LOGINSix years ago, Riven Cole disappeared the night Saint Monroe’s bike exploded on a rain-slick highway. The Big Saints called him a traitor and the city labelled him a ghost after that. But now, he’s back in Silverhaven carrying a secret that could burn the brotherhood to the ground. Luca Monroe, Saint’s son and the club’s new president, built his empire on loyalty and silence. But when Riven walks into his bar, the past crashes through the door with him. Old wounds reopen and the old flames spark. And buried somewhere between hate and hunger is the truth about what really happened that night. The Big Saints are no longer a brotherhood, they’re an empire of secrets. And in a world built on lies and blood, love might be the most dangerous thing of all. Because some ghosts don’t stay gone. And some fires never die.
View MoreSeperti doktrin yang ditanam turun temurun, dua marga saling membenci dan membunuh dengan sebab yang masih bias. Para penerusnya harus melakukan hal serupa; disuruh membenci lewat mulut kedua orang tuanya. Tidak ada seorang yang ingin menelisik permusuhan ini. Walau marga Makigara sudah melemah kekuatannya, tetapi marga Kuromori harus waspada, bisa jadi Makigara berbuat ulah seperti kemarin. Sebab itulah tetua marga Kuromori—Tuan Ikada, menerapkan sistem penjagaan ketat sebagai gubuk sederhana posnya. Kadang penjaga ini membuat suara bising kala Kokok ayam terdengar pertama kali di awal hari.
Para wanita berlaku seperti biasa; memasak hasil buruan para pria berupa kelinci liar, burung, dan jika beruntung rusa di dapat. Namun, jika tidak sempat mereka akan membelinya di kota Yokohama sembari sang suami berjualan hasil panen ladang maupun peternakan kecil-kecilan mereka menggunakan pedati sebagai kendaraan mereka menuju kota. Pedati itu mereka buat hasil gotong royong, tapi jika pedati rusak, mereka tidak akan membuangnya melainkan memperbaikinya.
Para gadis sibuknya tidak mau kalah dengan wanita yang sudah berumah tangga dan pria yang menyiapkan barang jualan ke kota, para gadis disibukkan dengan pergi ke sungai bersama teman sebaya untuk mencuci baju. Remaja laki-laki yang bernasib yatim piatu dan yang masih lengkap keluarganya, bersama-sama memasak sarapan di dapur utama dan menentukan rumah mana yang dijadikan tempat bersantap.
Memang begitulah adanya di desa ini, menjadi yatim dan yatim piatu sudah begitu lumrah. Ayah yang harus berkalang tanah akibat peperangan antar marga yang tak kunjung usai, serta ada ibu yang harus menanggung luka batin dan fisik akibat kekerasan dari suami sehingga mereka memutuskan mengambil jalan pintas—gantung diri di pohon besar yang terletak di tengah-tengah pemukiman.
Dan salah satu remaja yang mengalami semua tragedi ini adalah Kuromori Isae—remaja dua belas tahun ini melatih fisiknya dengan katana, terkadang tangannya yang meliuk dibarengi langkah kuda-kuda, terkadang badan yang meliuk seakan musuh datang dari belakang. Latihannya terhenti kala seorang wanita berumur kepala empat yang dihormati di desa ini memanggilnya sehingga remaja itu tersenyum dan tak ragu untuk mendekati.
“Sudah kubilang sarapan dulu lantas latihan!” tegur Nyonya Ikada, istri dari tetua marga Kuromori.
“Sudah matang?” heran si remaja, tidak menyangka Nyonya Ikada bisa secepat ini memasak.
“Sudah. Aku lebih dulu bangun diantara ibu-ibu disini.”
“Tak apa jika aku makan setelah Kak Yosihara dan Tuan Ikada bangun?”
“Makan sekarang pun tak apa. Kami sudah menganggapmu sebagai anak sendiri. Bukankah Yosihara juga sudah menganggapmu sebagai adik?”
“Aku menunggu Tuan Ikada dan Kak Yosihara bangun terlebih dahulu. Biar bisa makan bersama.”
“Baiklah kalau begitu, memang susah merayu remaja keras kepala. Ngomong-ngomong, cucianmu sudah dititipkan?”
