ログインNoah meninggalkan rumah dengan senyum tak lekang dari bibirnya.Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju toko kue milik orang tua Nindy, karena Noah tahu jika Nindy ada di sana saat ini. Begitu sampai di depan toko kue, Noah memarkirkan kendaraan dengan rapi. Lalu dia bergegas melangkah masuk dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.Saat masuk ke dalam toko, tatapan Noah langsung tertuju pada Nindy yang sedang mengecek beberapa nota di dekat kasir. “Nindy,” panggil Noah sambil melangkah mendekat.Tatapan Nindy langsung tertuju ke arah suara Noah, dia terkejut melihat kekasihnya ini di sana.Bukannya senang, raut wajah Nindy justru berubah cemas. Nindy menutup buku catatannya, lalu melangkah meninggalkan meja kasir."Noah? Kenapa kamu ke sini?" Nindy berjalan mendekati Noah dengan kening berkerut. "Bukannya hari ini kamu bilang ada janji bertemu klien?""Sudah aku batalkan. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar urusan klien," jawab Noah dengan tatapan tak
Noah membeku di tempatnya berdiri. Apa Noah tidak salah mendengar? Apa yang mamanya katakan tidak benar?“Mama bilang tadi mau melamar, ‘kan?” Noah masih seperti tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Mata Noah membola lebar saat otak cerdasnya mampu mencerna maksud sang mama. Sampai dia baru menyadari jika sang mama sudah menjauh darinya, tatapannya langsung tertuju punggung Kamila yang mulai melangkah menjauh menuju area dapur.Begitu tersadar dari rasa terkejutnya, Noah bergegas mengejar langkah Kamila."Ma! Tunggu, Ma!" Noah memotong jalan Kamila dan berdiri tepat di depannya. Matanya menatap Kamila penuh rasa tidak percaya. "Maksud Mama apa? Mama tidak bercanda, 'kan?" Noah memastikan, tatapannya tertuju pada wajah sang mama yang begitu datar.Kamila berdiri sambil menghela napas kasar. Wajahnya tetap terpasang ekspresi sok datar dan cuek. "Kenapa? Tidak mau dilamarkan? Ya sudah kalau tidak usah. Jadi tak usah buang-buang waktu."Kalimat bernada tak peduli dari sang
Nindy melipat bibirnya saat mendengar pertanyaan sang mama. Dia diam beberapa detik, berusaha menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi sebenarnya kepada sang ibu."Dulu, aku dan Noah pernah membohongi Bibi Kamila, Ma." Nindy jujur karena masalah ini dia belum pernah membicarakan dengan sang mama. "Aku dan Noah berpura-pura pacaran di depan Bibi. Karena itu Bibi Kamila masih kesal padaku, padahal sekarang kami benar-benar pacaran." Nindy menatap canggung ke sang mama, karena dia sudah berani membohongi orang tua.Indah tersentak sampai matanya membola lebar. Meski dia tak percaya dengan apa yang baru saja Nindy katakan, tetapi Indah hanya bisa menghela napas panjang."Kenapa kamu bisa bohong begitu, Nindy?" tanya Indah dengan nada tertahan, tak menyangka anak perempuannya melakukan hal sejauh itu.Nindy kembali diselimuti penyesalan jika ingat akan kejadian itu. Tetapi, dia juga salah."Dulu aku dan Noah masih sama-sama baru kenal, Ma. Keadaannya rumit saat itu," balas Ni
Nindy melirik ke Kamila setelah mendengar pertanyaan ibunya. Dia tak langsung menjawab, Nindy sedikit panik saat mendapati Kamila memandangnya dengan tatapan datar. Namun, Nindy sadar kali ini dia harus berani. Dia harus membuktikan kepada Kamila bahwa tidak ada lagi hal yang dia sembunyikan.Nindy menarik napas pelan, menguasai dirinya agar tidak tegang, lalu menatap ibunya dengan tenang. "Kenal, Ma. Beliau ini Bibi Kamila ... mamanya Noah."Indah seketika terkejut. Matanya membola lebar saat kembali menatap pada Kamila dengan ekspresi tidak percaya. Indah tentu sudah tahu soal Noah, pria yang kini sedang menjalin hubungan dengan putrinya.Atmosfer di meja itu mendadak tegang. Saat Indah ingin membuka bersuara, Kamila sudah lebih dulu memotong."Apa Ibu tahu kalau Nindy dan putra saya pacaran?" tanya Kamila dengan nada suara yang sulit ditebak.Indah melihat ekspresi Kamila yang begitu datar. Dia berdeham pelan dan berusaha tetap tenang. "Tahu, Bu. Noah sering main ke toko juga, ka
Keesokan harinya. Kamila mendatangi alamat toko kue yang tertera di kartu nama pemberian Indah. Sore ini Kiran akan tiba setelah liburan 7 hari, jadi Kamila membeli kue untuk menyambut putrinya.Begitu melangkah masuk ke dalam toko, aroma harum mentega dan vanila yang khas langsung menyapa indra penciumannya. Interior toko bergaya minimalis itu terasa sangat bersih, rapi, dan nyaman.Kamila berjalan menuju etalase kaca dan mulai melihat-lihat pilihan kue yang tertata cantik. Seorang pelayan toko melangkah mendekat untuk melayaninya."Selamat siang, Bu. Ada yang bisa dibantu?" sapa pelayan itu ramah."Saya mau mencari kue stroberi," sahut Kamila lembut ketika menoleh pelan ke pelayan yang berdiri di sampingnya.“Ada, Bu. Di etalase sana, silakan dilihat-lihat dulu, mau kue yang mana.” Pelayan menunjuk sopan ke etalase yang dituju.Kamila melangkah mendekat, dia memandangi kue-kue yang terpajang di sana, semuanya cantik-cantik dan serba strawberry.Saat Kamila sedang memilih kue yang
Beberapa hari kemudian.Kamila ada di supermarket. Dia sedang memilih beberapa keperluan di luar kebutuhan dapur. Kamila berjalan sendiri sambil menenteng keranjang belanjanya. Dia menyusuri deretan rak, dan sesekali mengambil barang yang diinginkan.Sampai langkahnya terhenti di depan rak makanan ringan, lalu tangannya terulur hendak mengambil sebuah kemasan cookies rasa strawbery.Namun, di saat yang bersamaan, sebuah tangan lain juga terulur ke arah kemasan yang sama.Kamila menoleh cepat, tatapannya tertuju pada wanita paruh baya berpakaian sederhana yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi terkejut seperti dirinya.Kedua wanita paruh baya itu sempat membeku sejenak sebelum sama-sama menarik tangan masing-masing. Wanita di samping Kamila mengulas senyum ramah, lalu tertawa kecil menutupi rasa canggungnya."Aduh, maaf ya, Bu. Saya tidak sengaja, main ambil saja," ucap wanita yang tak lain Indah—Ibu Nindy, dengan nada sopan dan penuh penyesalan.Melihat sikap dan tutur kata wanit







