Home / Romansa / Forbidden Desire / 4. Sebelum Aku Berubah Pikiran

Share

4. Sebelum Aku Berubah Pikiran

Author: Yuyun Batalia
last update publish date: 2026-05-04 17:27:53

Diello sudah selesai membersihkan tubuhnya, sekarang pria itu menunggu Luvella selesai mandi.

Pria itu menunggu selama beberapa menit, sampai akhirnya Luvella keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.

Diello bersiul, menggoda Luvella. Pria itu berdiri dari ranjang dan melangkah mendekati Luvella. Ia masih mengenakan handuk yang ia pakai tadi.

"Sudah siap untuk malam pertama pernikahan kita, Luvella?"

Luvella sangat tidak nyaman mendengarnya, tapi dia sudah menikah dengan Diello, suka atau tidak suka dia masih harus berhubungan seks dengan pria ini.

"Potong omong kosongnya, mari lakukan saja." Luvella tidak bisa berbasa-basi dengan Diello.

"Ah, kau sepertinya sudah tidak sabar lagi, baiklah kalau  begitu." Diello meraih pinggang Luvella, menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Pria itu mencium  bibir Luvella dengan penuh gairah.

Luvella tidak bereaksi sesaat, tubuhnya kaku. Selama dua puluh lima tahun dia hidup, Lexion adalah satu-satunya pria yang pernah menciumnya.

"Bergerak, Luvella. Kau bukan ikan mati." Diello mencibir Luvella. Pria itu kemudian mencium Luvella lagi.

Luvella menahan semua rasa tidak nyaman di hatinya. Ia mulai bergerak, meski itu masih kaku, tapi tidak lagi seperti ikan mati seperti yang disebutkan oleh Diello tadi.

Diello mendorong Luvella ke atas ranjang, pria itu kemudian naik ke atas tubuh Luvella dan mulai mencium leher Luvella.

Tubuh Luvella kembali kaku. Diello menjauhkan dirinya sejenak dari Luvella. "Pertama kali?"

"Apakah kau selalu bertanya seperti ini pada wanita yang tidur denganmu?" Luvella menatap Diello tidak bersahabat.

Diello tertawa kecil. "Lexion benar-benar menyia-nyiakanmu, Luvella."

"Tidak semua orang hanya memikirkan tentang seks sepertimu."

Sekali lagi Diello tertawa. "Kau benar, tidak semua orang bisa menikmati hidup sepertiku."

"Kau sepertinya sangat suka bicara."

Diello tersenyum geli. "Selain suka bicara, mulutku juga bisa melakukan banyak hal."

Diello kemudian mulai mencumbu Luvella. Ia membuka handuk yang Luvella kenakan. Tubuh telanjang Luvella kini tampak di depan matanya.

Gairah Diello menggila. Pria itu mulai menciumi setiap inchi tubuh Luvella. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.

"Jangan menahan eranganmu, Luvella. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan menyenangkan." Diello menghisap perut Luvella.

Sensasi kesemutan terasa oleh Luvella, membuat bagian bawah tubuhnya menjadi basah. Luvella tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ia merasa sangat tidak nyaman di bawah sana.

Luvella masih menahan erangannya, membuat Diello menghentikan kegiatannya. Luvella jelas tidak siap untuknya. Pria itu segera berdiri dan memakai handuknya kembali.

"Pengalaman yang pertama kali benar-benar tidak menyenangkan. Lupakan saja untuk malam ini." Diello kemudian bergerak ke tempat pakaian. Ia mengambil sebuah celana dalam lalu kembali ke ranjang.

Diello memiliki kebiasaan tidur hanya dengan mengenakan celana dalam saja.

Di atas ranjang, Luvella telah menutupi tubuhnya dengan handuk. Berhenti begitu tiba-tiba, tubuhnya yang merasakan kesenangan asing kini merasa kehilangan.

"Pakai pakaianmu sebelum aku berubah pikiran." Diello berkata lagi.

Luvella segera turun dari ranjang. Ia pergi ke ruang pakaian, wanita itu diam sejenak melihat barang-barang yang ada di sana. Ada begitu banyak gaun dan jenis pakaian lainnya di sana. Tas, sepatu, perhiasan dan aksesoris lainnya juga ada.

Untuk para wanita yang mengidamkan kemewahan, ini adalah surga dunia.

Luvella  juga wanita normal, meski dia tidak tergila-gila pada kemewahan, tapi gaun indah dan perhiasan membuatnya terkesima.

Luvella segera menghentikan kekagumannya. Wanita itu meraih gaun tidur berwarna putih lalu kemudian memakainya.

Di atas ranjang, Diello sedang memainkan ponselnya. Luvella mendekati ranjang lalu kemudian naik ke atas sana.

"Sudah malam, tidurlah." Diello meletakan ponselnya lalu kemudian berbaring dengan benar.

Luvella menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, wanita itu kemudian memejamkan matanya. Ia harus membiasakan dirinya tidur dengan Diello.

Melihat Luvella sudah memejamkan matanya. Diello juga memejamkan matanya. Malam ini, meski ia tidak melakukan malam pertama dengan Luvella, Diello masih merasa bahagia.

**

Keesokan paginya Luvella bangun lebih dahulu dari Diello. Ia segera membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.

"Sarapan dulu sebelum pergi." Diello turun dari ranjang.

"Aku akan sarapan di rumah sakit."

"Aku tidak akan mengulangi kata-kataku dua kali, Luvella." Diello menatap Luvella serius.

"Aku mengerti."

"Aku akan segera menyusul, makan duluan tidak perlu menungguku."

Setelah mendengar ucapan Diello, Luvella segera pergi ke ruang makan.

Diello membersihkan tubuhnya, setelah selesai berpakaian ia segera pergi ke ruang makan dan bergabung dengan Luvella.

Saat Diello baru menghabiskan setengah sarapannya. Luvella sudah selesai sarapan.

"Aku sudah selesai, aku pergi."

"Aku antar." Diello menyelesaikan sarapannya. Pria itu segera berdiri.

Luvella tidak berdebat dengan Diello, ia melangkah meninggalkan ruang makan.

Sekarang mereka berdua berada di dalam mobil super Diello.

"Kau tidak berencana memperkenalkanku pada Nenekmu?" Diello memiringkan wajahnya.

"Tidak." Luvella menjawab singkat. Neneknya baru saja menjalani operasi, jika ia memberitahu neneknya bahwa ia sudah menikah dan yang ia nikahi bukanlah Lexion melainkan saudara Lexion, neneknya pasti akan sangat terkejut.

Selain itu, pernikahannya dengan Diello mungkin tidak akan bertahan lama. Diello adalah pria yang sangat suka bermain-main dengan wanita, mungkin saja setelah beberapa bulan Diello akan menceraikannya.

"Kenapa? Apakah sangat buruk memiliki suami sepertiku?"

Luvella sebenarnya tidak perlu menjawab pertanyaan ini, tapi tampaknya Diello terlalu bangga pada dirinya sendiri sehingga berpikir bahwa memiliki suami sepertinya adalah sesuatu yang baik.

"Nenekku baru saja menjalankan operasi, dia tidak akan bisa menerima kabar mengejutkan. Nenekku sudah cukup dekat dengan Lexion, jika dia tahu aku menikah dengan saudara Lexion dan bukannya Lexion, itu pasti akan mengejutkannya." Luvella memberikan alasan tanpa kebohongan.

"Ah, seperti itu." Diello menganggukan kepalanya mengerti.

Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di rumah sakit.

"Kemasi barang-barangmu di apartemen lalu pindahkan ke vila. Aku akan mengirim orang untuk mengambil barang-barangmu nanti."

"Baik." Luvella hanya bisa mengikuti kata-kata Diello. Selama itu tidak  bertentangan dengan hati nuraninya, Luvella akan mengikutinya.