Isae mengangguk. Dan anggukannya tanda bagi Nyonya Ikada selesai memperhatikan remaja ini, lantas kembali ke rumah. Isae pun demikian—kembali ke rumah karena tidak semangat lagi berlatih katana. Sebentar, dia menghampiri pohon besar dan memori kecil berputar—asal mula dia menjadi yatim piatu. Sang ayah sudah jelas kematiannya karena berperang, waktu itu mendiang ayahnya memaksakan diri kala sakit, balas dendam kematian kakeknya lah yang menjadi alasan. Seminggu kematian ayahnya, ibunya turut menyusul—gantung diri di pohon besar. Isae tidak tahu kenapa ibunya memilih jalan pintas seperti itu. Apakah sang ibu tidak sanggup menghidupi dirinya dan Isae yang masih berumur sembilan tahun kala itu? Lebih miris adalah omongan sekelompok orang yang beranggapan bagus ibunya gantung diri daripada membunuh putranya lalu kabur ke kota.
“Isae! Isae!” Seruan gadis yang seumuran dengannya sambil berlari menciptakan suara bising, membuat Isae memalingkan wajah ke belakang dengan cepat.
“Kasami, ada apa?” Isae segera menghampiri Kasami, takut hal buruk terjadi kepadanya.
“Bajumu .... bajumu ... hanyut,” ucap Kasami setelah mengatur napasnya.
“Kenapa bisa hanyut?!”
“Aku tidak sengaja menyenggol keranjang, dan arus sungai begitu deras. Jadi satu bajumu hanyut.”
Penjelasan itu sudah cukup bagi Isae untuk bergegas menuju sungai dan menelusuri tiap jengkalnya, kadang dia harus memalingkan muka saat tidak sengaja melihat wanita muda berkemban kain putih yang menurutnya sama saja melihat wanita telanjang bulat. Untunglah Kasami saat menghampiri Isae memakai yukata.
“Isae tunggu! Bukan disitu tempat aku mencuci!” seru Kasami yang mengekor Isae dari belakang.
“Lalu dimana?” tanya Isae.
“Disana!” Kasami menunjuk sebuah hutan yang tidak begitu lebat sehingga sinar matahari bisa masuk ke rimbun pepohon bahkan masih bisa dimasuki sedikit cahaya matahari, itulah alasan sebagian gadis memilih tempat ini untuk mencuci agar terhindar dari terik, namun, tantangan mencuci di bagian ini adalah arus sungai yang derasnya berasal dari air terjun.
“Jika kau mencuci disana, maka akan hanyut disekitaran sini,” ucap Isae.
Kasami mendengkus mendengar pernyataan Isae, seperti mengajari kepada anak kecil. Kemudian dia mulai memberanikan diri bertanya kepada para gadis berkemban. “Permisi, kalian lihat baju yang hanyut tidak?”
Salah satu dari gadis berkemban menjawab tidak dan akan memberikannya kepada Isae jika dapat.
“Bagaimana ini Isae? Bajumu hanyut karena kecerobohanku,” ucap Kasami kembali.
“Mau bagaimana lagi. Mungkin aku akan ikut perang dengan marga Makigara. Siapa tahu disana ada baju layak yang bisa dirampas.”
“Marga Makigara bikin ulah apalagi?”
“Baru-baru ini salah satu warganya merusak kebun milik Pak Rogiku. Bahkan aksi mereka sampai membuat leher Pak Rogiku sobek.”
Kasami mengangguk mengerti. Syahdan gadis itu segera pamit kepada Isae dan kembali ke hutan yang dia tunjuk tadi untuk mencuci kembali.
Asap mengepul di tengah-tengah meja makan bikin perut meronta-ronta minta diisi makanan yang sudah tersaji dengan rapi, sang ibu yang telah berjasa memasak makanan lezat ini akhirnya duduk setelah selesai menyiapkan ini semua, Tuan Ikada—selaku pemimpin keluarga ini berdoa sebelum menyantap. Menu sarapan hari ini adalah nasi hangat dengan ikan. Ada pula sayur bayam sebagai pelengkap. Sesederhana ini mampu menggugah Isae untuk menyantapnya sampai lupa dia ada dimana dan dengan siapa dia makan, apalagi jika hidangan itu makanan mewah berupa daging rusa atau semacamnya.
“Makanlah yang lahap,” ucap Tuan Ikada.
“Kami senang kau ada disini, Isae,” timpal Nyonya Ikada. “Nah ini, tambah lagi nasi dan lauknya. Suatu saat kau akan menjadi pria dewasa, kau tahu apa yang pria dewasa Kuromori lakukan?”
Isae mengangguk sambil melahap, lantas berbicara usai mengunyah. “Berburu dan melakukan perang kala marga Makigara berbuat ulah.”
“Benar sekali!” girang Tuan Ikada. “Tidak salah aku mengurusmu!”
