LOGINMegan tercengang.Ia tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya masih tertuju pada mobil hitam yang mulai melaju menjauh, membawa pria tua itu pergi, membawa pembunuh ibunya pergi, membawa jawaban yang selama ini ia cari pergi begitu saja. Tiga orang yang mengejarnya pun pergi. Mobil-mobil itu menghilang di tikungan jalan, meninggalkan debu yang berputar-putar di udara, meninggalkan keheningan yang tiba-tiba terasa terlalu berat.Adrian menepuk pelan pundak Megan, sekali, dua kali, sampai perempuan itu tersadar kembali dari keterpukauannya."Megan..." suara Adrian pelan, hati-hati, seperti sedang membangunkan seseorang dari mimpi. "Mereka sudah pergi."Megan menoleh.Matanya masih kosong, masih penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Wajahnya lebih pucat dari biasanya dan bibirnya sedikit bergetar.Tanpa sadar, Megan menyadari bahwa ia menahan nafas.Sejak melihat mobil itu, sejak mendengar suara pria tua itu, sejak b
"Adrian, ada apa—"Belum selesai Megan bertanya, Adrian sudah menggenggam pergelangan tangannya. Genggaman yang kuat menariknya berdiri dari kursi."Meg, kita harus pergi dari sini sekarang juga!"Suaranya bergetar, bukan karena ketakutan, tapi karena urgensi yang mendesak."Mereka menemukan keberadaan kita! "Megan tidak sempat bertanya lebih lanjut.Tidak sempat mengambil jaketnya.Tidak sempat menyelesaikan sarapannya.Tidak sempat melakukan apa pun selain berlari.Adrian menyeretnya keluar dari ruang bawah tanah, melewati koridor sempit, menaiki tangga menuju pintu darurat. Langkah mereka bergema di dinding-dinding beton seperti detak jantung yang semakin cepat, semakin panik."Mereka tahu kita di sini?" tanya Megan, nafasnya mulai memburu."Alarm itu adalah tanda bahaya," jawab Adrian cepat, matanya terus bergerak mengamati setiap sudut. "Seseorang mengirimkannya dari jauh untuk memperingatkanku jika ada yang mendekat."Mata Megan membelalak.Seseorang mengirim peringatan?Siapa?
Kurang lebih tiga hari Megan tinggal bersama Adrian.Tiga hari di ruang bawah tanah yang hangat dan tersembunyi itu. Tiga hari jauh dari hiruk-pikuk dunia luar, jauh dari ancaman, jauh dari nama-nama yang membuatnya merinding. Tiga hari hanya ada dirinya, adiknya, dan keheningan yang mulai terasa seperti sahabat lama.Dan selama tiga hari itu, sudah cukup untuk memulihkan tenaganya yang sempat terkuras habis.Megan bangun setiap pagi dengan tubuh yang terasa lebih ringan. Wajahnya tidak lagi pucat. Matanya tidak lagi sayu. Dan pikirannya, setelah berjam-jam berbicara dengan Adrian, setelah menceritakan semua yang ia alami selama dua bulan terakhir, mulai terasa lebih jernih.Tapi ada satu hal yang membuatnya penasaran.Setiap pagi, ketika Megan baru saja membuka mata dan meregangkan tubuhnya, ia selalu diperlihatkan adiknya yang sedang berlatih beladiri.Adrian bergerak di ruang tamu kecil yang berubah menjadi area latihan. Pukulan, tendangan, gerakan-gerakan cepat yang terlihat tidak
Ruangan itu tampak hangat dan hening, kontras sempurna dengan kekacauan yang sedang terjadi di luar sana. Lampu-lampu berwarna kuning lembut memancarkan cahaya yang menenangkan, karpet tebal menyerap setiap suara langkah, dan aroma kayu cendana bercampur dengan wangi whiskey tua memenuhi udara.Hanya ada dua orang yang duduk di sofa yang sama, berdekatan, tapi tidak bersentuhan. Seperti dua bintang yang berbagi orbit yang sama tanpa pernah benar-benar bertabrakan.Hanya saja salah satunya tidak diam saja.Daniel duduk dengan tubuh condong ke depan, sibuk merakit sebuah senjata. Jari-jarinya bergerak dengan terampil, memasang slide, mengunci magasin, memeriksa mekanisme tembak dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Setiap klik, setiap gesekan logam, setiap gerakan tangannya menunjukkan bahwa ini bukan pertama kalinya ia melakukan ini.Di sebelahnya, Sierra memperhatikan dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya mengikuti gerakan tangan Daniel, lalu naik ke wajahnya yang fokus, lalu
Asap rokok membumbung ke udara, berputar-putar dalam gulungan tipis sebelum akhirnya menghilang di bawah lampu ruangan yang remang. Cahaya redup itu menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding, membuat ruangan terasa lebih sempit dari yang sebenarnya, seperti ruang yang semakin menyusut di sekitar mereka yang ada di dalamnya.Niel Bosch berdiri di depan jendela besar, membelakangi anak buahnya. Di luar, langit Barcelona mulai gelap, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berkilauan seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Tapi pria tua itu tidak melihat keindahan malam. Matanya tertuju pada pantulannya sendiri di kaca, wajah tua dengan bekas luka tipis di dagu, mata yang dingin seperti es di musim dingin, dan rahang yang mengeras karena amarah yang tertahan.Jari manis kirinya, atau lebih tepatnya, bekas jari manisnya masih terbungkus bahan hitam. Kenangan tentang kehilangan itu masih segar. Tapi bukan kehilangan jari yang membuatnya marah malam ini.Bukan.Dengan gerak
Megan masih belum mendapatkan jawaban bagaimana Adrian bisa mengetahui kalau ia ada di tempat tadi. Pertanyaan itu menggantung di kepalanya seperti kabut yang tidak mau pergi, mengganggu, mengaburkan, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.Ia memperhatikan adiknya menyiapkan makanan di dapur kecil di sudut ruangan. Adrian bergerak dengan cekatan, memotong sayuran, menghangatkan sup, menyiapkan roti. Gerakannya terlihat seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini, bukan seperti pasien yang baru pulih dari koma."Makanlah." Adrian meletakkan sepiring makanan di hadapan Megan, suaranya lembut tapi tegas. "Kau terlihat tidak punya tenaga."Megan menatap adiknya sejenak. Ada begitu banyak yang ingin ia tanyakan, tapi perutnya yang keroncongan dan tubuhnya yang lemas mengalahkan segalanya.Ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.Sup hangat mengalir di tenggorokannya, menghidupkan kembali tubuhnya yang sekarat. Roti yang renyah terasa seperti makanan terbaik yang pernah ia ma
Udara di apartemen terasa hangat meskipun AC menyala. Mungkin karena lampu ruang tamu yang redup, atau mungkin karena Daniel yang biasanya begitu mendominasi, kini duduk diam di tepi sofa, membiarkan Megan merawatnya tanpa protes.Kemeja Daniel sudah tergeletak di lantai sejak sepuluh menit lalu. M
Lusa tiba lebih cepat dari yang Megan harapkan. Pagi itu, Daniel memberinya jaket anti peluru tipis tanpa penjelasan. "Pakai ini," katanya datar, lalu berjalan keluar apartemen tanpa melihat apakah Megan menurut atau tidak.Megan memakainya. Bukan karena patuh, tapi karena tatapan Daniel pagi itu b
Kontrak itu sudah ditandatangani. Tinta masih basah di ujung kertas, tapi Megan sudah merasa seperti burung yang kakinya terikat benang. Ia duduk diam, hanya memutar otak, apa lagi yang akan dia lakukan padaku?Daniel menyandarkan tubuh di kursi, menyilangkan kaki dengan santai. Tapi santainya pria
Cumbuan itu datang seperti gelombang tsunami, satu setelah lainnya, tanpa ampun. Megan ingin berteriak, tapi suaranya mati di tengah jalan. Tubuhnya seolah memiliki nyawa sendiri, merespon dengan cara yang paling membencinya. Ia luluh di bawah guyuran nafsu pria mabuk di depannya, tapi di saat yang







