MasukAcha tak pernah menyangka akan diterima sebagai sekretaris Elvano, Presiden Direktur dingin dan sinis yang bahkan sempat merendahkannya dengan pertanyaan tak pantas saat interview. Hubungan kerja mereka awalnya sebatas profesional, hingga suatu hari Acha terpaksa menjemput Elvano di klub yang berakhir membuat mereka menghabiskan malam bersama. Keduanya pun sepakat menutup rapat kejadian itu, terlebih status Elvano yang sudah memiliki istri. Namun, kedekatan di kantor justru menjerumuskan mereka pada hubungan terlarang yang semakin sulit dihindari. Mampukah keduanya tetap bertahan ketika batas profesional itu mulai runtuh?
Lihat lebih banyak“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.
“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.” Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, menolak pun tak ada gunanya. Jalan besar yang biasanya padat kini dipagari garis polisi. Sebuah truk kontainer terguling, menutup hampir seluruh badan jalan. Sirine petugas dan suara klakson pun saling bersahutan, tak sabar. Acha mulai cemas, melirik jam tangannya berulang kali. Sudah pukul 10.17. Tiga belas menit menuju jadwal interview, tetapi posisinya masih jauh dari lokasi. “Mas, bisa ngebut dikit?” suaranya gemetar, tidak marah, hanya khawatir akan kehilangan kesempatan. Ia sering mendengar kalau reputasi pimpinan perusahaan itu sangat disiplin. Ketepatan waktu bukan sekadar formalitas, melainkan ukuran pertama. Satu kesalahan kecil saja bisa menghapus kesempatan sebesar ini. “Sabar, Mbak. Ini juga udah ngebut.” Perjalanan dua puluh menit berubah menjadi tiga puluh. Acha hanya bisa menggigit bibir, membayangkan kesan pertamanya yang begitu buruk. Ketika motor akhirnya berhenti di depan gedung tinggi itu, Acha turun dengan tergesa, hampir tersandung, tetapi ia tak peduli. Berlari kecil menuju lobi sambil merapikan rambut yang berantakan tertiup angin, bahkan berkas dalam genggamannya hampir saja terlepas. Masuk lift, Acha gelisah karena gerakan lift yang terasa sangat pelan, seolah sengaja mempermainkan waktunya. Begitu pintu lift akhirnya terbuka di lantai 28, ia sudah terlambat lima menit. Namun, rasanya seperti lima jam. Acha disambut oleh asisten pribadi sang presdir di depan pintu ruang interview. Pria berkacamata tipis dan memakai jas biru muda bernama Raka Yudhistira. “Azalea Chantika?” tanyanya ramah. “Benar, Pak. Saya minta maaf, saya sedikit terlambat.” Pria itu mengangguk, sambil tersenyum tipis setelah memastikan identitas Acha. “Pak Elvano sudah menunggu,” katanya, lalu membuka pintu dan mempersilakan Acha masuk. Gestur sederhana itu cukup membuat gadis itu merasa lega, meski jantungnya masih berdebar. Dengan satu tarikan napas, Acha melangkah masuk ke ruang interview. Ruangan itu luas, rapi, dan terlalu sunyi. Benda-benda di dalamnya tertata presisi, nyaris tanpa cela. Di ujung meja besar itu, seorang pria duduk tanpa bangkit menyambutnya. Elvano Raynand Alvaric. Presiden Direktur muda Alvarion Group yang kerap menjadi perbincangan di luar sana. Acha menelan ludah. Melihat Elvano dari jarak sedekat ini, rumor tentang sikap dingin pria itu ternyata tidak berlebihan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi. Tatapannya tenang, tetapi terasa seperti sedang mengintimidasi. Acha meremas ujung roknya, berusaha mengusir kegugupannya, sebelum memberanikan menyapa lebih dulu. “Selamat pagi, Pak El—” “Sepuluh menit terlambat.” Suara datar itu memotong ucapannya. Justru karena tanpa emosi, kalimatnya terasa lebih menusuk. Acha refleks menarik napas. Tahu diri kalau terlambat, tetapi ia sangat yakin keterlambatannya tidak lebih dari lima menit. Ingin membela diri, tetapi ia menahan diri. Membantah di hadapan pria seperti itu hanya akan memperburuk kesan. “Saya