“Tuan Ikada, nanti malam akan ada perang dengan Makigara kan?”
“Ya, memang kenapa?”
“Boleh aku ikut?”
Tuan dan Nyonya Ikada terdiam sejenak dan saling pandang. Rasa bangga bercampur khawatir menyeruak dalam benak. Bangga jika Isae begitu antusias dengan peperangan yang sudah menjadi tradisi dan kebanggaan para pria dewasa kala menang, lantas kebanggaan itu diselimuti kekhawatiran bila Isae terus menerus memaksa Tuan Ikada merestui dirinya untuk ikut serta berperang dan tanpa sengaja Isae melihat buruknya perilaku pria Kuromori jika berhasil menaklukkan Makigara.
“Tidak!” tegas Tuan Ikada. “Umurmu dua belas tahun. Masih kecil untuk ikut perang.”
Mata binar Isae seketika layu setelah mendengar penolakan.
“Berlatih pedang dan tingkatkan ilmu bela dirimu dulu bersama Yosihara. Jika umurmu menginjak enam belas tahun, kau boleh ikut,” lanjut Tuan Ikada sambil melihat Yosihara—putra semata wayangnya yang sedang mengajari anak-anak dan remaja bela diri.
“Baik, Tuan Ikada,” ucap Isae dan melanjutkan sarapannya.
***
Semasih Kuromori Yosihara melajang, ada harapan para gadis untuk mengagumi ketampanan dan gagahnya sang putra tetua marga. Yosihara sebenarnya merasa risih jika para gadis diam-diam mengamatinya mengajari ilmu pedang serta bela diri kepada anak-anak serta remaja. Pemuda dua puluh tahun itu pun tidak ada niat menikahi gadis sini, bahkan setiap ada gadis beserta kedua orang tuanya berusaha membujuk Yosihara menikahi putrinya, Yosihara hanya bisa menolak dan tidak bisa di ganggu gugat oleh Tuan dan Nyonya Ikada dengan alasan belum sanggup menjadi tulang punggung keluarga, terlebih jika memiliki anak yang senantiasa mengekori kemanapun dia pergi. Tapi, itu hanya alasan semata agar terhindar dari menikahi gadis yang tidak dia cintai, sejujurnya Yosihara sudah siap membina rumah tangga, tapi bukan bersama gadis di sini, melainkan seorang gadis yang dia temui secara tidak sengaja di perbatasan hutan Kuromori dengan Makigara. Gadis itu dalam keadaan tak berpakaian dan berendam di sungai jernih, hanya gadis itu seorang, tidak ada kawan yang menemani. Kecantikan dan merdu senandung membuat Yosihara terpana; kulit putih mulus, dan rambut hitam sepinggang yang lurus. Menurut Yosihara wajahnya bagai Putri Kaguya—tokoh legenda masyarakat Jepang yang sering Yosihara dengar ceritanya dari mendiang nenek maupun Ibu.
Karena menemukan harta karun, Yosihara selalu mengamati gadis itu di atas pohon dengan jarak sedikit jauh. Seperti sore ini, pamit kepada ayahnya dengan alasan berburu, diam-diam Yosihara mengintai sang pujaan hati. Tidak lupa dia memegang erat busur dengan mata awas sebagai bentuk siap siaga jika ada hewan buas menyerang sang gadis.
“Kak Mirae!”
Suara yang begitu akrab di telinga Yosihara dalam kehidupannya di desa, bisa membuatnya berani untuk menengok sedikit dari balik dedaunan pohon. Ternyata gadis itu terkejut di waktu yang bersamaan dengan sesegera mungkin memakai kainnya kembali.
“Hei! Kenapa kau membawaku melihat wanita dewasa yang sedang mandi!”
Benar dugaan Yosihara.Kasami yang memanggil nama gadis itu dan Isae turut bersamanya.
“Kenapa kau protes terus! Ini demi bajumu yang hanyut!” tegas Kasami.
“Tapi tidak sampai ke wilayah Makigara, kan? Bagaimana kalau ada yang tahu kita kemari?” tanya Isae.
“Bilang saja kalau kita mencari bajumu yang hanyut. Dan kenapa kau membelakangi?“
“Kau menyuruhku melihat wanita dewasa telanjang?!”
“Dia berkemban!”
“Tetap saja telanjang dimataku!”
“Permisi.” gadis berusia tujuh belas tahun itu rupanya sudah tidak sabar maksud kedatangan dua remaja ini. “Ada apa kalian kemari? Kalian tidak takut dimarahi?”
“Kak Mirae, Kakak melihat baju yang hanyut disekitaran sini?” tanya Kasami, sedangkan Isae sedang sibuk menembak burung dengan ketapel.
“Maaf, aku tidak melihatnya.”
“Begitu ya, maaf mengganggu. Hei Isae, Kak Mirae tidak menemukannya. Jadi mau cari dimana lagi?”
Tidak ada jawaban dari Isae yang larut memburu burung dengan ketapel andalannya.
“Sepertinya dia sudah mengikhlaskan bajunya yang hanyut,” ucap Kasami. “Kalau begitu kami pamit. Isae, ayo!”
“Tunggu sebentar!” Buru-buru Isae mengambil dua ekor burung korban sasaran ketapel yang jitu dari Isae. Susah payah dia samakan langkah kakinya dengan Kasami yang berada di depan. “Hei, aku yang ada di depan! Wanita di belakang!”
“Salah sendiri lamban!” ejek Kasami.
"Tunggu lah! Biar aku yang bisa di depan! Wanita tidak cocok menjadi pemimpin! Kasami!"
"Berisik!"
"Hei Kasami, kau kenal wanita itu dari mana?"
Kasami menceritakan jika setahun yang lalu dirinya hampir jatuh dari air terjun yang terletak di kawasan Makigara, beruntung Mirae melihatnya dan menyelamatkan dirinya. “Setelah di tolong, aku meminta Kak Mirae untuk dicarikan lobak. Kau tahu sendiri kalau mata pencaharian marga Makigara adalah berjualan lobak,” lanjut Kasami.
“Kau hampir jatuh dari air terjun? Kenapa aku tidak tahu, dan kenapa kau tidak bercerita? Ralat, orang-orang Makigara lebih suka berjualan kerajinan.”
“Waktu itu kau demam, jadi percuma menceritakannya. Dan berhenti berbicara!”
Isae terdiam. Dia sudah tidak sengaja mengungkit mendiang ibunda Kasami yang berasal dari Makigara dan sudah senang hati menemani Pak Haede—ayahanda Kasami, walau sebentar, tetapi bisa memberikan sebuah hadiah perpisahan yang indah.
***
Bagi Pak Haede, Kasami layaknya batu mulia yang harus di jaga ketat dari orang-orang yang ambisius menginginkannya. Walau orang itu telah membawanya pergi lalu mengembalikannya ke pemilik tanpa goresan setitik pun, Pak Haede tetap tidak menerima batu mulia itu dibawa kesana-kemari. Sehingga Pak Haede harus berulang kali berceramah tentang kodrat perempuan yang harus diam di rumah dan mematuhi perintah dari para pria, tentu ocehan dari ayahnya adalah hal pertama yang Kasami tidak suka. Menurut Kasami, ayahnya terlalu cemas walau Kasami sendiri terkadang selalu cemas kala ayahnya telat datang ke rumah.
“Kau seharusnya tahu posisimu! Kau wanita, wanita yang harus tinggal di rumah dan tidak keluyuran hampir malam begini! Wanita tidak di izinkan untuk masuk hutan kecuali mencuci pakaian!” Itulah teguran dari Pak Haede yang telah kelimpungan mencari anak gadisnya—bertanya sana-sini tanpa hasil. Lalu dibuat geram saat Kasami berteriak memanggil ayahnya dengan Isae disampingnya.
“Aku sudah bilang, aku membantu mencari baju Isae yang ha–"
"Alasan! Sekarang masak makan malam untuk kita, cepat!”
“Kenapa ayah–”
“Kasami!”
Tidak berarti lagi, berdebat dengan sang ayah sama saja menyerahkan leher ke Makigara untuk ditebas. Segera dia menuju dapur dan mulai menyiapkan bahan yang ada di lemari penyimpanan, tak lupa membersihkan burung untuk dijadikan santapan malam. Pak Haede tahu benar putrinya kesal, terbukti dari caranya dia memotong burung dengan sekali hentak yang menimbulkan bunyi gaduh dari dapur.
“Jika kau tahu kenapa ayah begini keras kepadamu, karena ayah tidak ingin kehilanganmu seperti ayah kehilangan ibumu,” lirih Pak Haede.
CHAPTER 163 – THE FINAL ASCENTThe city groaned beneath the weight of chaos. Cracks ran along the streets like lightning, fires spread through abandoned buildings, and the air vibrated with the power of the ancient entity, now fully awakened.Riven floated above the fissure, the crown key blindingly bright in his hand, and every pulse of the Heart surged through him. Beside him, Luca gritted his teeth, holding his own energy, connected to Riven’s by an invisible thread of determination and loyalty. The two of them were the last barrier between the entity and Meridian.Vex hovered in the storm of black tendrils, fused to the entity but still terrifyingly human. His red eyes gleamed with malice and triumph. “Do you really think you can stop me now, Riven? I’ve become more than you could ever hope to defeat!”Riven’s jaw tightened. “You were my brother, Vex… but that ends tonight.”Vex laughed, a low, distorted sound that mingled with the roar of the entity. “Brother? You were always nai
CHAPTER 162 — FURY OF MERIDIANThe Heart of Meridian throbbed in Riven’s chest like a living thing, vibrating through every fibre of his being. Blue light cascaded from the crown key, wrapping around his body, binding him to the city, fusing him to every street, every brick, every life force beneath his care. He could feel the city screaming, struggling to survive, and he knew he had no choice.“Riven! Are you still alive up there?!” Luca’s voice cut through the chaos, distant and urgent, carried by the wind and the crumbling streets.“I’m alive,” Riven shouted back, his own voice barely audible over the roar of energy. “But this… this is bigger than anything we’ve faced!”From the fissure below, Vex emerged again, his form twisting with the shadows of the ancient entity. His eyes glowed blood-red, unnatural and piercing. The air around him vibrated with the same malevolent energy that had overtaken the Heart.“You’ve grown strong, caretaker,” Vex hissed, voice layered with both human
CHAPTER 161 — THE HEART OF MERIDIANRiven fell.Not like falling from a rooftop, not like tripping over cracked pavement, but like the very gravity of the world had betrayed him. Darkness enveloped him, suffocating, thick, and alive. The crown key burnt against his chest, screaming with Meridian’s energy, trying to anchor him, to pull him back to the surface—but the fissure’s grip was absolute.Below, the city trembled, fires and lightning lashing across the streets. Luca and Wolf screamed from above, their voices swallowed by the distance and chaos.“Riven!” Luca’s shout pierced the darkness. “Hold on!”Riven tried to respond, but the shadowed depths had other plans. Tendrils of black energy coiled around him, twisting his limbs, leeching at the crown key, trying to sever the link between him and Meridian.I won’t let you take Meridian, he thought, summoning every ounce of willpower. Blue light erupted from the crown key, illuminating the abyss around him. The tendrils hissed and rec
CHAPTER 160 — MERIDIAN’S HEARTThe city groaned like a wounded beast. Every street, every building, every pulse of Meridian itself shuddered beneath the rising darkness. Riven’s knuckles were white on the crown key, sweat running down his face, his chest tight with the weight of what was coming.The ancient force beneath the city had fully awakened. Shadows deeper than night seeped into every corner, twisting roads, cracking walls, and igniting fires in blocks untouched by Bishop’s destruction. The air smelt of iron, ash, and something older—ancient decay that made the hairs on Riven’s neck stand on end.Luca’s voice broke through the roar of the city. “Riven… it’s coming up fast! The spire won’t hold it for long!”Riven’s eyes were locked on the fissures spreading beneath the cathedral spire. The trap had worked on the entity above, but this… this was entirely different. It wasn’t just power—it was intelligence, cunning, and something almost sentient.Wolf shouted from the streets be
CHAPTER 154—THE MERIDIAN TRIALThe city’s pulse was no longer subtle. It rumbled beneath Riven’s feet like a living drumbeat, a heartbeat of immense scale and intent. Every street, every alley, every building was imbued with awareness, and each flicker of light or shadow seemed to respond directly
CHAPTER 149 — THE CHOICE OF SHADOW AND LIGHTDarkness pressed in on all sides, heavy and suffocating. The Vault’s walls, slick with ancient residue, seemed to pulse with a life of their own. Riven struggled to catch his breath, fingers trembling as they clutched the crown key. Every beat of his hea
CHAPTER 147 — THE ANCIENT AWAKENSThe city lay in ruin, a symphony of sparks and cracked concrete echoing through the empty streets. The Warden, still pulsing with residual energy from Riven’s command, loomed behind him like a silent sentinel, half-activated and half-recovering from the ordeal. But
CHAPTER 144 — THE AWAKENING OF MERIDIANThe pulse of the city had changed. It was no longer a heartbeat—it was a roar, deep and resonant, shaking the very bones of Riven, Luca, and Wolf. The streets themselves seemed alive, twisting and groaning as though the concrete, asphalt, and steel had all ta












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews