MasukDihancurkan adik nya, di nikahi kakak nya. Alika pikir pernikahan ini tidak akan baik-baik saja tapi ternyata sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dibalik pernikahan nya terjadi. Sadewa menyimpan sesuatu dalam pernikahan mereka, mungkin dia akan sedikit terluka mengetahui kenyataan kenapa Sadewa bersedia menikahi nya tapi dia tidak akan pernah menyangka jika ada motif lain yang disembunyikan Sadewa darinya.
Lihat lebih banyak"What did you say?" Ace asked Amelia gritting his teeth angrily.
"I said, he asked me to go on a date with him," Amelia said.
Ace fisted his hand in anger hearing this.
"Say no" Ace said.
"What?" Amelia asked him
"You have heard me. Say no to him" Ace said.
"No. I will not. You can not decide this for me" Amelia shouted at him.
Ace took dangerous steps towards her.
Amelia took back steps immediately.
But soon her back hit against the glass wall.
Ace smirked at her.
Amelia looked up and gasped in shock when she found him dangerously close to her.
Ace put his hand on either side of her.
"Say no to him baby girl, before I kick out him from my company" Ace said in a husky tone.
Amelia gulped in nervousness.
"What if I won't?" Amelia managed to ask him.
Ace smirked and put his head on her neck then spoke up husky tone,"Always remember this baby girl, you are mine. Mine to touch. Mine to love. And I will not let any other touch what is only belongs to me. I won't mind to burn them alive. Trust me baby girl, I am very possessive when it's comes to my things. If you want to see him alive say no otherwise I will not be responsible for his condition"
Amelia heard the dangerous threat which was hidden in his soft husky tone. Her heart started breathing hard.
"Do you get me, baby girl?" Ace asked him.
And, Amelia nodded her head immediately.
Bab: Sandiwara yang TerbongkarSetelah penangkapan Bagas, semua meredam sejenak dan kehidupan normal Sadewa dan Alika berjalan normal. Kebahagiaan kembali dirasakan.Hari ini, suasana pagi itu tidak lagi sama.Langit Jakarta berwarna kelabu, menurunkan gerimis tipis yang menggantung di udara seperti kabut muram. Di halaman depan kantor pusat Baskoro Group, puluhan wartawan sudah memenuhi pagar, menyorotkan kamera, dan berteriak memanggil satu nama yang kini menjadi pusat perhatian: Nyonya Letta Baskoro.Namun di balik kilatan kamera dan suara gaduh itu, hanya terdengar langkah kaki berat dari arah pintu utama gedung — langkah para petugas kepolisian yang membawa berkas-berkas tebal, disusul dengan seorang perempuan bergaun mahal yang wajahnya mulai hancur oleh air mata dan amarah.“Tidak! Tidak mungkin!” jerit Letta, suaranya parau dan bergetar. “Kalian tidak bisa menuduh saya seperti ini! Semua ini fitnah! Saya istri Tuan Baskoro! Saya punya hak atas semua ini!”Ia meronta, berusaha
Bab: Bayangan di Balik JeritanHening.Namun bukan hening yang menenangkan — melainkan hening yang menggigit, membungkam napas, dan membuat waktu terasa macet di antara detik yang panjang.Alika masih duduk di kursi kayu itu, tangannya terikat di belakang, kulit pergelangannya memerah dan lecet oleh gesekan tali kasar. Cahaya lampu di langit-langit bergetar pelan, seperti sedang menahan napas bersama dirinya.Bagas masih berdiri di depan, tubuhnya tegap tapi goyah — seperti seseorang yang berjuang menahan kegilaan yang hampir tumpah. Di tangan kanannya, kain hitam itu terlipat rapi, sedangkan di tangan kirinya ia memegang pita plastik, mengelusnya perlahan seolah sedang menenangkan diri.Suara tetesan air dari pipa bocor di sudut ruangan masih terdengar. Ritme lambatnya seperti jam pasir yang menghitung waktu menuju kehancuran.“Bagas,” suara Alika memecah hening itu, pelan, datar, tapi cukup untuk membuat laki-laki itu berhenti.Ia mengangkat wajahnya, menatapnya dengan mata merah ya
Bab Terjebak dalam Bayangan BagasUdara yang menusuk dingin menyambut Alika ketika kelopak matanya perlahan terbuka. Napas pertamanya terasa berat dan getir, seolah udara di sekelilingnya membawa aroma karat dan debu yang melekat di dinding. Cahaya redup dari lampu kuning pucat bergetar pelan di langit-langit ruangan, menciptakan bayangan yang menari-nari samar di dinding bata yang sudah terkelupas. Suara gemericik air menetes di suatu sudut, lambat, ritmis, dan memantul di seluruh ruangan yang hening.Ia mencoba memfokuskan pandangan, dan barulah menyadari keadaan dirinya. Tali kasar menjerat kuat kedua pergelangan tangannya di belakang kursi kayu tua, membuat kulit di bawahnya perih dan memerah. Kakinya pun terikat, meski tidak seketat tangan, cukup untuk membuatnya sulit bergerak. Tubuhnya terasa berat, lidahnya kering, dan kepalanya berdenyut. Ia tahu efek obat yang diberikan Bagas tadi belum benar-benar hilang dari sistem tubuhnya.Alika menarik napas panjang, mencoba mengatur de
Bab: Dalam Cengkeraman ObsesiPelukan Bagas pada tubuh Alika semakin erat, seakan ia hendak menanamkan keyakinan pada dirinya sendiri bahwa kali ini ia tidak akan lagi kehilangan perempuan itu. Kedua lengannya mengunci rapat, menolak segala kemungkinan Alika bisa melepaskan diri. Tubuh perempuan itu nyaris tak berdaya, berat seakan tidak lagi memiliki tenaga untuk menolak. Langkah kaki Bagas terdengar berat, namun setiap hentakannya mengandung kepastian. Suara dentum sol sepatunya bergema pelan di lantai ruangan yang sunyi, memantul ke dinding yang putih dingin, lalu hilang dalam keheningan yang terasa mencekik.Pintu belakang ruang periksa ia dorong perlahan. Gerakannya hati-hati, seperti seekor hewan buas yang menyelinap keluar dari sarangnya, memastikan tak ada mata lain yang menyaksikan. Matanya liar, bergerak cepat dari sisi ke sisi, penuh kewaspadaan namun juga menyimpan semangat yang membara. Pandangan itu bukan lagi pandangan seorang pria waras, melainkan tatapan seseorang yan
Bagas duduk di dalam mobilnya, bersandar dengan tubuh tegang, menatap lurus ke arah depan sejak beberapa waktu lalu. Pandangannya tidak pernah lepas dari sebuah rumah yang berdiri di ujung jalan, rumah besar dengan pagar kokoh yang menaungi kehidupan keluarga kecil di dalamnya—rumah milik Sadewa da
Disisi LainPOV Nyonya LettaNyonya Letta menarik napas panjang, dadanya naik turun perlahan, seolah sedang menghirup udara kemenangan yang sudah lama ia nantikan. Wajahnya berseri-seri, ada kilatan bahagia yang sulit ditutupi dari sorot matanya. Di balik senyum yang samar itu, tersimpan bara ambis
Alika menghentikan mobilnya perlahan, seakan ia sengaja menahan laju roda agar tetap tenang, meski hatinya sejak tadi dipenuhi rasa khawatir. Area parkiran di depan salah satu klinik dokter hewan langganannya tampak masih sepi. Pagi itu udara begitu lembut, namun bagi Alika, hawa yang menyelimuti t
Dari posisi nya Bagas melihat sang mama nya ada di tempat berbeda di ujung sana, berdiri di teras lantai atas dengan wajah yang tidak bisa disembunyikan lagi kegelisahannya. Kedua matanya menatap penuh pada sosok kecil yang ada di hadapannya, Langit, putra Alika—yang sejatinya juga adalah darah dag












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan