LOGINThe apocalypse has arrived. I carry multiple special abilities and am humanity's hope. However, my wife tears those powers out of me for the sake of her true love. I'm in unbearable pain. I beg her to stop, telling her I'll die. But she doesn't care at all. "Why are you so selfish? You have so many abilities and won't even give one to Ed. Stop being so dramatic. Why do you get to be the hero while my Ed stays an ordinary person?" What she doesn't know is that each special ability is like a heart—take it away, and the person dies.
View More“Aku tidak mau menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai!” teriak Miranda, air matanya mengalir deras di pipinya yang mulai kemerahan.
Di hadapannya, sang ibu, Desi, menatapnya dengan wajah penuh kelelahan. “Miranda, kamu seharusnya bersyukur mendapat restu dari keluarga mereka. Kamu tahu, mereka sudah banyak membantu kita! Ibu bekerja sebagai pembantu di rumah mereka, dan majikan Ibu sangat menghormati Ibu. Sekarang, mereka ingin menjadikanmu menantu. Apa salahnya membalas kebaikan mereka?” “Tapi kenapa harus aku yang dikorbankan, Bu? Aku sudah punya seseorang yang sangat aku cintai,” isaknya, tubuhnya gemetar menahan gejolak di dadanya. Bayangan Cleo, kekasihnya, memenuhi pikirannya, dan ia merasa dadanya semakin sesak. Desi mendesah panjang. “Ibu mohon... Tolong terima permintaan ini. Lihatlah ayahmu yang terbaring lemah di rumah sakit. Kamu pikir orang miskin seperti kita bisa membayar biaya pengobatan selama berhari-hari? Kalau bukan karena majikan Ibu yang menanggung semuanya, entah bagaimana nasib ayahmu sekarang.” Miranda terdiam. Hatinya terasa tercabik saat membayangkan ayahnya yang sakit-sakitan, menahan lapar dan kesakitan karena tak memiliki uang. Ia sangat mencintai kedua orang tuanya dan tak sanggup kehilangan ayahnya. Dengan berat hati, ia mengangguk, menyetujui perjodohan yang terasa seperti hukuman baginya. Desi tersenyum lega, lalu mendekap putrinya erat. Miranda membalas pelukan itu, meski hatinya berteriak menolak. Perlahan, ibunya berbisik, “Cepat putuskan hubunganmu dengan Cleo dan bawa semua barangmu ke rumah ini.” “Ibu... Bolehkah aku menghabiskan waktu bersama Cleo untuk terakhir kalinya? Aku tidak sanggup pergi mendadak seperti ini,” pinta Miranda dengan suara bergetar. Desi berpikir sejenak. Melihat putrinya memohon dengan tatapan penuh harap, akhirnya ia mengangguk. “Ibu beri kamu waktu satu hari. Setelah itu, kamu harus pulang dengan membawa semua barang-barangmu.” Miranda mengangguk lemah. “Iya, Bu. Aku janji.” Sementara itu, Cleo sedang berada di sebuah toko bunga. Ia tahu betul bahwa Miranda sangat menyukai bunga. Matanya tertuju pada setangkai bunga matahari yang cerah, mengingatkannya pada senyum Miranda yang selalu menghangatkan hatinya. “Bunga matahari ini pasti akan disukai Miranda,” gumamnya seraya mengambil seikat bunga tersebut. Saat kembali ke rumah, Cleo dikejutkan oleh kehadiran Miranda yang duduk termenung di teras. Wajah kekasihnya terlihat pucat dan tanpa semangat. Cleo tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Hai, kekasih hatiku.” Namun, sebelum ia sempat mendekat, kakinya tersandung dan hampir terjatuh. Miranda refleks mundur beberapa langkah, tetapi segera menghampiri Cleo dengan cemas. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya khawatir. Cleo tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan. “Aku baik-baik saja.” Miranda menghela napas lega. Cleo kemudian mengulurkan bunga matahari ke arahnya. “Jaga bunga ini seperti kamu menjaga hatimu untukku.” Tanpa bisa menahan emosinya, air mata Miranda kembali jatuh. Cleo terkekeh. “Wah, sampai terharu begini? Aku makin sayang sama kamu.” Miranda menatap bunga di tangannya, lalu menatap Cleo. Dengan cepat, ia memeluk kekasihnya erat, seakan ingin menyimpan momen itu selamanya. Cleo tersenyum, mengusap lembut punggungnya. Keesokan paginya, Cleo terbangun dan mendapati Miranda sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas besar. Dahinya berkerut. “Sayang, kamu ngapain pagi-pagi sudah sibuk beres-beres?” Miranda terdiam. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari keberanian. Setelah beberapa detik hening, akhirnya ia berkata dengan suara lirih, “Maafkan aku, Cleo.” Cleo mendekat, tatapannya penuh kebingungan. “Kamu ada masalah?” Tiba-tiba, Miranda menangis sejadi-jadinya dan kembali memeluk Cleo. “Aku dipaksa menikah dengan pria lain. Aku harus membalas kebaikan majikan Ibu dengan menikahi putra mereka.” DEG. Seolah tersambar petir, Cleo merasakan dunianya runtuh. Tidak mungkin. Tidak mungkin Miranda, wanita yang sangat ia cintai, akan dinikahkan dengan pria lain. Dengan air mata yang mulai menggenang di matanya, ia menggelengkan kepala, menolak kenyataan itu. “Aku tidak mau kamu pergi!” Cleo berlutut di hadapan Miranda, menggenggam tangannya erat. “Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu di hatiku.” Miranda ingin membalas genggaman itu, tapi sebelum ia sempat melakukannya, seseorang menerobos masuk ke dalam rumah. “Lepaskan dia!” Desi berdiri di depan pintu, wajahnya penuh amarah. Dengan kasar, ia menarik Miranda dari Cleo dan mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur. “Jangan berani-berani mendekati calon istri orang!” bentaknya. Cleo bangkit, matanya penuh amarah dan kesedihan. “Bu, tolong. Kami saling mencintai. Miranda juga mencintai saya. Tolong batalkan perjodohan ini.” PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Miranda. “Kamu sudah berjanji akan memutuskan hubungan dengan dia!” suara Desi bergetar, namun penuh ketegasan. Desi menyeret Miranda ke luar rumah. Cleo berusaha mengejar, tetapi seorang ajudan majikan keluarga Miranda mencegatnya dan mulai memukulnya dengan brutal. Miranda berteriak histeris. “Jangan pukul dia! Aku mohon!” Namun, Desi hanya menutup telinganya, mendorong putrinya ke dalam mobil dengan paksa. “Aaahh!” Miranda menjerit saat tubuhnya terhempas ke dalam mobil. Dari percakapan ibunya dan ajudan itu, Miranda mengetahui bahwa Cleo telah pingsan akibat pukulan brutal tersebut. Matanya memburam oleh air mata. Ia ingin keluar, ingin menolong kekasihnya, tetapi Desi sudah menyuruh ajudan untuk segera melajukan mobil menuju rumah majikan mereka. Saat tiba di sana, rumah itu sudah dipenuhi tamu undangan. Miranda kembali diseret oleh Desi, kali ini dengan rambutnya yang berantakan. Tatapan para tamu tertuju pada mereka. Kelvin, pria yang akan menjadi suaminya, memandangnya dengan jijik. “Apa gembel ini yang akan menjadi istriku?” Miranda hanya bisa menggigit bibirnya, menahan isak yang ingin pecah. Hatinya berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada seorang pun yang peduli. “Saya nikahkan..." Seketika semua berubah dalam sekejap~Savannah gripped the dagger hidden in her arms and drove it hard into Edmund's stomach. Blood gushed out in an instant, soaking through his clothes and dripping steadily from the hilt onto the floor.Terror twisted his face as he begged for mercy, "Sav, I know I was wrong! Please, spare me! I'll give everything back to you!"Savannah didn't waver. She yanked the blade out and plunged it in again, over and over. She kept at it until blood spilled from Edmund's mouth, leaving him unable to speak. Then, with a thud, his body hit the floor.I watched the scene as emotions I couldn't name swirled within me. I hated Savannah, but I'd never imagined she would atone for what she'd done to me in this way.She crouched beside Edmund and forced a vial of liquid down his throat. "You don't deserve to keep what belongs to Chase."She extracted the special ability she'd stolen from my body and hurried to where my corpse lay. She carefully tried to return the ability to me.But I was already de
Savannah fell to the floor again. She clamped her hands over her ears, face twisted in denial. "That's impossible! Chase loved me—he'd never regret marrying me!"Edmund laughed, looking cold and mocking. "Now, you remember he loved you? Where was that thought when you killed him?"You're truly pathetic. The man's dead, and suddenly you think he's precious. You never even mentioned him once when you clung to me every day. Everything in this place is mine now that you've given it to me. Don't even think about taking it back. Now, scram!"He shoved her out and slammed the door in her face.Savannah pounded on it and screamed curses at him, but he didn't respond.I watched things play out without even batting an eye. She was no longer the woman I'd once carried in my heart. This was what she deserved.With nowhere to go, Savannah went back to Sean and dropped to her knees in front of him. She begged him to let her see my body again.She stared at my pain-contorted face, collapsed to
Savannah wandered out of the camp, looking like her soul had been ripped out of her body. Only when she reached the front door of what used to be our home did she snap to her senses. All her belongings had been tossed out of the house, and workers were inside.She rushed forward in panic to stop them. "What are you doing? This is my home! I'll report you for breaking and entering!"One of the workers gave her a tired look and handed over an official notice. "Chase Gray is dead, and you're an ordinary civilian. You no longer have enough points to maintain this residence, so we're repossessing the place per regulations. Civilians live in the East District. Rent is cheaper there."The East District was basically the slums. Dozens of people crammed into a single dorm, and the environment there was horrible. But in an apocalypse, having a roof over one's head was already more than many dared dream of.Savannah froze. It had never once crossed her mind that something like this could happ
My corpse lay on a slab of ice. Because my special ability had been torn out of me, I looked like a deflated balloon, like I'd aged 20 years overnight.Savannah stumbled to the ice bed, her hands shaking as she lifted the ring hanging from my neck.It was our wedding ring. After the apocalypse, I'd worried about losing it on missions, so I'd strung it on a cord and worn it like a pendant ever since.Her voice quivered as she asked Sean, "Chase is just recovering, right? He'll get better, won't he?"He crushed her delusion without mercy. "Chase died yesterday."Savannah collapsed over my corpse and sobbed her heart out. "Chase, get up! I won't allow you to die! Get up right now! I'll never throw another tantrum, I promise. Just don't leave me, please…"Seeing how agonized she was only filled me with bitter irony. Was she devastated because of my death, or was it just because no one would be left to keep her and Edmund fed and comfortable?If her misery was because of me, then tha
Edmund's face went from crimson with humiliation to dark with anger. He grabbed Savannah's wrist and stormed out of the assembly hall. Even after they'd left, the jeers and laughter still chased them down the street.Once they reached a deserted corner, Edmund flung Savannah's hand away. His expres
Early the next morning, Savannah came home glowing.I couldn't help looking forward to her reaction when she saw my corpse. Would she show even a shred of regret?But the moment she pushed the door open, I saw that my corpse was gone. Sean had probably taken it away after discovering my death.Sa
I watched as Edmund and Savannah exchanged coy glances and suggestive looks in that cramped room. A storm of grief and fury roared inside me.I tried with everything I had to tear myself away from this suffocating scene, but some invisible tether yanked me back, chaining my soul to Savannah's side.
Savannah successfully implanted the special ability into Edmund's body.He couldn't wait to test it. A blinding bolt of lightning erupted from his palm, shattering all the glass in the lab.His face lit up with wild excitement. "I finally have a special ability! I won't have to live under everyone






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.