Luvella hendak keluar dari mobil, tapi Diello menahan wanita itu. Diello menarik tangan Luvella hingga Luvella mendekat ke arahnya. Setelah itu Diello mencium bibir Luvella beberapa saat.

"Sampai jumpa lagi, Istriku."

Luvella tidak menjawab ucapan Diello. Ia hanya keluar dari mobil Diello. Luvella mengatur emosinya. Diello benar-benar melakukan apapun sesuka hatinya, tanpa peduli apakah ia suka atau tidak.

Pernikahan ini benar-benar akan terasa berat baginya, tapi tidak ada penyesalan untuk pilihannya karena dengan ini dia bisa menyelamatkan nyawa neneknya.

**

Malam harinya Luvella kembali ke vila Diello. Ia kembali dengan barang bawaan yang ia butuhkan.

"Nyonya, Tuan belum kembali. Makan malam apa yang Nyonya inginkan?" Joyce bertanya pada Luvella dengan sopan.

"Apa saja, Bibi Joyce." Luvella tidak pilih-pilih makanan. Ia berasal dari keluarga menengah ke bawah, jadi ada sesuatu yang bisa dimakan saja sudah cukup baginya.

"Baik, Nyonya."

Luvella segera pergi ke kamarnya, pelayan meletakan barang bawaannya lalu kemudian pergi dari sana.

Melihat ruangan itu kosong, Luvella merasa jauh lebih lega. Berhadapan dengan Diello, ia benar-benar sulit untuk menyesuaikannya.

Akan lebih baik jika Diello tidak kembali malam ini. Pria itu suka pesta dan semua hal yang menyenangkan. Diello pasti tidak akan bisa melepaskan itu setelah menikah dengannya.

Ia benar-benar tidak akan mempermasalahkan itu semua. Yang terbaik adalah Diello terus melakukannya sehingga ia tidak perlu terlalu banyak  berinteraksi dengan Diello.

Memiliki suami dengan begitu banyak wanita penghibur di sekitarnya jelas bukan keinginan Luvella, tapi karena ia sudah memiliki suami seperti itu dan ia tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap Diello maka ia hanya akan menutup mata atas apapun yang dilakukan oleh pria itu di depan ataupun di belakangnya.

Bahkan jika Diello membawa wanita ke kediaman ini, dan bercinta di depannya, ia hanya akan membalikan badan dan berpura-pura tidak melihat.

Luvella berhenti memikirkan Diello, ia segera ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Seharian menjaga neneknya di rumah sakit, Luvella merasa cukup lelah. Untung saja saat ini neneknya sudah sadarkan diri dan menunjukan kondisi yang stabil. Ia benar-benar lega.

tbc

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Forbidden Desire   Extra Part – Hanya Akan Mencintai Satu Wanita Saja

    Diello membawa Luvella ke sebuah jamuan yang diadakan oleh salah satu petinggi negara itu.Setelah menemani Diello menyapa beberapa orang, Luvella pergi ke toilet.Seorang wanita memanfaatkan perginya Luvella untuk mendekati Diello. Wanita itu lebih muda dari Luvella, dia terlihat cantik dan segar.“Tuan Diello, mari berkenalan.” Wanita itu berdiri di depan Diello, ia tersenyum menawan. Ia mengulurkan tangannya. “Aku adalah Jacqueline Thompson, pewaris dari keluarga Thompson.”Diello tidak tertarik untuk berkenalan dengan wanita di depannya, jadi dia tidak menerima uluran tangan itu.“Tuan Diello, mari bertukar kontak.” Jacqueline bersuara lagi. Dia tidak akan menyerah hanya dengan satu kali penolakan dari Diello.“Saya tidak memberikan kontak saya pada orang asing.” Diello membalas dingin. Sikap Diello terhadap wanita yang mencoba mendekatinya masih sama, sangat dingin.Jacqueline tersenyum. “Tuan Diello, aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu. Suatu hari nanti kau pasti akan men

