Mag-log inSurya hanyalah tukang pijat biasa dengan hidup sederhana. Namun nasib buruk datang bertubi-tubi ketika ia diselingkuhi pacarnya dan dipecat dari pekerjaannya di hati berikutnya. Saat hidupnya berada di titik terendah, seorang kakek kaya raya tiba-tiba merekrut Surya menjadi tukang pijat pribadinya. Tawaran itu langsung mengubah jalan hidup Surya. Dari kosan sempit dan hidup pas-pasan, Surya mulai masuk ke dunia mewah para orang kaya yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dimulailah kehidupan baru Surya yang dipenuhi kekayaan, wanita, dan hasrat muda.
view more"Ahh.. Ahhh.. Yeaaahh.." Desahan seorang perempuan merembes keluar dari balik pintu hotel.
Langkah Rayyan spontan berhenti. Tangannya yang hendak membuka pintu kamar hotel membeku di udara.
Ia tercekat. "Suara itu kan... "
Adegan panas sudah mulai terbayang di kepala Rayyan. Ia menggeram, tangannya mengepal erat. Plak! "Aaahh!!!" "Lebih keras sayanggghh!!" Erangan penuh kenikmatan muncul setelah tamparan keras terdengar. Rentetan suara berikutnya menyusul dengan cepat, membuat amarah di dada Rayyan semakin membara. Rayyan datang ke hotel itu setelah menerima kabar dari seorang teman dekatnya. Temannya berkata bahwa ia melihat Desi —nama pacar Rayyan— sedang berjalan-jalan dengan pria sebaya yang tidak dikenal. Keduanya tampak mesra, membuat temannya itu curiga. Dengan rasa kepo sebagai tukang gosip, teman Rayyan mengikuti keduanya sampai masuk ke dalam hotel itu. Awalnya Rayyan tidak percaya. Bagaimanapun juga, Desi adalah gadis yang ia kenal baik hati. Hubungan mereka selama ini juga terasa baik-baik saja. Namun semua sangkalannya runtuh begitu saja saat ia berdiri di depan pintu kamar itu. Dengan napas berat dan emosi yang memuncak, Rayyan langsung membuka pintu kamar hotel itu dengan kasar. BRAKK!! Kedua mata Rayyan seketika membelalak ketika melihat pemandangan di depannya. Dua tubuh yang sama-sama telanjang sedang melakukan adegan panas di ranjang luas. Spreinya berantakan, bantal dan guling berhamburan. Pria yang tidak dikenal beraksi dari belakang sementara Desi menungging pasrah dengan wajah penuh kenikmatan. "Apa yang kau lakukan ini, DESI!" teriak Rayyan. Desi dan pria yang bersamanya sempat terkejut sejenak. Keduanya menoleh dengan wajah panik, jelas tidak menyangka ada seseorang yang tiba-tiba menerobos masuk. Desi buru-buru menarik selimut, wajahnya pucat. "K-kenapa kamu bisa ada di sini, sayang?" ucapnya gugup. Rayyan langsung mengernyit. "Sayang?" "Dengan kau selingkuh begini, kau masih berani memanggilku begitu?" Desi terdiam. Rayyan melangkah maju, matanya dipenuhi amarah. "Kalian pikir aku ini apa, hah?!" bentaknya. Pria yang bersama Desi itu hanya menatapnya dengan malas, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Emosi Rayyan akhirnya meledak. Bug! Tinju Rayyan mendarat keras di wajah pria itu. Tubuhnya sedikit terhuyung ke samping. Namun anehnya, pria itu justru terkekeh pelan. "Heh… jadi ini pacarmu?" katanya sambil mengusap sudut bibirnya. Tatapannya merendahkan. "Desi, seleramu ternyata masih rendah juga." Rayyan mengepalkan tangan. "Apa maksudmu?" Pria itu menyeringai. "Orang miskin kayak dia ini cuma bisa modal omong kosong, kan?" ujarnya santai. Rayyan hendak membantah, tetapi pria itu lebih dulu menoleh ke Desi. "Benar, kan?" Kamar itu hening beberapa detik. Desi menunduk, lalu perlahan mengangguk. "I-itu… Rayyan memang baik…" gumamnya pelan. "Tapi aku capek hidup susah terus. Aku juga mau punya barang-barang bagus seperti tas branded, perhiasan mewah..." Rayyan membeku. Seketika semua kata-kata yang ingin ia ucapkan seolah lenyap begitu saja. Tanpa pikir panjang ia kembali melayangkan tinjuan ke pria selingkuhan Desi. Bug! Plak! Satu tamparan juga mendarat di pipi Desi. Napas Rayyan naik turun. "Tetap saja…" suaranya bergetar menahan emosi. "Selingkuh bukan hal yang bisa dibenarkan." Tanpa menunggu jawaban, Rayyan langsung berbalik dan keluar dari kamar hotel itu. Beberapa menit kemudian, ia sudah melaju dengan motornya keluar dari area hotel. Emosinya kacau balau. Rayyan hanya ingin berputar-putar di kota untuk menjernihkan pikirannya. Namun saat melintas di sebuah jalan yang agak sepi, ia tiba-tiba melihat sesuatu di pinggir jalan. Seorang kakek tua dengan pakaian lusuh terduduk di pinggir jalan. Tangannya memegangi kakinya sendiri, wajahnya meringis menahan rasa sakit. Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya, tetapi tidak ada satu pun yang berniat berhenti untuk menolong. Entah kenapa, hati Rayyan terasa sedikit tersentuh melihat pemandangan tersebut. Akhirnya Rayyan menepikan motornya di pinggir jalan lalu turun dari motor, dan berjalan menghampiri kakek tua itu. "Kek… Anda kenapa?" tanya Rayyan. Kakek tua itu mendongakkan kepalanya perlahan. Wajahnya tampak pucat. "Kaki saya… sepertinya terkilir," Rayyan memperhatikan kaki kakek itu dengan saksama. Sebagai terapis pijat, ia cukup sering berhadapan dengan kondisi seperti ini. "Apakah boleh saya coba bantu kakek?" "B-boleh, nak. Tolong bantu saya, kaki saya sakit sekali." Setelah mendapat persetujuan, Rayyan mulai memijat pergelangan kaki kakek itu dengan gerakan yang terlatih, menekan beberapa titik untuk mengendurkan otot yang tegang. Beberapa menit kemudian ia berhenti. "Coba gerakkan, Kek." Kakek itu menggerakkan kakinya perlahan, lalu tampak terkejut. "Eh… sudah tidak terlalu sakit lagi." Rayyan tersenyum tipis. "Sepertinya cuma terkilir ringan." Mendengar itu, kakek tua tersebut langsung memegang tangan Rayyan dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Nak… terima kasih banyak," ucapnya dengan suara penuh rasa syukur. Tatapannya hangat saat menatap Rayyan. "Kalau bukan karena kamu, mungkin saya masih terduduk di sini kesakitan." "Ah, bukan apa-apa, kek." balas Rayyan. "Baiklah, kek. Tolong lebih berhati-hati lagi kedepannya. Saya pamit dulu." Rayyan membalikkan badan, hendak pergi. Namun kakek tua menghentikan langkah Rayyan. "Jangan pergi dulu, nak. Saya mau mengajak makan di rumah saya sebagai ucapan terima kasih." "Eh?" "Tidak usah repot-repot, kek." tolak Rayyan cepat. Jujur saja, perasaannya saat ini masih sangat buruk. Dia hanya ingin berkeliling kota untuk menjernihkan pikirannya. Namun kakek tua itu justru menggeleng pelan. Tangannya menahan pergelangan tangan Rayyan dengan kuat. "Kamu sudah menolong saya. Saya tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja," katanya tenang. Tiba-tiba sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan mereka. Pintu mobil terbuka, dan dua orang pria berjas hitam segera keluar. Salah satunya langsung menghampiri kakek tua itu, lalu dengan cekatan memakaikan jas hitam dan kacamata hitam kepadanya. "Eh?" Dani Rayyan mengernyit, tidak mengerti apa yang barusan terjadi. Kakek ini ternyata orang kaya? Atau bagaimana? Namun blum sempat ia bertanya apa pun, kakek tua itu sudah menarik tangannya menuju mobil. "Tunggu dulu, Kek—" protes Rayyan kebingungan. "Tenang saja, nak. Motor kamu juga aman, kok," balas kakek tua itu. Rayyan spontan menoleh keluar jendela. Ternyata pria berjas hitam yang satunya sudah berdiri di dekat sepeda motor bututnya, seolah sedang menjaganya. "Jalankan mobilnya ke rumah," titah kakek tua itu kepada sopir di depan. "Baik, Tuan Besar." "Loh?" "Hah?" Rayyan hanya bisa melongo. Apa yang sebenarnya terjadi ini?Hotel Grand Meridian. Hotel mewah itu akan menjadi tempat diselenggarakannya lomba pijat oleh Grup Nuvata. Hal itu tidak mengherankan, mengingat Grup Nuvata dan keluarga Wijaya sudah sering bekerja sama. Sejak pagi, area lobi sudah dipenuhi peserta dari berbagai daerah. Sebagian datang mengenakan seragam spa, sebagian lagi memakai jas terapis lengkap dengan koper berisi perlengkapan kerja.Suasana diwarnai nuansa super sibuk, dimana obrolan-obrolan terus terjadi dan para panitia yang mondar-mandir mengarahkan setiap peserta. Rayyan turun dari mobil.Di sebelahnya, tiga bersaudari Sanjaya ikut turun satu per satu. Mereka mengenakan pakaian kasual dengan riasan tipis. Namun, penampilan sederhana itu sama sekali tidak mampu menyembunyikan pesona mereka."Haahh.. Antriannya panjang sekali." celetuk Chintya. Rayyan menoleh ke jalanan. Disana, mobil dan motor berbaris dengan tidak beraturan. Semuanya be
Rayyan membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang sekarang dilihatnya. Di hadapannya, Aurel dalam keadaan setengah telanjang. Ia hanya memakai kaos lengan pendek dengan bagian perut yang masih terbuka. Sementara bagian bawahnya masih belum memakai apa-apa. Begitu pintu terbuka, gerakan tangan gadis itu terhenti, membuat Rayyan menyaksikan celana dalamnya yang masih sampai di lutut. Kini keduanya saling bertatapan. Pikiran Rayyan dan Aurel mendadak kosong. Untuk beberapa detik, keduanya hanya terdiam karena masih memproses kejadian di depan mata.Hingga akhirnya kesadaran Aurel kembali dengan cepat."AAAA!!!"Teriakan kencang keluar dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, Aurel segera mengambil selimut di kasur lalu menutupi tubuhnya. Rayyan —yang kaget karena teriakan Aurel— spontan menutup pintu dengan buru-buru.BRAK!! Pintu tertutup. Rayyan melangkah mu
Selama beberapa hari, Rayyan terus berlatih sesuai dengan jadwal yang diberikan oleh tiga bersaudari Sanjaya.Dalam sehari, dia bisa melakukan praktek pijat sebanyak enam sampai tujuh kali, dengan masing-masing praktek berdurasi maksimal tiga puluh menit. Terkadang Rayyan heran dengan ambisi Chintya, Aurel, dan Vanya hingga membuatnya harus menetap di kamar yang sama terus-menerus. Bahkan ia sampai dilarang keluar dari kediaman Sanjaya. Jika nekat, maka akan ada hukuman yang menanti. Sialnya Rayyan tidak bisa menolak. Mau bagaimana lagi? Toh dia hanya pekerja disana."Bagaimana persiapan Rayyan sejauh ini, Aurel?" Aurel menatap buku kecil di tangannya, membaca sekilas. "Untuk nilai tata krama pada klien sudah terhitung bagus. Tata bahasa yang digunakan sopan, gestur tubuhnya penuh keramahan dan raut mukanya selalu cerah.""Dia sudah siap untuk melayani klien." ujarnya. Chintya menganggu
Rayyan menghampiri Chintya lalu buru-buru menepuk pundaknya. Chintya menoleh. "Apa maksudmu dengan ini semua, Chintya?!" seru Rayyan kebingungan. Chintya tersenyum lebar. "Masa kau tidak dengar ucapanku tadi, Rayyan? Sudah kubilang ini kulakukan dalam rangka membantumu bersiap-siap untuk lomba." ujarnya. "Yah.. Tapi kan—""Apa kau pikir dirimu sudah hebat, heh?!" potong Chintya cepat. "Eh?"Chintya maju selangkah. "Apa kamu pikir bisa mengalahkan para terapis profesional yang akan ikut lomba?!""Kamu sudah jadi sesombong ini, heh?!" bentaknya.Dicecar dengan begitu banyak seruan membuat Rayyan tidak bisa berkutik. Ia hanya menggaruk lehernya canggung. "Uh.. Baiklah," "Bagus!" Chintya membalikkan badan, menghadap para pelayan yang masih berbaris. "Baiklah, semuanya! Siapa yang mau jadi relawan pertama?" Semua orang tidak langsung
"Dua puluh sembilan..... Tiga puluh... Tiga puluh sa-""Ulangi!" bentak Albert. "Urrghh..." Namun tubuh Rayyan langsung ambruk mendengar perkataan itu. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi tubuh. "Kenapa anda malah berhenti, Tuan Rayyan?" ucap Albert pelan. "Bukankah saya bilang ula
"Eh?!"Rayyan sontak mundur beberapa langkah. Melihat itu, ekspresi centil Chintya luntur seketika. Ia mulai tertawa lepas sambil memegangi perutnya. "Hahahaha!!!""Hehe, tidak kusangka kamu akan sekaget itu, Rayyan."Rayyan tersenyum kecut. "Kurasa semua orang juga akan kaget." "Hehe,""Tenang
"Aaaaahhhh... Tolooonggg....."Nona Linda berteriak begitu kencang. Suaranya menggema di kamar hingga tembus sampai keluar. Rayyan berdiri dengan panik. Ia buru-buru menghampiri pelanggannya itu. Kaget, kebingungan, ketakutan. Semua perasaan itu tergambar jelas di muka pria muda itu. "N-nona Li
Saat ini Rayyan berada di ruangan khusus pijat. Kamar yang tidak terlalu luas itu sudah ditata dengan rapi. Kasur diletakkan di ujung tapi tidak menempel dengan dinding. Aroma terapi yang menenangkan dan lampu temaram ikut menghiasi kamar.Seperti ucapan Rayyan sebelumnya, ia ada janji pijat deng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.