minta maaf, Pak. Jalanan tad—” “Alasan.” Satu kata saja dari Elvano. Namun, cukup membuat Acha terdiam. Rasa panas langsung menjalar di wajahnya. Ia menunduk sesaat, menahan malu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan, Elvano akhirnya menggeser kursinya sedikit, memberi isyarat duduk tanpa sepatah kata. Acha merasa lega dengan isyarat Elvano. Itu berarti ia masih diberi kesempatan. Padahal, sempat terlintas pikiran bahwa keterlambatannya mungkin tidak akan ditoleransi dan membuatnya dianggap kurang profesional. Tanpa membuang-buang waktu, Acha segera duduk. Elvano mulai membuka berkas lamarannya dengan gerakan tenang. Tatapannya berpindah dari dokumen ke wajah Acha, lalu kembali lagi ke kertas, seolah mencocokkan data dengan fakta di depannya. “Azalea Chantika,” suaranya terdengar berat. “Lima tahun di Valmer Group, di bawah Pak Rendra?” “Benar, Pak Elvano.” “Kenapa keluar?” “Pak Rendra pensiun. Jadi, saya merasa ini saat yang tepat untuk mencari lingkungan baru,” jawab Acha pelan. “Selain itu, ini juga cara saya menunjukkan loyalitas padanya. Saya keluar karena pilihan, bukan karena terpaksa. Kemampuan jelas membuat saya tetap kompeten.” Hening. Elvano tak langsung menanggapi. Jarinya mengetuk meja pelan, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Kenapa melamar ke sini?” Acha menegakkan punggung. ”Karena saya melihat Alvarion Group sebagai perusahaan yang sejalan dengan—” “Cukup.” Acha terdiam. “Jawaban seperti itu sering saya dengar,” lanjut Elvano, masih dengan suara datarnya. “Dan, jarang relevan.” Dada Acha mengencang, tetapi ia berusaha tetap tenang. “Saya datang untuk bekerja, Pak.” Elvano mengangkat pandangannya. “Sekretaris,” ucapnya pelan. “Selalu dekat dengan atasan.” Ketukan jemarinya terhenti. “Kamu paham maksud saya.” Tubuh Acha sontak menegang. Ada jeda dan ruangan menjadi lebih hening ketika mata pria itu kembali memperhatikannya. Ia merasa tatapan pria di hadapannya begitu menusuk dan membuatnya tidak nyaman. Elvano menutup berkas. Bunyi tipisnya terdengar jelas di keheningan. “Lima tahun dengan Pak Rendra,” katanya lagi. “Cukup lama.” Acha refleks mencengkeram pahanya sendiri di balik meja. Ia tak sepenuhnya paham maksud kalimat itu. “Saya bekerja profesional, Pak.” Alis Elvano terangkat sedikit, hampir tak terlihat, tetapi cukup membuat Acha merasa posisinya dipertanyakan. “Yakin?” Ia condong ke depan sedikit, seakan ingin memastikan kata berikutnya tidak meleset. “Dalam lima tahun, sudah berbuat apa dengan Pak Rendra?” Acha membeku. Matanya berkedip lambat saat otaknya mencoba mencerna pertanyaan itu. Untuk sesaat ia berharap telinganya salah dengar. Tidak mungkin seorang Presiden Direktur menanyakan hal seperti itu dalam interview, ‘kan? “Maaf, apa boleh diulang pertanyaannya?” tanyanya lirih, masih tak percaya. Elvano hanya menatapnya lama sebelum menghela napas, lalu kembali membuka suara. “Kamu melayani Pak Rendra?” Acha terkesiap. ‘Astaga! Serius dia bertanya begitu?!’Untungnya, setelah itu Elvano tidak membantah lagi. Pria itu hanya terkekeh kecil, seolah ucapan Acha memang bukan sesuatu yang bisa disangkal.Malam itu, Acha tetap menyelesaikan pekerjaannya, meski sesekali mendapat gangguan kecil dari Elvano, entah itu sekadar meminta dipijat sebentar atau mengajaknya mengobrol di sela-sela pekerjaan.Anehnya, hal-hal kecil di antara mereka seperti itu mulai terasa biasa saja.Keesokan paginya, Acha keluar dari kamar sambil menggulung lengan kemejanya.Ia kemudian berdiri di depan cermin besar di ruang tengah, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum berangkat ke kantor.Baru saja mengambil lipstik untuk memoles ulang bibirnya, sebuah bayangan muncul di cermin tepat di belakangnya.Acha mengernyit, tetapi matanya tetap terpaku pada bayangan pria itu.Elvano sudah berdiri di sana dengan kemeja putih dan celana bahan yang nyaris sempurna seperti biasanya.Ah, dia memang tampan.Acha mengakui itu.Tanpa berkata apa-apa, pria itu tiba-tiba m
Ini bukan kali pertama Acha memasak untuk Elvano. Namun, entah kenapa tetap saja ada rasa waswas yang menggelitik di dadanya.Apalagi yang ia masak adalah makanan favorit pria itu. Bagaimana kalau rasanya tidak sesuai selera Elvano? Pikiran itu terus berputar di kepalanya.Akan tetapi, sebelum kecemasannya berkembang lebih jauh, Elvano justru sudah lebih dulu mengambil lagi sepotong daging dari mangkuk semur di atas meja.Acha yang sejak tadi diam-diam memperhatikan akhirnya tak sanggup lagi menahan rasa penasarannya.“El ....”“Hm?” Elvano mendongak sekilas sebelum kembali fokus pada makanannya.“Rasanya gimana?”“Enak,” jawabnya singkat.Acha sempat lega mendengarnya. Setidaknya bukan “keasinan” atau “terlalu keras” yang ia dengar. Tetapi, masa cuma satu kata?Maksudnya, minimal kasih kata-kata pujian yang bisa membuat jiwanya melayang sedikit, kek.Acha pun mengerucutkan bibir.“Segitu doang?”Elvano akhirnya berhenti mengunyah. Ia tampak berpikir beberapa detik sebelum memicingka
Begitu jam kerja hari itu usai, Acha tidak langsung pulang ke penthouse. Ia lebih dulu mampir ke supermarket yang berada tak jauh dari kantor. Sebuah keranjang belanja sudah bertengger di lengannya. Matanya sudah sibuk menyusuri deretan bahan makanan pada rak di depannya.Sesekali ia berhenti, lalu membuka catatan kecil di ponselnya untuk memastikan tak ada bahan yang terlewat. Ia bahkan mengecek ulang daftar itu dua kali, takut ada yang terlupa.Sesuai janjinya, malam ini ia akan memasak semur daging kentang—makanan favorit Elvano.Membayangkan pria itu menyukai masakannya saja sudah cukup membuat sudut bibir Acha terangkat tanpa sadar.Setelah semua kebutuhan sudah dibelinya, barulah ia pulang. Saat tiba di penthouse, suasana masih sepi. Sebagai sekretaris, Acha tentu tahu jadwal Elvano hari ini. Pria itu memang masih harus bertemu dengan klien, jadi kepulangannya akan sedikit lebih malam.
Seperti biasa, Elvano menghentikan mobilnya di depan sebuah coffee shop yang letaknya tak jauh dari gedung Alvarion.Acha meraih tasnya lebih dulu, sebelum turun.Sudah beberapa hari terakhir, sejak tinggal seatap, mereka selalu berangkat bersama. Namun, Acha akan turun lebih dulu.Jarak ke kantor memang masih sedikit lumayan kalau jalan kaki, sekitar seratur meter, tetapi setidaknya tak ada karyawan kantor yang melihat mereka turun dari mobil yang sama jika ia ikut sampai ke parkiran kantor.Acha tahu betul bagaimana gosip bekerja di kantor besar itu.Kalau sampai ada yang melihat mereka datang bersama, bukan cuma hubungan mereka yang akan jadi bahan obrolan. Liburan berdua di villa privat Elvano, tinggal serumah, bahkan kasus perceraian Elvano bisa saja kembali diseret-seret.Ujung-ujungnya? Yang disalahkan tetap dirinya.“Penggoda bos.”“Perebut suami orang.”Ih. Membayangkannya saja sudah membuat tengkuk Acha meremang.Anehnya, di balik semua kerumitan itu, ada bagian kecil dalam
Jantungnya berdetak lebih kencang. Pertanyaan itu, benar-benar konyol! Ia menahan rasa kesal yang sudah naik ke ubun-ubun, berusaha tetap tenang di hadapan tatapan dingin Elvano. Sambil menahan napas yang hampir tersengal, Acha menjawab tegas, “Maaf, saya rasa pertanyaan ini tidak relevan dengan p
“Astaga, kenapa macet begini?!” Acha menggerutu sebal saat pengemudi ojeknya menepikan motor. Matanya refleks melirik jam.“Jalan depan ditutup, Mbak,” katanya, “ada truk terguling. Kita harus muter jauh. Kalau nunggu, malah lebih lama.”Acha menegakkan tubuh. Hanya bisa menghela napas panjang, men
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak