LOGINTatiana mengelap bibirnya dengan tisu setelah suapan terakhirnya. Mereka kemudian bangkit dan melangkah menuju area supermarket besar yang berada di dalam mal tersebut untuk mengisi kulkas mereka yang kosong.
Begitu mereka melewati barisan troli dan masuk ke area bahan makanan segar, Kaliel menoleh ke arah Tatiana sambil mendorong troli di samping gadis itu. "Kau ingin makan apa beberapa hari ke depan?" tanya
Ketegangan yang sempat mencekam koridor rumah sakit itu mendadak luruh ketika pintu ganda ruang tindakan darurat kembali terbuka. Dokter melangkah keluar, melepas masker medisnya, dan langsung menyunggingkan senyum lebar yang penuh kelegaan."Semua selamat, Tuan Kaliel," ujar dokter itu dengan nada mantap. "Ibu dan bayinya berhasil melewati masa kritis. Jagoan kecil Anda lahir dengan selamat melalui tindakan vakum darurat, dan Nyonya Tatiana saat ini sudah sadar kembali, meskipun kondisinya masih sangat lemas."Mendengar kalimat itu, bahu kaku Kaliel yang sejak tadi tegang langsung merosot. Kepalan tangannya perlahan melonggar, dan helaan napas panjang lolos dari bibirnya.Tanpa membuang waktu, Kaliel segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan pasca operasi. Di sana, di atas ranjang yang bersih, Tatiana berbari
Melihat celah kecil di antara himpitan mobil, mata Kaliel menangkap kilatan lampu rotator merah-biru yang berjarak sekitar lima puluh meter di depan mereka. Sebuah ambulans sektor kebetulan sedang berada di lokasi kecelakaan, baru saja selesai mengevakuasi korban tabrakan beruntun.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Kaliel menarik pintu mobilmya hingga terbuka lebar. Ia keluar dari kabin sambil mendekap tubuh pucat Tatiana dengan protektif, melangkah lebar dan cepat menerobos sela-sela kendaraan yang berhenti total.Para pengendara lain yang terjebak macet sempat menoleh dengan pandangan ngeri dan segan melihat sosok pria yang kerap berseliweran di majalah bisnis Sektor Onyx berjalan dengan aura sedingin es, menggendong seorang wanita yang lemah di bawah siraman lampu jalan."Buka pintunya!" titah Kaliel menggeleg
Suasana kamar sudah sepenuhnya sunyi ketika jarum jam dinding melewati angka dua malam. Hanya ada suara dengung halus dari pendingin ruangan dan lampu tidur yang menyelimuti ranjang besar mereka.Kaliel, yang sejak tadi tidak benar-benar terlelap, perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke samping, mendapati Tatiana masih terjaga, bersandar malas dengan mata yang sayu namun menatapnya balik. Keheningan malam itu mendadak terasa pekat oleh sisa gairah yang sempat mereka tunda beberapa jam lalu.Mencoba peruntungannya, Kaliel bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap tengkuk Tatiana, lalu menunduk, mendaratkan kecupan dalam dan lembut di bibir istrinya. Ciuman yang awalnya pelan itu perlahan berubah menjadi hisapan menuntut yang sarat akan kerinduan sebulan penuh.Ketika tautan bibir mereka terlepas, Kaliel
Sore itu, angin berembus perlahan, membawa kesejukan di teras depan rumah yang megah. Sesuai dengan saran dokter untuk lebih banyak menghirup udara segar, Tatiana duduk santai di kursi malas yang nyaman. Salah satu tangannya bergerak telaten, mengelus permukaan perutnya yang terasa tenang dan lembut.Anehnya, sejak Kaliel berangkat ke kantor pagi tadi, si kecil di dalam kandungan sama sekali tidak membuat ulah. Tidak ada tendangan beruntun, tidak ada gerakan heboh yang membuat ibunya kesakitan seperti beberapa hari lalu.Tatiana menunduk, menatap perut buncitnya dengan senyum kecil yang geli sekaligus heran. "Kenapa kau sangat diam saat tidak ada Ayah, Nak?" bisiknya lembut, suaranya mengalun pelan di keheningan sore.Ia mengetuk pelan perutnya dengan ujung jari, mencoba memancing respons yang tak kunjung datang. "K
Begitu mendengar lampu hijau dari dokter, Kaliel tidak membuang waktu lagi. Ia langsung menangkup pinggang Tatiana, membantunya turun dari ranjang periksa dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah wanita itu terbuat dari kaca yang paling rapuh."Terima kasih, Dok. Kami permisi," ujar Kaliel pendek, suaranya terdengar lebih tergesa-gesa dari biasanya.Sepanjang jalan menuju mobil, Kaliel tidak melepaskan rangkulannya pada bahu Tatiana. Perjalanan pulang kali ini terasa jauh berbeda dari keberangkatan mereka. Atmosfernya tidak lagi mencekam oleh kecemasan, melainkan dipenuhi oleh ketegangan jenis baru, gairah yang tertahan selama sebulan penuh kini menguar pekat, memenuhi setiap sudut kabin mobil.Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela dengan pipi yang masih terasa panas. Ia tidak berani melirik suaminya yang du
Empat minggu yang terasa seperti satu dekade bagi Kaliel akhirnya berlalu. Hari ini, ruangan dokter spesialis Sektor Onyx kembali menjadi saksi ketegangan yang sunyi. Tatiana berbaring dengan gaun hamil yang nyaman, sementara Kaliel berdiri di sampingnya seperti patung bernyawa, matanya lurus mengunci layar monitor USG.Dokter menggerakkan transduser di atas perut Tatiana yang kini sudah semakin menonjol di usia kehamilan enam bulan. Keheningan di ruangan itu terasa begitu pekat saat dokter mengamati layar dengan saksama, sesekali dahi pria paruh baya itu berkerut tipis."Bagaimana, Dok?" tanya Tatiana memecah kesunyian, suaranya terdengar cemas. Ia meremas jemari Kaliel yang sejak tadi menggenggamnya erat.Dokter menjauhkan alat pemindai, lalu mengambil tisu untuk membersihkan gel di perut Tatiana. Ia mengembuskan
Tatiana akhirnya mulai menyendok makanannya dalam diam, meski setiap kunyahan terasa hambar di mulutnya. Kaliel masih di sana, bersedekap dengan punggung tegap, menatap Tatiana tanpa beralih sedikit pun seolah sedang menghafal setiap inci ekspresi wajah wanita itu.
Cahaya matahari menerangi wajah tampan Kaliel yang masih tertidur pulas. Pria itu tampak begitu damai, kontras dengan kegaduhan yang ia ciptakan semalam.Tatiana duduk di tepi ranjang dengan selimut melilit tubuhnya. Wa
Kaliel menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar sangat lelah sekaligus lega. Ia mengecup ujung kepala Tatiana, menghirup aroma rambut gadis itu yang selalu bisa menenangkannya."Dia terbunuh ata
Kaliel mengeluarkan pistol hitam miliknya dari balik jas dengan gerakan yang sangat tenang, hampir seperti gerakan refleks yang malas. Ia menatap Selena yang sudah tak berdaya di depannya."Mumpung kekasihku tidak







