LOGINThe line between good and evil is permeable, and almost anyone can be induced to cross it when pressured by situational forces which either make or break us. The is no stopping death when it comes knocking at your door.
View More“Nah, gitu atuh masak yang enak-enak dari kemarin buka pakai sayur kangkung terus. Bikin ngantuk aja!”
“Ya bagaimana lagi Akang kasih uang belanjanya pas-pasan.”
“Ya, ‘kan kamu tahu sendiri. Kemarin gajian Akang diminta sama Ibu buat sekolah Tia sama Ari. Sabar aja dulu!”
“Hm.”
Tia dan Ari adalah adik kandungku. Mereka masih sekolah. Gajiku bulan ini memang sebagian besar di transfer ke kampung untuk kebutuhan mereka sekola mengingat Tia dan Ari yang masih menginjak bangku SMA dan Kuliah. Entah kenapa istriku seakan tak terima dengan keputusanku untuk memberikan uang itu pada keluargaku di kampung.
Padahal, jelas mereka lebih membutuhkan. Tak sampai hati melihat mereka putus sekolah hanya, karena biaya. Sebagai karyawan pabrik dengan gaji 10 juta perbulan. Sebenarnya sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya saja, karena aku harus menanggung kebutuhan ibu dan adik-adikku gajian selalu hanya lewat saja.
Seperti sekarang di akhir bulan, di meja makan hanya tersedia lauk seadanya. Namun, entah dari mana Lara mendapatkan ayam goreng dan sayur Nangka. Mengingat sudah seminggu Lara hanya menyajikan sayur yang ia petik dari halaman belakang rumah.
Ia pandai menanam sayuran, namanya juga orang desa. Sebenarnya, aku tidak suka dengan caranya yang selalu membawa kebiasaan di kampungnya, hanya saja ternyata hobi bercocok tanamnya berguna juga di saat-saat kritis seperti ini.
Setiap bulannya aku memang membagi gajiku 7 juta untuk di kampung dan 3 juta untuk pegangan. Mengingat aku juga memiliki cicilan mobil angkutan umum di kampung halaman. Pendapatannya lumayan. Namun, aku lebih mempercayakan usahaku pada ibu, mengingat ia sangat pandai mengatur keuangan. Buktiknya saja aku sudah berhasil memiliki tanah yang nantinya akan kugunakan untuk membuat rumah di kampung saat sudah tua nanti.
“Wah Bunda masak ayam goreng! Asyik!”
Arfan, anak keduaku yang kini berusia 9 tahun tampak semringah. Ia yang baru saja pulang dari bermain bola tampak mengeluarkan lidahnya. Kami memang sudah lama tidak makan enak. Hanya saja haruskah dia begitu kampungan sampai-sampai berprilaku seperti itu.
“Cuma ayam aja kok.”
“Lah, emang kita enggak pernah makan ayam Yah.”
“Arfan, bantu Bunda sini!”
Lara yang kini tengah berada di dapur malah memanggilnya. Padahal, aku masih ingin menasihati anak keduaku ini.
“Kamu bantu Bunda cucikan timun surinya ya!”
“Oke!”
“Anak cowok itu jangan dibiarin main di dapur. Pamali!” sindirku.
Saat itu Lara hanya diam saja, entah sudah berapa kali aku melihat Lara kerap meminta anak-anakku untuk membantunya memasak. Apa lagi Musa, dia malah sangat lihat memasak. Entah ada apa dengannya. Lara malah mendidik mereka seperti anak perempuan. Terkadang Kana juga kerap mencuci dan menjemur pakaian di rumah. Meski, kerap digoda oleh tetangga sekitar anak itu seakan tak peduli.
Seperti kali ini, bukannya mendengar sindiranku. Kana yang baru saja pulang dari musala, malah langsung terjun ke dapur membantu Lara memotong sayuran.
“Enggak usah Mus, kamu pergi aja sana! Bunda bisa sendiri.”
“Udah biar Musa aja! Bunda mandi sana, bau ketek!’
“Kamu ini!”
Lihat saja mereka bukannya mendengarkanku Musa malah menggoda Lara. Anak itu memang sangat dekat dengan Bundanya. Hanya saja tidak selayaknya ia melakukan semua pekerjaan wanita dari mulai bersih-bersih rumah sampai memasak, bahkan sampai menyetrika pakaian pun dia lakukan.
“Kamu itu fokus aja sekolah. Main kek sama anak cowo.”
“Males, Yah! Mending di rumah.”
“Masak? Anak cowok kok hobinya masak.”
Musa memang tak pernah melawan. Hanya saja aku tahu dia sepertinya kesal setiap kali aku nasihati, untuk tidak mengambil alih pekerjaan rumah tangga.
“A, udah selesai ini!”
“Oke, sini! Kita bikin es timun suri pakai gula merah.”
“Wah enak, tumben sih kita makan enak hari ini.”
“Iya, aa gajian.”
“Kamu gajian?” tanyaku.
Bukan apa-apa, hanya saja aku heran. Musa masih kelas 1 SMA, tapi dia sudah mendapatkan gaji. Memangnya dia bekerja apa?”
“Iya, Yah.”
“Kerja apa?”
“Ngajar ngaji di musala.”
“Hah, sejak kapan?”
“Udah lama, Yah.”
“Siapa muridnya?”
“Ya anak-anak tetangga sekitar aja.”
“Kamu minta-minta ke tetangga kita?”
Musa malah terdiam, tetapi dari gerakkan bibirnya aku tahu dia sedang mengucap istighfar.
“Lain kali enggak usahlah kamu ngajar lagi, nanti ngeganggu sekolah kamu.”
“Ngajar ngajinya ‘kan sore abis ashar. Enggak akan mengganggu.”
“Lara, kamu ya yang minta Musa ngajarin ngaji anak tetangga?”
“Aku enggak pernah minta. Biarin aja atuh Kang, namanya juga ngisi waktu luang.”
“Tapi, kalau dia jadi enggak fokus belajar bagaimana? nanti malah enggak dapet tuh beasiswanya buat kuliah nanti.”
“Akang tuh kenapa sih, lagian Musa ‘kan melakukan kegiatan positif. Bukannya didukung.”
“Bukan masalah positif dan negative, lah dia minta-minta ke anak tetangga. Akang yang malu.”
Lara yang kala itu baru keluar dari kamar mandi mendadak mendekat.
“Musa, emang kamu pernah minta-minta sama murid kamu?”
“Enggaklah, Bun. Tadinya juga enggak bayar, orang tuanya aja yang inisiatif ngasih Musa. Lagian mana berani Musa, minta-minta apa lagi sama tetangga kita. Walaupun, sebenarnya kita lebih sering kekurangan dari pada cukup.”
“Maksud kamu apa ngomong begitu, Musa?”
“Ya emang kenyataannya begitu ‘kan Yah, lihat aja ibu. Di lingkungan ini, mana pernah ibu ikut kumpul-kumpul. Pengajian aja ibu kadang enggak berangkat.”
“Ya, itu ibu kamu aja yang enggak mau berangkat.”
“Emangnya Ayah tahu kenapa ibu enggak berangkat? Ayah pernah tanya enggak kenapa ibu enggak pernah berangkat?”
“Sa, udahlah. Bentar lagi maghrib loh, jangan ribut ya! Sayang ‘kan puasa kamu dari pagi.”
“Enggak apa Bun, aku enggak akan ribut kalau enggak terus-terusan disinggung. Ayah juga harus tahu ‘kan?”
“Memangnya kenapa sih? Lagian buat apa juga pengajian kalau orang paling di sana cuma adu pakaian.”
“Pengajian, itu biar dapet ilmu atuh Yah. Bukan adu out fit.”
“Kenyataannya begitu lihat saja tetangga kita, mau pengajian aja segala perhiasan di pakai.”
“Ya, biarin aja atuh Ayah. Orang mereka punya, ya wajar di pakai. Enggak kayak Bunda yang enggak punya apa-apa. Jadi, apa yang mau dipakai?”
“Kamu sekarang udah pinter ngomong ya, oh udah jadi guru ngaji jadi merasa berhak melawan sama orang tua. Besok-besok enggak perlu kamu ajar ngaji. Berapa sih gaji kamu ngajar ngaji di sana!”
“500.000 sebulan.”
“Cuma 500 ribu sebulan buat apa, Musa. Besok-besok enggak usah diterima! Malu-maluin aja, balikkin ke mereka.”
“500 ribu juga uang Ayah.”
“Gaji Ayah aja 10 juta.”
“Gaji 10 juta juga percuma kalau enggak pernah di kasih ke Bunda.”
“Ya, Bunda kamu boros. Yang ada 10 juta abis sehari.”
“Boros dari mana? 1 juta aja Ayah enggak pernah kan kasih ke Bunda? Mending juga gaji Musa 500 ribu full buat Bunda! Coba ngandelin gaji ayah. Setiap hari Ayah belanja seenak sendiri. Beli sayuran, ya sayurannya aja emangnya bisa layak makan tanpa bumbu? Di mana-mana juga yang belanja mah perempuan bukan laki-laki. Ayah belanja cuma tempe tahu, emangnya bisa mateng tanpa minyak? Udahlah Yah, Musa capek! Ayah mah kebanyakan gengsi, enggak pernah mikirin kalau kita juga pengen hidup normal. Bukan hidup terserah ayah. Gaji 10 juta juga bukan buat Bunda mah, enggak jadi apa-apa. Makan aja kadang enggak kenyang, karena berasnya enggak cukup!”
It's been quite a journey, and much more is to come.Please be patient cause there are about three more books to follow.What will happen to Joshua and Tiffany?Is Juliet really trustworthy, or will she help her sister Andrea?Let us know in the comments what you think is going to happen.We would love to read your idea.Due to school and work, I need a little time to make the next book.But dont worry this summer, the next book will be uploaded.In the meantime, go read Retrograde or The venom in my system; both are amazing books too.Thank you for reading.
“Juliet, what’s wrong?” Tiffany walks up to her.“Nothing,” says Juliet staring up at Tiffany with tears.“Hey, we are here now for you. You're not alone.”She stands up, wiping her tears. “I am sorry, it's just,” she pauses and faintly smiles.Joshua then walks out of the room to inspect the other room. The other room has a queen-size bed with a balcony. Its wooden floor is shiny, as if it has been recently varnished. The long gold curtains blend in with the floor, and the bed has a white comforter. Looking outside on the balcony, it’s dark, but the fresh smell of the rain has him drawn to the view. He goes inside, asking Juliet if he can get that room.“Sure,” she says, “that was my room before.”“Oh, sorry,” says Joshua, “I never realized. I would not mind taking any room.”“No, no, it's ok,” says Juliet, “I
“My brother is an accurate shooter,” says Tiffany as she drives off.“Those are some lousy firemen,” she says as she pulls over and lets Joshua take over the steering wheel.“So, where are we heading?” says Tiffany to Joshua.Joshua looks for an answer, “where ever the wind blows us.”“There is this cabin in the woods; it's quiet and away from everything. It belonged to my grandmother and has been empty since. It has power. It's not so far from where we are. Perhaps we can head there?” Juliet says.“And what about Andrea she will come looking for us there. It will be risky.”Joshua now stops, pulls over at a garage to refill, and goes inside to get snacks. Juliet goes in with him as Tiffany sits back and watches how well they get along, but Tiffany senses there is something wrong with Juliet. She is hiding something.Joshua comes out with refreshments, lots of swe
“What a mess the storm destroyed everything.”Casey walks around as Joshua and Tiffany arrange new transportation, “I wish I could get hold of Santiago,” he says, “my email has been delivered, and there is still no reply.He goes to the deep web and scrolls through the profile of the best hackers to be his eyes and ears; however, he cannot find anyone.“Hey,” Tiffany says, “let's call Sammy.”“Who is Sammy,” says Casey.“It's my best friend at school.”Casey immediately goes to Facebook and goes under Tiffany's friends to see if she can spot Sammy. There is no information on her. “So,” says Casey, “why are you contacting Sammy? I thought you wanted to get rid of the past.”Tiffany glances at Joshua, “well, Sammy, her dad, and my dad were in business together, and Joshua and I were like kids to him. We grew up in their house prac
“These bloody traffic lights take ages to change.”Lucifer is sitting in the back seat of the SUV. “I am on my way, Joshua. Get you and your sister takeout.”Suddenly a truck hits the SUV, and it swerves off the road. “Dad, what was that? Dad, you there.
Hearing a car pull up, he walks over to the window and notices it. Alex was dressed in a red tie and black shirt with a pair of torn black jeans. Tiffany approaches Alex and hugs him with her sculpted figure, which is twine-thin.Her waist was tapered, and she had a burnished complexion. A
It's the weekend as Joshua prepares for this party. “Hey Tiffany, are you done?” There was no answer from the bathroom since she was blow-drying her black hair. She has blue eyes, a slender body, and tall, tanned skin. Tiffany her emotions were not easily hidden on her innocent face. Her pain was
Birds were chirping. The sun was shining through the window. Joshua does a few sit-ups before the shower, freshening up. Thinking of last night, stuck with the thought, he can not help but wonder who is the girl he saw had the most beautiful smile.He returns from the bathroom and remembers last ni






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.