LOGINKini, kekuatan Tirta tiba-tiba meningkat beberapa tingkatan besar. Dari tingkat semi pembentukan dewa, dia langsung menembus tahap awal, tahap menengah, tahap akhir, dan tahap puncak. Setelah itu, dia terus menembus tingkat pemurnian dewa tahap awal, tahap menengah, tahap akhir, hingga puncak.Meskipun kekuatan Tirta sudah benar-benar stabil, tubuhnya masih belum beradaptasi sepenuhnya. Jika tidak mencari lawan untuk berlatih dan membiasakan diri dengan energi spiritual yang melonjak dahsyat itu, dia tetap akan kesulitan mengendalikan kekuatannya dengan bebas."Oh ya. Bocah, dua senjata spiritualmu itu sebenarnya dari mana? Kenapa makhluk dari era surgawi itu langsung kabur begitu lihat kedua benda itu?" tanya Selvi dengan penasaran karena teringat sesuatu saat mereka terbang tinggi di atas awan. Pegunungan bergelombang di bawah kaki mereka terlihat seperti urat nadi bumi dan kabut putih berputar, menciptakan pemandangan menakjubkan."Senior, aku kebetulan temukan kedua benda itu di se
Cahaya keemasan yang menyilaukan itu membuat Yumika segera menebak penyebabnya adalah kertas emas. Namun, apa penyebabnya sebenarnya, dia sendiri juga tidak jelas.Boom!Seolah-olah tidak terkendali, tubuh Tirta tiba-tiba bergerak dengan sendirinya. Dia memasuki keadaan yang begitu misterius dan sulit untuk dijelaskan, seolah-olah sedang berjalan dalam tidur. Dia mulai memperagakan satu per satu seluruh teknik yang pernah dipelajarinya dan puluhan teknik bertarung yang baru saja dipahaminya dari peninggalan leluhur generasi pertama.Aum!Aung!Saat satu pukulan dilayangkan, seekor harimau surgawi muncul. Saat pukulan kedua menyusul, seekor naga liar menerobos kehampaan. Gua itu langsung hancur berkeping-keping, sebuah lubang berdiameter sekitar seratus meter langsung terbentuk, dan bebatuan beterbangan ke segala arah."Hehe. Ternyata teknik bertarung bocah ini cukup luar biasa.""Yumika, ayo kita keluar dulu."Karena tidak berani mengganggu Tirta saat ini, para wanita itu segera bangki
Bakrie tiba-tiba menghadap ke arah tempat Lavanya bersembunyi dan meraung keras.Puft!Lavanya langsung dipaksa untuk menampakkan diri, lalu energi spiritual di dalam tubuhnya menjadi kacau dan dia memuntahkan darah segar. "Gawat. Ternyata monster tua ini sudah lama menyadari keberadaanku ...."Dia segera mengeluarkan tulang formasi dan hendak melarikan diri.Swish swish swish!Namun pada saat itu, tujuh puluhan pembunuh yang tadinya telah menghilang kembali muncul. Mereka langsung mengarahkan pedang mereka ke arah Lavanya, membatasi seluruh gerakannya hingga tidak memiliki celah sedikit pun."Ketua, wanita ini dari Sekte Formasi Surgawi. Sebelumnya dia pernah bepergian bersama Tuan Muda dan hubungannya dengan Tirta juga sangat dekat. Mereka baru pisah setelah memasuki Kota Suci. Ketua mau bagaimana menangani ini?" jelas penanggung jawab muda Kota Suci dunia awani yang mengenali asal-usul Lavanya."Oh? Kalau begitu, dia masih ada gunanya. Untuk sementara ini, tahan dulu," kata Bakrie y
Bakrie terlihat tua renta, tetapi memiliki kekuatan tempur yang luar biasa. Hampir tidak ada seorang pun yang berani duduk di dekatnya. Bahkan Lavanya pun hanya bisa diam-diam mengamatinya dari sudut ruangan."Ketua!""Salam pada Ketua!""Salam pada Ketua. Kami nggak tahu Ketua datang, mohon maaf atas kelancangan kami!"Saat itu, sekelompok orang berpakaian hitam tiba-tiba muncul begitu saja di dalam restoran. Mereka memenuhi aula yang memang tidak begitu luas itu hingga hampir tidak menyisakan ruang untuk berpijak.Karena sekelompok orang itu menggunakan teknik rahasia dari Dinasti Pembunuh, tidak ada sedikit pun gelombang yang terdeteksi sebelum mereka muncul. Namun, begitu menampakkan diri, mereka tidak bisa menyembunyikan niat membunuh mereka yang dingin dan tajam lagi. Kultivator lainnya yang berada di sana langsung merinding ketakutan."Aduh, siapa mereka?""Aura membunuh mereka mengerikan sekali. Cepat pergi, mereka jelas bukan orang yang bisa kita ganggu.""Begitu banyak orang
