مشاركة

Sepakat!

مؤلف: PhiKey
last update تاريخ النشر: 2026-06-12 21:35:58

Suasana apartemen Alya yang semula hangat karena aroma kopi mendadak berubah mencekam. Raka tidak berteriak, namun suaranya yang rendah dan tenang justru terdengar seperti ancaman berbahaya.

"Dengarkan aku baik-baik, Alya," ujar Raka, memangkas jarak di antara mereka. "Kamu sudah memberikan daftar aturanmu. Sekarang, dengarkan satu-satunya keinginanku."

Alya menegakkan punggung, menatap mata Raka yang tajam. "Katakan."

"Aku tidak ingin kamu memiliki hubungan apa pun dengan pria lain," tegas Rak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Pertanyaan yang sulit dijawab

    Malam itu, Raya yang seharusnya langsung pulang ke rumah justru pergi ke kediaman Kevin. Suasana malam yang tenang mengiringi langkahnya, membawa kehangatan tersendiri setelah hari-hari yang melelahkan. Kini, keduanya duduk berdampingan di ruang tamu, ditemani oleh dua gelas jus jeruk segar buatan Kevin sendiri yang tersaji di atas meja."Maaf, udah dua hari ini aku sibuk banget sampai nggak bisa telepon kamu sering-sering," ucap Kevin tulus, manik matanya menatap Raya dengan penuh atensi, menyiratkan rasa bersalah karena kesibukan pekerjaan yang menyita waktunya.Raya menggeleng pelan, senyum manis terbit di bibirnya. "Nggak apa-apa, kok. Aku tahu kamu sibuk, itu semua kan juga demi masa depan kita. Lagian aku juga sibuk banget di salon, karena Alya juga masih repot ngurusin anak-anaknya dan pindahan rumah.""Untung saja hari ini aku bisa ngosongin jadwal, jadi aku bisa sedikit bantu Mbak Alya pindahan tadi. Dan yang paling penting, aku bisa menghabiskan waktuku seharian sama kamu,"

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Cinta yang saling menyakiti

    "Jadi... orang tua kamu udah tahu?" tanya Alya sedikit terbata.Malam itu ia berada di rumah Raka, rumah yang terletak tepat di sebelah rumahnya. Raya dan Kevin sudah pulang, dan anak-anak pun sudah lelap dalam tidur mereka. Memanfaatkan waktu yang senyap, Alya melangkah diam-diam ke rumah sebelah untuk menemui Raka dan membicarakan semuanya secara serius."Iya," jawab Raka singkat. Laki-laki itu menunduk dengan lemas, auranya yang biasanya tegas dan mendominasi kini tampak runtuh perlahan."Orang tuamu bilang apa?" tanya Alya getir, suaranya mencerminkan ketakutan terburuk yang selama ini ia pendam."Apalagi? Mereka pikir aku gila karena aku punya hubungan sama kamu," jawab Raka apa adanya, tanpa berniat menutupi kepahitan kenyataan tersebut.Alya tersenyum miris, dadanya terasa dihujam ribuan jarum. "Wanita yang lebih tua, temen kakaknya sendiri, janda beranak dua, dan hanya dari kalangan miskin. Mereka pasti nggak suka sama aku, kan?" tanyanya getir, suaranya mulai bergetar hebat m

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tak pantas

    Setelah Raya menghilang di balik pintu depan beberapa menit yang lalu, Alya sempat melangkah keluar untuk mencarinya. Udara sore yang hangat menyapa kulitnya, namun atensinya justru langsung tertarik pada sebuah mobil sedan hitam mewah yang terparkir rapi di carport rumah tepat di sebelah rumahnya.Jantung Alya sempat berdesir aneh saat itu. Ia sangat mengenali tipe dan jenis kendaraan tersebut, itu adalah mobil milik Raka. Namun, keraguan segera melanda benaknya, apalagi dia tak ingat nomor polisi mobil sang kekasih. "Untuk apa Raka memarkir mobil di sana di jam kerja?" Merasa tidak ingin ambil pusing atau berspekulasi terlalu jauh, Alya memilih mengurungkan niatnya mencari Raya dan kembali masuk ke dalam rumah.Suasana ruang tengah langsung menyambutnya kembali. Kevin, kekasih Raya, tampak tengah duduk bersila di atas karpet bersama Nana dan Rio, tertawa renyah sembari menemani kedua anak itu merakit balok-balok susun. Alya menarik napas pelan, berusaha menepis bayangan mobil hitam

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Bingung

    Alih-alih kembali ke gedung tempat perusahaannya beroperasi, Raka malah menuju ke rumah barunya yang baru saja ia beli, yaitu rumah yang letaknya tepat di samping rumah baru Alya. Ia lalu mengambil ponsel dari saku jasnya dan mendial nomor Rehan."Halo, Rehan?" suara Raka terdengar datar namun absolut."Ya, Pak Raka? Anda butuh sesuatu?" tanya Rehan dari seberang sambungan dengan nada siaga."Batalkan semua jadwal saya hari ini. Jangan cari saya, saya sedang tidak ingin diganggu," perintah Raka tanpa memberi ruang sang sekretaris untuk membantah."Baik, Pak. Akan saya urus semuanya," jawab Rehan patuh.Sambungan diputus sepihak. Raka masuk ke dalam rumah, menampilkan ruangan yang masih kosong tanpa banyak perabot, namun bersih dan siap ditempati.Suasana di dalam rumah itu sangat kontras dengan hiruk-pikuk emosi yang baru saja ia lewati bersama kedua orang tuanya. Tanpa membuang waktu, Raka kembali merogoh ponselnya dan mencari kontak sang kakak, Raya. Jari telunjuknya menekan tombol

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Debat tak berujung

    "Jawaban seperti apa yang sebenarnya Papa dan Mama harapkan dari aku?" Raka melontarkan pertanyaan itu dengan nada yang luar biasa tenang, sebuah ketenangan yang justru menjadi minyak penyulut emosi bagi Sanjaya yang baru saja mencoba mengatur napasnya."Kamu benar-benar anak yang kurang ajar!" Sanjaya membentak, suaranya bergetar hebat menahan amarah yang kembali melonjak di dadanya."Maaf, Pa. Aku tidak punya niat untuk membuat Papa jatuh sakit lagi," balas Raka, tetap pada pendiriannya yang dingin namun terkontrol. "Soal perjodohan dengan Zahira itu, aku nggak menolak. Lantas, untuk apa Papa dan Mama masih meributkan hubunganku dengan Alya?"Soraya menyipitkan mata, keningnya berkerut dalam seiring potongan-potongan memori di kepalanya yang mulai tersusun. "Ah, namanya Alya... Baru ingat Mama. Jadi, kamu benar-benar serius menjalin hubungan dengan wanita itu?""Aku sudah bilang, aku nggak keberatan dengan perjodohan yang kalian atur," sahut Raka, sorot matanya menyiratkan kekhawati

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Ketahuan!

    Hari itu Alya bersama kedua anaknya bersiap untuk pindah ke rumah baru. Dibantu oleh Raya dan Kevin, suasana pagi hingga siang itu dipenuhi rasa antusias dan kebahagiaan. Alya bahkan sengaja meminta izin agar Nana tidak masuk sekolah hari ini, supaya sang anak sulung bisa menyaksikan dan merasakan langsung momen kepindahan mereka.Setelah berjibaku menata berbagai barang bawaan, suasana berubah menjadi hangat begitu semuanya rampung."Nana sayang, Rio sayang, kalian suka rumah ini?" tanya Alya lembut setelah mereka berkumpul di ruang tengah yang luas."Suka!" teriak Nana dan Rio bersamaan dengan mata berbinar-binar.Alya tersenyum lebar, merasakan kelegaan yang luar biasa. Impiannya untuk hidup mandiri bersama kedua buah hatinya kini terwujud di sebuah rumah yang jauh lebih mewah dan nyaman dari apa yang pernah ia bayangkan."Ini rumah Ibu?" tanya Nana penasaran sambil mengedarkan pandangan."Ini rumah kita," jawab Alya penuh kehangatan. "Selama ayah kalian masih di rumah sakit, kalia

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Perasaan yang mulai berubah

    Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tempat bersandar yang salah

    Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Hati yang terluka

    Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang

  • Dosa Semalam Dengan Adik Sahabatku   Tuntutan tak terelak

    Alya melempar tasnya serampangan. Lalu membanting tubuhnya di atas kasur. Ia sudah pulang ke apartemen kecil yang ia sewa selama ini. Malam itu hujan deras, tapi rupanya bukan hanya hujan yang deras, air matanya pun jatuh amat deras. Ya, wanita itu menangis setelah hari panjang dan berat yang ia la

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status