LOGIN"Kamu pernah lihat tulisan tangan ini di mana?" tanya Tirta buru-buru. Apa mungkin pemilik gua ini masih berkelana di dunia awani hingga sekarang? Jika tidak, mengapa Yumika yang baru pertama kali datang ke tempat ini bisa merasa tulisan tangan itu begitu familier?"Aku nggak begitu ingat karena itu sudah terjadi sangat lama. Mungkin saja aku yang salah ingat. Atau mungkin aku pernah lihat tulisan yang mirip, jadi merasa familier," kata Yumika. Dia berusaha mengingat kembali dengan saksama, tetapi dia tetap tidak dapat memberikan jawaban yang pasti.Setelah mendengar itu, Tirta juga merasa kemungkinan besar Yumika yang sudah salah ingat."Bagaimana caranya buka pintu batu ini? Apa mungkin ada tempat legendaris yang bisa buat orang mencapai tingkat pencapaian agung yang sebenarnya di dalam gua ini?" tanya Irena sambil menatap pintu batu yang tebal itu dengan ekspresi gembira sekaligus hormat."Coba pakai kekuatan kasar," jawab Tirta sambil mengaktifkan mata tembus pandang dan memeriksa
Ruang hampa pun berubah bentuk.Setelah menunggu sampai pria itu benar-benar mati, Irena baru melangkah keluar. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan nada penuh penghinaan, "Aku rasa semuanya sudah dipakai untuk sempurnakan senjata spiritual ini. Benda ini cukup bagus, tapi aku nggak tahu apa Tirta akan suka ini atau nggak."Setelah tubuhnya berkelebat, Yumika juga muncul di dekat sana. Dia memungut cambuk naga itu, lalu menghapus jejak kesadaran ilahi pemilik sebelumnya dan berkata, "Irena, Kak Yumika, sepertinya Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas benar-benar meningkatkan kekuatan kalian. Kalian sampai bisa bunuh seorang kultivator tingkat penebas dewa tahap akhir tanpa terluka sedikit pun."Saat itu, Tirta baru melangkah mendekat sambil tersenyum."Sayang, kamu sendiri saja sudah bisa bunuh seorang kultivator tingkat penebas dewa tahap akhir, jangan ejek kami lagi ya," kata Irena sambil menyimpan Pedang Haus Darahnya. Meskipun begitu, nada bicaranya tetap terdengar merasa bangga
Begitu selesai berbicara, kedua pria tua itu langsung menyerang Tirta dari depan dan belakang.Swiing! Cahaya pedang sepanjang ratusan meter menebas turun dari langit bagaikan sehelai sutra panjang.Serangannya sangat tajam hingga ruang di sekitarnya pun terbelah. Swiish! Plak!Pada saat yang sama, sebuah cambuk panjang yang ditempa dari urat dan tulang naga berusia ribuan tahun juga menyapu ke segala penjuru.Bahkan benteng baja yang terbuat dari logam pun akan hancur berkeping-keping jika terkena hantamannya."Kecepatan Puncak Jangkrik Emas!" Menghadapi serangan itu, Tirta sama sekali tidak panik.Dia mengerahkan teknik kultivasinya. Tubuhnya tampak seolah tidak bergerak, padahal dia sudah berpindah dan muncul tepat di samping pria yang disebut adik seperguruan itu.Mampu meledakkan kecepatan secepat itu hanya dengan kekuatan tingkat pemurnian dewa tahap akhir adalah kemampuan yang baru dimiliki Tirta setelah menguasai Ilmu 18 Transformasi Jangkrik Emas."Bocah ini ...." Mata adik se
Keadaan Genta saat ini membutuhkan sangat banyak harta langit dan bumi. Karena Tirta kebetulan menemukannya, tentu dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dia pun segera membawa kedua wanita itu menuju ke sana."Hmph, Kak, kita sama-sama berguru kepada Guru dan telah berkultivasi bersama selama 2.000 tahun. Hubungan kita bahkan sedekat saudara. Hanya demi beberapa tanaman obat spiritual dan sebuah gua tua yang sudah lama nggak berpenghuni, kamu justru menyerangku.""Kamu sama sekali nggak memedulikan persaudaraan. Kamu benar-benar membuatku sangat kecewa!"Bahkan sebelum mereka mendekat, suara yang penuh sindiran sudah bergema di antara pegunungan.Sesaat kemudian, terdengar suara lain yang dipenuhi amarah. Suara itu hampir seperti raungan, dengan nada kesal yang sama sekali tidak disembunyikan."Omong kosong! Jelas-jelas aku yang lebih dulu menemukan semua ini. Ini adalah tiga batang tanaman obat spiritual berusia 8.000 tahun serta warisan seorang senior yang kemungkinan berasal dar
Meskipun Afifah menggunakan formasi teleportasi terbesar di Istana Samara, Istana Samara berada di wilayah timur dunia awani, sedangkan lokasi Tirta berada di wilayah utara yang sangat jauh. Di antara kedua lokasi itu terbentang jarak belasan juta kilometer.Dengan mengandalkan formasi teleportasi saja, Afifah hanya bisa mencapai perbatasan wilayah utara. Itu pun dengan menghabiskan sangat banyak batu spiritual kualitas tertinggi.Jadi, untuk mencapai lokasi Tirta, dia masih harus terbang sendiri mencarinya.Selama proses perjalanan yang panjang menembus ruang, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan. Suasananya benar-benar sunyi dan sepi. Bahkan waktu pun terasa tidak lagi mengalir. Rasanya seperti kembali ke titik awal alam semesta.Namun, Afifah sudah lama terbiasa dengan keadaan seperti itu. Pikirannya tetap tenang. Hanya saja, melintasi ruang dalam waktu yang lama sangat mengurus tubuh fisik maupun kekuatan seseorang.Untuk jarak sejauh ini, bahkan Afifah pun mulai tidak mampu m
"Yang paling membuat kami tersiksa adalah karena nggak ada kabar sedikit pun tentang Tirta."Arshala menghela napas pelan.Dia tahu bahwa Tirta berasal dari bumi. Sekarang setelah sekian lama tidak ada kabar, Arshala khawatir Tirta telah pulang ke bumi dan memutuskan untuk tidak kembali lagi karena merasa dunia awani terlalu berbahaya.Kalau sebulan lagi masih tidak ada sedikit pun kabar tentang Tirta, Arshala sudah memutuskan untuk diam-diam membawa Nova pergi ke bumi untuk mencarinya."Kalian bertiga nggak perlu cemas. Aku, Ketua serta beberapa tetua, akhir-akhir ini telah menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki sebuah artefak khusus yang ditinggalkan oleh pendiri istana.""Selama bocah nakal itu masih berada di dunia awani, artefak itu dapat menentukan keberadaannya."Pada saat itulah Suryana berjalan memasuki aula bersama Afifah, lalu menyampaikan kabar itu."Hanya saja, artefak ini butuh sebuah benda yang pernah digunakan Tirta atau rambut miliknya sendiri, agar bisa berfungsi
"Oke, Tirta. Aku akan segera menelepon Clara dan mengundangnya ke rumahku!" ucap Dhio sambil menghela napas panjang. Dia berusaha menenangkan diri, lalu segera menelepon Clara.Dhio memberi tahu, "Nona Clara, anak harimau yang kamu minta sudah kudapatkan. Bukan cuma satu, tapi tiga ekor. Semuanya san
"Ah ... jangan .... Tirta, biarkan Bibi istirahat sebentar ...."Mendengar ucapan Melati, tubuh Ayu langsung merasa panas seketika. Dia menghindari tatapan Tirta karena merasa malu."Bibi, nggak usah gugup. Kak Melati cuma bercanda kok. Aku sayang sekali sama Bibi, mana mungkin aku hukum Bibi?" Tirta
Ketika menyadari perubahan pada ekspresi Tirta, Irene jelas merasa cemburu."Ya, aku menyesal sekali. Aku seharusnya membawamu ke rumah Kak Agatha supaya kita bertiga bisa bersenang-senang. Lain kali kalau ingin ketemu, aku juga nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi," timpal Tirta yang menghela napas sa
Tirta tentu bisa merasakan perhatian Ayu. Di hatinya, dia merasa sangat hangat sekaligus sedikit merasa bersalah. Tanpa banyak bicara, dia memeluk pinggang ramping Ayu dan langsung membawanya masuk ke klinik.Setelah pakaian Ayu basah oleh hujan, lekuk tubuhnya yang menawan, pinggulnya yang luar bias







