ya?” Emma tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangan di atas lututnya, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar. Kai menyapu ruang kamarnya dengan tatapan kebingungan, lalu pandangannya jatuh pada sudut meja. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Monitor komputernya menyala terang. Di sana, sebuah folder dengan enkripsi khusus dan simbol yang sangat ia kenali terpampang nyata. Wajah Kai langsung pias. Darahnya seolah surut ke kaki. “Emma …

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 111

    "Terima kasih, Tante ...." Suara Emma lirih seperti berusaha menahan haru yang ada Rosalinda menggeleng dengan manik mata penuh kasih sayang. "Nggak boleh nangis loh." Emma buru-buru mengusap sudut matanya. "Iya." "Nanti topinya basah." Mereka berdua tertawa bersamaan, membuat beberapa asisten rumah tangga ikut terkekeh. "Aku bantuin bagian apa nih, Tante?" "Sebentar." Rosalinda berjalan pelan dan berdiri di belakang Emma. "Boleh Tante ikatin rambutmu?" Emma yang masih terharu karena perhatian Ibu Rosalinda, hanya bisa mengangguk tanpa bertanya lebih. "Boleh." Dengan sangat hati-hati, Rosalinda menyisir rambut Emma menggunakan jemarinya. Helai demi helai dirapikan. Diikat membentuk ekor kuda sederhana. Lalu topi koki putih itu dipasang perlahan. Sesekali beliau merapikan rambut yang masih keluar. "Nah." Rosalinda mundur selangkah. "Sekarang baru cocok." Emma melihat pantulan dirinya di kaca microwave. Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. "Lucu ...." Rosalinda

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 110

    Jarum jam baru menunjukkan pukul delapan pagi di hari Sabtu yang cerah itu. Namun, dapur rumah keluarga Kai sudah jauh dari kata sepi.Rosalinda berdiri di tengah kitchen island sambil mengenakan celemek berwarna krem. Rambutnya diikat rapi ke belakang. Di hadapannya, beberapa asisten rumah tangga hilir mudik membawa aneka bahan makanan yang baru selesai dicuci."Ayamnya sudah dimarinasi?""Sudah, Bu.""Kentangnya?""Sudah dikupas dan dipotong, Bu."Rosalinda mengangguk, tetapi beberapa detik kemudian kembali bertanya."Bumbu untuk semur sudah lengkap, kan? Pala, cengkeh, kayu manis?""Asisten tersenyum kecil. "Sudah lengkap, Bu."Rosalinda menghela napas lega.Hari ini ia memang sengaja ingin mengajak Emma memasak menu rumahan. Bukan makanan yang terlalu mewah, melainkan hidangan sederhana yang jika dimasak sepenuh hati rasanya tak kalah dengan restoran berbintang.Di atas meja telah tersusun rapi bahan-bahan untuk membuat semur daging sapi, ayam goreng lengkuas, sayur asem khas Sund

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 109

    Begitu keluar dari ruang kerja Raka, Emma menghapus sudut matanya yang berembun. “Aku harus pergi dari sini sebelum pertahananku jebol,” gumam pelan. Jarak dari mansion Raka ke halte bis sekitar sepuluh menit. Emma mempercepat langkah kakinya karena sudah hampir jam lima sore. Untunglah bis datang tepat waktu sehingga Emma masih bisa mengunjungi sang ayah di rumah sakit. Tak lama kemudian ponsel Emma bergetar, dari banner notifikasi, dia melihat siapa pengirim pesan tersebut. Kai: [Emma, besok sibuk nggak? Mama gue mau ajak lo masak bareng katanya.] Emma membaca ulang pesan itu beberapa kali. Ia menimbang sejenak karena besok dia harus tetap datang mengajar Lilis. Selain itu, dia juga harus minta ijin pada Raka, orang yang paling ingin dia hindari saat ini. Cukup sudah keberaniannya mengajak Raka ngomong tadi. Namun, menolak ajakan Mama Kai, rasanya sangat tidak sopan setelah wanita itu memperlakukannya dengan sangat baik waktu lalu. Setelah berpikir beberapa saat, akhirny