  • Forbidden Desire   42. Hasrat Terlarang (Tamat)

    Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari pernikahan Diello dan Luvella.Sebuah aula hotel telah disulap seperti negeri di atas awan. Bunga mawar merah muda dan putih ditata dengan indah di sana.Tamu undangan telah mengisi tempat mereka masing-masing. Semua orang itu berdecak kagum dengan setiap detail dekorasi di aula itu.Luvella dengan balutan gaun pengantin melangkah di atas kelopak bunga mawar yang terhampar di lantai. Tatapan wanita itu terarah pada Diello yang menunggunya di depan sana. Rasa haru menyelimuti dirinya, belasan tahun lalu dia telah mengklaim Diello sebagai miliknya. Setelah beberapa hal yang membuat mereka terpisah, pada akhirnya Diello masih ditakdirkan untuknya.Ia benar-benar bahagia karena menikah dengan cinta pertama dan juga akan menjadi cinta terakhirnya.Diello mengulurkan tangannya ketika Luvella sudah ada di depannya. Pria ini awalnya telah menyerah pada Luvella, ia pikir suatu hari nanti ia akan melihat Luvella mengenakan gaun pengantin, tapi yang menja

  • Forbidden Desire   41. Kejutan

    Pekerjaan Diello di luar negeri masih belum selesai, setelah ia menemani Luvella sehari, ia kembali ke luar negeri untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.Begitu juga dengan Luvella, wanita itu kembali bekerja setelah istirahat satu hari. Seperti yang ia katakan sebelumnya, ia benar-benar sibuk. Ia memiliki banyak janji temu dengan beberapa klien yang ingin berkonsultasi dengannya dan beberapa pekerjaan lainnya.Siang ini Luvella makan bersama dengan klien barunya. Makan siang itu selesai, Luvella dan kliennya bersalaman lalu setelah itu keduanya meninggalkan meja mereka.Langkah kaki Luvella berhenti saat seseorang yang ia kenal berdiri di depannya.“Luvella, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Elian.“Aku baru saja selesai bertemu dengan klien.”“Ah, seperti itu.” Elian menganggukan kepalanya. “Kau sangat sibuk sepertinya.”“Begitulah.”“Omong-omong, Luvella. Lusa adalah ulang tahun Diello. Apakah kau tahu ini?”Luvella diam. Dia lupa tentang ulang tahun Diello. “Terima

  • Forbidden Desire   40. Membusuk Di Rumah Sakit Jiwa

    Lexion pergi ke mini bar villa itu, ia mengabil sebotol minuman lalu membukanya dan menuangkan cairan di dalam sana ke dalam gelas kosong lalu kemudian menenggaknya dalam satu kali tegukan.Kemarahan tampak di wajahnya, Luvella benar-benar memilih mati daripada disentuh olehnya.Namun, tidak apa-apa. Dia masih memiliki banyak waktu dan kesabaran untuk Luvella. Tidak akan ada yang bisa menemukan Luvella.Lexion menuang minumannya lagi dan lagi. Sementara itu di kamar, Luvella sedang berdiri di balkon. Saat ini sedang malam hari, jadi tidak ada banyak hal yang bisa ia lihat di kegelapan.Wanita itu mulai merasa tidak tenang sekarang, bagaimana dia bisa menghubungi Diello? Suaminya itu pasti sangat mencemaskannya sekarang.“Lexion, aku sangat membencimu!” Luvella menggeram marah.Lexion harusnya berhenti mengganggunya bukan malah semakin menjadi-jadi. Atas dasar apa Lexion berpikir bahwa dia masih bisa bersama dengan pembunuh orangtuanya. Cara berpikir Lexion benar-benar tidak sama denga

