MasukEvery story in this collection is a direct line to your own wanting, each read leaves you drenched, and craving more thighs pressed together, breath caught in your throat. From a stranger’s fingers finding you in a crowded bar to the slow, devastating unraveling of a woman on her knees, these are the moments you’ll return to, again and again, until you’re trembling. Open the book only when you’re ready to be ruined, and consumed by your filthy fantasies. 18
Lihat lebih banyak"Woi! Masih pagi udah ngelamun aja, ntar radak siangan dikit kenapa?"
"Apaan, sih!"
"Ipiin, sih. Lagian lu ngapain pagi pagi mukanya di tekuk kayak kanebo kering aja," ucap Azza kepada sahabatnya yang bernama Nayla.
Azza memang di kenal banyak orang sebagai pribadi yang mudah untuk bergaul dengan siapapun. Terutama Nayla, temannya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Za, lo udah putus beneran sama Bisma?" ucap Nayla saat mereka masuk dalam kelas dan duduk.
Azza yang lelah dengan pertanyaan yang sama pun hanya memutar bola matanya malas. Pasalnya, ia tak suka jika masalalunya masih ada yang mengungkit kembali, "ya, menurut lo."
"Hillih, sayang tahu! Lo sama Bisma tuh udah dua tahun dan itu gak lama lho, Za."
"Ya, terus?"
"Hah? Terus? Wah! Lo mau gue getok pakai penghapus papan, hah? Kesel gue lama lama sama lo."
"Lo masih pagi udah emosi aja, mau penuaan dini?"
Nayla akhirnya mengalah dalam berdebatan kecil ini. Tak lama Niko, Iqbal, dan Ibra datang.
Niko dan Iqbal yang mempunyai jiwa receh sejak bayi selalu membuat Ibra yang masuk gerbang sekolah bersama hanya diam menahan malu. Bagaimana tidak, Niko dan Iqbal sejak masuk halaman sekolah selalu menggoda adik kelas mau pun teman seangkatan.
"Selamat pagi, wahai kaum julid!" ujar Iqbal sembari masuk kedalam kelas. Sementara Niko dan Ibra berada di belakang sedang sibuk tebar pesona.
"Masih pagi woi! Teriak teriak. Lu pikir, nih tempat punya nenek moyang lo."
"Wah, santai dong, mbak. Masih pagi udah kayak kompor meledak aja. Heran gue," ucap Iqbal.
"Tahu! Emak lo dulu ngidam towak masjid, ya, Nay. Lo juga, Bal, emak lo dulu juga ngidam sound sistemnya orang punya hajatan apa? Lebih heran gue."
"Elah, Za. Sensi amat jadi manusia abad dua puluh satu," ucap Iqbal, lalu tak lama bel masuk berbunyi. Jam pelajaran pun di mulai.
"Azza, mana tugas kamu?" tanya bu Rini, guru matematika paling killer di sekolah.
"Lho, Emang kemarin ibu ngasih tugas?"
"Gak usah banyak cincong, hormat bendera sampai jam pelajaran saya selesai."
"Lha, gak bisa gitu dong, bu," ucap Azza memelas, mungkin hari senin adalah hari dimana Azza akan selalu dihukum.
"Nawar? Oke, lari lapangan sepuluh kali."
"Hmm, kayaknya enak lari, ya, bu," tanpa menunggu jawaban lagi, akhirnya Azza keluar dari kelas dan menuju lapangan untuk berlari.
Bukan Azza namanya jika melaksanakan tugasnya dengan baik. Setelah berlari lapangan, ia pergi ke kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang sudah kosong setelah berlari.
Azza berjalan menuju stand makanan, "Mbak, bakso satu kayak biasanya sama es milo."
"Siap, mbak Azza," ucap mbak Ida, penjual bakso dan segera meracik bakso pesanan pelanggan kesayangan itu.
Baru saja Azza memakan baksonya tiba-tiba seseorang memanggil namanya, "Azza! Siapa yang suruh kamu malah makan di sini?"
"Aelah, pak, laper habis lari pagi."
"Ke ruang saya, sekarang," ujar guru BK, yang bernama pak Andre.
"Sekarang?" tanya Azza dengan wajah tanpa dosa.
"Iya, sekarang. Masak tahun depan, kan kamu udah lulus kalau tahun depan. Cepat!"
Azza pun mengangguk dan berdiri dengan membawa mangkok bakso tak lupa dengan satu gelas es milo kesukaannya, "Mbak, mangkoknya di balikin nanti, ya," ucap Azza sambil sedikit berlari.
"Azza!" pekik pak Andre yang merasa pusing jika sudah berhadapan dengan Azza.
Setelah mendapat bimbingan dari pak Andre, Azza pun kembali ke kantin untuk menemui teman-temannya yang kini sudah memasuki jam favorit para siswa, yaitu jam istirahat.
"Eh, Za. Kita nanti kumpul ke rumah Lisa, yuk," ucap Nayla.
"Em, boleh, jam berapa?"
"Pulang sekolah, sama kita hang out, udah lama kita gak jalan bareng. Gila kali, lha. Otak gue rasanya udah mau pecah," ucap Nayla dengan ekspresi mendrama ala korea.
"Nay,"
"Apa?"
"Memandang mu, hmm, najis!" ucap Iqbal dengan bernada.
"Sialan, lo Jamal!"
"Apa lo, Agus!"
"Wah, ngajak ribut nih, anak RT sebelah," Nayla pun berdiri sambil menggulung lengan seragamnya dan mengambil posisi kuda-kuda menantang Iqbal.
Niko pun sudah lelah yang selalu melihat kedua temannya seperti kartun Tom and Jerry, "Ayo! Maju lo sini, Jamal! Takut kan, lo!" Nayla sudah siap dengan kedua tangannya yang menggenggam dan meninju angin.
"Hmm, ayo! Banyak cincong lo, Agus!" tak kalah gaya dengan Nayla, Iqbal pun berdiri dan bergaya ala Bruce Lee.
"Lo berdua lama-lama saling suka, lho," ucap Azza yang membuat Nayla dan Iqbal menoleh bersamaan.
"Gak!" ucap Iqbal dan Nayla pun juga bersamaan, membuat Azza mempunyai ide julid.
"Tuh, jawabnya aja barengan."
Ibra yang suka dengan ke julidan pun mengikuti jejak Azza untuk menggoda Nayla dan Niko, "Za, kayaknya kita bakal dapet undangan, nih."
"Hah? Siapa?" ucap Niko yang pura-pura kaget.
Nayla yang kesal dengan tingkah teman-temannya yang selalu menggodanya hanya menahan umpatan dalam hatinya.
****"Azza, bangun sayang. Udah sore," ucap wanita parubaya sambil mengetuk pintu. Merasa tidak ada jawaban, wanita itu mengangkat tangannya dan membuka knop pintu.Wanita itu melihat seorang gadis yang masih tertidur pulas dengan boneka karakter idol korea.
"Azza, bangun, nak."
"Emmm, iya bentar, Ma."
"Udah sore sayang, ayo bangun mandi. Mama udah gak tahan bau kamu asem."
"Ih, mama."
"Makanya ayo bangun."
"Iya."
Begitu lah Vina kepada anak kesayangannya. Ia bersyukur Azza mau menemaninya, meskipun ia tahu ada rasa kecewa dalam hati sang anak. Cerita di masalalu membuatnya takut, Vina takut jika sang anak akan membenci orang tuanya.
Azza adalah harta satu satunya yang Vina punya sekarang. Ia hanya ingin melihat sang anak selalu tersenyum, Vina akan terus melakukan apa saja asalkan sang permata hatinya selalu bahagia.
"Kamu udah nentuin mau kuliah dimana, Za?"
Azza mendengar pertanyaan itu pun menghentikan aktifitas makannya. Ya, kini Vina dan Azza sedang berada di meja makan, "Azza kayaknya kerja aja deh, ma." Azza menggelengkan kepalanya. " Azza gak mau ngerepotin mama," lanjutnya.
"Eh, enggak sayang. Kan ini emang kemauan kamu, kalau kamu pingin kuliah. Lagian mama juga masih bisa tahu biayain kamu kuliah," ucap Vina.
"Ya udah, habis ujian Azza daftar kuliah, tapi mama janji jangan di pikul sendiri. Azza bisa bantuin mama. Azza selalu ada buat mama, mama harus jaga kesehatan juga."
Vina yang mendengar tiap kalimat yang keluar dari Azza pun tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, Vina sangat lah bersyukur mempunyai buah hati yang hangat dan juga perhatian padanya. Vina berharap ia bisa melihat Azza selalu mengukir senyum di wajahnya.
"Yes," she gasped, the confession spilling free, dirty fantasies bleeding into reality. He tugged the lace aside, two fingers sliding through her folds, coating themselves in her slickness with a lewd schlick. The stretch burned sweetly, her walls fluttering greedily, and she bit her lip to stifle a
Panting now, Lila's fingers circled faster, her knees buckling as the fantasy peaked. In her head, Jake would clean her up roughly with a towel, smirking as he tucked himself away. "Our little secret, good girl. But next time, I'm bending you over in front of everyone." The thought sent her over he
Lila stared at her reflection in the bathroom mirror, the soft hum of the house party filtering through the door like distant thunder. Her cheeks were flushed from the wine she'd been sipping all night, but it wasn't the alcohol making her thighs clench together under her prim little sundress.No, i
Full Scene: The Corporate Rivals' Blackmail SpiralAva stormed into the dimly lit office after hours, her heels clicking sharply against the tile floor. Noah was already there, hunched over the copier, his broad shoulders straining against his crisp shirt. Their eyes locked in mutual disgust two sh
Mira's fingers trembled as she locked her office door, the click echoing in the dim afternoon light filtering through half-closed blinds. The office was empty now, everyone else gone for the day, but the hum of the air conditioner buzzed faintly, a constant reminder of the building's emptiness. She
My breath hitches in my throat, chest heaving as the last tremors of that devastating orgasm ripple through my muscles. I’m a mess, sprawled and boneless, feeling the sticky heat of their release leaking out of me, mingling with the sweat on my thighs. Before I can even process the intensity of wha
Your words, raw and unfiltered, slice through the heavy air like a blade, and I feel a surge of heat course through me. My grin turns feral, a glint of pure, untamed desire flashing in my eyes as I take in every syllable of your bold demand. “Hell yeah, Lara,” I growl, my voice thick with lust, step
Emma's heart raced as she lay sprawled on her bed, the afternoon sun filtering through the half-closed blinds. Her roommate, Jake, was supposed to be out for hours, giving her the perfect window to indulge. She slipped out of her shorts and panties, spreading her legs wide. Her fingers dipped betwe






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.