เข้าสู่ระบบLong Tian, Penguasa Alam Dewa yang legendaris, dikhianati oleh wanita yang paling dicintainya tepat sebelum mencapai keabadian sejati. Di ambang kematian, ia meledakkan jiwanya dan bersumpah akan kembali untuk membantai semua pengkhianatnya. Dua ratus tahun kemudian, Long Tian terbangun di tubuh seorang pemuda lumpuh yang dihina sebagai sampah keluarga. Namun mereka tidak tahu... di dalam tubuh rapuh itu bersemayam jiwa Kaisar Dewa yang pernah mengguncang langit. Dengan teknik kultivasi terlarang, alkimia kuno, dan dendam yang belum padam, Long Tian akan bangkit sekali lagi. Dan kali ini... seluruh dunia akan berlutut di bawah namanya.
ดูเพิ่มเติมPuncak Langit Abadi kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Langit yang seharusnya biru cerah tertutup oleh awan hitam pekat yang berputar layaknya pusaran neraka. Sambaran petir ungu terus menghantam bumi, mencerminkan gejolak energi Qi yang tidak stabil dari sang penguasa yang sedang sekarat. Di tengah altar kuno yang telah retak seribu, Long Tian berlutut dengan satu kaki yang gemetar.
Pedang kebanggaannya, Azure Dragon, tertancap di tanah hanya untuk menopang tubuhnya yang nyaris hancur. Jubah emas yang melambangkan statusnya sebagai Penguasa Alam Dewa kini compang-camping, basah oleh darah emas yang merembes dari luka menganga di dadanya. Bau amis darah bercampur dengan aroma sulfur dari sisa ledakan energi di sekitarnya. Setiap tarikan napas Long Tian terasa seperti menghirup serpihan kaca yang membakar paru-parunya. Ia bisa merasakan dinginnya kematian mulai merayap naik dari ujung jari kakinya, mencoba memadamkan api kehidupannya yang kian redup.
"Uhuk!" Long Tian memuntahkan darah hitam. Matanya yang tajam mulai meredup, namun rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengkhianatan yang baru saja dia alami.
"Kenapa, Su Yan?" suaranya serak, bergetar karena kepedihan yang jauh lebih dalam dari luka pedang. "Tiga ratus tahun kita mendaki puncak kultivasi bersama. Aku memberikanmu segalanya, bahkan jiwaku. Kenapa kau menusukku tepat saat aku akan menyentuh ranah Dewa Sejati?"
Di hadapannya, seorang wanita cantik berdiri dengan anggun. Su Yan, sang Dewi Cahaya, kini memegang belati perak yang masih memancarkan uap hangat dari darah emas milik Long Tian. Tidak ada penyesalan di matanya. Hanya ada ambisi murni yang berkilat, seolah ribuan tahun kenangan mereka hanyalah debu yang mengganggu penglihatannya.
"Itu kesalahanmu, Long Tian," suara Su Yan terdengar merdu namun tajam, memutus sisa harapan di hati Long Tian. "Kau terlalu naif. Di dunia kultivasi, cinta hanyalah belenggu yang memperlambat langkah. Kau adalah penghalang terakhirku untuk menguasai Segel Langit. Selama kau hidup, aku akan selalu berada di bawah bayang-bayangmu."
Su Yan melangkah maju, ujung sepatunya menginjak genangan darah Long Tian tanpa rasa jijik. Ia membungkuk sedikit, membisikkan kata-kata yang lebih menyakitkan dari sambaran petir mana pun. "Jangan salahkan aku. Salahkan dunia ini yang hanya menyisakan satu kursi di puncak tertinggi. Dan kursi itu... hanya milikku."
Di belakang Su Yan, beberapa sosok berjubah hitam muncul dari balik kabut kematian. Mereka adalah para Tetua dari Sekte Langit Tinggi yang selama ini bersumpah setia di bawah kaki Long Tian. Pengkhianatan ini bersifat total, sebuah konspirasi yang telah dirancang untuk menghapus jejaknya dari sejarah.
"Waktumu habis, Long Tian," potong salah satu Tetua. "Serahkan Inti Dewa milikmu, dan kami akan membiarkan jiwamu masuk ke siklus reinkarnasi dengan tenang."
Long Tian menyeringai. Sebuah tawa yang penuh penghinaan terhadap dirinya sendiri dan dunia yang korup ini. Inti Dewa adalah hasil kultivasinya selama ribuan tahun. Jika mereka mendapatkannya, Su Yan akan menjadi penguasa yang tak tertandingi.
"Ingin Inti Dewaku? Ambil di neraka!"
Seketika, suhu di puncak gunung meningkat drastis. Energi Qi di tubuh Long Tian berputar terbalik dengan kecepatan gila, menciptakan retakan ruang yang berderit di sekelilingnya. Ini adalah Self-Detonation. Wajah Su Yan seketika pucat pasi, topeng ketenangannya hancur melihat kegilaan Long Tian.
"Mundur! Dia ingin meledakkan jiwanya!" teriak Su Yan.
"Su Yan! Ingatlah hari ini!" raung Long Tian, menantang langit yang runtuh. "Jika takdir masih memberiku celah, aku bersumpah akan merangkak kembali dari lubang terdalam sekalipun untuk menyeretmu ke dalam kehancuran!"
BOOM!
Ledakan putih membutakan menelan seluruh Puncak Langit Abadi. Kesadaran Long Tian hancur, terseret ke dalam pusaran kegelapan yang tak berujung.
***
Kegelapan. Sunyi. Dingin yang menusuk hingga ke sumsum jiwa.
Long Tian merasa jiwanya dipaksa masuk ke sebuah wadah yang sempit, panas, dan berbau busuk. Paru-parunya terbakar saat menghirup udara secara paksa. Hal pertama yang dia rasakan adalah bau apek jerami basah dan aroma limbah yang menyengat. Tubuhnya terasa sangat lemah, seolah setiap tulangnya telah diremukkan dan sarafnya diputus secara kasar.
Matanya perlahan terbuka, menatap kamar kayu bobrok dengan atap bocor yang membiarkan air hujan kotor menetes ke wajahnya. Ini bukan Puncak Langit Abadi. Long Tian menatap tangannya yang kurus, pucat, dan penuh memar kebiruan. "Aku... masih hidup?" bisiknya dengan suara remaja yang asing dan pecah.
Dia bangkit menuju cermin retak di dinding. Di sana, tampak pemuda berusia tujuh belas tahun dengan wajah kuyu dan mata yang memancarkan penderitaan menahun. Ingatan asing tiba-tiba membanjiri otaknya seperti air bah. Nama pemuda ini juga Long Tian, seorang murid keluarga cabang yang terbuang. Dia dianggap "sampah" karena pembuluh darah Qi-nya lumpuh total sejak lahir.
Pemuda ini baru saja pingsan setelah dipukuli sepupunya karena mempertahankan batu energi untuk pengobatan ibunya yang sakit. Long Tian terdiam, lalu tawa rendah yang dingin keluar dari mulutnya.
"Lumpuh? Sampah?" Dia mengepalkan tangannya yang gemetar. Meskipun tubuh ini hancur, jiwanya adalah kaisar. Pengetahuan tentang ribuan teknik terlarang masih tersimpan rapat di kepalanya.
"Su Yan... kalian pasti mengira aku sudah menjadi debu," bisik Long Tian dengan mata memancarkan kebencian murni yang sanggup membekukan udara di ruangan pengap itu. "Tunggu aku. Aku akan merangkak kembali dari lubang ini. Dan saat aku kembali, seluruh dunia akan gemetar di bawah kakiku."
Tepat saat itu, pintu kamar ditendang terbuka dengan kasar hingga hancur berkeping-keping.
"Hei, sampah! Masih belum mati?" Seorang pemuda berpakaian mewah, Long Hu, berdiri di pintu. "Cepat serahkan batu energi itu, atau aku kirim kau ke liang lahat sekarang!"
Long Tian menoleh perlahan. Sorot matanya yang tadi sayu seketika berubah menjadi tajam, dingin, dan penuh aura otoritas yang mencekam, membuat Long Hu mendadak gemetar hebat tanpa sebab.
"Kau... bicara padaku?" tanya Long Tian pelan dengan nada yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun.
Bersambung
Tiga dentang lonceng kuno menggema dari pusat Sekte Pedang Abadi.Deng...!Deng...!Deng...!Suara itu menyapu seluruh pegunungan, membangunkan setiap murid yang sedang berkultivasi maupun berlatih pedang.Hari yang telah lama dinantikan akhirnya tiba.Seleksi Antar-Puncak.Ajang yang hanya diadakan sekali dalam sepuluh tahun itu menjadi penentu kehormatan, sumber daya kultivasi, hingga masa depan setiap puncak. Para murid terbaik dari seluruh Sekte Pedang Abadi akan saling berhadapan demi mengangkat nama guru dan puncak mereka.Namun, bagi Puncak Sembilan Kematian, arti seleksi kali ini jauh lebih berat.Mereka tidak hanya bertarung demi kehormatan.Mereka bertarung demi tetap bertahan.Jika kembali gagal, puncak itu akan resmi dibubarkan oleh Aula Tetua.Di halaman latihan Puncak Sembilan Kematian, seluruh murid telah berkumpul sejak fajar.Shen Luo berdiri paling depan dengan satu tangan menggenggam pedangnya.Di sebelahnya, Yue Ran berdiri tegak. Wajahnya tetap tenang, tetapi soro
Halaman belakang kediaman Penatua Agung kembali diselimuti keheningan.Angin berembus perlahan, menggoyangkan rumpun bambu hingga menimbulkan suara yang lembut.Di atas meja batu, uap teh masih mengepul.Namun baik Long Tian maupun Cang Xuan tidak lagi menyentuh cangkir mereka.Ucapan terakhir Cang Xuan masih menggantung di udara."...aku mengenalimu dari cara kau menatap pedang."Long Tian tetap tenang.Namun di dalam hatinya, kewaspadaan telah mencapai puncaknya."Apa maksud Penatua?"Cang Xuan tidak segera menjawab.Sebaliknya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju rak kayu di sudut halaman.Di sana hanya terdapat beberapa pedang tua.Sebagian telah berkarat.Sebagian lagi bahkan tampak seperti pedang latihan biasa.Ia mengambil salah satunya.Pedang itu tidak memiliki aura.Tidak memiliki ukiran istimewa.Hanya sebilah pedang tua yang telah menemani waktu.***Cang Xuan mengusap perlahan bilah pedang itu."Menurutmu...""...apa yang membuat sebuah pedang menjadi ku
Setelah meninggalkan Aula Arsip, Long Tian tidak langsung kembali ke Puncak Sembilan Kematian.Langkahnya justru mengarah ke puncak tertinggi Sekte Pedang Abadi.Di sanalah para Penatua Agung tinggal.Di sanalah...Orang yang memimpin Pengadilan Pedang Darah puluhan tahun silam masih berada.Cang Xuan.Sepanjang perjalanan, Long Tian tidak berhenti memikirkan satu hal.Kalau Bai Jian benar-benar tidak mengkhianatinya...Maka seseorang telah menjatuhkan hukuman kepada orang yang tidak bersalah.Apakah Cang Xuan mengetahui kebenarannya?Ataukah ia sendiri juga telah ditipu?Long Tian belum memiliki jawaban.Karena itu...Ia memutuskan untuk melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.***Puncak Penatua Agung jauh lebih sunyi dibanding puncak lainnya.Tidak ada murid yang berlalu-lalang.Tidak ada suara latihan pedang.Yang terdengar hanyalah desir angin yang melewati rumpun bambu tua.Di halaman utama, beberapa murid senior sedang menyapu dedaunan yang berguguran.Tidak ada kesan mewah.S
Aula Arsip kembali sunyi.Long Tian masih berdiri di depan meja kayu tua, sementara halaman terakhir yang bertuliskan "Pengadilan Pedang Darah" terbuka di hadapannya.Tangannya perlahan menekan lembaran yang mulai rapuh itu.Seluruh petunjuk yang ia kumpulkan selama ini...Seolah mengarah pada satu peristiwa.Bai Jian.Pengkhianatan.Dan sebuah pengadilan yang sengaja dihapus dari sejarah.***"Senior."Long Tian memanggil tetua penjaga arsip.Pria tua itu datang perlahan.Tatapannya jatuh pada halaman yang sedang dibaca Long Tian.Ekspresinya berubah seketika."Kau menemukannya..."gumamnya lirih.Long Tian mengangkat kepala."Apa itu Pengadilan Pedang Darah?"Tetua itu terdiam cukup lama.Kerutan di wajahnya tampak semakin dalam."Aku tidak menyangka...""...masih ada halaman yang tersisa.""Jawab pertanyaanku."Pria tua itu menghela napas panjang."Sebagian besar arsipnya telah dimusnahkan.""Tetapi...""...aku masih mengingat sedikit."***Ia duduk perlahan di kursi kayu.Tatapann
Cahaya fajar mulai menyentuh pucuk-pucuk pepohonan di perbatasan hutan saat Long Tian berjalan kembali menuju gerbang Kota Xulian. Di belakangnya, kelompok yang dipimpin Jaran mengikuti dengan langkah tertatih. Pakaian mereka robek, napas mereka memburu, dan wajah mereka dipenuhi debu serta noda da
Aula pertemuan di pusat komando Kota Xulian dipenuhi dengan ketegangan yang menyesakkan. Para pemimpin aliansi dari berbagai sekte kecil dan menengah berdiri melingkar, mata mereka tertuju pada pusat ruangan di mana Bai Lian terikat di atas pilar batu, wajahnya tampak lebam namun tetap memancarkan
Ruang meditasi itu terasa sesak. Long Tian duduk bersila di atas lantai batu, namun pikirannya mengembara jauh melampaui tembok-tembok markas. Racun kutukan yang merambat di lengan kirinya telah berhasil ia tekan sementara waktu, namun bayangan wajah Bai Lian terus menghantui ingatannya. Pertemua
"Lagi."Suara Long Tian bergema di dataran berbatu Lembah Bayang Terlarang. Di hadapannya, tiga ratus praktisi dari Aliansi Pembalik Langit terkapar di tanah, napas mereka memburu seperti anjing yang kelelahan. Pakaian mereka basah oleh keringat, dan wajah-wajah yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็นเพิ่มเติม