Gua itu sangat sederhana, semua yang ada di dalamnya dapat terlihat dengan sekali pandang. Jika memang ada formasi teleportasi, Tirta dan yang lainnya pasti bisa langsung menemukannya bahkan tanpa menggunakan kesadaran spiritual."Kalau memang nggak ada, ya sudah. Untung saja Lavanya nggak ikut masuk ke sini dan tetap di Kota Suci untuk siapkan berbagai bahan sebagai rencana cadangan," kata Tirta yang tidak begitu kecewa soal formasi teleportasi. Sebelum datang ke sini, dia juga sudah memperkirakan hasil seperti ini.Sekitar dua jam kemudian, Tirta akhirnya berhasil menstabilkan luka Selvi. Setelah membersihkan ranjang batu, dia membaringkan Selvi di atasnya untuk beristirahat."Bocah, aku benar-benar nggak menyangka kemampuan medismu ternyata memang nggak kalah dari si tua Tabib Suci itu. Karena kamu sudah susah payah begitu lama, bagaimana kalau kamu berbaring di sampingku untuk istirahat sebentar?" kata Selvi yang langsung membuka mata dan tersenyum jahil begitu Tirta membaringkanny
Selvi mendengus malu-malu, tetapi tidak menyerang Tirta."Hehe. Tapi, Senior sama sekali nggak terlihat tua, bahkan gadis berusia delapan belas tahun pun nggak secantik Senior," kata Tirta sambil tersenyum makin puas."Dasar genit. Kalau kamu nggak bisa sembuhkan aku, nanti aku baru hitung semuanya denganmu," kata Selvi dengan nada kesal, tetapi hatinya berbunga-bunga.Bagaimanapun juga, wanita tetap wanita. Meskipun Selvi sudah hidup sepuluh ribu tahun, dia tetap merasa senang jika ada yang memuji kecantikannya. Apalagi kini kecantikannya memang luar biasa dan penampilan mudanya jauh melampaui wanita biasa.Setelah itu, Selvi tidak bertanya dan tidak mengatakan apa pun lagi. Dia berbaring di pelukan Tirta dengan santai dan tenang agar Tirta mengobati lukanya yang sangat parah. Dengan tubuh penuh luka dan hati dipenuhi rasa cemas, dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk menemukan Tirta. Kini bahaya sudah berlalu, dia tanpa sadar melepaskan kewaspadaannya dan tertidur lelap.
"Nggak ada tempat tidur di sini. Sekarang vila belum selesai dibangun. Kalaupun aku beli tempat tidur lagi, nggak ada tempat untuk menaruhnya. Aku sendiri tidur di mobil. Nggak baik kalau kamu tidur di mobil denganku, 'kan?" kata Tirta sambil menggaruk kepala."Nggak ada tempat tidur? Kalau begitu, a
"Ngapain Kakak takut? Untung saja aku cuma mukul dia sampai pingsan, bukan membunuhnya!" Joko membalas teguran Danto dengan santai dan bahkan tersenyum sombong. Perlu diketahui bahwa dia memang sudah sering melakukan pembunuhan bersama organisasinya di luar negeri."Joko ... belasan tahun nggak ketem
"Aku juga nggak bisa memastikan itu beracun atau nggak. Tapi, biasanya cerita di novel begitu," timpal Tirta sambil menggaruk kepalanya."Eee ... rupanya kamu punya waktu untuk baca novel ...." Susanti merasa agak malu. Meskipun demikian, dia tetap menutup mulut dan hidungnya."Lihat, ada sesuatu di d
"Nona, ini hanya mitos. Nggak mungkin benar-benar ada," komentar salah satu wanita dari Negara Darsia. Mereka tidak setuju dengan pemikiran Alicia.Alicia menyanggah, "Sebelumnya kalian juga lihat monster itu, 'kan? Itu duyung dari mitos Negara Darsia. Monster itu pun bisa hidup, jadi cerita wanita b







