LOGINPagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-benar padam. Udara terasa lembap dan sejuk, cukup untuk membuat siapa pun menarik napas sedikit lebih dalam sebelum memulai hari.
Yusallia turun dari taksi online dengan langkah yang hati-hati. Ujung sepatunya menyentuh permukaan parkiran rumah sakit yang masih basah, menimbulkan bunyi pelan yang segera tenggelam di antara suara kendaraan lain yang datang dan pergi. Rambut panjangnya dibiarkan terurai rapi, bergerak lembut diterpa angin pagi. Tangannya menggenggam tas kerja sedikit lebih erat dari biasanya, sementara pikirannya masih seperti tertinggal beberapa jam di belakang. Entah kenapa, kejadian semalam belum juga benar-benar pergi dari kepalanya. Semuanya masih terasa terlalu jelas. Jalanan sepi yang diguyur hujan deras. Mobilnya yang mendadak mogok. Dan seorang pria asing yang tiba-tiba berhenti, lalu menawarkan bantuan dengan cara yang tenang, seolah menolong orang lain di tengah malam dan hujan badai adalah hal paling biasa di dunia. Yusallia mengembuskan napas perlahan. “Fokus, Yusa...” gumamnya pelan, lebih seperti mengingatkan dirinya sendiri daripada benar-benar mengusir pikirannya. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah sakit, suasana langsung berubah. Bau antiseptik yang khas menyambutnya lebih dulu, diikuti suara langkah kaki para perawat yang berjalan cepat, bunyi troli yang sesekali lewat, serta beberapa pasien yang sudah duduk menunggu sejak pagi. Ritme yang sibuk itu terasa begitu akrab baginya. Tempat ini selalu punya caranya sendiri untuk membuat pikirannya kembali tertata. “Dokter Yusallia, selamat pagi!” Sapaan ramah dari salah satu perawat membuatnya menoleh. Ia segera membalas dengan senyum tipis dan anggukan kecil. “Pagi.” Ia melanjutkan langkah menuju ruang praktiknya. Saat mendorong pintu hingga terbuka dan masuk ke dalam, Yusallia langsung disambut oleh pemandangan yang sudah begitu ia hafal. Meja kerjanya tertata rapi, kursi pasien berada di tempat semestinya, dan jendela besar di samping ruangan memperlihatkan langit pagi yang masih muram. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun anehnya, justru di tengah hal-hal yang begitu biasa itu, pikirannya malah kembali melayang. Yusallia duduk perlahan di kursinya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Tatapannya lurus ke depan, tetapi isi kepalanya dipenuhi potongan-potongan kecil dari malam kemarin. Suara hujan yang memukul kaca mobil. Jaket hangat yang dipinjamkan padanya. Dan cara pria itu berbicara—singkat, tidak banyak bertanya, tidak mencoba terlalu dekat, tetapi tetap membuatnya merasa aman. Rionegro. Nama itu melintas begitu saja di benaknya, membuat Yusallia sedikit mengernyit. 'Aneh.' pikirnya. Biasanya ia cukup pandai menjaga jarak dengan orang baru. Apalagi dengan orang asing yang baru ia temui sekali. Ia bukan tipe orang yang mudah merasa nyaman, apalagi sampai memikirkan seseorang lebih lama dari yang seharusnya. Tapi semalam terasa berbeda. Mungkin karena situasinya. Mungkin karena hujan. Mungkin karena ia benar-benar sedang sendirian dan lelah. Atau mungkin, justru karena pria itu tidak berusaha menjadi apa pun selain dirinya sendiri. Yusallia menggeleng pelan, seolah gerakan kecil itu cukup untuk membubarkan pikirannya. “Itu cuma kebetulan,” gumamnya lagi, kali ini lebih tegas. Ia berusaha memegang kalimat itu sebagai sesuatu yang masuk akal. Dan memang, apa lagi yang bisa disebut dari pertemuan singkat di tengah jalan selain kebetulan? Ia bertemu seseorang. Orang itu menolongnya. Selesai. Seharusnya sesederhana itu. Ketukan di pintu membuat Yusallia langsung kembali ke kenyataan. “Dok, pasien pertama sudah siap,” ujar perawat asistennya dari balik pintu. Yusallia segera berdiri. Ia merapikan jas dokternya, menarik napas dalam, lalu mengatur kembali wajah dan suaranya ke tempat yang paling ia kenal: tenang, profesional, dan siap mendengarkan. “persilahkan pasien pertama untuk masuk,” katanya. Pintu pun terbuka, dan hari sibuknya resmi dimulai. Seperti biasa, ia akan duduk berhadapan dengan banyak orang, mendengarkan keresahan yang mereka simpan, membantu mereka menata ulang isi kepala dan hati yang kusut. Rumah sakit akan menarik seluruh fokusnya, sedikit demi sedikit, sampai tak ada ruang tersisa untuk memikirkan hal lain. Atau setidaknya, begitulah yang ia harapkan. Karena walaupun pagi itu sudah kembali berjalan seperti biasanya, Yusallia tahu satu hal kecil yang tidak bisa ia bantah: ada bagian dari dirinya yang belum benar-benar meninggalkan malam kemarin. Dan entah kenapa, itulah yang justru membuatnya sedikit tidak tenang.Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa hangat, tapi tetap dipenuhi rasa tegang yang samar. Yusallia duduk di ruang tamu, memeluk bantal kecil di pangkuannya, matanya sesekali menatap ke luar jendela, ke halaman yang diterangi cahaya senja yang perlahan meredup. Ia tahu Rionegro akan datang. Sudah sejak beberapa jam lalu, ponselnya bergetar dengan pesan singkat dari pria itu.> Aku akan datang sore ini, setelah dari kampus. Kita bicara berdua.Pesan itu sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Yusallia berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia menaruh cangkir teh hangat di meja sampingnya, menarik napas perlahan, dan mencoba menenangkan pikiran. Ia tidak punya jadwal rumah sakit hari itu, tapi hatinya tetap terasa penuh. Setiap menit yang ia habiskan menunggu Rionegro terasa seperti waktu yang terseret terlalu lambat.Beberapa staf rumah bergerak pelan di sekitar, menyiapkan teh, memastikan lampu tetap menyala, tapi Yusallia hampir tidak menyadari
Sore itu, rumah keluarga Callisto terasa lebih sunyi dari biasanya.Bukan karena tidak ada orang di dalamnya. Justru ada beberapa staf rumah yang masih berjalan pelan di lorong, sesekali terdengar suara pintu tertutup dari kejauhan, dan dering ponsel Damian yang sejak tadi tidak berhenti sepenuhnya.Tapi tetap saja.Ada sunyi yang terasa lain.Sunyi yang muncul bukan karena tidak ada suara, melainkan karena seseorang di rumah itu sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.Yusallia duduk di sofa ruang tengah dengan kedua tangan menggenggam cangkir teh hangat yang bahkan belum ia minum sejak tadi. Rambutnya dibiarkan jatuh di bahu, sedikit berantakan, seolah ia tidak punya cukup tenaga untuk merapikannya. Wajahnya pucat. Matanya lelah.Dan senyumnya...Senyum itu ada.Tapi tidak sampai ke matanya.Damian berdiri tidak jauh darinya, bersandar di dekat rak buku dengan kedua tangan terlipat di depan dada
Malam di rumah Callisto terasa lebih sunyi daripada biasanya.Bukan karena rumah itu benar-benar sepi. Lampu-lampu tetap menyala hangat di beberapa sudut. Dari lantai bawah, sesekali terdengar langkah pelan para staf rumah yang masih membereskan sesuatu. Suara televisi dari ruang keluarga sempat terdengar sangat kecil, lalu menghilang lagi. Semuanya tetap berjalan seperti rumah besar yang hidup sebagaimana mestinya.Namun entah kenapa, malam itu tetap terasa sunyi bagi Yusallia.Ia sedang duduk sendiri di kamar lamanya, tepat di tepi tempat tidur yang dulu pernah terasa begitu akrab sampai ia bisa duduk berjam-jam di sana tanpa merasa asing. Tirai jendela setengah terbuka. Di luar, langit Jakarta tampak gelap dengan cahaya lampu taman yang jatuh lembut ke halaman samping rumah. Angin malam bergerak pelan, membuat ujung tirai sesekali bergeser tipis.Di pangkuannya, jemari Yusallia saling bertaut.Sudah beberapa hari ia pulang ke rumah ini
Pagi itu dimulai dengan langit Jakarta yang muram, meski hujan belum benar-benar turun. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas gedung-gedung tinggi, membuat cahaya matahari tampak pucat dan tertahan. Jalanan kota sudah dipenuhi kendaraan sejak jam-jam awal, sementara di dalam mobil hitam yang membelah arus lalu lintas dengan tenang, Rionegro duduk di kursi belakang sambil menatap layar tablet di tangannya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Terlalu tenang, mungkin. Namun siapa pun yang mengenalnya cukup lama akan tahu bahwa ketenangan seperti itu justru sering muncul saat pikirannya sedang bekerja terlalu keras. Di layar tablet, beberapa dokumen digital terbuka berurutan. Bukan file laporan rapat. Bukan juga ringkasan presentasi biasa. Itu adalah file-file perkembangan perusahaan keluarga Raymond yang beberapa bulan terakhir rutin diberikan oleh asisten ayahnya untuk dipelajari. Selama ini, Rionegro
Pagi datang seperti biasanya.Cahaya matahari tetap masuk dari sela tirai apartemen dengan sudut yang sama. Jam dinding tetap bergerak pelan. Pendingin ruangan tetap berdengung halus. Kota di luar jendela juga tetap hidup, dengan jalanan yang pelan-pelan dipenuhi kendaraan dan gedung-gedung yang memantulkan cahaya pagi.Semuanya tampak biasa.Setidaknya, begitu yang ingin diyakini Rionegro.Ia bangun lebih awal seperti biasa, mandi, mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika dengan licin, lalu berjalan ke dapur dengan langkah tenang. Tangannya otomatis meraih teko, menyalakan air, mengambil cangkir, dan menata meja makan tanpa perlu berpikir.Sampai di satu titik, gerakannya berhenti.Tangannya baru saja mengambil dua piring dari rak atas.Dua.Padahal pagi ini hanya ada dia.Rionegro menatap dua piring itu selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembalikan salah satunya ke tempat semula. Wajahnya t
Malam setelah pertengkaran itu berlalu tanpa benar-benar memberi istirahat pada siapa pun.Di dalam kamar, Yusallia tidak langsung tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dengan wajah basah dan dada yang masih terasa sesak, sementara di luar sana apartemen tetap sunyi seperti tidak ada apa-apa yang baru saja pecah. Tidak ada suara langkah mendekat ke pintu. Tidak ada ketukan pelan. Tidak ada suara Rionegro yang mencoba meminta ia membuka pintu dan bicara baik-baik. Yang ada hanya hening yang panjang, dingin, dan membuat semuanya terasa semakin nyata.Yusallia memeluk dirinya sendiri cukup lama sampai akhirnya lelah itu datang.Bukan lelah fisik.Bukan juga mual atau pusing yang biasa ia rasakan sejak hamil.Ini jenis lelah yang hidup di hati. Lelah karena terlalu lama menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar datang. Lelah karena berkali-kali berusaha mengerti, berkali-kali memaklumi, berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa sem
Enam Minggu KemudianSiang itu hujan turun tanpa jeda, mengguyur Jakarta dengan deras seolah langit sedang meluapkan seluruh beban yang dipendamnya sejak pagi. Dari balik kaca mobil, Yusallia memandang jalanan yang berkilau basah oleh air hujan, lampu-lampu kendaraan membentuk garis-gari
Lorong VIP terasa jauh lebih tenang dibandingkan ruangan-ruangan di balik pintu yang tadi masih dipenuhi tawa dan musik. Di sini, suara dari dalam hanya terdengar seperti gema yang tertahan, bercampur dengan dengung pendingin ruangan dan langkah kaki yang pelan di atas karpet tebal. Lampu-lampu d
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang disadari siapa pun di dalam ruang VIP itu. Sejak awal malam, lampu-lampu hangat yang memantul di dinding gelap ruangan itu memberi kesan nyaman, nyaris menipu. Musik dari area utama klub masih terdengar sampai ke sana, tetapi kini suara
Suasana di ruang VIP perlahan berubah semakin santai seiring waktu berjalan. Awalnya, percakapan masih berkisar pada hal-hal umum—pekerjaan, rutinitas, kabar keluarga, dan cerita-cerita ringan yang lebih banyak diwarnai candaan daripada keseriusan. Musik dari lantai bawah terdengar teredam, hanya d