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 108

    Emma mengembuskan napas perlahan. Dia sebenarnya tidak ingin bertemu, tak ingin membuka percakapan yang mungkin berakhir canggung. Namun, wajah sedih Lilis tadi terus terbayang di kepalanya. Gadis remaja itu tidak pantas ikut terluka karena masalah orang dewasa. Akhirnya Emma berdiri. “Tolong aku, Tuhan,” doanya penuh harap. Dia melangkah menuju lantai lantai bawa. Koridor rumah keluarga Mahendra terasa sunyi. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Semakin dekat ke ruang kerja Raka, langkah Emma justru semakin lambat. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Aneh. Padahal mereka sudah pernah melakukan hal yang jauh lebih intim daripada sekadar berbicara. Namun, sekarang ... Mengetuk pintu ruangan itu terasa jauh lebih sulit. Dengan jantung yang berdegup kencang, Emma mengulurkan tangan dan mengetuk daun pintu kokoh itu. Beberapa detik berlalu. Tidak ada jawaban dari dalam. Emma hampir menyerah dan hendak berbalik, Namun, akhirnya terdengar suara berat da

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 107

    Lilis memutar-mutar pensil di jemarinya sambil menatap soal aljabar yang memenuhi buku latihan."Kak Emma.""Hm?""Siapa sih yang pertama kali bikin huruf dicampur angka? Pengen aku protes."Emma menahan tawa. "Maksudmu variabel?""Iya. Kenapa nggak sekalian aja ditulis angkanya? Hidup ini udah ribet, masa matematika ikut-ikutan bikin misteri."Emma hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar protesan si Lilis."Kalau angkanya sudah diketahui, namanya bukan dicari lagi.""Aku curiga yang bikin aljabar itu lagi gabut," ungkap Lilis dengan keyakinan yang salah. Emma mengambil buku Lilis."Coba lihat. Misalnya ada dua pensil sama tiga pensil.""Mudah.""Nah, sekarang jumlah pensilnya belum diketahui. Makanya kita pakai x."Lilis mengangguk pelan."Oh ... jadi x itu cuma nama sementara?""Betul."Lilis terdiam beberapa detik, lalu mendadak berseru, "Kasihan juga ya."Emma mengernyit. "Siapa?""Si x. Dari dulu dicari-cari orang, ketemu juga nggak."Emma tak mampu menahan tawanya. Ia sa

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 43

    “Anjir,” Naomi tertawa sinis. “Lo tuh bukan kalem, tapi sok ngerasa center of attention."Emma memilih diam. Posisinya yang terpojok dan sendirian, membuatnya harus mencari cara untuk menghindar dari tiga manusia iblis di depannya.Namun, sikap diamnya justru terasa lebih menyebalkan bagi mereka.K

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 41

    Kantin yang biasanya ramai karena rebutan ayam geprek pedas nggak ngotak, mendadak berubah kayak lokasi fan meeting artis. Penyebabnya?Arsen duduk selonjoran di kursi dengan hoodie hitam kebesaran, rambut agak berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat seperti bad boy paling tampan. Ek

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 40

    “Kak Raka, kami tunggu jawabannya. Kakak masih suka sama mantan Kakak?”Wajah-wajah tegang menghiasi ruang kelas. Cewek-cewek berharap mendapat jawaban yang masih memberi mereka setitik harapan untuk mendekati ketua The Crown.Raka menatap seisi kelas dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan“Kadan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 39

    “Terima kasih, Emma. Puisi kamu benar-benar buat kelas jadi heboh dan hidup."“Sama-sama, Pak. Mata kuliah Bapak keren banget. Bahkan orang yang nggak peka aja bisa pura-pura ngerti perasaan orang lain.”Kelas kembali dibuat terpingkil-pingkil oleh perkataan Emma."Tenang, tenang. Sekarang giliran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status