  • Forbidden Desire   39. Diculik

    Waktu berlalu, saat ini Diello sedang berada di sebuah ruangan persidangan. Pria itu menatap kagum istrinya yang saat ini sedang bicara sebagai pengacara.Ini bukan pertama kalinya Diello melihat persidangan Luvella, dia sangat menyukai istrinya dengan seragam pengacara. Wanitanya terlihat begitu luar biasa dan memukau.Persidangan itu berjalan dengan lancar, Luvella dan kliennya telah menyiapkan bukti-bukti dan saksi yang bisa membuat mereka memenangkan persidangan.Luvella melangkah keluar dari ruang persidangan bersama dengan Joceline dan juga Diello. Namun, langkah mereka terhenti saat Finn -suami Joceline berada di depan mereka.“Joceline, haruskah kau begitu keras kepala?”“Finn, ini namanya bukan keras kepala, tapi prinsip hidup! Jatuh bangunmu akan aku temani, tapi tidak dengan pengkhianatanmu. Setelah ini kau bisa bersama dengan wanita manapun yang kau sukai. Yang pasti, bukan wanita membosankan sepertiku.”“Joceline, aku tahu aku salah. Aku akan memperbaiki semuanya. Beri ak

  • Forbidden Desire   38. Balasan

    Luvella datang ke pemakaman Jena bersama dengan Diello. Saat ini hanya ada beberapa orang saja di sana. Berita kematian Jena telah menyebar, tapi karena kejahatan yang dilakukan oleh Jena sangat mengerikan, hanya beberapa orang saja yang datang melayat, sementara banyak kenalan Jena yang lainnya memilih untuk tidak datang karena tidak ingin terlibat dengan Jena lagi dalam hal apapun.Selena juga ada di sana, dia masih menunjukan sedikit penghormatan atas hubungannya dengan Jena di masa lalu. Selain itu saat ini dia masih tunangan Lexion, dia akan menunjukan bahwa dalam keadaan ini dia masih menemani Lexion.Tatapan Luvella terarah ke gundukan tanah di depannya. Dia tidak mengharapkan Jena mati secepat ini, Jena seharusnya merasakan penderitaan lebih banyak lagi. Namun, begini juga cukup baik. Setidaknya dia tidak perlu lagi menghirup udara yang sama dengan wanita yang sudah membunuh orangtuanya.“Suamiku, ayo kita pergi.” Luvella hanya ingin melihat sebentar saja, bukan untuk berbelas

  • Forbidden Desire   23. Ingatan Penting Yang Hilang

    Adam dan dokter lainnya segera menangani Diello dan Luvella.Diello mengalami luka yang cukup parah, tapi Adam berhasil mengeluarkannya dari bahaya yang mengancamnya. Sementara Luvella, luka yang ia alami tidak mengancam nyawanya.Kecelakaan yang dialami oleh Diello telah sampai ke telinga Gael. Pr

  • Forbidden Desire   20. Kaulah Yang Merebut Semuanya Dariku

    Diello telah memberi kabar pada Luvella bahwa ia akan pulang terlambat malam ini. Saat ini pria itu berada di sebuah tempat hiburan malam bersama dengan seorang pria berwajah latin. Pria ini adalah seorang pemimpin dari organisasi dunia bawah.Ketiga teman Diello datang beberapa saat kemudian. Mere

  • Forbidden Desire   16. Aku Tidak Meninginkanmu Lagi

    Pagi ini Luvella pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi neneknya. Kondisi neneknya sudah jauh lebih baik, jika tidak ada masalah dua hari lagi neneknya sudah bisa keluar dari rumah sakit.Setelah dua jam menemani neneknya, Luvella keluar dari ruang rawat neneknya.“Luvella?” Di depan Luvella saat i

  • Forbidden Desire   6. Hanya Bisa Memilih Satu

    Suasana di ruang makan itu kini hening. Lexion menatap Diello dengan tajam. Kedua tangannya mengepal kuat.Selena menatap Luvella, tampaknya ia akan terus bersinggungan dengan wanita ini mulai sekarang. Selena tidak mengerti kenapa dua bersaudara Alterion menyukai Luvella."Ayo mulai makan malamnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status